Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 23 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Mulianya Kedudukan Seseorang Yang Berilmu.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-67. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Shalat Menghapus Bahagia Yang Tersendat.

Hari ini saya mendapatkan Insert yang sangat luar biasa dari sebuah video melalui Instagramnya @hanan_attaki Ustadz Hanan Attaki. Insight yang saya dapatkan sangat bermanfaat.

Saya bilang bermanfaat karena saya mendapatkan insight cara bagaimana seseorang untuk bisa terhindar dari kesedihan serta bisa merasakan nikmat bahagia yang sangat luar biasa.

Dalam video tersebut disebutkan bahwa manusia itu labil. Ada yang sekarang sedih nanti tiba-tiba senang. Ada yang tadinya senang tiba-tiba berubah menjadi sedih. Itulah sifat manusia.

Manusia itu sangat mudah sekali mengalami perubahan. Ini bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Pada saat lagi dengar motivasi, semangat sangat amat luar biasa bergejolak.

Eh, tapi … setelah beberapa menit kemudian setelah dengar motivasi, kita kembali murung, patah semangat dan seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup sama sekali.

Jadi manusia itu labil banget. Perasaan mudah sekali berganti dari satu perasaan ke perasaan yang lain. Tapi ada diantara kita yang tidak labil dan tidak mudah berubah perasaannya.

Siapakah mereka? Kata Ustadz Hanan Attaki dalam video tersebut, orang-orang yang tidak labil dan mudah berubah perasaan adalah orang-orang yang shalat.

Orang-orang yang menjaga shalatnya. Orang-orang yang konsisten dalam melaksanakan shalat. Orang-orang yang khusyuk dalam setiap shalatnya.

Merekalah orang-orang yang tidak labi dan tidak mudah mengalami perubahan atas perasaan mereka.

Sehingga, pada saat kita mengalami perubahan hati yang begitu cepat, merasa hati kita tidak enak, merasa hati kita mudah tersinggung, merasa galau, merasa gundah gulana.

Maka tindakan yang harus kita laksanakan adalah dengan mendirikan shalat. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan kita mood stabilizer melalui shalat.

Tapi untuk mendapatkan mood stabilizer syaratnya dengan mendirikan shalat sebaik mungkin, sekhusyuk mungkin, dan memahami setiap makna dalam bacaan dan gerakan shalat.

Dan semua itu harus kita usahakan untuk konsisten. Artinya tidak hanya di satu waktu saja. Kenapa? Ya, karena kalau tidak kita hanya merasa tenang disaat itu saja, di lain waktu tidak.

Kalau kita sudah terbiasa dengan shalat yang benar. Maka shalat akan menjadi mood stabilizer bagi hati kita. Sehingga kita tidak mudah galau, mudah tersinggung, apalagi marah.

Oleh karena itu, Ustadz Hanan Attaki menyeru kepada kita, untuk kita memperbaiki shalat, bacaannya, dan memahami artinya dalam setiap bacaan shalat yang kita ucapkan.

"Kalau kita tahu arti dalam bacaan shalat akan sangat berpengaruh kedalam mental dan pikiran kita. Dengan begitu shalat akan menjadi healing dan bisa menyembuhkan keluh kesah mental kita."

~ Ustadz Hanan Attaki.

Jadi kalau kita ingin bahagia kita tidak tersendat maka kuncinya adalah dengan mendirikan shalat. Jika kita belum mendapatkan manfaat dari shalat, bisa jadi shalat kita belum tepat.

Tidak hanya bisa melafalkan, tapi juga bisa memahami makna tiap bacaan yang kita lafalkan. Insya Allah dengan itu, hati kita akan tenang dan mendapatkan kedamaian di dalamnya. Itulah insight internet yang saya dapat. Wallahualam Bishawab.

INSIGHT 2

Kita Menunda Karena Tidak Tau Tanda-Tandanya.

Hari ini saya melanjutkan Inside baca buku yang saya dapatkan dari kitab anti penundaan karya coach Darmawan Aji. Insight yang saya dapatkan adalah tanda-tanda penundaan.

Kamu pernah nggak mengalami beberapa situasi seperti sibuk dengan aktivitas yang remeh. Mungkin nggak sepanjang hari kita melakukannya tapi setiap hari hampir kita melakukannya.

Hal yang paling remeh yang sering kita lakukan menurut saya adalah mengecek HP ketika bangun. Meski kita tahu setiap kali buka hp tidak ada hal penting yang masuk kita tetap buka hp.

Padahal ketika kita bangun, hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah membuat diri kita tenang. Setelah itu bangun, berangkat ke kamar mandi untuk cuci muka.

Hal lainnya yang menjadi tanda kita menunda adalah ketika kita tidak mengerjakan tugas-tugas yang sudah kita buat atau tugas yang telah kita masukkan ke dalam to-do list kita.

Misalnya kita mau menulis blog hari ini 1000 kata dan kegiatan itu kita masukkan ke dalam to-do list yang harus kita selesaikan hari itu juga. Akan tetapi kita malah tidak mengerjakannya.

Dan akhirnya kita membuat berbagai macam alasan agar apa yang kita lakukan itu seolah-olah benar. "Yakan hari ini aku lagi banyak kerjaan, makanya nggak sempat nulis blog 1000 kata.

Kalaupun kita mengerjakan daftar tugas yang telah kita buat dan kita masukkan ke dalam to-do list yang akan kita kerjakan hari itu. Kita suka menunda pengerjaannya sampai deadline.

Setelah deadline baru kita tergesa-gesa dalam mengerjakan tugas itu. Alhasil, hasil yang kita dapatkan tidak memuaskan.

Kita suka menunda pengerjaan tugas yang sudah kita buat dan sudah kita rencanakan untuk diselesaikan hari itu juga. Tapi kita tunda dengan alasan tugas tersebut terlalu berat.

Akhirnya, karena tugas terlalu berat kita pun mencari kegiatan atau aktivitas yang bisa membuat kita merasa senang. Dengan cara scrolling social media dan menonton film berjam-jam.

Waktu kita membuka sosial media, scrolling sosial media dan menonton film berjam-jam. Alasan kita adalah menunggu mood baik atau menunggu momen baik untuk mengerjakan tugas.

Karena kita meyakini kalau mood kita lagi tidak baik, kita tidak bisa mengerjakan tugas tersebut dengan maksimal. Sehingga, kita menunggu momen yang baik untuk mulai mengerjakannya.

Nah, yang tidak kita sadari adalah: setelah kita scrolling media sosial dan menonton film berjam-jam. Mood kita membaik pada saat aktivitas menunda itu sedang berlangsung.

Setelah kita berhenti melakukannya dan mau mengerjakan tugas; mood kita kembali tidak membaik. Dan akhirnya kita kembali lagi ke aktivitas yang menunda pekerjaan kita.

Sampai akhirnya tugas pun baru kita kerjakan di waktu yang sudah tidak cukup untuk bisa menyelesaikan tugas tersebut. Dan disinilah kita merasa menyesal karena telah menunda.

Dan anehnya hal ini terjadi tidak hanya sekali tapi berulang kali kita melakukannya, setidaknya tanpa kita sadari. Karena itulah sangat penting untuk mengetahui tanda-tanda penundaan.

Kapanpun kita merasa berat dengan tugas kita. Kemudian kita mengalihkan fokus kita pada aktivitas yang kurang bermanfaat. Maka sadarlah bahwa itu adalah tanda-tanda dari penundaan.

Dan segeralah sadar bahwa ada tugas yang lebih baik dan lebih penting untuk kamu selesaikan daripada mengerjakan aktivitas-aktivitas yang kurang bermanfaat.

INSIGHT 3

Mulianya Kedudukan Seseorang Yang Berilmu.

Pada hari ini pada saat saya menulis insight dari membaca kitab Ihya Ulumuddin keadaannya sedang hujan. Dan saya rasa hujan-hujan begini enaknya menulis insight.

Insight yang saya dapatkan dari Kitab Ihya Ulumuddin adalah sebuah Hadist yang dicantumkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab, Ihya Ulumuddin. Hadist tersebut berbunyi:

" Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan ada pada dirinya, maka Dia anugerahkan kepada hamba tersebut ilmu (pemahaman) dalam urusan agama, serta diilhamkan-Nya kepada hamba itu petunjuk yang bisa ia ikuti."

Dari footnote: hadits tersebut berasal dari riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Mas'ud, sebagaimana dilemahkan oleh Imam Albani dalam buku Dhaif Al jami', halaman 901.

Bahwa tanda seorang hamba yang diberikan petunjuk adalah ia mendapatkan ilmu atau pemahaman dalam urusan agama oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah insight yang saya dapat.

Insight lain yang saya dapatkan dari kitab Ihya Ulumuddin, yaitu bahwasanya dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

"Ulama (orang yang memiliki ilmu agama) itu adalah pewaris para Nabi."

Dari footnote: Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Kitab Shahih miliknya, dari jalur Abi Al-Darda'."

Dari sini kita tahu, bahwa ketika kita ingin menjadi pewaris para Nabi, maka cara satu-satunya adalah dengan mempelajari ilmu agama dan menyebarkan ilmu agama itu kepada orang lain.

Dan yang harus kita ketahui, derajat tertinggi manusia itu ada pada golongan para Nabi. Dan tidak ada satu derajat manusia yang bisa menyaingi derajat para Nabi.

Juga tidak tersedia kemuliaan hidup yang melebihi kemuliaan tugas kerasulan sebagaimana yang diwariskan.

Dari kitab Ihya Ulumuddin, saya juga mendapatkan insight dari hadist yang menjadikan saya tahu dan paham betapa tingginya derajat orang-orang yang berilmu.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, bahwasanya

"Penduduk langit dan bumi memintakan ampunan [kepada Allah] bagi mereka yang berilmu."

Dari footnote: Riwayat ini merupakan penggalan (bagian) dari riwayat yang pernah disampaikan oleh Abi Al-Darda', sebagaimana telah dikemukakan pada riwayat sebelum ini.

Betapa mulianya kedudukan orang yang berilmu yang kemudian dimintakan ampunan oleh para malaikat penghuni langit dan para malaikat penghuni bumi kepada Allah SWT.

Bahkan dalam hadist lain yang saya baca dari kitab Ihya Ulumuddin, kedudukan orang berilmu itu sederajat dengan manusia yang di muka bumi ia memiliki tahta dan kekuasaan.

Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

"Sesungguhnya hikmah dibalik ilmu itu bisa memuliakan orang yang sudah mulia, dan meninggikan derajat seorang budak, hingga mencapai kedudukan (derajat) para raja."

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah. Juga oleh Ibnu 'Abdil Barr dalam Al-Bayan Al-'Ilm. Demikian pula oleh 'Abdul Ghani al-Azdi dalam Adab Al-Muhaddits, dari riwayat Anas bin Malik dengan isnad dha'if (lemah).

Demikian insight yang saya dapat, Wallahu A'lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload