Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 29 Safar 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Gapailah Imajinasi Tersebut.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-14. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Gapailah Imajinasi Tersebut.

“Orang bodoh selalu berpikir ia bijak, tetapi orang bijak tahu bahwa dirinya adalah seorang bodoh”.

~ William Shakespeare.

Du du duh. Gimana nih, maksudnya? Orang bodoh selalu berpikir ia bijak. Jangan-jangan saya orang bodoh. Tapi ya sudahlah. Toh, saya juga orangnya bodoh, wkwk.

Pikiran tentang diri kita adalah orang yang bijak ternyata bukti bahwa kita adalah orang bodoh. Saya kurang setuju. Karena menurut saya memikirkan hal yang baik menurut diri kita, itu tidak salah dan sah-sah saja.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita mengklaim atau menyatakan diri kita adalah orang bijak kepada orang lain. Itulah orang bodoh yang sesungguhnya.

Karena bijak tidaknya diri kita bukan berdasarkan klaim atau pengakuan sepihak. Melainkan bijaknya kita harus dinilai dari bagaimana cara kita berpikir dan bertindak.

Dan yang menilai itu bukanlah diri kita. Melainkan orang yang merasakan dampak dari buah pikir kita atau dampak dari hasil tindakan yang kita lakukan.

Kalau selalu berpikir kita sebagai orang bijak. yang itu hanya di dalam pikiran kita saja. Menurut saya tidak salah. Karena menurut saya itu adalah doa agar kita menjadi orang bijak.

Tetapi ketika kita mengklaim diri kita bijak kepada orang lain. Itu adalah hal yang salah. Karena itu menunjukkan kita ingin diakui sebagai orang yang bijak.

“Bijak” bukanlah satu hal yang dapat di klaim. Melainkan itu dampak yang terbentuk dari pola pikir dan perilaku kita.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

Tapi saya setuju dengan pernyataan bahwa, “orang bijak tahu bahwa dirinya adalah seorang bodoh”.

Karena sejatinya orang yang tahu bahwasanya dirinya adalah seorang yang bodoh merupakan satu pikiran atau anggapan yang mencerminkan seseorang yang bijak.

Tapi berpikir tentang diri sendiri yang bodoh atau mengetahui dirinya bodoh belum tentu dia bijak. Bijaknya bisa kita nilai dari tindakan selanjutnya yang dia ambil.

Kalau hanya sekedar tahu bahwa dirinya bodoh dan tidak mau mengambil tindakan untuk memperbaiki atau meningkatkan dirinya. Saya rasa itu bukanlah seorang yang bijak.

Melainkan itu adalah orang bodoh yang paling bodoh diantara semua orang yang paling bodoh. Karena dia tau dirinya bodoh namun tetap membiarkan dirinya bodoh.

Balik lagi, bahwa orang bijak itu terbentuk dari pola pikir dan perilakunya. Pola pikirnya seperti orang bijak. Tapi perilakunya tidak. Maka dia bukanlah orang bijak.

Seratus tidak akan pernah dikatakan dan menjadi seratus meskipun hanya kurang satu ataupun setengah.

Kita boleh berpikiran tentang diri kita. Bahwa kita berpikir kita adalah orang bijak, itu tidak salah. Tapi kita harus mewujudkan pikiran tersebut.

Berimajinasilah tentang dirimu sebebas mungkin, dan kejarlah imajinasi itu hingga menjadi kenyataan.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

INSIGHT 2

Memperbaiki Yang Dalam Pula.

“Sunah kita itu, bahkan wajib untuk merawat diri kita sendiri, baik itu wajah maupun tubuh. Karena itu adalah anugerah dari Allah yang harus kita rawat. Sehingga orang yang menyia-nyiakan, itu termasuk perbuatan yang zalim.”

~ Gus Aldi.

Hari ini, untuk mengisi insight kedua ini. Saya menonton video dari Gus Aldi. Konten videonya selalu memberikan insight baru bagi saya.

Terlebih lagi, insight yang saya dapatkan dari Gus Aldi adalah insight mengenai agama atau seputar shalawat. Karena kontennya hampir semuanya sholawatan.

Video lengkapnya bisa kamu tonton melalui tautan ini: PRANK SHOLAWAT DOKTER KECANTIKAN !! PINDAHIN JERAWAT TETANGGA

Dan inilah beberapa insight yang bisa saya dapatkan dari video Gus Aldi tersebut.

Disunahkan kita untuk menjaga diri kita sendiri. Tidak hanya diluar, tapi juga menjaga apa yang ada di dalam diri kita. Seperti menjaga hati agar tetap bersih.

Tidak elok rasanya jika kita hanya menjaga yang di luar tetap bersih tapi yang di dalam kita biarkan tetap kotor dengan segala hal yang mengotorinya.

Bersih diluar namun kotor di dalam, itu seperti jebakan bagi tuannya sendiri.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

Karena sudah seharusnya kita menjaga apa yang melekat pada diri kita. Karena sebagaimana Gus Aldi sampaikan, bahwa itu semua adalah anugerah dari Allah SWT.

Justru ketika kita tidak menjaga dan merawatnya dengan baik. Kita sudah berlaku zalim kepada diri kita sendiri dan tidak mensyukuri anugerah yang telah dititipkan Allah SWT.

Seperti yang kita ketahui bahwa satu nikmat akan terus bertambah ketika kita mensyukurinya.

Oleh karena itu, menjaga diri adalah bentuk syukur dengan tindakan setelah kita bersyukur dengan lisan. Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan nikmat yang berlimpah, Aamiin.

Diri kita harus tetap kita jaga dengan merawatnya. Jika kita rawat itu berada diluar, maka kita bisa merawatnya dengan memberikannya nutrisi dan suplemen.

Jika yang kita rawat berada di dalam hati kita. Maka kita merawatnya dengan banyak-banyak berdzikir kepada Allah SWT dan bersholawat kepada Baginda Rasulullah SAW.

Yang ringan-ringan aja. Gak usah yang terlalu berat. Mungkin berdzikir dengan kalimat yang ada pada pembuka blog ini sebelum gambar thumbnail.

Untuk shalawat, saya pribadi menyarankan mendengarkan shalawat-shalawat yang ada di channel Gus Aldi. Insya Allah itu bisa menyejukan hati dan pikiran kita.

Menjaga yang ada di dalam itu lebih mudah karena tidak membutuhkan modal. Tapi seringkali yang tidak membutuhkan modal lebih berat daripada yang mengeluarkan modal.

Komitmen yang lahir dari uang akan memberikan dampak yang baik sekaligus dampak yang buruk. Berhati-hatilah.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

INSIGHT 3

Ujian Menjadikan Seseorang Beriman.

“Pergilah pada hamba-Ku lalu timpakanlah berbagai ujian kepadanya karena Aku ingin mendengar rintihannya”

(HR.Thabrani dari Abu Umamah)

Insight terakhir yang menutup insight hari ni adalah insight yang saya dapatkan dari hadist. Saya mengutip hadist ini, karena berkaitan dengan saya.

Baru saja saya mendapatkan ujian. Tapi alhamdulillah ujian tersebut berjalan dengan mudah dan dapat terselesaikan.

Mungkin kamu juga hari memiliki masalah. Tapi apapun itu, doa saya satu. Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dalam menjalani ujian.

Gak apa-apa ujiannya berat. Yang penting kita tabah dalam menjalaninya. Karena itulah kunci kita bisa melalui ujian yang Allah berikan kepada kita.

Ketabahan adalah sebuah proses yang berhasil dilalui oleh seseorang dalam menghadapi ujian, kesulitan atau tantangan dalam kehidupannya.

Jadi, tabah saja sudah bisa membuat kita menang. Apalagi kita bisa menjawab ujian, kesulitan atau tantangan tersebut. Ujian tersebut bisa kita jawab dengan suara rintihan kita.

Rintihan bukan berarti menandakan kita adalah orang yang tidak tabah menghadapi ujian. Melainkan bentuk berserah dirinya kita kepada Allah.

Kunci dari sebuah pakem ada pada tangan si pembuatnya.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

Mungkin ada beberapa orang yang akan bertanya kebingungan kepada dirinya sendiri.

Mengapa Allah tidak menyelesaikan langsung persoalan seorang hamba? Atau, mengapa Allah membiarkan saja seorang hamba bahagia tanpa ujian?

Jawaban dan alasannya adalah sebuah pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri.

Apakah setiap hamba mampu menjamin dirinya sendiri bahwa setelah persoalan ia diselesaikan Allah SWT hadir rasa syukur kepada-Nya ?

Dan

Apakah setiap hamba mampu menjamin dalam dirinya hanya Allah SWT yang dituhankan saat memiliki persoalan atau permasalahan hidup dan bukan sebaliknya...?

Artinya tidak mengadukan permasalahannya kepada selain Allah SWT.

Atau,

Apakah setiap hamba mampu menjamin dalam kesehariannya telah mengalir nilai nilai Allah SWT...?

Semua ujian, semua persoalan, semua permasalahan hidup yang kita hadapi adalah satu journey yang membuat kita semakin dengan dengan Sang Pencipta.

Sekaligus dengan semua itu. Kita semua akan terus belajar dan bertumbuh.

Hasil dari ujian ialah menjadikan seseorang beriman.

Insight Raden Sasak, 29 Safar 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload