Join Telegram

Daily Insight: Arbi'aa', 28 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Bimbang Datang Dari Ketidakpahaman.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-72. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Menulis Bisa Menjadi Teman Curhat.

Lagi bingung mau nulis apa di insight internet ini, karena terlalu banyak informasi yang saya dapat. Saya baru sadar, informasi yang terlalu banyak ternyata tidak bermanfaat.

Karena ketika kita terlalu banyak mengkonsumsi informasi yang terjadi adalah kita merasa bingung. Sama seperti ketika kita makan, kalau terlalu banyak kita jadi enek.

Itulah yang saya rasakan dari informasi yang terlalu banyak. Mungkin saya harus belajar untuk lebih sedikit mengkonsumsi informasi terlebih itu dari sosial media.

Tapi bersyukurnya karena menulis setiap hari jadi bisa untuk meringankan sedikit rasa kepala saya yang terlalu berat karena terlalu banyak menonton dan menelan berita yang kurang baik.

Sama seperti ketika makan. Semua yang kita masukkan juga perlu untuk dikeluarkan. Kalau tidak kita keluarkan, yang ada kita jadi sakit perut karena terlalu banyak kotoran di dalam.

Begitu juga dengan informasi yang bersemayam di otak kita. Ia juga perlu dikeluarkan agar tidak membuat kepala sakit. Dan ia bisa kita keluarkan dengan cara menulisnya diatas kertas.

Mungkin bisa saya sarankan kepada teman-teman yang sering sakit kepala untuk mulai menulis setelah selesai scrolling sosial media agar informasi yang didapat tidak menumpuk di kepala.

Menulis apa yang kita lihat. Menulis apa yang kita dengar. Menulis apa yang kita pikirkan. Menulis apa yang kita rasakan. Menulis apa yang kita baca. Menulis apa yang kita lakukan.

Pendapat saya pribadi, sepertinya menulis bisa menjadi terapi bagi kita yang depresi karena terlalu banyak yang dipikirkan.

Entah kenapa saya merasa senang saja ketika saya menulis apa yang saya baca, lihat, dengar, rasa, dan hal-hal apa yang sedang saya lakukan. Saya menemukan kebahagian disitu.

Banyak yang mengatakan bahwa kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, papan. Tapi lebih dari itu, kebutuhan kita adalah berkomunikasi, berbicara atau mencurahkan isi hati.

Karena ketika kita lagi mengalami masalah, salah satu cara untuk bisa tenang dari hal itu adalah dengan mengeluarkan isi dan segala keluh kesah perasaan yang ada dalam hati kita.

Untuk bisa melakukan itu kita butuh teman untuk berdialog atau seseorang yang bersedia untuk mendengarkan segala keluh kesah yang ada di dalam hati dan pikiran kita.

Tapi tidak semua orang yang memiliki teman untuk bisa hadir sepenuhnya di dalam kehidupan kita ketika kita sedang depresi ataupun ketika kita sedang mengalami frustasi.

Karena mungkin mereka merasa hidupnya sendiri sudah terlalu berat untuk menampung keluh kesah orang lain. Sehingga kita juga merasa berat untuk curhat kepada orang lain.

Sama seperti saya yang notabenenya sulit berinteraksi dengan kehidupan sosial diluar sana. Saya juga memiliki kepribadian yang introvert sehingga saya tidak memiliki banyak teman.

Dan agak sulit bagi saya untuk bisa curhat kepada seseorang ketika saya ingin mencurahkan isi hati dan pikiran atau ide-ide yang saya miliki. Tapi saya tetap bersyukur dengan semua itu.

Karena hal tersebut, saya jadi bisa menemukan tempat terbaik saya untuk bisa mencurahkan segala isi hati dan pikiran saya. Dan mereka menyambut dengan baik apa yang saya curahkan.

Mereka adalah tinta dan kertas. Dengan kata lain, saya menulis segala isi hati dan pikiran saya serta segala ide-ide yang saya dapatkan ketika saya memikirkan suatu hal. Menulislah…

INSIGHT 2

Yang Cepat Datang Tanpa Terhambat.

Tidak realistis terhadap waktu adalah contoh orang yang paling baik dalam melakukan prokrastinasi. Tidak punya rencana dan pembagian waktu yang jelas untuk semua aktivitasnya.

Salah satu contoh orang yang abu-abu dalam mengatur waktu ialah ketika membuat janji dengan kata “kapan-kapan”. “Kapan sempat, deh, baru saya kerjakan.”

Sayangnya waktu sempatmu tidak akan pernah ada kalau kita tidak sempatkan. Karena waktu sempat adalah waktu yang kita sempatkan ketika punya banyak kegiatan (berprioritas rendah).

Tapi sekarang sedikit aneh. Karena sekarang banyak orang yang menyempatkan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting ketika dirinya memiliki hal penting yang harus diselesaikan.

Rencana mau nulis blog 1000 kata. Tulisannya baru sampai tiga ratus kata sudah menyempatkan diri untuk scrolling media sosial yang durasinya lebih banyak daripada menulis 300 kata

Dengan kata lain, kita lebih suka meluangkan waktu kita untuk hal-hal yang kurang yang bermanfaat dan kegiatan berprioritas rendah dibandingkan dengan kegiatan berprioritas tinggi.

Kita katakan kita tidak punya waktu untuk mengelola bisnis dan usaha ketika kita ingin punya usaha. Tapi anehnya, waktu untuk menonton youtube, tiktok, dan film berjam-jam kita punya.

Kenapa kita tidak tega untuk mengganti aktivitas yang tidak ada manfaatnya dengan hal-hal yang bermanfaat yang bisa bantu kita untuk meraih impian kita, seperti memiliki usaha sendiri.

Aneh, gak, sih? Ngaku gak punya waktu, tapi waktu untuk hal yang sia-sia, untuk hal yang tidak bermanfaat ada.

Kalau kita melakukan hal seperti itu, kita tidak lagi menunda pekerjaan. Tapi yang kita tunda adalah keberhasilan kita dan ketenangan hidup kita dimasa yang akan datang yang tertunda.

Kalaupun kita ingin tetap bisa menikmati scrolling sosial media dan menonton film, maka baiknya kita jadwalkan. Jangan kita biarkan jadwal kita kosong tanpa rencana dan komitmen.

Atur diri kita sendiri, kapan kita harus mengerjakan aktivitas yang penting yang berkaitan dengan kelancaran tercapainya impian kita dan aktivitas yang sifatnya hanya hiburan.

Pastikan kita mampu memperkirakan berapa lama waktu untuk satu kegiatan. Karena gagal memperkirakan durasi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan satu kegiatan akan membuat kita jadi terburu-buru dalam mengerjakannya.

Jangan terlalu memikirkan pekerjaan yang sedang kita kerjakan itu berat dan tidak dapat diselesaikan di waktu itu. Karena kalau kita terus memikirkannya, waktu kita habis untuk hal tersebut.

Mari kita yakini bahwa semua pekerjaan yang berat pasti akan selesai ketika kita kerjakan. Dan ketika kita tunda, pekerjaan berat akan semakin berat dan semakin malas kita kerjakan.

Maka dari itu, kerjakan saja sedikit demi sedikit agar pekerjaan tidak menumpuk seperti bukit. Karena pekerjaan yang dibiarkan menumpuk ketika kita kerjakan akan terasa sangat sulit.

Hal lain agar kita tidak menjadi the greatest procrastinator ialah dengan menepati janji. Jangan membiasakan diri kita terlambat dengan janji temu yang kita buat.

Karena ketika kita suka terlambat, maka semua rencana yang kita buat akan menjadi terhambat. Ingat, bahwa sesuatu yang kita inginkan bisa datang cepat jika tidak ada penghambat.

Sedang penundaan yang kita lakukan adalah sesuatu yang menghambat proses kita dalam mencapai tujuan yang kita tuju.

INSIGHT 3

Bimbang Datang Dari Ketidakpahaman.

“Kelebihan seorang ahli ilmu atas seorang ahli ibadah laksana kelebihan diriku (Nabi) atas seseorang yang terendah derajat atau kualitas ibadahnya dari sahabatku.”

Hadist dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin.

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi dari hadist Abi Umamah, dan beliau menyatakan tentang statusnya, hasan shahih.

“Perhatikanlah, betapa beliau ﷺ mengaitkan antara ilmu dengan derajat kenabian. Dan, betapa Nabi menganggap rendah derajat seorang ahli ibadah yang beramal tanpa didasari ilmu. Karena, ibadah yang dilakukan tidak terlepas dari kebutuhan ilmu tentang tata cara pelaksanaannya.”

Kalimat dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin.

Dari membaca hadist dan keterangan atau penjelasan dari Imam Al-Ghazali: saya mendapatkan insight tentang kaitan ilmu dengan ibadah. Peran ilmu sangat penting dengan ibadah.

Karena kalau kita beribadah tanpa mengetahui ilmu kita sama seperti seseorang yang berlayar di tengah lautan tanpa alat bantu yang dapat memandu kita kearah yang benar.

Dan ketika kita berlayar tanpa alat bantu, seperti kompos, misalnya. Maka kita akan cenderung menggunakan insting kita untuk menentukan jalan atau arah yang akan kita tempuh.

Perlu kita ketahui bahwa insting bukan sesuatu yang benar. Karena ada banyak sekali yang bisa mempengaruhi pikiran kita untuk mengambil tindakan berdasarkan insting atau naluri.

Dengan kata lain, keputusan dan tindakan yang kita ambil bisa saja bernilai salah. Yang tadinya kita ingin pulang, karena kita salah ambil keputusan jadilah kita terdampar (tersesat).

Setiap kali kita membeli alat elektronik pasti selalu diberikan buku pedoman atau instruksi cara penggunaannya. Agar apa? Agar kita tidak salah dalam menggunakan alat tersebut.

Seandainya tidak disertakan buku pedoman, maka kita akan asal-asalan dalam menggunakannya. Dan bisa jadi alat yang kita beli, belum terlalu lama dipakai sudah rusak.

Nah, orang yang beribadah yang tanpa didasari ilmu adalah orang yang bisa saja asal-asalan dalam melaksanakan ibadah. Menurut dia baik, dia kerjakan. Kalau tidak, dia tinggalkan.

Jadi ibadah yang ia laksanakan didasari oleh pendapatnya. Padahal ibadah yang kita kerjakan haruslah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya.

Coba saja kamu ingat-ingat ketika kamu mengikuti ujian tanpa belajar (baca: ilmu). Yang kamu lakukan apa? Pasti kamu akan menebak-nebak jawaban yang benar. Iya, kan?

Maka pentingnya ilmu adalah untuk memastikan ibadah yang kita kerjakan adalah benar dan sesuai dengan perintah daripada Allah dan Rasulnya.

Dan ilmu menjadikan teguh dalam beribadah tanpa adanya kebimbangan dalam ibadah tersebut. Karena kalau ada rasa bimbang dalam ibadah, bisa jadi kita belum paham ilmunya.

Dan syaithan akan sangat leluasa untuk menggoda kita dan mengarahkan kita kepada jalan yang sesat. Maka dari itu, ilmu adalah tiang yang mengokohkan keyakinan kita.

Orang yang bimbang, orang yang bingung, orang yang selalu merasa cemas akan benar atau salah putusan yang dia ambil hanyalah orang yang tak berilmu. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload