Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 03 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ilmu Mencerahkan Pandangan Kita.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-76. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Dibalik Kesulitan Ada Kebahagian Yang Didapat.

Hari ini saya belajar tentang kesabaran dan keikhlasan. Bukan belajar sebenarnya, tapi lebih ke prakteknya langsung. Karena hari ini saya mendapatkan beberapa ujian yang harus dijalani.

Meski demikian, saya sangat senang dengan ujian tersebut. Karena saya mendapatkan banyak insight yang sangat banyak manfaat yang bisa saya ambil dan jadikan pelajaran.

Sebenarnya hari ini adalah hari dimana saya berkompetisi dalam kompetisi Public Speaking. Dan kompetisinya dilakukan secara online melalui zoom. Dan disinilah letak ujiannya.

Lomba hari ini sudah saya persiapkan secara matang jauh-jauh hari mempersiapkan lighting & background hijau. Tapi sayang mati lampu dari sekitar jam 13 sampai menjelang maghrib.

Tapi bersyukurnya jaringan masih ada untuk bisa mengikuti kegiatan lomba tersebut, meski saya harus mengikuti dengan seadanya dan semampunya tanpa lighting dan background.

Bahkan wajah saya tidak terlalu jelas jika saya tidak keluar rumah untuk mencari pencahayaan alami. Apakah saya bisa menang? Ya, saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti.

Tapi yang terpenting saya sudah mau berusaha dan berdoa. Karena hasil berada diluar kendali saya sama sekali. Hanya Allah yang bisa menentukan hasilnya apakah lolos atau tidak.

Jika saya belum lolos, itu artinya saya berusaha lagi dalam hal yang diluar kompetensi, yaitu di dunia nyata saya harus berani berkarya meski saya sempat mengalami kegagalan.

Sebenarnya agak aneh lidah saya ketika mengucapkan kata gagal. Karena sebenarnya saya mendapatkan pelajaran.

Bersamaan peristiwa yang mungkin kata orang tidak akan pernah terlupakan karena menjadi pengalaman terburuk, saya memilih untuk tidak melupakannya karena sebaliknya.

Justru ini adalah pengalaman terbaik yang menandakan bahwa saya hanyalah manusia biasa yang hanya bisa berjalan atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan tidak ada selain itu.

Yang menambah rasa syukur saya, hari ini juga adalah hari dimana saya bergabung dengan komunitas menulis online. Dan saya sangat bahagia ketika saya bergabung dalam grupnya.

Dari sini saya akan belajar banyak hal terkait kepenulisan yang nantinya bisa saya terapkan kedalam tulisan saya, baik dalam tulisan untuk blog ataupun nanti dalam tulisan lainnya.

Karena sebenarnya saya ingin sekali untuk menulis buku dan bisa menerbitkan buku tersebut. Mudah-mudahan saya bisa untuk melakukan hal tersebut dengan pertolongan dari Allah.

Dan saya juga berdoa bagi teman-teman yang ingin melakukan seperti hal yang ingin saya lakukan. Saya doakan teman-teman juga mendapatkan kemudahan dan kelancaran dari Allah.

Pada saat saya menulis ini saya mendapatkan insight lain yang bermanfaat untuk saya ambil. Saat saya menulis saya melihat seorang pemuda yang sedang berjualan dengan berjalan.

Ia berjalan sambil berjualan dengan membawa beban diatas badan. Sedih melihatnya, karena yang berjualan dengan beban tersebut adalah seorang anak. Usianya lebih muda dari saya.

Masih banyak harapan dan peluang yang bisa diambil, tapi entah kenapa di usianya yang masih sangat muda, ia sudah harus memikul beban yang begitu berat. Sedih melihatnya.

Dan ini menjadikan saya tidak bisa untuk tidak mensyukuri nikmat yang saya dapat. Karena ada orang yang hidupnya lebih berat dibandingkan mati lampu saat akan lomba.

INSIGHT 2

Carilah Alasan Kuat Untuk Tidak Menunda.

Memiliki harga diri yang rendah menandakan kita merupakan ciri seseorang yang suka menunda-nunda atau seseorang yang suka melakukan penundaan.

Diantara orang yang memiliki harga diri yang rendah adalah mereka yang menyalahkan pihak lain sebagai orang yang salah atas kegagalan yang ia capai; menyalahkan orang lain.

“Bukan salah saya. Ini mah, bukan salah saya. Saya telat mulai karena orang lain mengganggu saya. Baru mau mulai, ada aja teman yang ngajak saya untuk melakukan kegiatan lain.”

Itu adalah orang yang kehilangan harga diri. Sudah jelas bahwa pekerjaannya tertunda karena dirinya sendiri. Tapi yang salah temannya sendiri. Padahal dia bisa menolak ajakan temannya.

Maka penduaan yang paling buruk dan negatif datang dari penundaan yang kita percayai disebabkan oleh orang lain atau hal-hal yang ada diluar kendali kita. Padahal belum tentu.

Sama seperti saya yang menulis setiap hari. Saya menulis di laptop lama saya, yang hanya bisa menyala jika laptop saya di colokan ke listrik. Kalau mati lampu, maka laptop pun mati.

Dan mati lampu adalah sesuatu yang diluar kendali saya. Saya tidak bisa memerintahkan pembangkit atau pemilik listrik untuk tidak mati setidaknya ketika saya sedang menulis. Tidak bisa!

Tetapi, ketika listrik mati dan secara bersamaan mematikan laptop saya, bukan berarti saya harus menunda aktivitas saya menulis. Karena saya masih bisa menulis meski tanpa laptop.

Saya contoh, saya masih bisa menulis di hp. Dan itu yang saya lakukan ketika listrik mati. Atau saya bisa menulis diatas kertas.

Jika masih ada cara untuk mengerjakan suatu pekerjaan, maka kita harus kerjakan. Karena kalau tidak, itu disebut penundaan. Jangan mencari alasan untuk membenarkan penundaan.

Tapi carilah alasan dan cara bagaimana kita bisa terhindar dari aktivitas menunda yang tidak baik atau negatif. Karena yang tidak baik, akan membawa dampak yang negatif dalam hidup.

Sebenarnya selalu ada cara untuk bisa melakukan pekerjaan yang mungkin kita menganggap ketika ada hal-hal yang terlihat mengganggu kita tidak bisa melanjutkan pekerjaan kita.

Contoh lainnya dalam hidup saya adalah suara bising atau ribut ketika saya sedang menulis. Sebagian orang pasti akan banyak sekali mengeluhkan suara bising/ ribut ketika mereka menulis.

Tapi kita tidak menyadari bahwa suara-suara tersebut adalah satu dari hal-hal yang ada di luar kendali kita. Sehingga tidak ada cara untuk menghentikan suara-suara tersebut.

Misalnya ada orang yang ribut di sekitar kita, kita tidak dapat menghentikan orang itu. Kalau dia adik kita mungkin masih bisa untuk kita tegur. Tapi kalau tetangga yang lagi berantem?

Jawabannya, pasti tidak bisa. Kecuali kita mau ikut di omelin sama tetangga kita. Yang perlu kita sadari dan perlu kita garis bawahi; tindakan orang lain, itu berada diluar kendali kita.

Lalu, bagaimana cara saya atau kamu bisa menulis ketika ada suara berisik? Ya, caranya, salah satunya adalah dengan tidak mendengarkan orang ribut atau suara-suara yang ribut.

Dengan apa kita tidak bisa mendengar suara-suara ribut? Ya, dengan cara menggunakan headset yang memiliki fitur Active Noise Canceling. Dengan begitu kita tetap nyaman menulis.

Biar lebih nyaman dan rileks dalam menulis. Kita bisa sambil memutar musik kesukaan kita atau bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bisa memutar shalawat Nabi.

INSIGHT 3

Ilmu Mencerahkan Pandangan Kita.

Ada sebuah pernyataan yang menarik yang saya peroleh dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Pernyataan ini datang dari Abu Al-Aswad. Beliau pernah berkata,

“Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia daripada ilmu. Para raja menghakimi manusia dan para ulama menghakimi para raja.”

Bagi saya kata-kata diatas adalah insight yang menarik yang saya peroleh dari Kitab Ihya Ulumuddin. Disini bisa saya bisa mengetahui bahwa raja menghakimi manusia.

Manusia apa yang para raja hakimi? Ya, pasti manusia yang daya atau kekuatannya lebih rendah dari para raja. Karena jika ada yang lebih tinggi, merekalah yang menghakimi para raja.

Dan siapa orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya dari para raja? Mereka adalah orang-orang yang berilmu. Ilmu yang menjadikan seseorang derajatnya naik lebih dari derajat raja.

Di dalam kisah kerajaan sering kita melihat raja yang memiliki penasehat. Dan mereka selalu menasehati raja untuk tindakan atau keputusan yang akan diambil oleh raja.

Apakah tindakan atau keputusan raja atau tidak. Maka disinilah para penasehat berperan dengan berbagai ilmu yang mereka punya untuk membantu raja bisa menemukan pilihan terbaik.

Raja selalu membutuhkan orang cerdas dan orang berilmu di segala aktivitas kerajaannya. Karena pengaruh orang cerdas dan orang berilmu sangat besar bagi sebuah kerajaan.

Meski orang berilmu tidak menjadi penasehat. Mereka tetap bisa menghakimi setiap kebijakan yang diambil oleh raja.

Jika dilihatnya suatu keputusan raja ternyata menyengsarakan rakyat, maka para orang-orang yang berilmu akan menghakimi kebijakan raja tersebut (memutuskan salah atau benar hal itu).

Insight lain yang saya dapatkan dari Kitab Ihya Ulumuddin ialah sebuah perkataan dari Ibnu ‘Abbas ra. yang dalam Kitab Ihya dituliskan bahwa beliau juga pernah berka,

“Nabi Sulaiman bin Daud as. diminta untuk menentukan pilihan antara ilmu, harta, atau tahta (kekuasaan). Beliau pun ternyata lebih memilih ilmu. Setelah Sulaiman memilih ilmu, Allah Swt. anugerahkan pula berserta ilmu itu harta dan kekuasaan bagi beliau.”

Kalau kita mau sedikit berpikir tentan perkataan Ibnu ‘Abbas ra. tersebut. Maka kita akan dapatkan insight bahwa ilmu itu akan selalu bisa membawa harta dan kekuasaan bagi kita.

Karena dengan ilmu kita bisa mendapatkan harta. Dengan ilmu kita bisa mendapatkan kekuasaan (kedudukan) yang tinggi di hadapan manusia dan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Akan tetapi, apakah dengan harta kita bisa mendapatkan posisi atau kedudukan yang tinggi di hadapan manusia? Jawabannya pasti bisa. Karena manusia sekarang banyak yang gila harta.

Kita cukup pamer harta di depan banyak orang. Maka banyak diantara manusia yang akan berbondong-bondong mendatangi & memuji dirimu untuk meminta-minta harta yang kamu miliki.

Padahal harta yang kamu miliki adalah titipan yang sangat tidak ada apa-apanya disisi Sang Pencipta. Tapi manusia telah gelap mata dengan meminta harta kepadamu yang hanya manusia.

Dan orang menjadi lupa meminta kepada Sang Pemilik Harta yang sesungguhnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Ya, karena baik yang meminta dan/atau yang memberi tidak memiliki ilmu.

Na'udzubillahi Min Dzalik. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload