Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 01 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Hanya Yang Sepadan Bisa Menggantinya.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-74. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kita Akan Dijauhi Bilamana Kita Tinggi Hati.

Dalam satu video saat mendapatkan insight tentang iblis. Dikatakan dalam video tersebut bahwa iblis adalah makhluk yang ahli Quran, ahli Hadist, iblis adalah ahli riwayat.

Tapi kenapa Iblis tak bisa menjadi kekasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Jawaban yang saya dapat dari video tersebut adalah karena ada perkataan iblis yang membuat Allah murka.

Kata itu adalah, "aku lebih baik daripada Adam." Inilah yang menjadikan iblis sebagai makhluk yang paling hina di seluruh jagat raya/ alam semesta yang Allah SWt. ciptakan.

Dengan kata lain yang menjadikan seseorang tidak bisa dicintai Allah adalah sifat sombong. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melindungi dan menjauhi kita dari sikap sombong.

Janganlah pernah terbesit sedikit saja rasa sombong dalam hati kita dan merasa diri kita lebih baik dari orang lain yang pada dasarnya kita semua sama, sama-sama manusia.

Meski semisalnya kita memiliki kelebihan dari orang lain, maka tidak pantas kita sombong atas kelebihan yang kita miliki. Karena sejatinya kelebihan itu bukanlah milik kita.

Apa yang kita miliki, semua titipan dari Allah SWT. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, ("Sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT.”)

Seharusnya kita bersyukur dengan kelebihan apa yang kita miliki. Bukannya malah sombong dan merasa angkuh terhadap apa yang kita miliki, tapi kita harus memuji yang Maha Pemilik.

Karena hanya Allah yang berhak mendapatkan segala pujian dari kelebihan dan segala yang kita miliki di atas muka bumi ini.

Insight lain yang saya dapatkan dari internet (bukan internet sebenarnya, tapi sosmed, tiktok) yang menggambarkan betapa rendahnya hati seseorang yang sudah tinggi di mata manusia.

Seseorang tersebut adalah Ronaldo atau yang sering dikenal sebagai CR7. Pada saat itu Ronaldo baru keluar dari stadion dan akan menuju kendaraan untuk membawanya beristirahat.

Menariknya adalah ada anak kecil yang lari dan berusaha untuk mendekati sang idolanya. Namun, para penjaga disitu menghadangnya untuk mendekati Ronaldo, yaitu idolanya.

Ronaldo yang melihatnya tersenyum dan diam sejenak seolah Ronaldo menunggu anak itu untuk mendekatinya dan memberi kode kepada penjaga untuk tidak menghadang anak tersebut.

Dan ya, seperti yang kamu duga, anak itu bisa berjumpa dan memeluk idolanya. Ia pun mendapatkan tanda tangan dari sang idolanya tersebut. Saya melihat wajah anak itu sangat gembira.

Apa pelajaran yang bisa saya ambil atau apa insight yang saya peroleh adalah tentang kerendahan hati seseorang yang sudah menjadi bintang. Meski dia bintang tapi ia tetap rendah hati.

Beberapa orang yang terkenal dan baru saja terkenal sudah menunjukkan ketinggian hati. Sangat banyak contoh yang bisa kita jumpai orang sombong dengan apa yang mereka miliki.

Padahal baru terkenal tapi sudah memperlihatkan sifat tinggi hati. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang rendah hati, meski mereka mendapatkan kelebihan yang orang tak punya.

Tetaplah rendah hati, meski kita telah mendapatkan posisi yang tinggi. Karena ketika kita sombong, maka disitulah bukti bahwa akhlak kita sedang kosong. Akhlak lebih baik daripada ilmu.

Apa yang menjadikan kita bisa sombong atas apa yang kita miliki? Sementara apa yang ada di dunia dan alam semesta akan kembali kepada pemilik sejatinya, Al-Malik.

INSIGHT 2

Isi Waktu Dengan Hal-Hal Yang Bermanfaat.

Jika kita ingin jadi produktif, maka kita harus memiliki kemampuan untuk membedakan apa yang sebaiknya dilakukan di satu waktu dan apa yang harus ditinggalkan atau diabaikan.

Bila kita tidak memiliki kemampuan tersebut maka akan sangat sulit bagi kita untuk bisa hidup bermakna. Kita cenderung lebih merasa hidup tidak bermakna, gampang frustasi dan depresi.

Kalau kita tidak bisa membedakan apa yang seharusnya kita kerjakan pada saat kita harus kerja, kita akan jadi seseorang yang berpotensi besar untuk melakukan penundaan.

Kadang kita akan berpikir panjang untuk melakukan suatu pekerjaan. Pun jika kita tidak berpikir panjang, pekerjaan yang kita kerjakan adalah pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Orang-orang yang selalu mengisi waktunya dengan pekerjaan yang tidak penting, bernilai, dan bermanfaat akan sulit sekali dalam mencapai tujuan hidup yang telah ia tetapkan.

Karena pekerjaan yang ia kerjakan tidak memiliki kontribusi atas apa yang ingin ia capai. Justru pekerjaan yang ia kerjakan akan membawanya semakin jauh dengan tujuannya tersebut.

Dan anehnya setelah kita melakukan hal-hal yang tidak penting dalam keseharian kita. Beberapa hasil yang kita dapatkan tidak membuat kita merasa puas, justru membuat kita menyesal.

Ya, bagaimana tidak. Hasil yang kita dapatkan pasti akan jauh berbeda dengan apa yang kita harapkan. Karena hal-hal yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang memberikan kontribusi.

Maka dari itu penting untuk kita melatih diri kita untuk bisa membedakan pekerjaan yang penting dan tidak di satu waktu.

Seperti yang sempat saya sebut diawal tadi. Bahwa ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk membedakan pekerjaan yang penting dan tidak akan membuat kita berpikir panjang.

Dan bisa jadi kita menjadi pribadi yang selalu merasa diri kita terbelenggu oleh aktivitas kita. Selalu bekerja dengan kerjaan yang tidak penting atau merasa bersalah ketika tidak bekerja.

Coba ingat-ingat tentang diri kita. Apakah kita pernah bertanya, "Mengapa saya selalu mengerjakan aktivitas ini, meski saya tau aktivitas ini tidak bermanfaat sama sekali dalam hidup saya?"

"Apa yang salah dengan diri saya?"

Jika kita pernah bertanya dengan pertanyaan yang seperti itu, maka kita adalah orang yang suka melakukan penundaan. Yuk, latih diri kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Kejar impian atau tujuan hidup jangka panjang kita, agar nanti kita tidak menyesal dengan hasil yang kita dapatkan. Jangan kita berfokus pada hal-hal (kesenangan) jangka pendek.

Jangan kita terpengaruh oleh imbalan instan di depan mata. Cobalah untuk benar-benar mempertimbangkan hasil-hasil yang bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang.

Hindari untuk menghindari pekerjaan yang berat. Karena yang berat hanya terasa di awal saja. Apapun itu, yang baru dimulai selalu berat di awal-awal. Ketahuilah, itu hanya di awal saja.

Hindari untuk membiarkan pekerjaan penting sampai pekerjaan itu menemukan waktu deadline. Kalau ada waktu, kenapa tidak kita kerjakan sekarang saja agar nanti tidak menumpuk.

Jangan membiasakan diri untuk termotivasi dengan pekerjaan yang mepet atau mendesak. Karena itu adalah cara yang akan membuat hidup kita menjadi tidak tenang dan sulit bahagia.

Lakukan sekarang, meski kita hanya punya waktu yang sedikit.

INSIGHT 3

Hanya Yang Sepadan Bisa Menggantinya.

Sayyidina ‘Ali ra., dalam Kitab Ihya Ulumuddin dituliskan oleh Imam Al-Ghazali bahwa beliau (Sayyidina ‘Ali ra,) pernah mengatakan bahwasanya,

“Orang berilmu masih lebih utama daripada orang yang gemar berpuasa dan menegakkan shalat –sunnah–, serta berjihad di jalan Allah Swt. . Ketika seorang yang berilmu (ulama) meninggal dunia, datanglah kevakuman dalam Islam yang mustahil digantikan kecuali oleh penggantinya yang sepadan (juga berilmu).”

Kalau kita mau menggunakan akal kita sejenak dan berpikir tentang pentingnya orang-orang yang berilmu. Maka akan kita temukan bahwa orang-orang yang berilmu itu sangat penting.

Pentingnya orang yang berilmu terletak pada manfaat yang ia bawa. Bahkan ketika orang berilmu meninggal, hanya orang yang sepadanlah yang bisa mengganti pentinnya ia di dunia.

Sekarang orang penting itu makna berbeda. Orang penting di dunia adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan terhadap dunia dan orang-orang yang sekitarnya.

Yang mana dalam Islam kita ketahui dan meyakini bahwa apa yang kita kuasai merupakan titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan itu bisa diambil kapan saja semau Allah.

Tidak ada masalah dengan orang penting yang dalam hal ini adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan. Jujur saya tidak memiliki masalah dengan hal itu sama sekali.

Yang menjadi masalah, yaitu ketika seseorang yang berkuasa tersebut adalah orang yang tidak memiliki ilmu.

Karena ketika kita dipimpin dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu, maka disitulah kehancuran akan tiba bagi bangsa dan negara kita. Disitulah letak masalah tidak saya sukai.

Tapi saya sangat bersyukur ketika ada pemimpin yang berilmu, pemimpin yang berdedikasi tinggi, terlebih lagi jika pemimpin itu memiliki akhlak mulia, jujur dan amanah dalam memimpin.

Kebayang, gak, kalau orang yang memimpin kita adalah orang yang berilmu. Pasti akan banyak kebaikan yang akan datang kepada kita sebagai kumpulan orang-orang yang dipimpin.

Jujur saya sangat terkejut ketika saya mendapatkan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa orang yang berilmu masih lebih utama dibandingkan dengan orang yang berpuasa.

Kalimat tersebut seolah-olah menjelaskan kepada saya bahwa peran ilmu itu sangatlah penting. Karena kalau kita beribadah tanpa ilmu, maka yang ada, ibadah kita ngasal-ngasalan.

Dan kalimat itu juga seolah-olah menjelaskan kepada saya, ketika kita ingin melakukan sesuatu, maka pelajarilah dulu apa yang ingin kita lakukan, agar kita tidak rancu dalam bertindak.

Mau melakukan apa saja. Sebelum kita melakukan apa yang ingin kita lakukan, maka pelajarilah terlebih dahulu hal tersebut. Setidaknya, dasar-dasarnya. Wallahu A’lam Bishawab.

Tapi dengan kalimat tersebut juga menjadikan saya bertanya akan apa yang lebih penting daripada ilmu? Apakah ilmu yang paling penting dalam hidup kita. Apakah ada yang lain.

Dan Alhamdulillah, saya menemukan jawabannya dari para guru yang pernah saya dengar. Mereka katakan bahwa ilmu itu memang penting. Tapi ada yang jauh lebih penting!

Apa itu? Jawabannya adalah, akhlak. Percuma kita berilmu tapi tidak berakhlak. Dan lainnya adalah aqidah, meyakini Allah SWT. sebagai Tuhan yang tunggal. Lailahaillallah!


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload