Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 25 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Sampaikan Kebenaran Dengan Cara Benar.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-69. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Sampaikan Kebenaran Dengan Cara Yang Benar.

Pada insight internet ini saya mendapatkan insight tentang cara kita bisa menghadirkan ketenangan kedalam hati seseorang melalui pesan yang kita sampaikan dan pesan yang kita bagi.

Begitu tenang mendengarkan Ustadz Adi Hidayat ketika beliau membagikan informasi kajian Quran. Padahal itu hanya sebuah informasi atau pengingat untuk mengikuti kajian Quran.

Tapi meski hanya menyampaikan informasi saja, saya sudah bisa mendapatkan ketenangan ketika mendengarkan informasi yang Ustadz Adi Hidayat sampaikan di instagram miliknya.

Disini saya mendapatkan insight dan pelajaran bagaimana cara kita berbicara hingga mampu menjadikan seseorang yang sedang mendengarkan kita bisa merasakan ketenangan.

Dan caranya adalah dengan menyampaikan pesan itu dengan penuh kelembutan dan kesabaran. Dan ini juga yang sering kita dengar dari kisah-kisah perjalanan Dakwah Rasulullah ﷺ

Selama Rasulullah ﷺ berdakwah, Baginda ﷺ selalu berdakwah dengan penuh kelembutan dan kesabaran. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ tidak diperlakukan secara baik oleh orang-orang.

Sampai saat ini, saya masih meyakini cara terbaik mensyiarkan islam adalah dengan mencontohi cara dan gaya Rasulullah ﷺ berdakwah, yaitu dengan penuh kelembutan dan kesabaran.

Karena sesuatu yang baik haruslah disampaikan dengan cara yang baik pula. Sesuatu yang baik jika disampaikan dengan cara yang tidak baik, maka itu tidak akan baik sepenuhnya.

Begitu juga dengan apa yang kita haruslah untuk mendapatkan yang baik dengan cara yang baik pula.

Ibarat mencuci pakaian. Mencuci pakaian adalah baik. Tapi itu harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Jangan sampai kita mencuci pakaian dengan air yang tidak bersih.

Mencuci untuk mendapatkan kebersihan. Tapi kalau cara kita mencuci pakaian itu salah, bukan bersih yang kita dapatkan sebagai hasil akhirnya melainkan sebaliknya.

Maka insight yang saya dapatkan, yaitu sampaikan yang baik dengan cara yang baik. Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar. Carilah kebersihan dibalik sesuatu yang bersih.

Jangan menyampaikan kebaikan dengan cara yang tidak baik. Jangan menyampaikan kebenaran dengan cara yang tidak benar. Karena itu akan merabunkan kebenaran dan kebaikan

Kadang yang disampaikan itu baik, tapi karena caranya yang salah, maka orang yang menangkapnya juga jadi ikut salah dalam memaknai apa yang disampaikan.

Sehingga bisa menimbulkan keraguan dalam hati seseorang yang mendengarkannya. Dan pada akhirnya orang yang mendengar itu tidak bisa mendapatkan kebaikan didalamnya.

Bahkan orang jadi mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kebaikan yang telah ia mulai karena melihat dan mendengar yang baik namun disampaikan dengan cara yang tidak baik.

Jika kita bisa menyampaikan pesan dengan penuh kelembutan dan kesabaran. Kenapa kita tidak menyampaikannya dengan kelembutan dan kesabaran.

Namanya menyampaikan kabar gembira, tapi kalau orang yang mendengarkannya jadi tidak gembira, apakah itu masih disebut sebagai kabar gembira?

Oleh karena itu, ada baiknya kita belajar cara menyampaikan pesan. Karena kadang bukan pesannya yang bermasalah, tapi orang yang menyampaikan pesan itu yang bermasalah.

INSIGHT 2

Hari Esok Tidak Pernah Ada, Itu Hanya Hari Ini.

Insight buku Kitab Anti Penundaan hari lalu saya mendapatkan insight tentang tidak semua aktivitas menunda itu penundaan. Karena ada yang menunda hal-hal yang baik atau yang buruk.

Dalam dunia psikologi yang saya dapatkan dari buku Kitab Anti Penundaan dijelaskan penundaan yang negatif disebut sebagai prokrastinasi dan orangnya disebut sebagai prokrastinator.

Dari membaca buku Kitab Anti Penundaan saya mendapatkan sebuah pencerahan tentang kata prokrastinator yang ternyata berasal dari bahasa latin.

Yang mana pro memiliki arti “bergerak ke depan/maju” dan crastinus yang memiliki arti “milik hari esok".Jika kita gabung kedua arti tersebut. Maka artinya, “Kerjakan hari esok.”

Kerjakan hari esok ini adalah sebuah penundaan yang kita lakukan ketika kita menemukan tugas yang berat dan tugas yang tidak menyenangkan, baik tugas rumah atau tugas kantor.

Karena kita menganggap tugas tersebut tidak menyenangkan dan berat, maka kita berniat untuk mengerjakannya hari esok saja. Meski esok hari belum tentu kita mengerjakannya.

Bahkan ketika tugas yang kita kerjakan itu tidak berat dengan kata lain tugas ringan. Kita pun cenderung akan menundanya karena kita merasa tugas itu ringan.

“Ah, cuman sedikit, paling 30 menit selesai. Besok aja dah, ngerjainnya.” Jadi sebenarnya kita menunda kadang bukan karena tugasnya berat tapi karena tugasnya terlalu ringan.

Dan ketidaktahuan kita akan pentingnya tugas tersebut juga bisa memicu kita untuk menunda pengerjaannya.

Insight selanjutnya yang saya dapatkan dan menurut saya ini akan sangat kamu suka adalah tentang hari esok yang tidak pernah ada. Apa yang esok selalu berubah menjadi hari ini.

Mungkin kamu pernah melihat warung makan atau kantin yang menuliskan poster dengan sebuah kalimat, “Hari ini bayar, besok gratis”. Pernah membaca atau mendengar kalimat itu?

Kita tidak akan pernah mendapatkan yang gratis meski sudah dijanjikan bahwa “besok gratis”. Karena ketika besok itu tiba, besok akan hilang dan akan kita sebut sebagai “hari ini”.

Kita tidak bisa menyebut hari ini sebagai hari esok. Karena hari dimana kita berada sekarang disebut sebagai present. Bahkan saat kita menyebut hari esok, keesokan harinya adalah hari ini.

Dan hari esok hanyalah sebutan untuk menjelaskan hari yang akan datang. Dan ketika hari yang akan datang itu tiba, maka ia bukan lagi disebut esok, tapi kita menyebutnya sebagai hari ini.

Kira-kira, sampai sini bingung, gak? Haha… Intinya, ketika kita tidak akan pernah mengerjakan tugas di esok hari. Karena kita selalu mengerjakan apa yang kita kerjakan di hari ini.

Jadi, tugas hari ini harus kita selesaikan hari ini juga. Karena kita tidak akan pernah berjumpa dengan hari esok untuk bisa mengerjakan tugas. Tugas, ya selalu dikerjakan hari ini.

Jadi jangan biarkan diri kita termasuk kedalam 20% populasi manusia yang suka melakukan penundaan dan menunda tugas penting atau kegiatan yang bermanfaat untuk diri sendiri.

Karena dalam sebuah riset yang diterbitkan tahun 1996, seorang profesor psikologi dari De Paul University, Chicago, yaitu Joseph Ferrari, Ph. D menjelaskan, bahwa ..

“Setidaknya 20% populasi manusia masuk dalam kategori prokrastinator kronis.”

INSIGHT 3

Orang Berilmu Tau Perbedaan Duniawi & Ukhrawi

“Pemahaman seorang ahli (orang yang berilmu) akan lebih mengetahui jika kemuliaan kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan di alam dunia.”

Kalimat dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin.

Adalah insight yang membuat saya yakin dengan sepenuh hati bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik daripada kehidupan di dunia. Selama ini kita hanya mengetahuinya saja.

Sekedar tahu tentang adanya alam akhirat, tapi kita tidak yakin dengan seyakin-yakinnya tentang alam akhirat lebih baik dari alam dunia. Bisa kita lihat aktivitas yang sering kita lakukan.

Aktivitas apa yang sering kita lakukan di atas bumi ini? Apakah itu adalah aktivitas yang berimbas pada kehidupan alam akhirat atau hanya untuk mencari kesenangan dunia saja?

Mungkin kita tidak mengetahui alam akhirat itu jauh lebih baik, karena mungkin kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sebagaimana yang Imam Al-Ghazali sampaikan.

Seharusnya, jika dia benar-benar tahu bahwa kehidupan alam akhirat itu lebih baik daripada alam dunia, maka ia akan selalu mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang mungkar.

Semoga saja kita bisa melakukan apa saja yang menjadi tugas kita sebagai hamba Allah SWT. dan umat Nabi SAW. dan kita meminta perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari maksiat.

Mudah-mudahan kita semua juga diberikan pemahaman agama yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. serta diberikan petunjuk jalan yang lurus, sebagaimana jalan orang-orang yang beriman. Aamiin Allahumma Aamiin...

“Manusia terbaik adalah seorang mukmin yang berilmu. Yaitu jika dibutuhkan maka ia berguna bagi sesamanya namun jika tidak sedang dibutuhkan ia dapat mengurus dan mengendali kebutuhan dirinya.”

Hadist dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin.

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Syu’ba Al-Iman secara mauquf (hadis yang periwayatannya hanya disandarkan kepada sahabat saja, baik sanad-nya bersambung maupun tidak-penerj). Pada riwayat Abi Al-Darda’ ini sanadnya lemah, dan tidak terlihat adanya alasan yang menyampaikan pada status marfu’ (perbuatan, perkataan, maupun ikrar yang disandarkan kepada Nabi ﷺ oleh sahabat maupun lainnya, baik sanad-nya bersambung maupun terputus-penerj).

Meski sanad dari hadist tersebut lemah. Tapi mari coba kita sejenak berpikir tentang apa saja manfaat atau keuntungan yang bisa dimiliki oleh orang-orang yang berilmu.

Menjadi orang yang berilmu itu enak.Karena dengan ilmu ia bisa mendatangkan manfaat. Tidak bagi umat, maka bagi masyarakat. Tidak juga demikian, maka bagi keluarga terdekat.

Bahkan dalam skala terkecil manfaat ilmu adalah bagi pemiliknya. Ilmu bisa membantu ia menyelesaikan masalah dan problematika yang sedang ia hadapi.

Setidaknya dengan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri adalah ilmu sabar. Bagaimana kemudian musibah yang datang menimpanya ia hadapi dengan penuh kesabaran.

Kemudian ilmu dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri untuk bisa merasa bahagia dan mudah untuk bersyukur dengan nikmat Allah, meski menurut orang lain nikmat itu tidak besar baginya.

Begitulah kemudahan yang didapatkan bagi orang-orang memiliki pemahaman agama. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload