Gabung Insight Broadcast

Stoikisme: Cara Hidup Bahagia

Mark

Hidup bahagia merupakan semua impian semua orang. Tidak orang kaya, miskin; cowok, cewek pasti menginginkan kebahagiaan. Dan inilah cara hidup bahagia ala stoikisme.

Bahagia tidaknya kita bergantung pada cara kita merespon dunia.

— Wirahadi, 2022
Memahami Dimensi Hidup Untuk Menemukan Cara Hidup Yang Bahagia

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di Jurnal Insight. Tepatnya di, Book Insight.

Melanjutkan Book Insight. pertama kita yang kemarin, yaitu “Menuju Hidup Yang Bermakna Dan Bermanfaat. Dimulai Dari Sini!” yang merupakan insight dari buku Mindful Life karya seorang Productivity Coach – Coach Aji. Kali ini saya (Hadi) akan berbagi insight kembali dari buku tersebut. Dan yang akan kita bahas pada blog ini tentang "Stoikisme: Cara Hidup Bahagia."

Mungkin kalian pernah mendengar tentang istilah "Stoikisme"? “Dikotomi Kontrol” atau “Dikotomi Kendali”? Pernah? Insight kita kali akan membahas seputar hal tersebut. Namun untuk pemahaman awal, saya akan ceritakan sedikit tentang dikotomi kendali. Singkatnya, stoikisme atau dikotomi kendali adalah sebuah prinsip hidup yang meyakini bahwa kita hidup di dua dimensi yang berbeda sekaligus. Dan jika kita bisa memahami dua dimensi tersebut dengan baik, maka kita akan hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Versi singkatnya seperti itu. Versi lengkapnya? Ada dibawah 👇

Book Insight.

Seperti biasa, sebelum membaca blog Jurnal Insight. Saya akan mengingatkan kalian untuk menyiapkan pulpen dan buku untuk mencatat insight apa saja yang bisa kalian dapatkan dari blog ini. Jika perlu, isi blog ini kalian buat jadi konten sosial media kalian di Instagram atau di Tiktok. Dan kalian bisa me-mention atau men-tag akun sosial media Jurnal Insight di (@jurnalinsight) jika kalian berkenan.

Oke, jika kalian sudah siap menerima insight-nya. Scroll kebawah dan nikmati semua insight-nya. (Maksudnya scroll kebawah itu sambil dibaca, ya. Bukan scroll abis itu di close, wkwk).

INSIGHT 1

Hidup Dalam Dua Dimensi Yang Berbeda

"Don't demand that things go you wish, but wish that they happen as they do happen, and you will go on well."

— Epictetus

Sebuah kutipan yang saya temukan pada halaman bab pertama yang berjudulkan "Berhentilah Mengendalikan Apa Yang Tidak Dapat Anda Kendalikan." Yang kalau kita terjemahkan (menggunakan google translate, hehe) ke dalam bahasa Indonesia, akan memiliki arti;

"Jangan menuntut agar hal-hal berjalan sesuai keinginan Anda, tetapi berharaplah hal itu terjadi seperti yang terjadi, dan Anda akan berjalan dengan baik."

Dari quotes tersebut kita bisa memahami satu hal penting dalam hidup kita. Yaitu adanya hal yang tidak bisa kita kendalikan atau berada diluar kendali kita. "Jangan berharap agar hal-hal berjalan sesuai keinginan Anda…" Kita diajak untuk tidak berharap suatu hasil itu, HARUS dan HARUS sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita. Justru sebaliknya "...berharaplah hal itu terjadi seperti seharusnya…" atau berharaplah bahwa hasil yang akan kita dapatkan adalah hasil yang memang sudah ditetapkan untuk kita. Dimana ketetapan tersebut baik bagi kita, sesuai dengan diri kita, dan baik bagi masa depan kita nantinya. Dengan demikian, hidup kita akan "...berjalan dengan baik." Kita bisa saja merencanakan semua yang kita inginkan. Dan itu sah-sah saja dan tidak ada masalah. Tapi tetap, kita hidup dari apa yang telah ditetapkan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Tapi kalo kita boleh bertanya, "Jika ada hal yang tidak bisa kita kendalikan, yaitu berupa hasil yang telah ditetapkan Tuhan. Berarti ada hal yang bisa kita kendalikan, kan? Jika tidak ada, maka itu tidak adil!" Jelas, jika ada yang tidak bisa kita kendalikan maka ada yang bisa kita kendalikan. Karena segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan.

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)."

— QS. Az Zariyat: 49

Di buku Mindful Life. Saya mendapatkan penjelasan tentang dua dimensi yang berbeda dimana kita hidup didalamnya. Dan dari sinilah kita akan belajar tentang konsep “Hidup Dalam Dua Dimensi.” Dimensi pertama adalah dimensi dimana ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dimensi kedua adalah dimensi dimana ada hal-hal tertentu yang dapat kita kendalikan. Dan kita memegang kendali penuh atasnya.

Sederhananya, hal yang tidak dapat kita kendalikan adalah segala sesuatu yang ada diluar diri kita, seperti cuaca hari ini, keadaan sosial yang ada di sekitar kita. Dan hal yang mutlak diluar diri kita, seperti kapan kita mati, kapan hari pertama kita akan bertemu dengan jodoh kita, kapan korupsi berhenti di Indonesia dan kenapa harga minyak goreng naik. Nah, itu juga diluar kendali kita, wkwk. Sedangkan hal yang ada dalam kendali kita adalah hal-hal yang ada dalam diri kita, seperti sikap kita, pikiran kita, ucapan kita dan perilaku kita dalam sehari-hari.

Kalo sikap, pikiran, dan perilaku orang lain gimana? Sikap, pikiran dan perilaku orang lain ada diluar diri kita. Artinya, itu juga ada diluar kendali kita. Emang kita bisa mengendalikan pikiran orang lain supaya nurut dengan kita? Nggak bisa kan? Hanya Wanda Maximoff yang bisa melakukannya. Itupun hanya di film, haha. (Btw, Sohib Insight sudah nonton film Doctor Strange in the Multiverse of Madness, belum? Saya belum nih. Spill dong di kolom komentar, wkwk, canda).

Dalam buku Mindful Life ada sebuah kutipan yang saya suka yang Coach Aji kutip dari sebuah pepatah bijak. Bunyinya seperti ini, "Kita tidak dapat mengendalikan arah angin, tapi kita dapat mengatur layar dan mengarahkan perahu kita."

Kita tidak dapat mengendalikan arah angin karena itu ada diluar kendali kita. Tapi kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita terhadap situasi yang kita hadapi, memikirkan hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan. Dan mengambil tindakan sebagai solusi dari situasi yang kita hadapi. Menggerakkan layar perahu, misalnya.

INSIGHT 2

Dimensi Pertama, “Hal-Hal Yang Tidak Dapat Kita Kendalikan”

"Sumber stres berawal dari mengendalikan hal-hal yang diluar kendali. Semakin banyak kita memikirkan hal-hal tersebut, semakin besar pula potensi stres kita. Coba renungkan, selama ini hal-hal yang kita pikirkan lebih banyak yang mana?"

— Mindful Life, Hal. 3

Selama ini kita sering kali fokus terhadap segala sesuatu yang ada diluar diri kita. Seperti memikirkan bagaimana cara orang akan melihat dan menilai diri kita nanti. Bagaimana respon orang terhadap kita, bagaimana orang-orang bisa menyukai apa yang kita lakukan di depan mereka. Well, kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain apakah mereka ingin menilai diri kita dengan baik atau buruk. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang lebih baik, karena itu ada dalam kendali kita. Kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain untuk mencintai atau membenci diri kita. Tapi kita bisa memilih untuk mencintai diri kita sendiri dan mencintai rutinitas apa yang kita lakukan setiap hari.

"Fokus pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, akan muncul ketidakpuasan, kekecewaan, dan ketidakbahagiaan."

— by Mindful, Hal. 2-3

Di buku Mindful Life halaman 5-12, kalian bisa menemukan 7 hal yang ada diluar kendali kita yang dijelaskan secara komprehensif oleh Coach Aji. Dan saya akan mencoba mengulas kembali 7 hal tersebut pada blog ini sesuai dengan insight apa yang saya dapatkan.


Kejadian Alam Di Sekitar Kita

Kalian pernah sebel hanya gara-gara kalian ingin pergi keluar tapi tiba-tiba hujan? Atau kalian pernah kesel hanya karena cuaca hari ini panas sekali? Berarti Anda termasuk golongan orang-orang yang tidak bersyukur, haha. Kok malah jadi pengajian. Sorry, Sohib Insight, becanda😁✌

Anyway, jika kita pernah kesal terhadap hal tersebut. Apakah hal tersebut akan berubah? Apakah seketika cuaca yang tidak kita inginkan langsung sesuai dengan yang kita inginkan? Tidak sama sekali, kan. Kenapa? Karena cuaca mutlak ada diluar kendali kita. Dan kita tidak bisa melakukan apapun untuk bisa mengubahnya. Yang bisa kita lakukan adalah menyalakan kipas atau ac disaat cuaca panas, wkwk. Atau menggunakan payung/jas hujan ketika kita ingin keluar rumah tapi cuaca sedang mendung/hujan.

"Frustasi dan keluhan tidak akan mengubah cuaca di sekitar Anda. Nikmati saja."

— Mindful Life, Hal. 6

Tuh, Sohib Insight. Kata Coach Aji, “Nikmati saja.”


Kejadian Yang Melibatkan Pihak Lain

Pernah/gak berada di sebuah antrian. Misal, ngantri untuk cek kesehatan, buat KTP, atau ngantri di depan ATM hanya untuk cek saldo yang kian menipis, atau hanya untuk menikmati dinginnya AC ATM gara-gara cuaca diluar panas? Hayo, ngaku siapa yang pernah begitu? Haha…

Hal kedua yang tidak dapat kita kendalikan adalah kejadian yang melibatkan orang lain. Seperti ngantri, macet, dan semacamnya. Tidak bisa kita kendalikan karena ada pihak lain yang turut terlibat pada peristiwa/kejadian tersebut. Dan orang-orang yang terlibat itu berada di luar kendali kita.

Katakalah ketika kita berada disebuah antrian untuk cek kesehatan, misalnya.

Kan kita tidak bisa yang awalnya berada di antrian nomor 46. Tiba-tiba kita ingin dapat atau pindah ke antrian nomor 1 biar cepat, biar gak lama nunggu. YA, GAK BISA BEGITU, FERGUSO. Karena antrian nomor 1 sudah dari tadi selesai dipanggil. Dan baru ada lagi antrian nomor 1 keesokan harinya, 🤣🤣🤣

Lucu nggak jokenya? Nggak lucu, ya? Oke, skip. Itu ada di luar kendali saya, wkwk.

“...berhentilah berpikir negatif, berhentilah mengeluh, berhentilah memaki.”

— Mindful Life, Hal. 7

Mau bagaimanapun kita tidak bisa mengubahnya. Kita tidak punya kendali atas hal tersebut. Mau kita maki pun petugasnya tidak akan mengubah apapun. Tapi yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita menyikapi atau pikiran kita terhadap situasi yang sedang kita alami. Kita bisa memilih untuk bersabar menunggu panggilan atau pulang dan datang besok harinya lagi lebih awal. Jangan terlalu tertekan dengan situasi seperti itu. Karena jika tidak, kamu hanya akan frustasi.

“...pikiran yang menekan kita itulah yang membuat kita frustasi. Apa yang kita katakan pada diri kitalah yang membuat kita semakin frustasi.”

— Mindful Life, Hal. 6

Sikap Orang Lain

"Kita tidak dapat mengendalikan pikiran, perasaan, dan perilaku mereka. Kita hanya dapat memengaruhi dalam intensitas yang terbatas."

— Mindful Life, hal. 7

Hal selanjutnya yang tidak dapat kita kendalikan berdasarkan insight yang saya dapatkan dari buku Mindful Life adalah “Sikap Orang Lain.”

Di era sosial media seperti sekarang ini. Mungkin kita pernah atau sering melihat konten yang kurang baik untuk ditonton. Dimana ada begitu banyak konten akhir-akhir ini yang lagi viral. Atau komentar negatif yang kita temukan di kolom komentar.

Sayangnya, kita tidak bisa mencegah orang lain untuk berbuat semacam itu. Karena itu diluar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan saat menemukan konten yang kurang baik untuk ditonton adalah mengontrol diri kita supaya video tersebut tidak sampai kita klik. Atau mengontrol emosional state kita ketika membaca komentar negatif dari orang lain.

Kalo nasehat dari Coach Aji di buku Mindful Life, “Fokus untuk mengendalikan pikiran, perasaan dan perilaku kita.Ini akan menciptakan kebahagian yang jauh lebih banyak dalam diri kita.”


Masa Lalu

Mungkin kita pernah membuat suatu hal buruk dimasa lalu dan kita ingin pergi kembali di momen tersebut berharap bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi apa boleh buat kita tidak bisa mengubahnya. Kalo kata Will Salas dalam film In Time, “It is what it is.”

"Masa lalu bisa saja menyakitkan. Namun, Anda bisa juga memilih untuk melepaskannya."

— Mindful Life, Hal. 10

Well, kita tidak bisa mengubah masa lalu. Karena waktu berjalan maju kedepan bukan mundur kebelakang. Atau bisa maju mundur, cantik. Seperti lagu Syahrini, haha...

Tapi kita bisa memilih dari dua opsi yang ada ditangan kita (dibaca: dalam kendali kita). Kita bisa memilih untuk melepaskan masa lalu begitu saja seperti yang dikatakan Coach Aji. Atau pilihan terbaik yang bisa kita lakukan, yaitu mengambil pelajaran dari masa lalu tersebut. Buatlah masa lalu menjadi pengalaman yang berharga.

Sebaik-baiknya masa lalu adalah masa lalu yang kita berdamai dengannya dan memetik pelajaran berharga darinya.

— Wirahadi, 2022

Masa Depan

Kalo masa lalu diluar kendali kita, okelah. Tapi kalo masa depan, gimana? Masa ia diluar kendali kita juga? Kan kita bisa merencanakannya!

Ya, sedikit setuju tentang hal itu. Maksud saya di bagian kata “merencanakannya.” Tapi masalahnya takdir bahwa rencana kita akan berhasil atau tidak itu kan diluar kendali kita.

Takdir ada di Tangan Tuhan (Allah). Tapi perjuangan (ikhtiar) ada di tanganmu.

— Wirahadi, 2020

Memikirkan rencana, melakukan apa yang telah kita rencanakan adalah bentuk dari perjuangan (ikhtiar) kita. Tapi menginginkan hasil sesuai dengan rencana kita, itu tidak bisa.

Hasil biarlah Allah yang menentukan. Sisanya kita bertawakal (berserah diri) sepenuhnya kepada-Nya, Allah SWT.

Mungkin kita bisa BERHARAP hal itu akan terjadi. Tapi kita tidak bisa MENGINGINKAN hal itu terjadi.

— Wirahadi, 2022

Kesehatan dan Umur

Kesehatan dan umur adalah dua hal yang berada diluar kendali kita. Mungkin kita bisa menjaga pola hidup kita dengan mengkonsumsi makan yang sehat. Tapi kita tidak tau kedepannya akan seperti apa. Atau esoknya akan terjadi apa

"…, jangan shock saat tiba-tiba kita terkena penyakit berat. Itu sudah ditakdirkan. Boleh saja kita menganalisis sebab musababnya, mengevaluasi pola hidup kita setelahnya. Namun, saat itu sudah terjadi, terimalah dengan ikhlas."

— Mindful Life, Hal. 12

Bisa saja kita sakit karena Allah mau mengangkat derajat kita. Bisa saja kita sakit karena Allah mau menghapus dosa kita. Sakit apapun yang kita alami pasti ada rahmat dibalik semua ujian tersebut.


Hasil-Hasil yang Kita Dapatkan

"Rehatkan dirimu dari tadbiir (melakukan pengaturan-pengaturan)! Maka apa-apa yang selainmu (Allah) telah melakukannya untukmu, janganlah engkau (turut) mengurusnya untuk dirimu."

— Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Al Hikam

Kutipan tersebut saya temukan di buku Mindful Life. Dari kutipan tersebut, insight yang bisa saya dapatkan adalah berserah diri (rehat) dan tidak untuk turut mengurusnya (hasil) untuk diri kita sendiri. Hasil/takdir/ketetepan ada di tangan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

“Kita bisa berusaha, kita bisa berdoa, tapi kita tidak dapat memaksakan hasilnya agar sesuai dengan keinginan kita. Hasil ada diluar kendali kita.”

— Mindful Life, Hal. 12

Mungkin kalimat ini terdengar familiar di telinga kalian, “Kita hanya bisa berusa dan berdoa. Sisanya biarlah Allah yang menentukan.” Saya pertama kali mendengar kalimat tersebut sewaktu SMP kelas 1 sebelum masuk ruangan ujian guru sekaligus wali kelas saya (Ibu HJ. Karyawati) menyampaikan kalimat tersebut untuk memberikan semangat.

Selalu ingat ini di pikiran kapanpun dan dimanapun kalian berada, Sohib Insight. DUIT, DUIT, DUIT. Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal. Saya rasa kalau soal duit (ijo-ijo) kalian jagonya mengingat, wkwk, canda.

INSIGHT 3

Dimensi Kedua, “Hal-Hal Yang Dapat Kita Kendalikan”

Dalam buku Mindful Life. Ada 4 (empat) hal yang disebutkan sebagai hal yang kendalinya sepenuhnya ada pada diri kita:

  • Pertama, persepsi kita – apa yang kita pikirkan;
  • Kedua, emosi kita – apa yang kita rasakan;
  • Ketiga, ucapan kita – apa yang kita katakan, dan;
  • Keempat, tindakan kita – apa yang kita lakukan.

“Jadi, saat menghadapi sebuah peristiwa, fokus pada apa yang kita pikirkan, rasakan, katakan, dan lakukan. Ini wilayah ikhtiar ktia.”

— Mindful Life, Hal 14

Apa yang bisa kita lakukan dengan memiliki kendali atas 4 hal tersebut? Hmm, ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan kendali yang kita miliki.

Kamu pernah berhenti melakukan sesuatu karena omongan orang lain, apakah pernah? Misal saja, ketika kamu belajar bahasa inggris. Lalu ada orang yang menilai gaya kamu bicara menggunakan bahasa inggris. Dan kamu kemakan hati dengan omongan tersebut. Hanya karena hal tersebut lantas kamu berhenti belajar bahasa inggris dengan alasan malu ditanggapi seperti itu lagi.

Coba saja kamu mau mengendalikan pikiranmu dengan memberikan persepsi bahwa omongan orang tersebut adalah masukan untuk kamu. Masukan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa inggris yang kamu punya. Maka kamu tidak akan berhenti belajar begitu saja.

Dan masih banyak lagi hal yang bisa kamu lakukan dengan baik jika kamu mengendalikan apa yang bisa kamu kendalikan.

Kalo menurut pendapat saya pribadi,

Sumber penyesalan sebenarnya datang karena ketidakmauan kita mengendalikan pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan kita. Bukan karena ketidakmampuan kita.

— Wirahadi, 2022

Coba diingat-ingat kembali! Mungkin kita pernah emosi atau kesal sampai kita berani melontarkan kata kotor atau kasar bahkan sampai berani melakukan tindakan fisik seperti memukul. Dan kemudian setelah itu kita menyesal atas apa yang sudah kita lakukan.

Itu semua bisa terjadi bukan karena ketidakmampuan kita mengendalikan emosi, ucapan, atau perilaku kita. Tapi itu terjadi karena ketidakmaun kita untuk mengendalikannya. Dengan kata lain, kita yang membiarkan emosi negatif tersebut melintas begitu saja sesuka hati di pikiran dan perasaan kita. Sampai muncullah hal buruk seperti yang saya sebutkan diatas.

Masalahnya bukan terletak pada KETIDAKMAMPUAN kita. Tapi lebih KETIDAKMAUAN kita.

— Wirahadi, 2022

Meskipun hanya ada empat yang bisa kita kendalikan secara penuh. Itu sudah sangat powerful sekali untuk hidup bahagia, meaningful, dan berdampak baik bagi diri kita maupun sekeliling kita.

Kata guru saya dulu waktu SMK, “Jangan sepelekan hal yang sepele. Justru karena sepele, seharusnya kamu bisa melakukannya dengan sangat mudah.”

INSIGHT 4

Dimensi Ketiga: Keterampilan, Kemampuan & Kekuatan

Perasaan di awal tadi kita bicarain tentang dikotomi kendali, ya, kalo gak salah? Sekarang kenapa jadi tiga, haha!? Sabar, Sohib Insight. Karena ini juga merupakan insight yang saya dapatkan dari membaca buku Mindful Life.

Jadi, di satu topik dari buku tersebut, Coach Aji membahas tentang, “Dari Dikotomi Menuju Trikotomi Kendali”. Disitu Coach Aji membahas tentang William Irvine yang mengembangkan konsep dikotomi menjadi trikotomi kendali.

Yang tadinya saya menyebut “Hidup Dalam Dua Dimensi Yang Berbeda” di Segmen 1. Kali ini berubah menjadi “Hidup Dalam Tiga Dimensi Yang Berbeda.” Haha. Anyway, kita lupakan saja tentang judulnya. Sekarang pertanyaannya adalah, Apa itu trikotomi kendali?

Dalam bukunya William Irvine yang berjudul “A Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy.” Ia membagi dimensi pertama yang kita sebutkan sebagai hal-hal yang ada diluar kendali kita menjadi 2. Pertama, hal-hal yang ada diluar kendali kita secara mutlak. Dan yang kedua, hal-hal yang ada diluar kendali kita namun tidak bersifat mutlak. Nah, yang tidak bersifat mutlak inilah yang dia (William Irvine) sebut sebagai Trikotomi Kendali atau pada blog ini kita sebut saja sebagai dimensi ketiga.

Dimensi ketiga sebagai dimensi dimana kita dapat mengendalikan sesuatu ketika kita memiliki keterampilan, kemampuan, dan kekuatan atasnya (dimensi pertama yang tidak bersifat mutlak).

Contoh dimensi ketiga adalah ketika kita menjadi seorang pemimpin dalam sebuah tim. Maka, kita memiliki kendali atas tim kita. Kita bisa mengatur dan memberikan perintah kepada tim kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tapi tetap saja, hasil dari kita mengatur dan memberikan perintah kepada tim kita ada diluar kendali kita. Karena hasil adalah dimensi pertama (hal-hal yang mutlak diluar kendali dan tidak dapat kita kendalikan.)

KESIMPULAN

Penutup & Kesimpulan

Okay, akhirnya selesai juga sampai disini, hahaa. Gak terasa kamu sudah membaca kurang lebih 20.400-an karakter atau 3000 kata yang ada di blog ini. Selamat untuk kamu yang sudah membaca blog ini sampai akhir. Saya tidak berpikir bahwa ada orang yang akan membacanya sampai sejauh ini. So, sekali lagi saya ucapkan selamat untuk kalian semua👏🎉

Setelah membaca blog ini. Insight apa saja yang bisa kalian dapatkan?

Ya, kalian masing-masing yang jawab lah ya. Masak saya, kan saya sudah tulis di blog ini, hehe... Tapi secara garis besarnya, insight yang sudah kita dapatkan, yaitu:

  • Pertama, pengantar tentang dikotomi kendali;
  • Kedua, apa saja yang tidak dapat dan diluar kendali kita;
  • Ketiga, apa saja yang dapat dan ada dalam kendali kita, dan yang terakhir;
  • Tentang trikotomi kendali

Lalu, apa saja yang bisa kalian lakukan dengan insight pada postingan blog kali ini?

  • Pertama, kamu bisa mengamalkan atau menerapkan insight (ilmu) yang kamu dapatkan. Seperti mengendalikan pikiran dan persaan. Jangan sampai perasaanmu dirampas orang lain. Kalo dirampas, nanti untuk saya hilang, haha, canda.
  • Kedua, kamu bisa membagikannya kepada sahabat, kerabat, teman sambat, dan bat-bat lainnya, haha...
  • Ketiga, kamu bisa membagikannya melalui sosial media yang kamu miliki. Dan jika berkenan tag dan/atau mention akun sosial media Jurnal Insight, hehe...
  • Keempat, kamu bisa menyimpan blog ini di bookmark browser kamu. Atau kamu bisa menguunduh mind mapping blog ini dibawah.

Dan jika kamu merasa memiliki rezeki yang lebih. Tidak ada salahnya untuk menyisihkan sedikit dari rezeki yang kamu punya untuk mendukung blog Jurnal Insight. Dukunganmu akan sangat bermanfaat bagi blog Jurnal Insight ini. Semua bentuk dukungan yang kamu berikan, saya ucapkan terima kasih banyak. Dan semoga segala kegiatanmu dilancarkan dan dimudahkan serta mendapatkan rezeki yang berkah dan berlimpah.

Next post, apa yang akan kita bahas?

Mungkin post selanjutnya tetap sama membahas Book Insight, “Mindful Life: Seni Menjalani Hidup Bahagia dan Bermakna.” Atau bisa jadi nanti kita kembali ke Class Insight dan melanjutkan pembahasan insight tentang Instagram Hack. Apapun itu, mudah-mudahan tetap memberikan insight yang menarik dan bermanfaat untuk kalian baca, Sohib Insight.

Oia, saya hampir lupa. Untuk kamu yang ingin mendapatkan info setiap kali Jurnal Insight update konten baru. Silahkan "Click Here" dibagian atas hompage. Nanti kamu akan dibawa ke WA Jurnal Insight dan kamu bisa memberitahu Jurnal Insight bahwa kamu ingin mendapatkan info setiap Jurnal Insight update konten baru.

Okay, sampai disini dulu perjumpaan kita. Seperti bisa, Happy Insight! 😊

__
Insight from book:
Mindful Life karya Darmawan Aji

About the Author

Hai, Saya Raden Sasak. Saya senang memikirkan hal-hal yang jarang terpikirkan. Saya senang menulis insight setiap hari. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Support Jurnal Insight.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload