Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 26 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Pakaian, Perhiasan Dan Perbekalan.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-70. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Allah Ridho Hanya Karena Sepotong Roti.

Kata orang, jika kita ingin punya banyak pengalaman, maka belajarlah dari pengalaman orang-orang sebelum kita agar kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan mereka.

Tapi jika kita mendapatkan satu pelajaran baik dari kisah seseorang, maka ambillah itu sebagai pelajaran yang berharga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita.

Seperti kisah yang saya dapatkan hari ini dari konten Ustadz Hanan Attaki. Kisah ini mengisahkan tentang perjalanan seorang ahli ibadah selama puluhan tahun.

Namun pertengahan akhir dari kisahnya ia digoda oleh syaithan untuk melakukan zina dan maksiat yang pada akhirnya ahli ibadah itu terjerumus kedalam perbuatan hina tersebut.

Allah pun murka dengan perbuatannya itu. Beruntunglah ahli ibadah itu cepat menyadari dan menyesali perbuatannya serta ingin bertaubat dengan taubat yang sesungguh-sungguhnya.

Ia beristighfar kepada Allah dan memohon ampunan kepada Allah SWT. sampai satu waktu ahli ibadah itu ingin melakukan perjalanan (safar) ke suatu daerah.

Ahli ibadah tersebut ingin meninggalkan tempatnya dan hijrah ke tempat yang baru agar ia terhindar dari fitnah zina. Dengan segala perlengkapannya yang sudah disiapkan, ia pun hijrah.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya ahli ibadah berjumpa dengan tengahnya malam. Ia melihat ada sebuah tempat untuk para musafir beristirahat, maka ia singgah ke tempat tersebut.

Di tempat persinggahan tersebut, ada orang baik yang selalu membagikan makan kepada setiap orang yang beristirahat.

Kebetulan pada malam itu, orang yang membagikan makanan itu hanya membawa 14 potong roti. Maka dibagilah roti tersebut secara rata dan adil dan semua orang mendapatkan jatahnya..

Termasuk ahli ibadah juga mendapat satu potong roti jatahnya. Namun, yang ada di persinggahan itu bukan 14 orang. Ternyata ada satu pengemis atau orang miskin yang tidak kebagian roti.

Ahli ibadah melihat orang itu dan ia merasa kasihan serta tidak tega melihat orang miskin yang menahan rasa laparnya, meski ahli ibadah pun pada saat itu sedang kelaparan.

Akan tetapi, karena rasa kasihannya lebih besar daripada rasa laparnya. Ahli ibadah itu akhirnya memberikan jatah roti yang ia dapatkan kepada orang miskin tersebut.

Terbit fajar, ahli ibadah pun melanjutkan perjalanannya meski pada saat itu perutnya dalam keadaan lapar. Ia terus menyusuri jalan dengan susah payah dengan perut yang lapar.

Hingga akhirnya di tengah perjalanannya, ahli ibadah itu wafat dalam keadaan lapar dan haus karena belum pernah makan selama berhari-hari.

Setelah wafat, atas izin Allah, malaikat menimbang-nimbang amal dari ahli ibadah tersebut. Yang ternyata semua amal soleh yang pernah dikerjakannya habis dan tidak ada yang tersisa.

Semua amal solehnya yang ia dapat selama berpuluh-puluh tahun beribadah hanya dapat menutup dosa besar yang pernah ia lakukan. Dan itu artinya tidak ada amal lain yang tersisa.

Kecuali satu amalan kecil yang pernah ia lakukan ketika ia sedang dalam perjalanan hijrahnya, yaitu memberi jatah roti yang ia dapatkan kepada orang miskin yang kelaparan.

Karena itulah kemudian Allah SWT. ridho atas ahli ibadah untuk dimasukkannya ia kedalam surga. Dan ahli ibadah menjadi ahli surga hanya karena sepotong roti. Wallahu A’lam Bishawab.

INSIGHT 2

Aslinya Kita Malas Karena Gak Tau Mau Ngapain.

“Penundaan berbeda dengan malas. Malas adalah aktivitas pasif, sementara penundaan adalah aktivitas aktif.”

Dikutip dari buku Kitab Anti Penundaan.

Banyak orang menganggap bahwa dirinya malas ketika mereka menunda pekerjaan yang penting dengan pekerjaan yang tidak penting. Sehingga orang menegurnya untuk: jangan malas!

Padahal aktivitas tersebut bukanlah bentuk malas seseorang, tapi aktivitas tersebut adalah bentuk dari penundaan, yaitu mengganti aktivitas penting dengan aktivitas tidak penting.

Malas bukan ketika seseorang sibuk melakukan hal-hal yang mereka nyaman seperti scrolling media sosial dan menonton youtube atau film berjam-jam. Bukan itu malas.

Malas adalah ketika kita bingung tidak tahu mau melakukan aktivitas apa. Dan akhirnya kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan aktivitas atau kegiatan apapun.

Kita tidak tahu mau melakukan aktivitas apa bisa disebabkan karena kita tidak memiliki target untuk dicapai atau mimpi untuk diraih, sehingga kita tidak tahu mau melakukan apa.

Sehingga bisa jadi orang yang dianggap “malas” (yang aslinya tidak tahu mau melakukan apa) bisa jadi rajin ketika orang itu punya target yang membuatnya berambisi untuk meraihnya.

Itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa saja hal-hal yang ingin kita raih atau yang ingin kita capai dalam hidup, agar kita bisa memiliki action plan.

Kalau sudah punya action plan tapi tidak dikerjakan, itu baru kita sedang menunda.

“Penundaan adalah mendahulukan pekerjaan yang sepele alih-alih pekerjaan yang penting.”

Dikutip dari buku Kitab Anti Penundaan.

Menunda menurut pemahaman yang saya dapat dari Kitab Anti Penundaan tentang penundaan, kita menunda karena tuga aversif yang mengubah emosi kita menjadi negatif.

Tugas aversif adalah tugas-tugas yang sulit, membingungkan, dan cenderung tidak menyenangkan untuk dikerjakan. Karena hal itulah yang kemudian menjadikan kita menunda.

Kita menunda dengan cara mengalihkan fokus kita, aktivitas kita kepada hal-hal yang bisa membuat kita senang, membuat kita merasa rileks, meski itu sifatnya hanya sementara.

Punya target sudah, punya action plan sudah. Tapi ketika siap untuk dikerjakan malah tidak kita kerjakan. Bisa jadi karena hal itu (target dan action plan) terlalu besar/ berat untuk dicapai.

Atau bisa jadi karena target dan action plan yang kita buat terlalu gampang sehingga tidak menantang untuk kita kejar, untuk kita raih karena tidak ada semangat didalamnya.

Cobalah untuk meringankan target kita jika itu terlalu berat untuk dikerjakan. Atau cobalah untuk memperbesar target kita jika itu tidak terlalu memotivasi kita untuk mengejarnya.

Semisalnya target kita sudah pas, tepat dan sesuai tapi kita masih menunda. Coba cek action plan yang kita buat. Apakah step-step yang kita buat tidak terlalu rumit (sarat akan syarat)?

Maka dari itu perlu melihat step-step yang kita buat. Jangan sampai hal itu menyulitkan diri kita sendiri untuk mencapai target yang seharusnya itu mudah untuk kita capai.

INSIGHT 3

Pakaian, Perhiasan Dan Perbekalan.

“Kondisi keimanan seseorang itu layaknya orang yang sedang telanjang (tidak berpakaian). Sedangkan pakaian penutupnya adalah sikap takwa, perhiasan yang menyelimutinya adalah rasa malu, dan buah dimunculkannya adalah ilmu.”

Hadist dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin.

Dari footnote: Diriwayaktkan oleh Imam Al-Hakim dalam Tarikh Naisaburi, dari hadist Nabi Al-Darda’ dengan isnad lemah (dha’if).

Ketika tidak ada taqwa dalam diri kita, itu sama seperti orang yang telanjang. Seandainya kita tidak berpakain sama sekali, apakah kita berani keluar rumah? Saya rasa tidak.

Hanya orang yang kehilangan akal yang akan melakukan hal seperti itu. Dan mungkin ketika kita tidak lagi bertaqwa kepada Allah, apakah kita adalah orang-orang yang kehilangan akal?

Padahal Allah SWT telah memberikan kita satu nikmat yang menjadi pembeda antara makhluk-makhluk Allah lainya, yaitu akal. Tapi seringkali kita tidak menggunakannya untuk berpikir.

Sebagaimana seseorang suka melihat penampilan kita dengan cara kita berpakaian dan pakaian yang kita gunakan. Maka begitulah kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semakin baik pakaian (dibaca taqwa) kita dihadapan Allah, maka insya Allah akan semakin cinta Allah kepada kita. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“(Bukankah demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Ali Imran 3 : Ayat 76)

Jika takwa adalah pakaian yang kita gunakan, maka apa yang menjadi perhiasan kita? Perhiasan kita adalah rasa malu. Malu kepada Allah ketika kita berbuat maksiat.

Malu kepada Allah ketika kita punya kedudukan (jabatan) yang tinggi di muka bumi, tapi tidak kita pergunakan sebagaimana mestinya. Malu ketika kita tidak mengerjakan kebajikan.

Malu kepada Allah ketika kita tidak bisa memperbelanjakan harta kita dijalan Allah. Malu kepada Allah ketika kita tidak bisa berbakti kepada orang tua. Malu karena tidak bersyukur..

Ada banyak perhiasan dimuka bumi ini. Dan diantara banyaknya perhiasan itu, hampir semuanya kita miliki. Tapi tak semua rasa malu kita miliki dihadapan Allah.

Bahkan diantara kita ada yang tidak tahu malu. Jangankan untuk memiliki sedikit malu. Sedikit malu pun tidak kita miliki di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka ketika kita tidak memiliki rasa malu. Disaat itulah kita tidak membawa satupun yang berharga di hadapan Allah. Lalu dengan apa kita akan menggembirakan Allah?

Takwa dan rasa malu adalah pakaian dan perhiasan yang tidak boleh kita tinggalkan. Karena kedua hal tersebut adalah barang berharga yang harus kita bawa dimanapun kita berada.

Tapi hidup tidak cukup dengan hanya memiliki pakaian dan perhiasan saja. Karena kita memiliki kebutuhan pokok lainya. Kebutuhan pokok tersebut adalah pangan.

Maka pangan kita hidup baik didunia dan diakhirat adalah ilmu (agama). Karena ilmu adalah buah yang akan selalu bertambah dan menjadi bekal dalam perjalanan (dunia ke akhirat) kita.

Itulah insight yang saya dapatkan. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload