Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 22 Rabiul Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Segala Sesuatu Memiliki Tahapan Dan Bertahap.

Hai, Sohib Insight. Selamat datang di blog Jurnal Insight. Ini adalah Daily Insight yang ke-36. Di blog Daily Insight, saya menulis insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya sehari-hari.

Semoga insight yang saya dapatkan dari kegiatan (internet) saya ini, bisa bermanfaat bagi Sohib Insight yang membacanya, Aamiin.

INSIGHT 3

Berlebihan Adalah Perbuatan Yang Tidak Disukai Oleh Tuhan.

Setelah kita membahas jalan masuk syaithan di insight yang hari lalu. Sekarang saya ingin melanjutkan insight yang sama dengan mengetahui jalan masuk syaithan yang berikutnya.

Kalau di insight yang sudah saya tulis, setidaknya, sudah ada empat jalan masuk syaithan yang saya ketahui, diantaranya; al-Ghadhab, as-Syahwah, al-Hasad, al-Israf.

al-Ghadhab adalah jalan masuk syaithan kedalam hati manusia melalui amarah. as-Syahwah, jalan masuk syaithan melalui syahwat. al-Hasad, jalan masuk syaithan melalui iri dan dengki.

Dan al-Israf, yaitu jalan masuknya syaithan yang tercipta karena kita yang terlalu kenyang ketika makan.

Insight pada hari ini adalah jalan masuknya syaithan yang kelima, yaitu Tabarruj, jalan masuknya syaithan melalui cara manusia berhias atau berpakaian yang cenderung berlebihan.

Namun tidak hanya cara berhias atau berpakaian yang suka dilebih-lebihkan saja yang menjadi jalan masuknya syaithan. Tapi dalam menghiasi rumah serta perabotan di dalamnya juga.

Jika itu terlalu berlebihan, maka itu bisa menjadi jalan bagi masuknya syaithan kedalam hati manusia. Karena syaithan suka dengan seseorang yang berlebihan.

Orang yang suka pamer dan menghiasinya dengan secara berlebihan maka kita akan cenderung dikuasai oleh syaithan. Ketika itu, syaithan akan membisikan ajakannya kepada kita.

Ajakannya yaitu agar kita menjadi ujub atau merasa takjub akan diri sendiri atau menjadi seseorang yang merasa paling bagus, paling “wah” dibandingkan orang lain disekitarnya.

Jangan pernah merasa takjub dengan pencapaian. Karena pencapaian itu tidak akan pernah ada tanpa seizin Tuhan.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

Ketika kita takjub dengan pencapaian yang kita peroleh (yang mana itu tidak akan pernah kita dapatkan tanpa seizin Tuhan). KIta menjadi sombong tanpa kita sadari.

Selain itu, kita juga akan cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain yang mana itu bisa merendahkan orang lain.

Lalu, apakah kita tidak boleh berhias diri? Boleh dan tidak ada salahnya kita merias diri ataupun sesuatu yang kita miliki. Yang tidak boleh itu adalah berhias secara berlebih-lebihan.

Karena itu bisa menjadikan jalan bagi syaithan untuk masuk ke dalam hati manusia sehingga itu menjadikan kita jauh dari rasa syukur dan jauh dari Allah SWT.

Apa batasannya? Dan bagaimana cara mengetahui apa yang kita lakukan ternyata berlebihan dalam berhias? Apa indikator seseorang bisa dikatakan berlebihan dalam berhias diri?

Indikatornya adalah ketika apa yang kita gunakan untuk berhias ternyata memunculkan rasa sombong. Dan perlu kita ketahui bahwa rasa sombong ini seringkali tidak kita sadari.

Ada orang yang yang berlebihan dalam menghiasi dirinya. Lalu dilisannya ia katakan, “Saya tidak punya rasa sombong, kok. Saya biasa-biasa saja.”

Tapi kalau dilihat dari tindakan dan perbuatannya menunjukkan bahwa ia sedang sombong. Hanya saja saking sombongnya dia menjadi tidak merasa sombong karena sudah terbiasa.

Tinggi hati seringkali tak disadari karena kita sudah lupa diri.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 2

Belajar Menghadirkan Karya Dari Ulama.

“Segala yang dilakukan karena Allah, maka dia lebih abadi.”

~ Imam Malik bin Anas.

Dalam satu artikel yang saya baca setelah saya istirahat adalah artikel tentan ibadah para Imam dibalik karya mereka yang masyhur di berbagai kalangan umat islam sekarang ini.

Salah satunya yang membuat saya takjub adalah perkataan Imam Malik bin Anas. Dimana dikisahkan dari Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail,

Imam Malik bin Anas selalu istiqomah selama 60 tahun melakukan puasa daud, puasa sehari dan tidak puasa sehari. Dan setiap hari beliau shalat 800 rakaat. (Thabaqat al-Hanabilah Ibnu Abi Ya’la, 1/61)

Beliau adalah penulis kitab hadits tertua yang sampai ke umat Islam yang sekarang yaitu kitab al-Muwatha’. Ketika beliau hendak menulis al-Muwatha’ banyak orang yang berkomentar,

“Wahai Malik, kitab al-Muwatha’ sudah banyak.”

Kemudian beliau membalas perkataan orang-orang itu dengan kalimat, “Segala yang dilakukan karena Allah, maka dia lebih abadi.”

Dan terbukti, apa yang disampaikan Imam Malik. Dari sekian banyak kitab al-Muwatha’ yang sudah ada di zaman Imam Malik, yang Allah pertahankan hingga sampai ke umat Islam yang sekarang adalah kitab al-Muwatha-nya Imam Malik.

Itulah kunci dari berkarya. Berkarya karena Allah SWT. dan itu lebih abadi dari yang lain meski banyak yang menyaingi.

Ciptakan karya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka karya itu akan bertahan lama dari yang lainnya.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

Kita sebagai umat Islam dan sebagai umat yang diajarkan nilai kehidupan yang benar. Maka sudah seharusnya untuk selalu melakukan segalanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Termasuk dalam hal untuk menghasilkan karya yang bertahan lama di masyarakat, meski karya yang dibuat memiliki banyak saingan atau bandingannya.

Suatu karena akan bertahan dengan sangat lama ketika kita memang benar-benar meniatkannya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan karena niat untuk mendapatkan nikmat dunia.

Sangat bisa untuk kita mencontoh dan mengambil pelajaran dari karya Ulama. Yang bagaimana kemudian para Ulama itu melakukan kegiatannya semata-mata karena Allah.

Tidak terkecuali ketika mereka menghadirkan sebuah karya yang mendatangkan begitu banyak kebaikan dan manfaat bagi generasi setelahnya.

Itu semua dapat diraih oleh mereka karena ketaatan mereka kepada Allah dan keistiqomahan mereka untuk menghadirkan karya hanya karena Allah semata.

Kita sebagai anak muda dan sebagai generasi muda yang akan menghadirkan sebuah karya sudah sepatutnya kita banyak belajar dari para Ulama.

Tentang bagaimana keistiqomahan mereka dalam beribadah kepada Allah SWT. dan dalam menghadirkan sebuah karya.

Belajar Berkarya dari para Ulama, maka karya itu akan berjaya.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

INSIGHT 1

Segala Sesuatu Memiliki Tahapan Dan Bertahap.

"What appears to be a rapid shift is often preceded by a gradual process. Our results gradually explode or vanish thanks to the small habits we repeat each day."

~ James Clear.

Apa yang ingin kita capai harus melalui proses yang bertahap. Dan apa yang sudah kita dapatkan pasti hasil dari sebuah proses yang bertahap.

Cepat atau lambat suatu proses yang kita lakukan atau telah kita lakukan semuanya pasti melalui proses yang bertahap. Dari a ke b, dari b ke c, dari c ke d, dan begitu seterusnya.

Tidak ada yang datang tiba-tiba. Jika pun ada yang kita anggap sebagai sebuah hasil yang datang tiba-tiba, itu adalah sebuah tahap proses yang kita tidak sadari.

Seringkali kita tidak menyadari tahapan yang kita lakukan dari apa yang sudah kita dapatkan. Seperti kebiasan buruk yang terus berulang. Itu semua karena kita tidak sadar tahapannya.

Sehingga kebiasaan itu terjadi begitu saja dan kita hanya bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa kebiasaan tersebut tidak bisa kita ubah, dan itu semakin memperkuat kebiasaan.

Seandainya kita mau mencari tau bagaimana tahapan-tahapan dari kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Kita pasti bisa menghentikannya bahkan menggantikannya dengan yang baru.

Sebagai contoh penundaan yang telah menjadi kebiasaan kita yang menghindari kita dari melakukan sesuatu yang berharga. Kalau kita sadar apa tahapannya, kita pasti bisa berhenti.

Semua kebiasaan terbentuk atas tahapan-tahapan yang jika kita ingin mengubahnya, maka kita perlu tahu tahapannya.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

Kebiasaan menunda terjadi ketika kita mencari kesenangan yang bisa meredakan tekanan atas pekerjaan yang sedang kita kerjakan pada saat itu.

Sehingga tidak jarang orang sering membuka handphone mereka lalu mencari hiburan. Dan tak terasa bahwa hiburan tersebut telah menghabiskan banyak waktu.

Dan kita pun semakin tertekan untuk melanjutkan mengerjakan pekerjaan yang telah kita tunda. Akhirnya siklus penundaan di mulai lagi dan terus seperti itu sampai kita merasa stres.

Kalau kita menyadari tahapan terjadinya penundaan, maka kita bisa mengatasi penundaan. Ketika kita tau bahwa pekerjaan itu berat; kita akan rehat sejenak untuk mengumpulkan tenaga.

Bukan sebaliknya, melakukan kegiatan yang tidak berguna.

Beban terasa berat karena mungkin kita terlalu penat. Sehingga kita butuh yang namanya istirahat. Bukan malah mencari kegiatan yang tidak bermanfaat.

Rehatlah sejenak dari kegiatan. Jika tidak kita akan merasa tertekan. Mulai dari tertekan kemudian menjadi penundaan. Kalau sudah menunda kita jadi kepikiran sama kerjaan.

Sadari dari awal apa yang menurut kita itu terasa mengganjal, agar kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang menyesal. Karena itu akan menyisakan sakit hati yang kekal.

Penyesalan lahir dari ketidaksadaran kita atas apa yang telah kita lakukan.

Insight Raden Sasak, 22 Rabiul Awal 1444H.

PENUTUP

Alhamdulillah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Sampai disini dulu insight yang bisa saya bagikan. Semoga saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan satu kebaikan dari membaca blog insight hari ini. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari, tanpa insight yang bermanfaat.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload