Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 04 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Manusia Adalah Orang Yang Berilmu.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-77. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Besi Tumpul Juga Bisa Tajam Kalau Diasah Setiap Hari.

“When talent is lacking, habit will often suffice.”

~ James Clear.

Mungkin kita merasa diri kita tidak memiliki bakat sama sekali. Tapi jangan khawatir dengan hal tersebut. Karena ada hal yang bisa kita andalkan selain bakat, yaitu kebiasaan.

Memang bakat itu penting. Tapi kalau bakat tidak diikuti dengan kebiasaan baik juga akan menjadi tidak baik. Tapi ketika orang tidak memiliki bakat tapi memiliki kebiasan baik, itu lebih baik.

Saya tidak punya bakat menulis. Tapi saya punya kebiasaan menulis setiap hari. Memang tulisan yang lahir dari kebiasaan saya ini tidak begitu baik jika melawan orang yang berbakat.

Tapi akan jauh lebih baik ketika saya yang begini saja menulis setiap hari dibandingkan dengan yang memiliki bakat menulis tapi dia menulis kapan dia mau dan kapan dia memiliki mood.

Dan saya percaya bahwa kebiasaan dengan sendirinya nanti akan berubah menjadi bakat. Sama seperti besi yang terbiasa dengan batu asah, lama-lama juga akan menjadi tajam.

Mungkin tulisan yang lahir dari kebiasaan menulis tidak begitu bagus. Tapi bukan berarti yang tidak bagus tidak bisa diperbaiki dan diperbagus. Semua pasti bisa diperbaiki dan diperbagus.

Bahkan ketika tulisan itu adalah sampah. Ia tetap bisa menjadi sesuatu yang berharga. Karena ketika sampah tersebut didaur ulang akan menjadi sesuatu yang kreatif.

Jika kita membuat yang berharga dari barang yang berharga, maka itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang.

Tapi ketika kita membuat sesuatu yang awalnya tidak memiliki nilai dan tidak berharga di mata orang. Ketika kita daur ulang dan menjadi sesuatu yang indah untuk dilihat dan dipandang.

Maka disitulah letak kreativitas.Sesuatu yang kreatif pasti akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Dan kreativitas pasti jauh lebih berharga dari barang-barang yang berharga.

Cobalah untuk memiliki kebiasaan baik ketika kita merasa tidak memiliki bakat dalam hidup kita. Katakanlah kita tidak memiliki bakat dalam berbicara di depan umum dan semacamnya.

Tapi cobalah untuk menumbuhkan kebiasaan yang membuat kamu bisa berbicara setiap hari. Meski apa yang kamu ingin sampaikan belum bagus. Setidaknya kamu melakukannya.

Karena ketika kamu melakukannya setiap hari. Kamu seperti meletakkan besi tumpul diatas batu asah yang selalu kamu gesek setiap hari. Hasilnya pasti kamu akan ketahui.

Tidak mungkin ketika kamu mengasah besi tumpul setiap hari menjadi besi tumpul. Pastilah besi itu akan menjadi tajam dari hari ke hari. Pasti ada perubahan yang akan kamu lihat.

Begitu juga ketika kita tidak memiliki bakat dalam suatu hal. Tapi kalau kita membiasakan diri atau dengan kata lain hal itu kita jadikan kebiasaan kita. Maka kita akan melihat progresnya.

Bisa jadi dari yang tadi tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak mampu menjadi mampu. Pedang selalu terang sehabis diasah. Dan pedang akan semakin tajam ketika diasah setiap hari.

Rumusnya simpel saja. Bakat = 1 kegiatan yang dilakukan secara berulang. Jadi apapun yang kita inginkan sesuatu itu menjadi sebuah bakat, maka lakukanlah ia setiap hari.

Tidak ada bakat yang bisa didapat kecuali dengan cara yang tepat. Dan cara yang tepat untuk mendapatkan sebuah bakat adalah dengan cara melatihnya setiap hari; Practice Everyday.

INSIGHT 2

HIdup, Rumah, Pekerjaan, Aktivitas Tidak Terta.

Memiliki kecenderungan hidup yang tidak tertata dengan baik juga merupakan tanda-tanda seseorang melakukan penundaan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pekerjaan tidak tertata dengan baik. Rumah yang ditinggalinya berantakan seperti kapal pecah, bahkan beberapa diantaranya hidup mereka juga berantakan seperti tak terurus.

Sebenarnya mereka bisa mengurus hidup, pekerjaan, kegiatan mereka sehari-hari. Tapi mungkin ada hal yang menghambat mereka untuk melakukan tersebut.

Tapi apapun hambatan itu, tidak seharusnya menjadikan orang untuk memiliki alasan atau merasa dibenarkan untuk bersikap tidak peduli dengan hidup, pekerjaan dan kegiatannya.

Jika ada seseorang yang hanya mencari alasan untuk berbuat demikian. Maka kemungkinan besarnya ia adalah orang yang sudah kecanduan dengan penundaan.

Dengan kata lain dia adalah procrastinator kelas kakap yang selalu mencari alasan, selalu mencari pembenaran atas apa saja yang dia tunda. Ini sangat menyedihkan.

Untuk itu kita selalu diperintahkan atau diingatkan oleh orang tua kita untuk membersihkan dan merapikan tempat tidur kita ketika kita sudah bangun tidur agar kita tidak menunda.

Tapi meski kita sering diperintahkan dan diingatkan oleh orang tua, kita masih suka menunda. Kita selalu menjawab dengan berbagai macam alasan agar kita tidak melakukannya saat itu.

“Nanti dulu, Mah. Orang baru juga bangun udah disuruh bersihin kamar. Tunggu nyawa gabung dulu, napa…”

Alasan-alasan yang semacam itu itu menjadikan kita sulit untuk memulai sesuatu. Padahal kalau dikerjakan pada saat itu juga tanpa mengeluh, pasti juga bisa untuk dikerjakan.

Tapi kita hidup selalu mengedepankan dan mendahulukan hal yang membuat kita menunda, seperti mengeluh. Belum ini-itu sudah mengeluh, belum apa-apa sudah mengeluh.

Cobalah untuk memulai sesuatu tanpa mengeluh. Kerjakan saja tidak usah banyak mengeluh. Nanti kalau sudah dikerjakan bisa kita lihat hasilnya akan sangat memuaskan.

Jangan sampai kita menjadi seseorang yang suka mengeluh tapi tidak suka bertindak. Jangan sampai kita menjadi seseorang yang suka menyesal tapi tidak suka berusaha.

Berusahalah untuk memaksakan diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Karena kadang kita baru dapat melakukan sesuatu setelah kita memaksa diri kita sendiri.

Jika kita tidak mau pekerjaan kita menjadi lebih berat. Maka caranya adalah dengan menyegerakan pengerjaan tugas itu tanpa menunda-nunda, agar tugas tersebut tidak menumpuk.

Karena ketika tugas tertunda, maka ia akan menumpuk di satu waktu. Artinya, ketika kita ingin mengerjakan pekerjaan, terlihat ada begitu banyak tugas yang harus dikerjakan sekaligus.

Tentu itu akan sangat memberatkan kita. Yang satu saja sangat memberatkan. Apalagi tugas yang menumpuk yang mana kita harus mengerjakannya sekaligus di waktu yang bersamaan.

Kita jadi berpikir bahwa lebih mudah untuk tidak memulai apa yang ada dihadapan kita karena sudah terlanjur menumpuk. Akhirnya, tugas dibiarkan begitu saja tanpa tanggung jawab.

Coba perhatikan kegiatan kita sehari-hari, apakah masih ada yang kita biarkan nganggur begitu saja tanpa dikerjakan sama sekali? Maka, kapan kita mau berhenti melakukan penundaan.

INSIGHT 3

Orang Yang Berilmu Disebut Sebagai Manusia.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin ada sebuah percakapan yang sangat menarik yang terjadi antara Ibnu Al-Mubarak dengan seseorang. Ibnu Al-Mubarak ditanyakan tentang beberapa hal.

“Siapakah yang disebut sebagai manusia?” Maka ia menjawab, “Orang yang berilmu.” Lalu ditanyakan kembali kepadanya, “Siapakah yang disebut sebagai penguasa?”

Maka jawabnya, “Orang yang bersikap zuhud terhadap urusan dunia, dan tidak terpengaruh oleh kemilau duniawi.” Ditanyakan pula kepadanya, “Lalu siapakah orang yang hina?”

Maka ia pun menjawab, “Mereka yang berusaha menggapai kenikmatan dunia dengan menjual agama.”

Disini saya mendapatkan beberapa insight. Yang pertama, kita adalah manusia jika kita memiliki ilmu. Artinya ialah ketika kita menggunakan akal kita untuk ilmu, maka kita menjadi manusia.

Tidak hanya manusia yang dianugerahi otak, melainkan juga ada makhluk lain, seperti kucing, anjing, bahkan babi sekalipun. Namun otak mereka tidak berfungsi untuk menampung ilmu.

Maka ketika kita memiliki otak tetapi kita tidak fungsikan otak kita untuk ilmu. Maka kita bukanlah manusia, melainkan kita tidak jauh berbeda dengan hewan lainnya.

“Siapakah yang disebut sebagai manusia?” Ibnu Al-Mubarak menjawab, “Orang yang berilmu.”. Disini Ibnu Al-Mubarak tidak memasukkan orang yang tidak berilmu sebagai manusia.

Karena orang yang tidak berilmu tidak memanfaatkan nikmat yang paling besar, yaitu diberikannya akal dan pikiran. Padahal akal dan pikiran itu sangat penting untuk menjadi manusia.

Insight yang kedua yang saya dapatkan dari Kitab Ihya Ulumuddin, yaitu tentang siapa penguasa yang sebenarnya. Penguasa adalah orang yang zuhud terhadap duniawi.

Ia tidak mudah tertarik kepada dunia dan bahkan ia melepas diri dari dunia itu sendiri. Tidak ada hal yang membuatnya ingin menjadikan dunia ini hinggap di hati dan/atau pikirannya.

Karena penguasa bukan untuk memikirkan kepuasan nafsunya sendiri. Tapi ia harus mampu memikirkan bagaimana rakyatnya bisa hidup dengan rukun dan bisa hidup dengan tercukupi.

Karena ketika ada penguasa yang hanya haus akan kekuasaan yang ia miliki. Disaat itulah dirinya telah menzalimi rakyatnya & dirinya sendiri tanpa ia sadari. Dan dia bukanlah penguasa.

Disebut juga seorang penguasa karena orang tersebut mampu untuk menguasai dirinya dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh berbagai kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara.

Ia berkuasa atas badannya sendiri. Ia memegang kendali atas hidup yang ia miliki. Dan tidak ada orang lain atau hal-hal lain yang dapat mempengaruhi dirinya untuk lepas dari kuasanya.

Itulah orang yang yang berkuasa. Bukan orang yang memiliki tahta kerajaan dan memiliki istana yang menjadi penguasa. Itu hanyalah titipan yang bisa saja diambil kapan saja oleh Allah.

Dan insight ketiga yang saya dapatkan dari Kitab Ihya adalah golongan orang-orang yang hina. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan agama hanya untuk mencari kenikmatan.

Mereka menjual agama dan mengatasnamakan agama untuk hal-hal yang ingin mereka lakukan demi mendapatkan hal-hal yang ingin mereka dapatkan untuk keuntungan pribadi.

Mencari kekayaan dengan menipu orang lain dengan agama dan mencari kenikmatan duniawi dengan menjual agamanya. Dialah orang yang hina. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload