Join Telegram

Daily Insight: Sabtu, 19 Rabiul Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Kita Belajar Dari Apa Yang Kita Tulis.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-33. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 1

Kelilingi Dirimu Dengan Teman Yang Baik.

Sekarang saya ingin berbagi tentang jalan-jalan syaithan yang kedua setelah kemarin saya telah berbagi jalan masuk syaithan melalui amarah atau emosi yang menggebu dari seseorang.

Jalan masuknya syaithan yang kedua adalah al-syahwah. Syahwah dalam bahasa kita mungkin lebih dikenal dengan syahwat atau hawa nafsu.

Al-syahwah adalah jalan masuk syaithan ke hati yang terutama berkaitan dengan hubungan biologis. Makanya kita selalu diperintahkan untuk selalu menjaga syahwat. 

Seperti jangan mendekati zina atau bagi orang yang beriman yaitu dengan tidak melakukan hubungan dengan lawan jenis dengan cara yang syah atau tidak sesuai syariat.

Salah satunya, yaitu pacaran. Pacaran hal yang biasa bagi orang yang tidak beriman. Yang jika kita menegurnya, jawaban mereka, “Urus aja diri lo sendiri. Agama itu urusan pribadi”.

Sehingga Allah jadikan pernikahan sebagai jalan kita untuk bisa menjalin hubungan yang berkah dan jauh dari sesuatu yang haram lagi hina. 

Diantara ciri-ciri orang yang beriman adalah orang-orang yang menjaga kemaluannya.  Hal ini bisa kita baca dan temukan dalam ayat Al-Qur’an; Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

(QS. An-Nur 24: Ayat 30)

Hawa nafsu adalah yang paling kuat menggoda kita. Sehingga mengendalikannya menjadikan kita manusia yang terkuat.

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

Sekarang zaman yang mana hal yang salah sudah dianggap lumrah oleh sebagian orang. Takut ketinggalan trend atau takut dianggap tidak bisa bergaul.

Memang melakukan hal buruk sedemikian rupa dapat membuat kita lebih dekat dengan teman. Tapi yang tidak kita sadari ialah itu menjadikan kita semakin jauh dengan Tuhan, Allah SWT.

Adalah satu kebaikan ketika kita tidak pacaran. Tidak apa-apa jauh dari teman. Tidak apa-apa dianggap ketinggalan jaman. Yang penting kita tidak ketinggalan iman.

Apalah artinya pacaran kalau itu menjauhkan kita dari iman dan Tuhan. Apalah artinya kita memiliki teman kalau mereka mengajak kita kepada sesuatu yang menyesatkan.

Teman yang sebenarnya adalah teman yang mampu mengingatkan kita ketika kita berbuat kesalahan. Teman yang sebenarnya adalah teman yang mengajak kepada kebaikan.

Teman seharusnya menjadikan kita lebih beriman dan lebih dekat dengan Tuhan. Bukan malah sebaliknya yang menjauhkan kita dari iman dan dari Tuhan.

Kalau ada teman yang mengajak kita kepada suatu keburukan dan kesesatan. Maka itu bukan teman, tapi itu adalah syaithan. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surah An-Nas.

Lingkarilah diri kita dengan teman-teman yang baik dan bisa membantu kita menjadi orang yang beriman.

Teman yang baik akan mengajak kita kepada kebaikan.

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 2

Tanpa Prinsip Kita Akan Mudah Goyang.

“Principles have no price”.

~ Simon Sinek.

Insight yang kedua ini ingin saya cari dari kutipan Simon Sinek, yaitu tentang prinsip. Apa itu prinsip? Prinsip itu bisa kamu baca dibawah.

“Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak”.

Jadi prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau yang pernyataan yang paling mendasar dalam hidup kita. Dan setiap orang pasti memiliki prinsipnya.

Begitu juga dengan diri saya yang memiliki prinsip sendiri dalam menulis. Prinsip saya dalam menulis adalah menulis dengan mengalir dalam rangka mengeluarkan unek-unek.

Apa yang ada dalam diri saya atau apa yang sedang saya pikirkan itu yang saya tulis. Mungkin orang akan mengatakan bahwa menulis itu penuh dengan riset dan observasi.

Saya melakukannya juga, tapi tidak semassive seperti orang lain. Ala kadarnya saja, selebihnya tulisan mengalir begitu saja dari pikiran melalui jari jemari saya.

Apapun kata orang tentang tulisan saya, terserah. Karena saya memiliki prinsip dalam menulis. Dan yang paling penting, saya berusaha untuk melakukan sebaik yang saya bisa.

Dan inilah hasilnya. Memang sampah, tapi tidak untuk nanti.

Mungkin tulisan hari ini sampah. Tapi esok, pasti akan berubah. Dan terus berubah hingga tulisan terangkai dengan indah.

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

Entah apa kata orang tentang menulis. Tapi yang pasti saya memiliki prinsip tentang menulis dan tidak ada satu orang yang bisa mengubahnya. Jika pun bisa, itu akan membuatnya semakin baik dan semakin baik.

Dan saya yakin setiap orang termasuk kamu juga memiliki prinsip. Entah prinsip apa dan berkaitan dengan apa, pasti kamu punya suatu prinsip.

Entah itu prinsip kamu lahir dari dirimu sendiri atau lahir dari orang lain yang coba untuk kamu implementasikan dalam dirimu, itu tetap prinsip.

Dan prinsip adalah satu hal yang kita pegang dengan kuat dan itu yang akan mendefinisikan siapa diri kita. Orang yang hidup tanpa prinsip itu seperti bangunan tanpa pondasi.

Bagaimana jika bangunan tanpa pondasi? Maka ia bisa berdiri, tapi sayang itu mungkin tidak akan lama. Atau bangunan tersebut akan goyang.

Dan begitu juga dengan diri kita yang tanpa prinsip, maka kita akan mudah untuk goyang sampai kita akan benar-benar roboh. Dan itulah awal dari kehancuran diri kita.

Jadi sangat penting untuk memiliki prinsip hidup agar kita tidak mudah goyang dan kita tidak jadi orang yang melangkah tanpa arah yang hanyut mengikuti arus.

Orang yang mudah goyang tidak akan pernah bertahan lama. Dan orang yang melangkah tanpa arah akan terus tersesat. Kuatkan dasarmu dan tentukan arah tujuan hidupmu!

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 3

Kita Belajar Dari Apa Yang Kita Tulis.

“Mereka yang tahu tentang cara berpikir, tidak membutuhkan guru”.

~ Mahatma Gandhi.

Sedikit kaget dengan pernyataan diatas, tapi jujur kata tersebut sangat menarik sekali bagi saya. Bagaimana bisa orang yang tau cara berpikir tidak membutuhkan guru?

Pertama saya tidak tau sebab kenapa Mahatma Gandhi bisa mengatakan perkataan seperti itu. Tapi akan coba saya cari tau insight apa yang bisa saya dapatkan dari perkataan tersebut.

Mungkin mereka yang tahu tentang cara berpikir bisa dikatakan tidak membutuhkan guru adalah mereka yang selalu mampu menemukan solusi dari sebuah permasalahan.

Mereka adalah orang yang mampu menghadirkan solusi dari sebuah permasalahan yang baik itu adalah masalah dia sendiri atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Atau mungkin orang yang tahu cara berpikir bisa dikatakan tidak membutuhkan guru karena mereka adalah guru.

Apa maksudnya? Maksudnya adalah mereka guru yang bisa menggunakan otaknya untuk memikirkan berbagai macam rumus dari sebuah permasalahan.

Seperti para penemu yang bisa menemukan suatu cara, rumus, metode atau sebuah teknologi dengan menggunakan pemikiran yang mereka miliki.

Atau seperti para filsuf yang terdahulu yang mampu berpikir secara aktif dan massive.

Orang yang tau cara berpikir akan selalu menemukan cara dan melahirkan karya yang tidak hanya bermanfaat untuk dirinya namun bermanfaat untuk orang lain juga.

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

Mereka yang tau tentang cara berpikir yang tidak hanya berpikir tentang hal-hal yang biasa, tapi juga tentang hal-hal yang diluar dari biasanya juga.

Mereka tidak membutuhkan guru karena mungkin merekalah guru tersebut. Karena mereka menemukan suatu cara, maka merekalah yang mengajarkan cara tersebut kepada orang lain.

Tapi untuk bisa menjadi seorang pemikir yang bisa dikatakan sebagai seseorang yang tidak membutuhkan guru untuk sekarang mungkin tidak mungkin. Karena sekarang bagaimanapun orang membutuhkan seorang guru untuk menjadi seorang guru. 

Dan meski orang tersebut disebut sebagai orang yang tidak membutuhkan guru, dulunya pasti ia memiliki guru. Tidak orang tapi itu bisa alam yang mengajarinya.

Atau dalam kepercayaan kami para umat Islam yang mengajari kita adalah Allah melalui perantaraan kalam. Dan itu adalah guru kita, guru yang mengajari kita tapi terlihat seperti guru.

Pena yang kita gerakkan atau yang sekarang mungkin zaman sekarang huruf yang kita ketikan di keyboard kita adalah guru.

Bagaimana kemudian orang bisa mendapatkan ilham atau inspirasi dari menulis atau mengetik setiap hari. Dan hasil dari apa yang ia tulis atau yang ia ketik itu mengajari ia sesuatu.

Apa yang kita tulis dari apa yang ada dalam diri kita bisa disebut guru karena kita belajar darinya.

Insight Raden Sasak, 19 Rabiul Awal 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload