Gabung Insight Broadcast

NLP: Melatih Kecerdasan Emosional

Mark

Tidak penting seberapa cerdasnya kita. Lebih penting emosional kita.

Jika kita tidak memiliki kecerdasan emosional. Maka, tidak penting seberapa cerdasnya kita dalam hal intelektual.

Jika kita ingin membuka 50% dari pada gerbang potensi kita. Maka kita perlu melatih kecerdasan emosional kita.

NLP: Melatih Kecerdasan Emosional

S elamat datang kembali, Sohib Insight. Udah ada semingguan kayaknya saya nggak post blog lagi. Eh, dua minggu deng, haha… 

Karena kemarin, saya lagi membuat tampilan baru, halaman depan Jurnal Insight.

Seperti yang Sohib Insight bisa lihat sekarang di halaman depan atau homepage (istilah kerennya), udah ada animasi teksnya.

Kalo yang awal kan nggak ada, ya. Malahan banyak teks yang ngebuat tampilan blognya jadi kurang minimalis. Kalo sekarang udah lumayan minimalis ditambah sedikit animasi.

Lama, karena ya… Seperti yang kalian tahu, saya bukan seorang programmer yang ahli Bahasa Pemrograman Komputer. Jadi, perlu waktu untuk bisa membuat animasi teks.

Anyway, kali ini saya ingin berbagi Insight lagi, lanjutan dari Insight Belajar NLP Online yang pertama kemarin.

Sejauh ini saya sudah menulis beberapa blog yang bisa Sohib Insight lihat dibawah.

Jika kalian ingin membacanya, silahkan baca. Gratis! Wkwk…

Dan untuk blog kali ini. Insight yang mungkin bisa Sohib Insight dapat, diantaranya

Contents

Jadi, tunggu apa lagi? Langsung saja kita meluncur. 

INSIGHT 1

Melatih Kecerdasan Emosional

Melatih kecerdasan emosional dapat membantu kita untuk bisa mengendalikan emosi kita. Terlebih ketika kita mengalami suatu kejadian yang tidak mengenakan..

Karena emosi sangat berpengaruh dan mempengaruhi diri kita. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa orang bisa bertambah  berat badannya karena bahagia (emosi positif).

Dan ternyata lebih terkejutnya lagi, ada fakta yang mengatakan, bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh emosinya.. 

Faktor Terpenting Dalam Kesuksesan Seseorang

Saya percaya, bahwa setiap orang yang membaca blog ini pasti memiliki seorang model atau inspirator dalam hidupnya.

Pun, jika tidak punya. Maka, kamu pasti pernah kagum dengan kisah kesuksesan seseorang. (Kalo yang ini juga nggak pernah, saya nggak tau mau nulis apa, wkwk).

Tahukah kita, bahwa kekaguman kita terhadap seseorang akan memunculkan berbagai macam pertanyaan. Mulai dari, 

“Kok bisa, ya, dia sukses seperti itu?”

“Penasaran dengan gimana cara dia bisa sukses. Kira-kira gimana ya, caranya?”

“Apa sih yang membuat dia bisa sukses?”

“Apakah ada faktor seseorang bisa sukses?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa muncul di benak kita. (Nanti lanjut sendiri aja, ya,  hehe…)

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, akan mengantarkan kita kepada sebuah jawaban atau sebuah fakta bahwa ada hal-hal yang mempengaruhi kesuksesan seseorang.

Penasaran apa saja hal tersebut? Ini dia jawabannya. 

Maksudnya, dibawah. Di scroll, haha… 

5 Kompetensi Kecerdasan Emosional

Adalah Daniel Goleman, dalam sebuah karyanya, yang berjudul  “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More than IQ and Working With Emotional Intelligence”.

Ia melakukan sebuah penelitian atau mencari sebuah fakta  tentang  mengapa kecerdasan emosional itu penting. Lebih penting dari kecerdasan intelektual.

Lalu ia temukan jawabannya. 

Bapak Goleman bilang,  “Oh, ternyata ada hal penting yang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang”, (kira-kira begitulah kata Bapak Goleman ketika menemukan jawabanya, haha…).

Di dapatilah sebuah faktor yang berperan sangat penting dalam kesuksesan seseorang.

Dan faktor tersebut bukanlah faktor yang tergolong dalam kecerdasan intelektual melainkan kecerdasan emosional.

Dari sinilah kita mengetahui, ternyata…

Kecerdasan emosional lah yang sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Dan ini yang menjadi faktor terpenting dalam kesuksesan seseorang.

Dalam bukunya tersebut. Bapak Goleman menyebutkan, setidaknya ada 5 (lima) kompetensi kecerdasan emosional yang dapat membantu seseorang mencapai kesuksesannya.

Pertama, Self-Awareness atau Kesadaran Diri.

Kedua, Self-Regulation atau Pengelolaan Diri.

Ketiga, Motivation atau Motivasi.

Keempat, Empathy atau Empati

Kelima, People Skill atau Keterampilan Sosial.

Saya tidak akan menjelaskan kelima kompetensi kecerdasan emosional tersebut di blog kali ini. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah,

NLP atau Neuro-Linguistic Programming memiliki hubungan atau korelasi dengan kelima kompetensi diatas.

Apa korelasinya? Dimana letak hubungan NLP dengan kelima kompetensi tersebut?

Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan NLP

Kalo, Sohib Insight belajar NLP di Indonesia NLP Society (saya sebut lembaganya karena saya belajar disana). Kalian akan dijelaskan beberapa manfaat yang ada di dalam NLP.

Setidaknya ada empat manfaat ketika kita belajar dan mempraktekkan NLP. Keempat manfaat ini saya dapati dalam materi pertama Belajar NLP Online.

Manfaat yang pertama, yaitu NLP mengajak kita untuk lebih memahami hubungan antara pikiran, perilaku dan bahasa.

Kemudian manfaat yang kedua, NLP memungkinkan kita mengelola pikiran, perilaku, dan bahasa kita sendiri.

Manfaat yang ketiga, belajar NLP memungkinkan kita mengelola pikiran, perilaku, dan bahasa kita sendiri.

Dan, manfaat yang keempat (Bukan yang terakhir, karena kalau kita mau cari tahu lebih dalam. Kita akan menemukan manfaat lainnya.), adalah

Belajar NLP memungkinkan kita untuk membangun relasi yang baik dengan orang lain. Ini manfaat yang paling dicari orang. Apalagi jomblo yang lagi nyari jodoh, haha… 

(Sorry, becanda, hihi…)

Manfaat NLP yang saya sebutkan diatas adalah letak hubungan NLP dengan kelima keterampilan kecerdasan emosional yang sudah kamu baca di awal tadi.

Keempat manfaat tersebut melatih otot-otot kecerdasan emosional kita.

Dan, kalo kita mau menyimpulkan. NLP  bisa dikatakan juga sebagai faktor terpenting dalam kesuksesan seseorang.

Saya bisa sebutkan siapa saja orang tersukses yang ternyata belajar NLP dan menerapkannya.

Ya, saya katakan “belajar dan menerapkan”. Ada kata ‘menerapkan’ disitu, yang berarti tidak hanya belajar atau paham.

Karena kalau belajar saja, tidak menerapkannya. Kemungkinan besar mereka tidak akan menjadi orang sukses, Benar atau benar?

Ingat! Keberkahan ilmu itu terletak pada amalannya. Seperti yang saya tuliskan di blog sebelumnya. Baik, kita balik ke topik. 

Orang-orang tersukses tersebut, diantaranya: Barack Obama, Nelson Mandela, Oprah Winfrey, Anthony Robbins, Adam Khoo, Bill Clinton.

Mungkin satu dari mereka ada yang kamu kenal. Atau bahkan satu dari mereka adalah role model atau inspirator kamu?

Kalo iya. Berarti sekarang kamu sudah tahu, apa faktor terpenting yang menjadikan mereka sukses di bidangnya.

INSIGHT 2

Story of Magic

Barusan kita sudah membahas tentang faktor terpenting dalam kesuksesan seseorang dan hubungan kelima kecerdasan emosional dengan NLP.

Jika tadi kita sudah memahami apa saja manfaat belajar NLP. Rasanya kurang lengkap kalau kita tidak membahas cerita dibalik NLP atau Story of Magic.

Bagaimana ceritanya? Langsung saja kita simak ceritanya.

Dimulai Pada Tahun 1970-an

Jauh di negeri sana, dua orang penjelajah sedang dipenuhi oleh rasa penasaran. Mereka adalah teman sepenasaran, John Grinder & Richard Bandler.

Kisah ini terjadi pada pertengahan tahun 1970.

Berawal dari sebuah perguruan tinggi, Universitas California, mereka merenungkan sebuah pertanyaan tentang apa yang membedakan orang rata-rata dengan orang diatas rata-rata.

Dan inilah kisah… 

Gimana, Sohib Insight? Sudah bisa dikatakan mahir mendongeng belum. Belum? Oke, nanti saya latihan lebih keras lagi, haha…

Nah, orang diatas rata-rata (lanjutan cerita di atas, hehe…) adalah orang yang memiliki keterampilan dan keahlian di suatu bidang dimana ia sangat ahli di bidang tersebut.

Kita bisa menyebut orang yang diatas rata-rata ini sebagai orang yang ekselen.

Sedangkan, orang rata-rata adalah orang yang memiliki keterampilan dan keahlian di satu bidang. Tapi mereka tidak benar-benar menekuninya.

Sehingga, kemampuannya dalam bidang tersebut hanya sampai ke level rata-rata saja.

John Grinder dan Richard Bandler yang dipenuhi oleh rasa penasaran tersebut. Akhirnya, mereka berdua memulai penjelajahannya demi menemukan fakta dibalik orang ekselen.

Memodel Para Ekselen Pada Masa Itu

Pada masa awal atau pertama kali NLP ditemukan. Setidaknya ada empat orang yang keahliannya menarik Grinder dan Bandler untuk mereka berdua pelajari (memodel).

Empat orang ekselen tersebut, adalah

Fritz Perls yang merupakan pendiri  dari Psikologi Gestalt. 

Gregory Bateson yang merupakan seorang Antropolog dan Pakar Cybernetics

Virginia Satir pendiri Family Therapy & Systemic Therapy

Dan Milton Erickson yang merupakan pendiri sebuah asosiasi yang bernama American Society of Clinical Hypnotherapy

Mengapa Grinder dan Bandler memodel keempat ekselen tersebut?

Karena menurut anggapannya (Grinder dan Bandler), keempat orang tersebut memiliki keahlian yang dianggap (pada saat itu) tidak dapat ditiru oleh orang lain.

Karena itulah, muncul sebuah rasa penasaran dari mereka berdua, yaitu Grinder dan Bandler untuk menemukan sebuah pola atau pattern dari keunggulan mereka, keempat ekselen tersebut.

Ingat, gak? Ada sebuah pepatah yang mengatakan,

Sukses meninggalkan jejak, gagal meninggalkan pelajaran, diam meninggalkan penyesalan.

Quotes of the Day

Nah, daripada mereka (Grinder dan Bandler) diam dengan rasa penasarannya. Lebih baik memodel orang-orang ekselen. Kenapa? Karena, sukses itu meninggalkan jejak.

(Cakep, gak tuh? Bridgingnya, haha…)

Apa alasan Grinder dan Bandler memodel orang-orang ekselen tersebut?

Sederhana, Grinder dan Bandler ingin agar keahlian mereka dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Buku Structure of Magic

Setelah mempelajari atau memodel pola-pola yang ada pada para ekselen. Hasil dari pada pemodelan tersebut dituangkan dalam sebuah karya, yaitu buku yang berjudul Structure of Magic.

Structure of Magic adalah buku yang berisikan berbagai pola pikir, pola bahasa, dan perilaku yang sistemik, yang dapat digunakan untuk membuka potensi (bakat) seseorang.

Terbitnya buku ini, menjadi puncak awal sebuah ilmu yang sekarang banyak dikenal sebagai NLP atau Neuro-Linguistic Programming.

Sekedar informasi saja, bahwa istilah NLP atau Neuro-Linguistic Programming bukanlah penamaan yang berasal dari Grinder dan/atau Bandler.

Melainkan penyebutan istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Alfred Korzybski jauh sebelum Grinder dan Bandler menggunakannya.

Kebetulan saja, mereka merasa bahwa istilah itu tepat untuk menggambarkan hasil dari penjelajahan mereka (memodel para ekselen). Jadilah mereka menggunakan istilah tersebut.

INSIGHT 3

NLP Menurut Pandangan Pribadi

Setelah mengetahui hubungan NLP dan kecerdasan emosional sekaligus sedikit tentang sejarah tentang NLP.

Kamu mungkin akan bertanya, “Apa itu NLP?”

Sebenarnya, kalau kita mau mencari arti dari NLP itu apa? Maka, kita akan menemukan banyak sekali definisinya yang bisa kita temukan. 

Beda guru, beda definisi. Bahkan, murid dan guru pun bisa memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang NLP. Sebagaimana Grinder (guru) dan Tony Robbins murid daripada si Grinder itu sendiri.

Maka, saya pun memiliki pemahaman sendiri bagaimana saya memaknai NLP itu sendiri.

Karena itulah tugas yang diamanahi oleh guru saya. Yaitu, “Definisikan NLP menggunakan bahasa Anda sendiri!”

Jadi, saya berusaha untuk menemukan definisi NLP menurut bahasa (pemahaman) saya sendiri. 

Dalam satu kesempatan, saya pernah coba-coba iseng untuk sharing tentang NLP di WA.

Kemudian, ada satu teman saya yang bertanya, “Apa itu NLP?”

Bagi saya yang masih pemula dalam belajar NLP rada kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. 

Pertanyaannya memang singkat. Tapi percayalah, tidak demikian dengan jawabannya.

Sebenarnya, saya bisa menjawabnya dengan mengutip dari para guru saya, dari para founder, atau mengutip dari artikel yang ada di internet.

Tapi, apakah itu akan membuat si penanya ini paham? Belum tentu.

Lalu, saya inget sesuatu. Bahwa teman saya ini, kuliah jurusan TI (Technology Information) atau sebutannya dulu IT (Informasi dan Teknologi), jaman saya masih SMP dulu.

Nah, yang saya tau tentang jurusan TI ini adalah mereka belajar bahasa pemrograman komputer.

Jadi, ketika saya ingat hal itu. Saya jawablah pertanyaan teman saya tersebut dengan jawaban, 

“Oh, NLP itu sama dengan yang kamu pelajari di jurusanmu.”

Terus, teman saya tanya penasaran, “Maksudnya sama gimana, Di (nama panggilan saya)?

Saya jawablah, “Iya, sama. Kalo di jurusanmu kamu belajar tentang bahasa pemrograman komputer. Kalo di NLP kamu belajar bahasa pemrograman otak.”

“Sama-sama belajar bahasa pemrograman. Bedanya, yang satu belajar bahasa untuk memprogram komputer. Satunya lagi, belajar bahasa untuk memprogram otak.” Lanjut saya.

Kenapa kita perlu memprogram otak kita? Agar kita bisa sadar dengan apa yang kita pikirkan, kita bisa merasakan perasaan yang kita inginkan dan mendapatkan hasil yang kita harapkan.

Semua itu bisa kita capai apabila kita bisa memprogram (mengendalikan) otak kita dengan sangat baik.

Kita adalah raja bagi istana (pikiran) kita sendiri.

Quotes of the Day

Jadi lain kali, kalau saya ditanya tentang NLP menurut pandangan saya pribadi, saya akan jawab, NLP adalah Bahasa Pemrograman Otak.

Sesimpel itu.

KESIMPULAN

Lumayan, ya? Lumayan lama ngebacanya maksud saya, hehe…

Dari apa yang sudah kita baca. Kira-kira, apa yang bisa kita simpulkan?

Pertama, Belajar NLP dan menerapkan NLP sama dengan melatih otot-otot kecerdasan emosional kita. Cerdas secara intelektual tapi tidak dengan emosional bisa jadi stress nanti.

Bahkan, bisa kita temukan di beberapa kasus. Dimana orang secara intelektual cerdas sekali tapi ia bunuh diri. Kenapa demikian? Karena ketidakmampuannya mengendalikan emosinya sendiri.

Kedua, NLP adalah ilmu hasil dari memodel para ekselen atau orang-orang yang unggul di bidangnya pada saat itu. Memang kebanyakan dari yang di model adalah para ahli therapy. Tapi, semakin kesini semakin luas cangkupannya.

Bisa kita lihat, banyak para pebisnis yang menggunakan konsep dari pada NLP. Banyak juga dari para public speaker yang menggunakan teknik NLP. Dan masih banyak lagi lainnya.

Ketiga, NLP menurut pandangan pribadi saya adalah Bahasa Pemrograman Otak. Tidak wajib bagi kalian mengikuti pemahaman saya. Hanya saja, kata tersebut memudahkan saya untuk memahami NLP secara ringkas dan komprehensif.

Jika kamu punya definisi atau pemaknaan sendiri itu tidak apa-apa. Bahkan, saya pribadi ingin sekali mendengarkan NLP dari sudut pandang kamu. Tulis di kolom komentar, ya…

Ingin mengetahui info lebih lengkap tentang Belajar NLP Online? atau ingin bertanya tentangnya.

Silakan hubungi kontak ini

PENUTUP

Oke, sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan kepada kalian, Sohib Insight.

JIka kamu merasa insight ini bermanfaat. Yuk, share ke teman atau kerabat terdekatmu melalui sosial media.

Kamu juga bisa menggunakan blog ini untuk kepentingan pribadimu, selama mencantumkan sumbernya.

Mari bersama, kita berbagi insight bermanfaat. Happy Insight!😇😉

Ingin mendukung blog Jurnal Insight? Kamu bisa berdonasi seikhlasnya disini

__
Insight from Class:
Belajar NLP Online by Indonesia NLP Society

About the Author

Hai, Saya Raden Sasak. Saya senang memikirkan hal-hal yang jarang terpikirkan. Saya senang menulis insight setiap hari. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Support Jurnal Insight.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload