Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 04 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Bahagia Bergantung Pada Kriteria.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-48. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Jangan Iri Hati Terhadap Rezeki Orang Lain.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."

(QS. Hud 11: Ayat 6)

Ayat ini mengajarkan kita tentang iman terhadap rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rububiyah memiliki arti bahwa Allah yang mengatur segala kehidupan di bumi dan di langit.

Dan Allah sebaik-baiknya yang mengatur.

Rububiyah berarti Allah lah yang berkehendak dan menentukan segala sesuatu atas kehendaknya dengan kehendaknya. Dan Allah Maha Adil dalam segala ketentuan yang Ia dikehendaki.

Rububiyah juga berarti Allah lah yang menentukan rezeki untuk setiap hamba-Nya. Allah tidak pernah zalim mengurangi satu butir beras pun dari rezeki bagi hamba-Nya.

Sehingga ketika kita belajar rububiyah Allah pada Surah Hud ini. Seharusnya kita bisa percaya, bahwa rezeki kita tidak akan pernah tertukar dengan rezeki orang lain, meski sedikitpun.

Bahwa setiap manusia bahkan hamba-hamba Allah yang ada di langit dan di bumi semua telah diatur rezekinya dan Allah tidak pernah mengurangi sedikitpun rezeki dari mereka.

Setiap dari kita sudah memiliki rezekinya masing-masing dan rezeki itu tidak akan pernah kurang ataupun tertukar.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 1444H.

Jika Allah telah mengatur rezeki masing-masing hambanya, lalu kenapa kita harus bekerja?

Sesungguhnya bekerja itu bukan karena kita meragukan rezeki dari Allah. Tetapi bekerja itu adalah menjalankan ibadah karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menitipkan rezeki kita pada satu tempat dan Allah memerintahkan kita untuk mengambilnya dengan sedikit usaha, dengan sedikit ikhtiar.

Kenapa demikian? Agar kita menghargai pemberian Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Agar kita tahu betapa berharganya rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada kita.

Dengan demikian kita pandai bersyukur dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak satupun diantara makhluk-makhluk Allah yang tertukar rezekinya.

Sehingga kita tidak perlu merasa iri atau merasa dengki kepada orang lain atau juga kita tidak perlu merasa sombong dan tinggi hati ketika Allah memberikan kelebihan rezeki kepada kita.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 32)

Tidakkah orang iri terhadap rezeki orang lain, karir orang lain, kehidupan orang lain, kecuali ia ragu terhadap keadilan rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Iri dan dengki terhadap rezeki adalah bentuk keragu-raguan.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 1444H.

INSIGHT 2

Kualitas Lahir Dari Pengulangan.

Creating something new is easy. Creating something that can last is the challenge.

~ Simon Sinek.

Sebuah tantangan bagi seseorang yang ingin menciptakan karya yang bertahan lama di tengah masyarakat meskipun ia sudah tidak hidup lagi atau sudah tidak ada di dunia.

Karya yang bisa bertahan lama pastilah karya yang dibuat dari hati, lahir dari hati, datang dari hati. Dan pasti itu memakan waktu yang begitu lama.

Karya yang bisa bertahan bukanlah karya yang dibuat dalam sehari/ semalam. Tapi karya yang bisa bertahan adalah sebuah karya yang dibuat dengan jangka waktu yang cukup lama.

Butuh proses yang begitu panjang untuk bisa menghadirkan karya yang bisa bertahan. Karena karya yang bisa bertahan adalah sebuah karya yang mendatangkan banyak manfaat.

Dan meskipun kita sudah berencana untuk membuat karya yang bisa bertahan lama. Kita tidak akan pernah tahu, karya yang mana yang akan bertahan lama.

Sehingga yang bisa kita lakukan adalah terus berkarya, menciptakan karya-karya baru sampai kita bisa menemukan karya yang memang itu adalah karya yang bisa bertahan.

Jika kita ingin langsung membuat karya yang bisa bertahan lama. Maka kita tidak akan pernah membuat karya sama sekali. Karena karya yang bertahan lama adalah karya yang berulang.

Pengulangan akan menciptakan karya yang bertahan.

Berkarya yang lah sebanyak mungkin, karena kita tidak pernah tahu karya yang mana yang akan bertahan.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 1444H.

Berkaryalah sebanyak mungkin karena menciptakan karya baru itu mudah dibandingkan menciptakan karya yang bertahan.

Karya yang bertahan itu bisa hadir dari tangan seseorang yang sudah sering berkarya, sudah sering menciptakan karya. Bukan datang dari tangan orang yang baru mulai berkarya.

Setiap orang pasti menginginkan karyanya bisa bertahan lama di tengah masyarakat. Bahkan mereka ingin diingat karena karya yang mereka ciptakan dan yang sudah mereka berikan.

Tidak ada jalan pintas bagi seseorang untuk bisa menciptakan karya yang bertahan tanpa harus berusaha untuk menciptakan karya-karya yang bermanfaat dan berdampak.

Karya yang bertahan itu adalah akumulasi waktu yang kita habiskan dan banyak karya yang kita ciptakan.

Karya yang bertahan adalah karya yang dapat memberikan value kepada orang lain dan itu sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menikmati karya tersebut.

Tidak ada karya yang tiba-tiba bagus, tidak ada karya yang tiba-tiba populer, tidak ada karya yang tiba-tiba terkenal tanpa perjalanan panjang yang dilalui oleh seseorang.

Setiap karya memiliki jalan ceritanya masing-masing dan itu tidak sebentar. Jalan sebuah karya yang bagus adalah jalan yang begitu amat panjang dan menyusahkan.

Kapanpun kita ingin menciptakan karya yang bagus dan yang bertahan maka ingatlah bahwa itu butuh dedikasi yang tinggi.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 14444H.

INSIGHT 3

Bahagia Bergantung Pada Kriteria.

“Sangat sedikit yang dibutuhkan untuk membuat hidup bahagia, semuanya ada di dalam dirimu sendiri, dalam cara berpikirmu”.

~ Marcus Aurelius.

Kebanyakan dari kita mengeluhkan bahwa hidup kita ini tidak bisa bahagia. Padahal bahagia itu sederhana dan hanya membutuhkan modal yang sedikit.

Tidak membutuhkan hal-hal yang terlalu merepotkan kita untuk bisa merasakan bahagia. Bahagia itu simple dan cara untuk bisa bahagia pun, itu sangat mudah.

Namun kadang kala kita sering mempersulitkan diri kita untuk bisa merasa bahagia. Kita terlalu membuat standar atau syarat yang terlalu berat untuk bisa kita penuhi.

Misalnya, syarat kita untuk bisa bahagia itu harus mendapatkan like postingan yang banyak. Atau baru bisa bahagia setelah mendapatkan apa yang kita inginkan.

Nah, seringkali apa yang kita inginkan ini sulit untuk kita dapatkan. Dan itulah yang membuat kita jadi sulit untuk bisa merasa bahagia. Inilah sebab kebahagiaan kita terhambat.

Contoh lainnya adalah ketika kita ingin berbelanja baju. Kita tidak akan bahagia sampai kita belum bisa mendapatkan atau belum bisa membeli baju yang sesuai keinginan kita.

Baru bisa bahagia kalau sudah punya baju yang bagus. Baru bisa bahagia kalau sudah punya gadget yang bagus. Baru bisa bahagia kalau sudah punya kendaraan yang bagus.

Ini sudah pasti akan menyulitkan kita untuk bisa bahagia.

Cobalah untuk menyederhanakan apa yang kita inginkan agar kebahagiaan mudah mengalir dalam diri kita.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 1444H.

Kebahagiaan itu muncul dari dalam diri kita. Sehingga kita tidak membutuhkan sesuatu dari luar untuk bisa merasa bahagia. Apa yang kita butuhkan untuk bahagia itu ada dalam diri kita.

Salah satunya adalah pikiran kita. Pikiran kita akan sangat mempengaruhi tingkat kebahagiaan kita. Sebagai contoh, jika pikiran kita negatif maka kita akan sulit untuk bahagia.

Karena apa yang kita pikirkan, itu akan sangat mempengaruhi perasaan kita. Orang yang terlalu memikirkan hal-hal yang negatif pasti perasaannya cenderung tidak enakan.

Misal seperti orang tua yang selalu memikirkan anaknya yang belum juga pulang meski sudah larut malam. Pikirannya selalu negatif dan ini membuat perasaannya jadi tidak positif.

Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa merasa bahagia adalah dengan mengendalikan apa saja yang kita pikirkan. Pikiran itu mempengaruhi perasaan, Ia adalah pemicu dari perasaan.

Sehingga simpelnya adalah jika kita bisa mengendalikan pikiran kita, maka kita sudah bisa mengendalikan perasaan kita. Pikiran dan perasaan kita ada di tangan kita.

Dan sesuatu yang ada di tangan kita itu bisa kita kendalikan, bisa kita kontrol, bisa kita ambil alih secara penuh. Tapi sayang, kita cenderung mengendalikan hal-hal yang diluar tangan kita.

Fokuslah pada hal-hal apa saja yang bisa kita kendalikan.

Sangat mudah untuk bisa bahagia. Yang membuatnya sulit adalah syarat/kriteria yang kita buat.

Insight Raden Sasak, 04 Rabiul Akhir 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload