Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 25 Rabiul Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Yang Mudah Jangan Dibikin Susah.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-39. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Ketidaktahuan Bisa Merusak Iman Seseorang.

Kembali lagi di jurnal insight Raden Sasak yang mana insight pertama dari tiga insight hari ini masih membahas tentang jalan masuknya syaithan kedalam hati manusia.

Jalan masuknya syaithan yang kesembilan adalah al-Jahl atau al-Awam yang berarti bahwa syaithan masuk ke hati seseorang melalui keawaman seseorang terhadap ilmu agama.

Kenapa orang awam atau ketidaktahuan seseorang menjadi celah bagi syaithan masuk kedalam hatinya? Karena orang awam cenderung berbuat suatu kesalahan.

Tidak hanya cenderung berbuat suatu kesalahan, akan tetapi orang awam juga cenderung mengulangi kesalahannya karena ia tidak tau bahwa apa yang dia lakukan adalah kesalahan.

Terlebih lagi ketika orang awam melakukan suatu perkara yang dia tidak tahu menahu dalam perkara tersebut; mengambil satu amanah yang bukan dibidangnya.

Lebihnya lagi yaitu ketika orang awam berbicara sesuatu yang tidak dia kuasai sama sekali. Dampaknya, orang lain bisa-bisa percaya terhadap apa yang dia bicarakan.

Orang lain percaya karena orang ini sudah memiliki pengikut yang banyak serta sudah mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya. Sehingga pengikutnya bisa saja ikut tersesat.

Dia tidak hanya mengundang syaithan kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, ia juga membuka celah untuk syaithan bisa masuk kedalam hati orang lain. Inilah bahayanya jadi orang awam.

Ini adalah pintu syaithan yang paling berbahaya karena tidak hanya merugikan satu orang, tapi banyak orang.

Jika orang cerdas berbicara bisa menuntun satu manusia. Maka ketika orang awam yang berbicara, ia bisa menyesatkan satu bangsa.

Insight Raden Sasak, 25 Rabiul Awal 1444H.

Apa kunci kita bisa menutup celah tersebut? Banyak belajar.

Belajar dan bertumbuh setiap saat adalah kunci terbebas dari masuknya syaithan kedalam hati kita. Karena dengan belajar kita bisa tahu mana yang haq dan mana yang batil.

Pun ketika kita tidak paham dengan satu perkara. Maka, jangan malu untuk mengatakan wallahu a'lam bishawab, hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Akui saja kalau kita tidak tahu. Jangan malu untuk mengatakan demikian. Karena kalau kita memaksakan diri untuk menjawab, bisa-bisa syaithan sesatkan jawaban kita, dan itu menyesatkan.

Kalau kita menjawab dengan jawaban yang menyesatkan yang mana itu bisa mencelakakan orang. Maka cukuplah kita takut, bahwa semua akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.

Jadi sangat penting bagi kita untuk benar-benar paham dengan apa yang ingin kita bicarakan. Kalaupun tidak paham alangkah baiknya kita pelajari dan kuasai terlebih dahulu.

Amantu billahi wa rusulihi huwal awwalu wal akhiru wadz dzahiru wal bathinu wa huwa bi kulli syai-in 'alim.

Artinya: Saya beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dia yang awal dan yang akhir, yang zahir dan yang batin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Iman kita haruslah ditopang oleh pengetahuan, agar kita tidak mendapatkan kesesatan dan menyesatkan.

Insight Raden Sasak, 24 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 2

Yang Baru Bisa Ada Karena Ada Yang Lalu.

"The new is threatening to those who benefit from the old".

~ Simon Sinek.

Sesuatu yang baru menjadi ancaman bagi siapa saja yang mengambil satu manfaat dari sesuatu yang lama. Karena yang lama adalah sebuah ketinggalan.

Menjadi ancaman karena kita mengambil dari apa yang lama, kita menjadi ketinggalan dari apa yang baru. Yang mana orang sudah melangkah kita baru mulai melangkah.

Perubahan yang begitu cepat mengharuskan kita untuk bisa mengambil manfaat dari sesuatu pada saat peristiwa itu terjadi. Karena informasi selalu terbarukan.

Jika kita tidak bisa bergerak cepat maka kita akan semakin melambat untuk bisa bersaing dengan orang lain. Karena mereka yang selalu update akan menang.

Mereka yang selalu mengikuti perkembangan zaman akan menang dibandingkan dengan orang-orang yang lambat dalam mendapatkan suatu manfaat dari pelajaran yang lalu.

Orang sudah membahas sesuatu yang baru. Kita malah baru membahas sesuatu yang lama. Lama kelamaan kita akan kalah dengan orang yang selalu memperbarui informasinya.

“Apa yang baru hari ini?” Selalu menjadi pertanyaan bagi orang yang selalu ingin memperbarui informasi dan pengetahuan tentang seputar pengetahuan dunia.

Orang-orang seperti ini sangat takut ketika mereka ketinggalan informasi baru dan takut kalah trend.

Takut ketinggalan trend baru, tapi tidak mengambil pelajaran dari yang lalu (sejarah). Maka sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang ketinggalan zaman.

Insight Raden Sasak, 25 Rabiul Awal 1444H.

Sibuk memperbarui informasi dan sibuk mengikuti trend baru, tapi tidak pernah belajar dari masa lalu. Mereka adalah yang sebenar-benarnya ketinggalan dengan zaman.

Orang yang tidak belajar tentang sejarah dan yang lalu-lalu, kemudian tidak mengambil manfaat dari zaman tersebut. Maka ini adalah ancaman bagi mereka yang takut ketinggalan trend.

Sejarah adalah suatu zaman yang sudah berlalu yang mana sudah seharusnya kita tahu karena itu telah ada dan kita telah diberitahu sejak lama. Tapi masih saja tidak tau.

Melupakan zaman dulu adalah ancaman bagi zaman baru. Karena generasi baru tidak tahu akan manfaat zaman lalu dan tidak mengambil pelajaran dari yang sudah berlalu.

Maka jangan heran ketika ada seseorang yang hidup di zaman sekarang, tapi kelakuannya lebih aneh dan lebih buruk dari kelakuannya orang zaman dulu.

Ketidaktahuan kita akan sejarah menjadikan kita terperangkap. Terperangkap dari berbuat kesalahan yang sama. Bahkan lebih buruk dari kesalahan yang pernah ada.

Baik memang jika kita selalu memperbarui informasi dan selalu update dengan trend saat ini. Tapi jangan biarkan hal tersebut menjadikan kita tidak mengetahui sejarah.

Menyesuaikan diri dengan zaman baru jangan menjadikan kita lupa dengan zaman dulu. Karena fundamental dari sesuatu yang baru, itu datangnya dari yang sudah berlalu.

Insight Raden Sasak, 25 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 3

Yang Mudah Jangan Dibikin Susah.

“Hidup ini sederhana, tapi kitalah yang membuatnya rumit”

~ Confucius.

Kadang kita sendiri yang tidak mau hidup sederhana dengan menjadikan hidup kita rumit. Sama seperti ketika seseorang ingin membangun kebiasaan menulis.

Mau membangun kebiasaan menulis itu gampang sebenarnya. Tapi kita sendiri membuatnya menjadi sulit. Contoh, baru mau menulis nanti pas macbook atau laptop yang bagus.

Tidak mau menulis menggunakan hp atau kertas. Lalu kalau mau menulis, pengen tulisannya sempurna, yang mana itu menjadikannya semakin sulit untuk menulis.

Frustasi karena tulisannya tidak pernah sempurna. Alhasil jadi malas menulis dan mengurungkan niat untuk belajar menulis dan membangun kebiasaan menulis.

Gampang sebenarnya, tapi kita membuat kriteria yang sulit, bahkan untuk diri kita sendiri. Kenapa harus mempersulit diri dalam melakukan sesuatu yang baik?

Kenapa kita harus mempersulit diri kita sendiri ketika sesuatu yang mau kita lakukan itu pada dasarnya mudah?

Jangan kita biarkan kebaikan itu jadi sulit datang hanya karena kriteria yang kita buat. Buatlah kriteria yang mudah untuk kita lakukan dan mudah untuk dijalankan.

Hidup itu mudah dan sederhana. Lalu kenapa kita suka sekali dengan sulit dan berat yang mana ketika kita menjumpai hal itu menjadikan kita stres dan frustasi saja.

Sederhanakan yang sulit menjadi sesuatu yang mudah. Jangan jadikan sesuatu yang mudah menjadi suatu perkara yang rumit.

Insight Raden Sasak, 25 Rabiul Awal 1444H.

Pada dasarnya hidup itu mudah dan sederhana, sampai kita sendiri yang mengubahnya menjadi sesuatu yang sulit. Dan ketika hidup itu mulai berat, kita mulai menyalahkan keadaan.

Atas dasar apa kita mengubah perkara yang mudah menjadi suatu perkara yang sulit? Ingin menaikan tingkat kesulitan? Boleh saja, asal itu masih bisa kita lakukan.

Meningkatkan tingkat kesulitan itu harus secara bertahap dan sedikit demi sedikit. Jangan sampai kita baru mulai langsung menginginkan tingkat kesulitan yang tinggi.

Baru mulai belajar menulis; kebiasaan menulisnya saja belum terbentuk sudah ingin menerbitkan buku. Baru mulai belajar sudah mau mengajar. Padahal paham saja belum.

Alangkah baiknya kalau masih belajar; berbagi hasil belajar saja, bukan mengajar. Karena berbagi itu mudah.

Kalau bahasa lainnya: jadilah teman belajar, jangan berusaha untuk mengajar. Dengan demikian kita bisa sama-sama belajar dan tidak ada yang merasa digurui.

Toh juga kita nanti belajar cara mengajar dalam proses berbagi. Karena ketika kita sharing, itu sebenarnya kita lagi belajar cara mengajar. Hanya penyebutannya saja yang berbeda.

Menjadi teman belajar itu lebih baik daripada kita berusaha mengajar. Karena orang sekarang tidak suka digurui.

Jadilah seseorang yang suka berbagi dan menerima ilmu kepada dan dari siapa saja.

Insight Raden Sasak, 25 Rabiul Awal 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload