Join Telegram

Daily Insight, Sabtu, 27 Safar 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Value Diri Adalah Kuncinya.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-12. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Usaha Yang Lebih Keras.

“Ia yang mengerjakan lebih dari apa yang dibayar, pada suatu saat akan dibayar lebih dari apa yang ia kerjakan”.

~ Napoleon Hill.

Untuk siapa insight ini? Ya, jelas untuk para pekerja. Termasuk juga diri saya pribadi. Saya yang sekarang bekerja di satu lembaga pelatihan yang bergerak di bidang personal growth.

Saya ketika bekerja selalu berusaha untuk memberikan yang lebih. Kenapa? Pertama, saya ingin menunjukkan bahwa saya bekerja sungguh-sungguh.

Kedua, saya ingin membuktikan bahwa saya bekerja bukan semata-mata karena uangnya. Tapi karena saya senang dengan pekerjaan yang saya lakukan.

Dan saya senang dengan lingkungan saya bekerja. Itu yang jauh lebih penting. Mungkin kita sedikit mengeluhkan ketika kita mendapatkan upah yang gak seberapa.

Tapi kita lupa bertanya pada diri sendiri. Seberapa besar yang sudah kita berikan dan dedikasikan kepada pekerjaan kita sehingga kita pantas mengeluhkan upah yang kita dapatkan.

Banyak yang mengharapkan bisa mendapatkan upah yang layak. Tapi banyak juga yang memberikan tenaga dan usahanya yang kurang layak dibandingkan dengan gaji yang dianggapnya tidak layak.

Agak aneh menurut saya ketika kita mengharapkan yang layak atau lebih. Tapi kita sendiri tidak mengeluarkan usaha yang lebih.

Jika kita mengharapkan output yang besar. Maka, inputnya juga harus besar.

Insight, 27 Safar 1444H.

Output atau hasil yang besar haruslah dibarengi dengan input atau usaha yang besar pula. Kita mengharapkan dua tundun pisang dalam satu pohon. Ya, gak bisa.

Kalau mau mendapatkan dua tundun pisang. Kita harus menanam dua pohon pisang juga. Artinya, hasil yang besar datang dari usaha yang besar pula.

Kita pasti sering mengeluhkan tentang hasil yang kita dapatkan (di luar konteks gaji yang kita bicarakan di awal tadi). Misalnya, kita berharap bisa mendapatkan followers yang banyak.

Sudah sebulan - dua bulan kita usaha. Tapi kita belum juga mendapatkan followers yang banyak. Lalu kita mengeluhkan tentang hasil tersebut.

Tapi anehnya kita tidak pernah mengeluhkan tentang usaha yang kita lakukan. Seperti menanyakan, apakah iya saya pantas mendapatkan followers yang banyak dengan usaha yang tidak seberapa ini.

Kalau kita menemukan hasil yang tidak sesuai dengan harapan kita. Cobalah untuk melihat usaha kita terlebih dahulu. Lalu bandingkan keduanya.

Setelah itu tanya kepada diri kita sendiri. “Apakah kita layak mendapatkan hasil yang kita harapkan dengan usaha yang tidak seberapa?”

Jangan fokus pada akibatnya. Tapi fokuslah pada sebabnya. Karena akibat tidak berada dalam genggaman kita. Sebaliknya sebab, itu berada dalam genggaman kita.

Insight, 27 Safar 1444H.

INSIGHT 2

Tingkatkan Value Diri Adalah Kuncinya.

“Uang adalah alat tukar nilai lebih”.

~ Darmawan Aji.

Hari ini saya mengikuti sebuah kelas. Kelas apa? Tebak hayo! Yaps, benar! Kelas yang ngomongin tentang uang. Tapi ini bukan kelas tentang ngomongin tentang uang sepenuhnya.

Judul kelasnya adalah Monetizing Expertise: Mengubah Keahlian Menjadi Cuan. Wah, menarik gak tuh? Pasti menarik. Apapun yang ngomongin tentang uang pasti menarik, wkwk.

Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, apa yang kita pahami tentang uang. Pasti yang kita pahami tentang uang hanyalah sebagai alat tukar.

Disini Coach Darmawan Aji tidak mengatakan jawaban itu salah. Tapi jawaban tentang uang itu harus diikuti dengan kata setelahnya. Kenapa?

Karena itu yang akan mendefinisikan makna uang yang sesungguhnya. Dan dari Coach Darmawan Aji menambahkan definisi uang tersebut sebagai,

“Alat tukar nilai lebih”.

Sekarang mungkin kamu akan bertanya tentang, apa yang dimaksud dengan nilai lebih? Nilai lebih adalah nilai yang kita dapatkan lebih besar dari nilai uang yang kita berikan.

Itulah kenapa orang ingin membeli sesuatu. Karena mereka berharap bisa mendapatkan nilai yang lebih dari apa yang mereka berikan.

“Tidak ada manusia yang mau menukar hal yang sama. Bahkan ketika manusia masih di zaman barter”.

Insight, 27 Safar 1444H.

Bahwa apa yang dikatakan oleh Coach Darmawan Aji. Saya sangat setuju. Karena memang begitulah fakta dan kenyataannya dalam kehidupan kita.

Inilah yang kemudian Coach Darmawan Aji sampaikan kepada para pejuang cuan jalur keahlian. Orang-orang yang memiliki keahlian lalu mereka ingin mengubahnya menjadi cuan.

Maka ketika kita ingin mengkonversi keahlian yang kita miliki menjadi uang. Pertanyaan yang harus bisa kita jawab adalah nilai lebih apa yang kita tawarkan.

Kira-kira apa kelebihan yang bisa di dapatkan oleh mereka yang ingin menukarkan uangnya dengan keahlian yang kita miliki?

Lagi-lagi yang harus kita ingat adalah, “Uang adalah alat tukar nilai lebih”. Value yang kita berikan kepada orang adalah hal yang menjadi fokus kita.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang jika kita benar-benar ingin mengkonversikan keahlian atau ingin menjadikan keahlian kita sebagai sumber penghasilan. Satu hal yang harus kita lakukan, yaitu meningkatkan nilai diri kita secara terus menerus.

Itulah kenapa kita harus terus belajar dengan banyak membaca buku. Banyak mengikuti pelatihan. Serta banyak berguru kepada orang-orang yang ahli. Semua hal tersebut akan membantu kita untuk meningkatkan value diri kita.

Meningkatkan nilai dalam diri kita sama dengan meningkatkan segala aspek kehidupan kita.

Insight, 27 Safar 1444H.

INSIGHT 3

Semua Berhak, Kita Pun Berhak.

“Gak usah bahas yang kemarin-kemarin lagi juga. Dalam artian, kedepannya kita yang lebih baik aja. Mau orang berpikiran beda, gak pa-pa, haknya juga.”.

~ Raditya Dika.

Kalimat diatas saya kutip dari komentar Bang Radit saat mengomentari penampilan Gautama di show yang ke-5. Karena menurut saya menarik. Jadi saya kutip.

Kutipan di atas akan sangat relate, akan sangat nyambung untuk orang-orang yang suka mendapatkan kritikan ketika mereka membuat sebuah karya.

Tidak terkecuali saya. Baru tadi siang. Saya mendapatkan komentar yang menohok. Bukan komentar dari cibiran para netizen. Tapi cibiran dari ahlinya.

Tapi ya sudah. Kritikan hari ini akan menjadi hari esok. Dan saya tidak perlu terlalu memikir tentang komentar tersebut. Yang perlu saya lakukan adalah menjadikan diri saya lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

Saya tidak tau apakah kamu juga pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Tapi, kutipan diatas mungkin akan sangat membantu kamu.

“Mau orang berpikiran beda, gak pa-pa, haknya juga.”

Setiap orang berhak memiliki pendapat yang berbeda. Dan setiap orang berhak mengomentari kita. Tapi kita juga berhak untuk menolaknya, jika itu tidak mendatangkan kebaikan.

Insight, 27 Safar 1444H.

Tergantung dari kita. Apakah kita ingin menerima kritikan orang. Tapi cobalah untuk dipikirkan terlebih dahulu. Apakah komentar itu bisa mendatangkan kebaikan untuk diri kita.

Atau komentar itu hanya mendatangkan keburukan untuk diri kita. Misal, kita jadi kepikiran terus sama komentar orang. Bahkan kita sampai berhenti berkarya karena komentar itu.

Kalau yang seperti itu yang kita dapatkan. Maka lupakanlah. Tidak usah dimasukkan ke dalam pikiran dan perasaan kita. Cukup kritikan itu sampai di telinga kita saja.

Selebihnya kita fokus dengan diri kita untuk meningkatkan value diri kita. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita. Itu lebih baik.

Meskipun kritikan itu datang dari ahlinya. Selama apa yang kita lakukan tidak mengganggu kenyamanan orang banyak dan bisa memberikan dampak bagi orang banyak. Go ahead!

Apapun perkataan orang, tidak akan merubah fakta yang ada pada diri kita. Bahwa orang akan mengatakan kita jelek. Jika faktanya kita tidak jelek. Maka perkataan itu tidak ada gunanya.

Meskipun yang mengatakan jelek 1000 orang sekalipun tidak akan pernah bisa mengubah fakta yang sebenarnya. Begitupun sebaliknya.

Jika karya kita dibilang bagus meski itu oleh 3000 orang. Tapi faktanya, karya kita jelek. Maka perkataan itu tidak akan mengubah fakta tersebut.

Yang bisa mengubah fakta tersebut adalah diri kita sendiri dengan usaha yang maksimal dengan melakukan perubahan dan berdoa meminta kemudahan kepada Tuhan, Allah SWT.

Ribuan kata tidak akan pernah mengubah fakta sebenarnya.

Insight, 27 Safar 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload