Gabung Insight Broadcast

Daily Insight: Ahad, 21 Safar 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Mencari Perspektif Yang Berbeda.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-6. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Yang Paling Penting Adalah Endingnya.

“Hidup adalah sebuah film. Jelaskan akhir cerita yang Anda inginkan. Tetap percayai”.

~ Jim Henson.

Kita semua pasti pernah menonton film. Dan mungkin sering menonton film. Sebagian orang mungkin setiap hari menonton film. Dulu saya begitu, tapi sekarang sudah tidak.

Tadinya saya setiap hari menonton film. Sekarang diganti dengan setiap hari menulis blog.

Kalau kita menonton film pasti yang menjadi pertanyaan terbesarnya ialah bagaimana dengan ending film tersebut. Apakah berakhir dengan Happy Ending atau Sad Ending.

Ending film juga menjadi hal yang paling diingat oleh penikmat film. Tidak jarang kalau orang ditanya tentang film yang barusan ia tonton pasti menjawab dengan menjelaskan endingnya.

Karena memang ending film lah yang paling mudah diingat. Semakin berkesan ending film tersebut maka akan semakin menarik bagi para penikmat film.

“Hidup adalah sebuah film.”

Begitu juga dengan hidup. Hidup itu seperti film. Seharusnya yang benar adalah film seperti sebuah perjalan hidup. Tapi konteksnya disini kita sedang mengambil pelajaran dari sebuah film. Maka hidup seperti sebuah film, hehe…

Yang paling penting dalam hidup kita juga adalah tentang akhir hidup kita. Kalau kita ditanya ingin mati dengan bagaimana. Pasti jawaban kita adalah ingin mati dengan indah.

Kita ingin mati seperti apa? Pasti kita ingin mati dengan meninggalkan yang baik. Kita ingin dikenang seperti apa? Pasti kita ingin dikenang dengan baik oleh orang lain.

Jika demikian jawabannya. Maka sudah seharusnya kita persiapkan segala hal untuk bisa meninggal dengan baik dan bisa dikenang oleh orang lain dengan baik pula.

Saya selalu kagum dengan para imam yang selama hidupnya ia gunakan untuk belajar dan berbagi. Seperti Imam al-Ghazali yang masih diingat dengan baik melalui karyanya.

Imam an-Nawawi juga demikian. Yang diingat dengan karyanya. Bahkan karyanya digunakan sebagai nama masjid di beberapa masjid di Indonesia. Yaitu, Riyadhus Shalihin.

Sudah pasti mereka meninggalkan yang baik dan dikenang dengan baik oleh generasi setelah mereka.

“Jelaskan akhir cerita yang Anda inginkan”.

Seperti yang dilakukan oleh kedua imam tersebut. Saya pun ingin bisa meninggalkan yang baik dan dikenang dengan baik melalui karya yang insya Allah akan saya hadirkan.

Seperti sebuah film, maka begitu juga dengan kehidupan saya. Saya ingin menjelaskan akhir cerita Raden Sasak dengan sesuatu yang baik. Sesuatu yang berkesan baik.

Tidak hanya berkesan baik. Tapi apa yang menjadi akhir dari cerita Raden Sasak juga bisa menjadi manfaat yang baik bagi semua orang.

Suatu keindahan yang tiada tara ketika kita dapat meninggal dengan baik (beriman) dan meninggalkan yang baik-baik.

Insight, 21 Safar 1444H.

Dan saya yakin pasti kalian juga menginginkan akhir cerita yang baik. Pasti kalian ingin dikenal dan dikenang dengan baik.

Dari sekarang kita sama-sama siapkan akhir cerita yang kita harapkan. Jelas akhir perjalanan hidup kita dengan baik dan berikan sesuatu yang baik setelah kehidupan kita.

Semoga kita semua, bagi Sohib yang membaca blog ini bisa meninggal dengan Khusnul Khotimah dan bisa memberikan akhir cerita yang akan dikenang oleh pengurus setelah kita. Aamiin Allahumma Aamiin.

INSIGHT 2

Belajar Itu Bisa Dari Siapa Saja.

“Gue iri sama ODGJ. Mereka tu, jiwanya sakit. Tapi fisiknya kuat. Sehat Walafiat”.

~ Dany Beler

Ini adalah kutipan yang saya dapatkan dari komedian Dany Beler ketika show di Somasi Close The Door Corbuzier. Materinya sangat saya suka dan sangat bagus menurut saya.

Ada sebuah frasa latin yang dikutip oleh bang Beler. Sebuah frasa yang menurut dia tidak sesuai dengan faktanya. Dia menyatakan ketidaksetujuannya dengan frasa tersebut.

Frasa tersebut berbunyi:

“Mens sana in corpore sano”.

Yang diartikan oleh bang Beler sebagai berikut:

“Didalam tubuh yang sehat. Terdapat jiwa yang kuat”.

Dia katakan, “Kadang gue gak setuju dengan statement ini.” “Gue iri sama ODGJ. Mereka tu, jiwanya sakit. Tapi fisiknya kuat. Sehat Walafiat”. Lanjut bang Beler.

Dari kalimat singkat tersebut. Saya bisa mendapatkan insight yang sangat luar biasa. Saya banyak belajar dari ODGJ tentang kehidupan.

“Mereka kemana-kemana, gak pernah pake baju. Tapi gak pernah masuk angin.”

Kenapa bisa begitu? Alasan yang saya dapatkan dari statement bang Beler adalah: “Karena mereka gak mikirin beban hidup. Hidupnya itu slow”.Nah, kita?

Raga kita sering sakit salah satunya karena beban hidup yang terlalu kita pikirkan. Misalnya, pas upload konten, likenya dikit. Kita baper dan kepikiran terus.

Ini adalah insight yang menurut sebagian orang mungkin remeh. Raga sakit, kok karena pikiran? Tapi memang begitu kenyataannya.

Raga kita bisa sakit, itu karena beban hidup yang terlalu kita pikirkan.Padahal permasalahannya sepele. Tapi kita terlalu memikirkannya.

Kita tuh, suka overthinking. Bahkan ketika satu hal belum kita lakukan. Kita udah suka berlebihan mikirnya.

Mau nulis. Belum nulis udah mikir. “Kira-kira saya bisa nulis gak, ya?”, “Kira-kira, kalau saya nulis ada yang mau baca gak, ya?” Dan masih banyak lagi hal yang kita pikirkan.

Belum apa-apa udah berlebihan mikirnya. Sampai sakit hati sama sakit jiwa kita mikirinnya. Apalagi pas tulisannya gak ada yang baca. Atau kontennya sedikit yang like, haha…

Hati-hati! Bisa-bisa kitanya yang jadi ODGJ nanti.

Jangan terlalu berlebihan merencanakan sesuatu. Rencanakan aja seperlunya. Persiapkan saja seadanya. Nanti kalau dirasa sudah cukup jauh. Baru kita boleh mikir lebih dalam lagi.

Rencanakan seperlunya. Persiapkan seadanya. Lanjutkan dengan usaha. Dan jangan lupa berdoa kepada-Nya.

Insight, 21 Safar 1444H.

INSIGHT 3

Temukan Perspektif Yang Berbeda.

"Cinta adalah objek yang tak berdosa. Yang basi adalah perspektifnya".

~ Dzawin Nur

Insight terakhir pada hari ini saya dapatkan dari komedian juga. Yaitu, dari bang Dzawin. Sangat menarik insight apa yang saya dapatkan darinya.

“Basi gak sih kalau kita ngomong cinta?:

“Oh, gak basi! Kenapa? Karena cinta itu adalah objek tak berdosa. Yang basi adalah perspektifnya”.

Suatu insight baru yang sangat bermanfaat bagi saya. Insight ini bisa saya gunakan sebagai konsep saya menulis. Misal, saya ingin menulis buku tentang produktivitas.

Buku yang membahas tentang produktivitas pasti sudah banyak dipasaran. Lalu bagaimana cara saya bisa menulis buku dengan tema yang sama tapi dengan hasil yang berbeda?

Ya, salah satunya adalah mengganti perspektif. Atau mencari perspektif yang berbeda dari biasa penulis lain lihat.

Misal kita ditanya tentang cinta. Apa itu cinta? Jika jawaban kita menggunakan perspektif orang lain atau perspektif yang sudah lama atau usang.

Maka cinta itu tidak menjadi sesuatu yang menarik. Tapi ketika kita menemukan perspektif atau sudut pandang baru tentang cinta. Maka itu akan menjadi sesuatu yang menarik.

Jadi, tidak apa-apa ketika kita ingin membahas sesuatu yang sama. Asal perspektif kita yang tidak sama. Karena itu yang akan membedakan kita dengan yang lainnya.

Ide boleh sama. Tapi eksekusinya harus berbeda. Ojeknya boleh sama. Tapi perspektifnya harus berbeda.

Insight, 21 Safar 1444H.

Kita pasti bisa membahas objek atau topik yang sama dengan perspektif yang berbeda. Seperti misalnya ketika kita ingin menggambar suatu objek. Sebut saja kita ingin menggambar angsa.

Mungkin sebagian orang akan menggambarnya langsung dari tampak depannya. Dan sebagiannya lagi akan menggambarnya dari tampak sampingnya.

Objeknya tetap sama angsa. Tapi masing-masing penggambar mengambil angle yang berbeda. Ada yang dari depan. Ada juga yang dari samping atau bahkan dari belakang.

Siapa yang menggambar angsa dari belakang cobak? Haha … tapi itu menarik. Karena jarang atau hampir tidak ada yang melakukan hal tersebut. Itu yang membuatnya menjadi menarik, haha…

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Hai, Saya Raden Sasak. Saya senang memikirkan hal-hal yang jarang terpikirkan. Saya senang menulis insight setiap hari. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Support Jurnal Insight.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload