Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 21 Rabiul Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Sesuaikan Standar Tempatmu Bersandar.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-35. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Rasa Empati Menjadikan Kita Manusia Sejati.

Hari ini masih mencari insight melalui Madakhilus Syaithan. Hal ini akan saya bahas sampai semua jalan-jalan syaithan masuk kedalam hati manusia saya ketahui semua.

Karena dengan mengetahui pintunya maka saya bisa menjaga diri dari kemasukan syaithan yang berusaha mengendalikan isi hati dan pikiran saya. Hal ini sangat penting bagi saya.

Dengan mengetahui pintunya setidaknya kita bisa berjaga dan menutup pintu-pintu itu dari laluinya syaithan.

Sejauh ini kita sudah membahas tiga jalan masuknya syaithan, yaitu yang pertama, al-Ghadhab; yang kedua, al-Syahwah; dan yang ketiga, al-Hasad.

Dan sekarang yang akan kita bahas yaitu jalan masuk syaithan yang keempat: Asab'u Minat Tha’am, yaitu masuknya syaithan kedalam hati manusia karena terlalu kenyang ketika makan.

Hal yang sering kita lihat, dengar atau bahkan kita sendiri yang pernah merasakannya; menjadi malas ibadah ketika perut kita sudah terlalu kenyang.

Di Bulan puasa seringkali kita seperti berat sekali untuk gerak dan melangkah kaki ke masjid karena terlalu kenyang. Entah kenapa kita menjadi malas, tapi yang pasti itu karena syaithan.

Syaithan menggoda kita melalui rasa kenyang. Karena itulah kita bisa menjadi malas. Dan orang yang mengejar rasa ingin kenyang, itu pasti bawaannya rakus ketika makan.

Akibat karena terlalu kenyang, kata para ulama mengatakan, kita jadi gampang ngantuk dan lelah. Dan bawaannya kalau kita sudah ngantuk dan lelah adalah tidur dengan pulas.

Kenyang menjadikan kita malas untuk sembahyang dan itu menjadikan syaithan menang dan merasa senang.

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

Jangan biarkan syaithan menang dalam pertarungan yang melibatkan iman dan Tuhan. Karena itu bisa membuat kita termakan akan panasnya api neraka jahanam.

Jika ada cara kita untuk menang, maka lakukanlah itu dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjadikan kita sebagai seorang hamba yang beriman.

Jangan termakan oleh godaan syaithan dan jangan pula tertipu oleh bisikan yang mengajak kita kepada kemaksiatan.

Akibat dari terlalu kenyang ketika makan adalah hati menjadi jauh dari rasa kasihan kepada orang lain karena kita memiliki pandangan atau anggapan bahwa semua orang kenyang.

Karena kita terlalu kenyang, maka kita berpikir semua orang kenyang padahal pada kenyataan yang sebenarnya masih banyak orang yang kesusahan dan merasakan kelaparan.

Kata Syaikh Sa’id Hawwa, perut terlalu kenyang, menjadikan kita tidak memiliki rasa empati kepada sesama.

Orang yang tidak memiliki empati sama halnya orang yang tidak memiliki hati. Orang yang tidak memiliki hati sama halnya orang yang sudah mati.

Orang yang sudah mati adalah orang yang sudah tidak bisa lagi berkontribusi apa-apa kepada manusia, lingkungan dan bangsanya sendiri.

Ketika kita tidak memiliki rasa empati, maka disitulah kita telah mati dan tak satupun kontribusi yang kita miliki untuk negeri.

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 2

Permasalahan Menghadirkan Peningkatan.

"There will always be reasons to not do something. Be a problem solver, not a problem adder."

~ James Clear.

Sebuah perbedaan dua insan yang berbeda dari segi pencapaian. Yang satu dapat meraih kemenangan dan satunya lagi hanya meraih sebuah kekalahan.

Apa yang menjadikan mereka berdua berbeda? Bukankah mereka sama-sama manusia yang memiliki rupa? Apakah ada faktor lain yang menjadikan mereka berdua begitu berbeda?

Semua orang pasti memiliki pandangannya masing-masing. Dan setiap pandangannya mewakili tantangannya yang sedang mereka hadapi tanpa harus ada seorang pesaing.

Seseorang memiliki pandangannya sendiri dengan caranya sendiri karena mereka memiliki alasan. Entah alasan itu jadi sebuah dorongan atau hambatan.

Tapi yang pasti setiap orang selalu menciptakan alasan untuk melakukan dan meninggalkan apa yang menjadi permasalahan yang sedang ia hadapi pada saat itu.

Diantara alasan tersebut, ada yang membuat seseorang ingin melakukan dan mengambil tindakan, dan ada yang membuat seseorang tidak ingin melakukan dan memilih meninggalkan.

Sah saja menciptakan alasan ketika menghadapi sebuah permasalahan. Apalagi itu adalah sebuah masalah yang menyangkut tentang kehidupan.

Ciptakan masalah yang menguatkan bukan yang melemahkan.

Apapun permasalahan yang kamu hadapi. Selalu hadirkan alasan untuk menyelesaikan bukan untuk mengabaikan

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

Hadapi semua permasalahan yang menghambat diri kita dari mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena potensi yang ada dalam diri, itu sangat berarti.

Jangan biarkan suatu permasalahan menjadi sebuah hambatan bagi kita untuk mendapatkan kemenangan dan kebahagian. Jadikan permasalahan itu menjadi sebuah tantangan.

Tantangan menjadikan kita bergerak menang, bukan untuk menuai kekalahan.

Permasalahan datang bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk diselesaikan. Jangan hadirkan pemikiran yang menciptakan alasan untuk meninggalkan permasalahan.

Dengarkan nasehat dari James Clear, maka itu akan sangat bagus untuk kita. “Be a problem solver, not a problem adder."

Meninggalkan masalah hanya akan menimbulkan masalah. Diantaranya adalah ketidaktenangan kita dalam menjalani sebuah kehidupan.

Perjalanan memang selalu dipertemukan dengan sebuah permasalahan, itu agar kita bisa belajar, bertumbuh dan berkembang.

Jika tidak demikian, maka kita tidak akan pernah mendapatkan sebuah kemajuan. Hidup bukan tentang jalan ditempat, akan tetapi hidup adalah tentang jalan menuju ke depan.

Masalah bukan penghambat progres. Tapi itu ada untuk menciptakan peningkatan dalam sebuah progres.

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 3

Sesuaikan Standar Sebagai Tempatmu Bersandar.

“Berpikir itu gampang, bertindak itu sulit, dan melaksanakan satu pikiran dalam tindakan adalah hal yang paling sulit di dunia”.

~ Johan Wolfgang.

Mungkin penundaan datang karena kita beranggapan bahwa apa yang ada dalam pikiran kita itu sulit untuk diwujudkan menjadi sebuah tindakan yang menciptakan kenyataan.

Jika memang kita beranggapan bahwa berpikir itu gampang. Bukannya lebih gampang bagi kita untuk berpikir bahwa gampang melaksanakan satu pikiran dalam tindakan?

Tak sampai dalam jengkal dan tak masuk di akal ketika kita gampang dalam berpikir namun kita berpikir sulit untuk mengubah satu pemikiran ke dalam sebuah tindakan.

Bukannya gampang mikir? Kenapa kegampangan itu tidak kita gunakan untuk memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri bukan malah sebaliknya memberikan afirmasi negatif.

Jika memang kenyataannya kita sulit dalam mewujudkan pikiran menjadi sebuah tindakan. Kenapa tidak kita memikirkan hal-hal yang mudah untuk diwujudkan.

Berpikir tentang menciptakan kiat membaca buku dua lembar atau dua halam sehari, misalnya. Karena itu sangat ringan.

Bukan berpikir untuk membaca satu buku dalam seminggu. Karena itu akan terasa berat terlebih lagi ketika belum pernah membaca buku. Akhirnya pikiran tidak terkonversi jadi tindakan.

Jika terlalu besar maka kecilkan agar bisa terlaksanakan.

Sulit tidaknya kita dalam mengubah pikiran menjadi tindakan bergantung pada standar yang kita tetapkan.

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

Standar yang kita tetapkan harus sesuai dengan standar kita masing-masing, bukan standar yang kita pinjam dari orang lain. Karena standar orang tidak sesuai dengan diri kita.

Misal, standar saya menulis dalam sehari adalah seribu kata. Tentu standar ini tidak bisa digunakan oleh orang yang baru mau menulis, apalagi kalau belum pernah menulis sama sekali.

Begitupun ketika saya baru mulai menulis. Saya tidak langsung menetapkan standar yang tinggi-tinggi amat, termasuk seribu kata sehari pada saat itu.

Pada awalnya saya memulai dengan standar yang sesuai dengan kemampuan saya pada saat itu yang mana waktu itu saya hanya mampu menulis tiga ratus kata saja dalam sehari.

Tapi lama kelamaan standar itu meningkat dengan sendirinya ketika kita sudah berhasil melewati standar yang kita tetapkan untuk diri kita sendiri.

Sehingga pada saat itu pikiran saya untuk bisa menulis tiga ratus kata sangat mudah bagi saya untuk mengkonversikannya dalam bentuk tindakan dengan kata lain mewujudkannya.

Mulailah dari standar yang kecil yang sesuai dengan bisanya kita dan kemampuan kita.

Setelah itu, kita bisa coba untuk menaikan tingkatnya perlahan demi perlahan. Lama-lama standar kita akan semakin menaik dengan sendirinya secara terus menerus.

Mulai dari yang kita mampu. Jika tidak, kita tidak akan maju.

Insight Raden Sasak, 21 Rabiul Awal 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload