Gabung Insight Broadcast

Daily Insight: Arbi'aa', 24 Safar 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Bukan Durasi, Tapi Kontribusi.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-9. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Semuanya Adalah Pembelajaran.

“Belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, berharap untuk besok”.

~ Unknown.

Di hari rabu ini, tanggal 24 Safar 1444 H saya mengawali insight saya dengan sebuah kutipan yang sangat luar biasa. Dan kutipan ini berbicara tentang garis waktu.

Seperti yang kita ketahui, bahwa garis waktu itu ada tiga. Yang pertama adalah hari kemarin dimana semua masa lalu kita yang berharga tersimpan.

Yang kedua, adalah hari ini dimana masa indah akan mulai tercipta melalui semua doa yang kita panjatkan dan melalui semua usaha yang kita laksanakan.

Dan yang ketiga adalah hari esok dimana sebuah pengharapan baru semua impian kita siap untuk diwujudkan.

Kita semua akan hidup di ketiga garis waktu tersebut secara berurutan. Maka hal yang paling penting sebelum kita memulainya adalah dengan berdoa terlebih dahulu, lalu kemudian berusaha semaksimal mungkin.

“Belajar dari hari kemarin,

Semua kegiatan atau aktivitas yang sudah berlalu akan menjadi sebuah pembelajaran bagi kita. Baik buruknya masa lalu kita tetap bisa belajar dan mengambil satu pelajaran dari masa lalu tersebut.

Katakan saja sebuah masa lalu kita adalah masa lalu yang buruk, karena kita pernah gagal dalam mencapai sesuatu yang kita impikan atau yang kita cita-citakan.

Dari situ bisa mengambil pelajaran yang begitu banyak. Misal, kita bisa membuat daftar kesalahan apa saja yang pernah kita lakukan dan tidak akan kita ulangi lagi ketika kita ingin melakukan kegiatan yang sama seperti sebelumnya.

Atau ketika kita berhasil. Maka kita juga akan belajar. Apa yang akan kita pelajari adalah tentang pola kesuksesan yang pernah kita buat. Nah, pola tersebut bisa kita ulangi lagi untuk mendapatkan hasil yang sama seperti sebelumnya.

Semua masa lalu merupakan sebuah pelajaran untuk kita bisa menjadi lebih baik.

Insight, 24 Safar 1444H.

hidup untuk hari ini, berharap untuk besok”.

Kita menjalani hidup hari adalah untuk hari ini. Maka ketika hidup yang sekarang kita lakukan adalah untuk hari ini. Sudah seharusnya kita melakukan yang terbaik sebisa kita. Kenapa?

Agar kita mendapatkan sebuah pelajaran yang amat berarti nanti di masa yang akan datang.

Yang penting kita sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jika kita belum mendapatkan hasil sebagaimana yang kita harapkan, ya tidak apa-apa. Itu tetap menjadi pelajaran.

Kita tetap masih bisa meletakkan harapan kita untuk hari esok. Kita berdoa saja semoga semua yang telah menjadi harapan kita bisa terwujud di hari esok.

Harapan harus tetap ada. Karena itu adalah bahan bakar.

Insight, 24 Safar 1444H.

INSIGHT 2

Kontribusi Lebih Baik Dari Durasi.

“Hidup bukan perkara durasi, tapi kontribusi”.

~ Ernest Prakasa.

Boleh saja kita hidup selama mungkin. Tapi dari waktu yang begitu lama apa yang telah kita kontribusikan kepada agama, negara, bangsa, atau generasi setelah kita.

Mungkin saya salah satu orang yang ingin hidup lama di dunia. Karena saya tau begitu banyak kenikmatan yang bisa saya dapatkan di dunia dan betapa menggodanya kenikmatan itu.

Tapi setelah saya berpikir panjang. Rasa-rasanya saya mengurungkan niat saya untuk hidup lama. Saya tidak mau hidup terlalu lama. Lama-lama itu akan menyakitkan.

Dimana teman segenerasi saya telah tiada semuanya. Tapi saya masih hidup. Sangat sedih sekali jika itu terjadi. Saya tidak menginginkan hidup seperti itu.

Pun jika saya harus hidup lama. Saya ingin hidup dalam karya saya. Saya ingin dikenal dan dikenang karena karya yang saya ciptakan. Bukan perkara yang saya hadirkan.

Karya akan membuat hidup seseorang lebih lama di dunia.

Insight, 24 Safar 1444H.

Salah satu kecemasan terbesar saya adalah ketika saya meninggalkan dunia tapi tidak ada satupun kebaikan yang saya sisakan di dunia. Saya tidak ingin pergi seperti itu.

Paling tidak ada satu karya yang bisa saya tinggalkan. Paling tidak ada satu kontribusi yang saya berikan. Kontribusi yang memberikan impact dan kontribusi yang bisa menginspirasi bagi setiap orang yang menikmatinya.

Gak enak sekali rasanya jika kita hanya meninggalkan perkara dunia yang tidak bermanfaat dan tidak berkontribusi apapun bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Bahkan akan sangat menyedihkan ketika kita meninggalkan permasalahan yang belum selesai atau masalah dunia yang itu mencoreng nama baik kita dan keluarga kita.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari perbuatan yang mencoreng nama kita dan nama baik keluarga kita. Jangan sampai kita berbuat demikian.

Kira-kira kalau kamu ditanya. Apa kontribusi yang akan kamu berikan? Atau kontribusi apa yang bisa kamu berikan selama kamu hidup? Apa jawabanmu?

Mungkin sulit untuk menjawabnya di detik ini atau pada saat kamu membaca pertanyaan itu. Tapi saya yakin saya dan kamu akan menemukan jawaban yang sebenarnya.

Jawaban atas kontribusi apa yang bisa kita berikan. Pasti bisa kita temukan seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman kita. Itu yang akan membantu kita melihat kontribusi yang bisa kita berikan.

Untuk saat ini cukuplah kita membuat diri kita sendiri senang terlebih dahulu. Cukup kita berkontribusi untuk diri kita sendiri dengan belajar terus untuk menambah ilmu.

Dan tidak pula juga kita terus melatih keterampilan yang kita miliki. Suatu saat keterampilan itu yang akan kita gunakan untuk berkontribusi kepada sekitar kita.

Kontribusi lahir dari apa yang kita tau dan yang kita bisa.

Insight, 24 Safar 1444H.

INSIGHT 3

Belajar Untuk Mendengarkan.

“Effective communication starts with listening”.

~ Simon Sinek.

Di insight yang terakhir ini. Saya bersyukur mendapatkan nasehat yang sangat penting dari Bapak Sinek. Yaitu, tentang bagaimana cara kita berkomunikasi.

Ada yang ingin jadi pembicara ulung disini?

Yang mungkin dari kamu Sohib Insight ingin menjadi seorang pembicara ulung. Ingin bisa berbicara dan memotivasi orang-orang. Dan ingin bisa menginspirasi orang lain.

Tapi sebelum ke arah sana. Terlebih dahulu kita haru menjadi seorang pendengar yang baik dan seorang pendengar yang mau belajar dari orang lain. Karena sejatinya,

Seorang pembicara yang baik lahir dari seorang pendengar yang baik.

Insight, 24 Safar 1444H.

Agak aneh rasanya jika kita ingin menjadi pembicara yang omongannya mau didengar oleh orang lain, tapi kita kita sendiri dari awal tidak mau mendengar perkataan orang lain.

Tapi ada yang paling aneh lagi. Yaitu, orang yang tidak mau mendengar suaranya sendiri. Entah karena malu atau karena menganggap suaranya tidak bagus.

Saya salah satunya yang punya teman yang seperti itu. Dia sangat ingin bisa berbicara di depan umum. Kemudian saya memberikan tips dari guru saya.

Yaitu, merekam suaranya sendiri dan lalu mendengarnya. Jawaban dia simpel sekali. “Suara saya jelek. Entah kenapa saya nggak suka ngeder suara saya sendiri”.

Ini adalah hal yang aneh juga menurut saya. Karena kita ingin suara kita didengar oleh orang lain. Tapi kita sendiri merasa malu dan tidak mau mendengar suara kita sendiri.

Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi pembicara yang efektif. Maka kita harus mau mendengar. Baik itu mendengar suara orang lain, maupun mendengar suara diri sendiri.

Tapi untuk orang yang masih pemula pada umumnya akan merasa seperti itu. Ia agak terasa aneh ketika mendengar suaranya sendiri. Tapi lambat laun jadi suka seiring waktu.

Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk menjadi seorang pembicara yang hebat. Tapi semua itu dimulai dari mendengarkan terlebih dahulu.

Mungkin kita bisa memulainya dari mendengarkan seseorang yang kita suka atau seseorang yang kita idolakan. Biasanya akan mudah bagi kita untuk mendengar orang-orang yang kita suka dan orang-orang yang kita idolakan.

Dan tidak menutup kemungkinan juga kita akan belajar dari orang tersebut. Mungkin kita bisa belajar tentang intonasi dia berbicara atau kita bisa belajar susunan kata yang dia sampaikan.

Anggap saja ketika kita mendengar orang lain adalah proses kita belajar untuk memodel seseorang yang ahli yang kemudian akan kita terapkan dalam diri kita.

Mendengar orang lain adalah proses kita belajar.. Mendengar diri sendiri adalah proses kita latihan.

Insight, 24 Safar 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Hai, Saya Raden Sasak. Saya senang memikirkan hal-hal yang jarang terpikirkan. Saya senang menulis insight setiap hari. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Support Jurnal Insight.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload