Join Telegram

Daily Insight: Arbi'aa', 06 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Jiwa Akan Mati Tanpa Ilmu Dan Hikmah.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-79. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Membangun Kebiasaan Baru Itu Mudah.

Perubahan bagi sebagian orang sangat mudah. Tapi bagi orang lain, perubahan sangatlah sulit bagi mereka. Dan bagi mereka yang sulit melakukan perubahan. Mungkin ini bisa bermanfaat.

Setiap orang pasti memulai dari dasar terlebih dahulu sebelum akhirnya ia bergerak maju melakukan hal-hal yang lebih sulit. Karena memahami dasar memudahkan kita di step berikutnya.

Meski hanya dasar, kita tidak boleh meremehkannya. Justru orang yang meremehkan dasar yang paling sering mengalami kegagalan di tahap selanjutnya. Ingat, dasar adalah pondasi.

Kalau kita tidak mempersiapkan pondasi yang kuat untuk dapat menopang sesuatu yang kita bangun, maka apa yang akan kita bangun tidak akan dapat bertahan cukup lama, ia akan hancur.

Maka dari itu, persiapkanlah pondasimu sebagus mungkin dan sekuat mungkin, agar apa yang akan kamu bangun nanti tidak mudah roboh, tidak mudah goyang, dan dapat berdiri kokoh.

Jika kita kesulitan dalam membangun pondasi yang kuat, maka ada baiknya kita mencari terlebih dahulu, apa saja yang perlu ada, baru pondasi tersebut bisa dikatakan pondasi yang kokoh.

Kalau pondasi rumah mungkin kita semua sudah tahu. Yang diperlukan untuk membangun pondasi rumah ada pasir, batu, semen dan besi sebagai cakar ayam agar pondasi itu kokoh.

Kalau kebiasan baru pondasinya apa? Pondasinya adalah pemahaman konsep dan prinsip. Apa konsep dari kebiasaan baru yang ingin kita bangun. Maka itu harus kita pahami dulu.

Prinsip juga penting. Karena prinsip adalah pegangan selama kita berjalan (baca: berproses) membangun kebiasaan baru.

Sebagai contoh: Saya memiliki prinsip bahwa menulis hanyalah tentang menulis. Tidak ada yang lain. Maka ketika saya menulis saya hanya fokus menulis. Karena itu adalah fokus utamanya.

Jadi, selama saya membangun kebiasaan menulis, yang saya kerjakan hanya menulis, hanya fokus pada menulis bukan pada hal-hal lain diluar itu seperti tulisan saya harus keren & bagus.

Maka apa prinsipmu? Cari tahu apa yang menjadi peganganmu dalam membangun kebiasaan baru. Jangan biarkan orang lain disana mempengaruhimu dalam membangun kebiasaan baru.

Kalau kamu sedang mengalami kesulitan dalam memahami konsep baru yang sedang kamu coba untuk menciptakan habit atau kebiasaan baru. Maka pecah ia menjadi bagian kecil.

Hanya dengan cara itu kita bisa memahami sesuatu yang sulit untuk kita pahami. Bukankah ketika ada kue yang besar, kita selalu memotongnya menjadi beberapa bagian kecil?

Tujuannya untuk apa? Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, agar kita mudah untuk memakannya. Karena kalau kita makan sekaligus, maka kita tidak akan mampu karena mulut kita kecil.

Maka dari itu, pecahlah yang besar menjadi beberapa bagian kecil, agar kita bisa dengan mudah untuk memahami konsep baru yang sedang kita pelajari. Ketahuilah, tidak ada yang sulit.

Dan jika dalam prakteknya itu juga sulit, maka kurangilah durasi kamu dalam melakukannya. Karena mungkin kamu belum bisa untuk melakukan sesuatu dalam durasi yang lama.

Ada orang yang bisa fokus meski sudah berjam-jam. Ada orang yang hanya bisa fokus dalam kisaran 30-60 menit. Sesuaikan diri kita dengan kemampuan kita. Jangan memaksakan diri.

Dan jika kamu merasa sulit dalam mempertahankan kebiasaan baru. Maka cobalah untuk membuat kebiasaan baru itu mudah untuk kamu lakukan. Jangan menyulitkan dirimu sendiri.

INSIGHT 2

Kinerja Berbanding Lurus Dengan Hasil.

Resiko dari penundaan sangatlah tidak menyenangkan bagi diri dan karir kita di masa depan nanti. Resiko penundaan pertama adalah hasil yang kita dapatkan sangat tidak memuaskan.

Dengan kata lain, pencapaian kita rendah. Itulah yang terjadi jika kita suka melakukan penundaan. Kita selalu menginginkan hasil yang baik tapi kita selalu senang melakukan penundaan.

Kita menganggap diri kita tidak senang dengan hasil yang tidak baik. Tapi kita tetap merasa aman-aman saja dengan aktivitas yang remeh temeh dan tidak bermanfaat sama sekali.

Hasil yang memuaskan pasti datang dari perjuangang yang tak terbatas. Artinya, tidak ada hal yang menjadikan kita beralasan untuk membatasi diri kita berusaha semaksimal mungkin.

Kalau kita melakukan penundaan, itu artinya membatasi diri dari hasil yang memuaskan. Karena orang yang melakukan penundaan sering terlambat dalam penyelesaian pekerjaan.

Durasi yang dapatkan tidak sebanyak ketika tidak melakukan penundaan. Dan kenyamanan untuk mengerjakan tugas tidak senyaman ketika kita tidak melakukan penundaan sama sekali.

Penundaan menjadikan kinerja kita buruk. Waktu yang tadinya banyak menjadi sedikit. Kenyamanan untuk bisa mengerjakan tugas menjadi hilang karena tergesa-gesa mengejar deadline.

Kalau sudah kinerja kita buruk, ya jelas, hasilnya pun pasti ikut jelek. Kinerja berbanding lurus dengan hasil. Kalau kinerja baik, maka hasilnya juga akan ikut baik. Begitu juga sebaliknya.

Jadi, jangan hilangkan waktu dan kenyamanan kita untuk bisa menyelesaikan tugas dengan hasil yang memuaskan.

Dari buku Kitab Anti Penundaan ada sebuah hasil riset dari seorang Profesor Procrastination, yaitu Bapak Piers Stiles dari Universitas Calgary. Hasil risetnya mengatakan, bahwa:

Penundaan menyebabkan kinerja yang buruk. Ini karena orang yang suka melakukan penundaan sering terlambat ketika orang tersebut mengumpulkan tugas sekolah atau tugas kuliahnya.

Seperti yang saya katakan diawal tadi, bahwa orang yang suka melakukan penundaan sering terlambat. Karena waktu yang ia miliki dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak penting.

Sebaiknya orang yang tidak suka menunda, hidupnya akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan jadwal. Sehingga ia tidak akan terlambat dalam menyelesaikan tugasnya.

Tidak hanya menyelesaikan saja yang tidak terlambat. Waktu pengerjaannya pun tidak akan terlambat. Karena dia tau kapan harus memulai suatu pekerjaan dan kapan harus berhenti.

Sedang orang yang suka menunda atau melakukan penundaan lebih suka melakukan sesuatu berdasarkan mood mereka tidak berdasar pada kapan pekerjaan itu harus dilaksanakan.

Orang yang suka melakukan penundaan juga sering sekali dia kehilangan peluang. Peluang yang ada datang tanpa disambut dan pergi tanpa ia pedulikan sama sekali. Maka ia kehilangan.

Akhirnya, karena kita tahu peluang kita hilang begitu saja yang mana kita adalah dalang dari hilangnya peluang tersebut. Kita jadi berpikir bahwa kita bisa menciptakan peluang yang hilang.

Dengan cara apa kita menciptakan peluang yang hilang? Yang pasti dengan tenaga dan rasa lelah yang lebih banyak daripada ketika kita melakukan pekerjaan itu sesuai dengan waktunya.

Kita cenderung akan memilih malam untuk mengerjakan tugas yang kita tunda. Dan kita menggunakan sistem kebut semalam sebagai solusinya. Besoknya, tubuh lelah dan mengantuk, hihi.

INSIGHT 3

Manusia Itu Cenderung Terlena Sampai Ajalnya Tiba.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Fath Al-Maushuli Rahimahullah dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali bahwasanya ia (Fath) pernah bertanya kepada beberapa orang sahabatnya.

“Bukankah orang yang sakit, lalu tidak mau makan dan minum, akan segera mati?” Para sahabat di sekelilingnya menjawab, “Benar” Lalu Fath Al-Maushuli berkata kepada sahabatnya,

“Begitu pula dengan jiwa manusia. Jika jiwa manusia tidak diisi dengan ilmu (Al-Quran) dan hikmah (Al-Sunnah) dalam masa tiga hari saja, maka matilah jiwa itu.”

Dalam narasinya di Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membenarkan apa yang telah dikatakan oleh Fath Al-Maushuli. Ilmu dan hikmah sesungguhnya makan bagi jiwa.

Dari footnote: Fath Al-Maushuli adalah Fath bin Sa’id Al-Maushuli, wafat pada tahun (220 H.). Biografinya dapat dilihat dalam buku Siyar A’lam Al-Nubala’, Jilid 10, hal. 483-penerj.

Dari apa yang saya baca, saya mendapatkan insight tentang jiwa. Sesungguhnya jiwa itu juga butuh makan, dan makanan daripada jiwa adalah ilmu (Al-Quran) dah hikmah (Al-Sunnah).

Orang yang tidak menginginkan dirinya belajar untuk mendapat ilmu, itu sama dengan tidak menginginkan jiwanya hidup. Jika jiwa kita mati tapi kita masih bisa berjalan. Maka itulah zombie.

Kita adalah zombie atau mayat yang berjalan diatas muka bumi jika kita tidak ingin belajar dan menuntut ilmu. Tidak ada yang paling menyedihkan daripada lapar akan ilmu dan hikmah.

Maka dari itu, jangan biarkan jiwa mati tanpa ilmu dan hikmah.

Insight lain yang saya dapatkan, yaitu fakta tentang seseorang yang tidak memberikan jiwanya makan. Pemilik jiwa seringkali tidak menyadari bahwa jiwanya akan mati atau sudah mati.

Hal ini dapat terjadi lantaran si pemilik jiwa sudah dibutakan oleh berbagai kenikmatan duniawi. Kecintaannya yang amat besar menjadikan pandangannya buta dari melihat jiwanya.

Dan kesibukannya untuk terus mencari dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi juga telah membuatnya luput dari melihat dan memperhatikan kondisi jiwanya. Na’udzubillah…

Jika orang telah merasa takut yang amat sangat besar, maka dia tidak akan lagi memperhatikan sekitarnya, bahkan ketika ia luka sekalipun, ia tidak akan memperhatikan lukanya.

Imam Al-Ghazali mengatakan, seseorang baru bisa merasakan jiwanya yang telah mati ketika dirinya telah hancur menderita dan dirugikan oleh kesibukan duniawinya.

Dan itu bisa terjadi disaat menjelang ajalnya diambil oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita semua dapat tersadar dari gemerlapnya dunia sebelum ajal berpisah dengan badan kita.

Karena ketika kesadaran datang terlambat. Maka tidak satupun yang dapat menolong kita daripada siksa yang teramat sangat pedih. Yang ada hanyalah penyesalan tanpa batas.

“Sesungguhnya, manusia itu mudah lalai, dan apabila ajal datang menjelang barulah ia menyadari kekeliruannya.”

Imam Al-Ghazali.

Mari kita semua berdoa meminta perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari terungkapnya keburukan kita saat kondisi kita sudah tidak siap lagi menterinya. Aamiin..

Manusia memiliki kecenderungan terlena sampai ajalnya datang menyadarinya kembali. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload