Join Telegram

Daily Insight: Sabtu, 02 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ilmu Adalah Bukti Kita Mencari Petunjuk.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-75. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Turunnya Al-Quran Berdasarkan Historikalnya.

Hari ini saya mendapatkan insight yang luar biasa dari video tausiah Ustadz Abdul Somad. Ustadz Abdul Somad pada saat itu sedang menjawab pertanyaan para jama’ah.

Lalu, ada satu pertanyaan dari salah seorang jama’ah.yang bertanya, “Mengapa Al-Fatihah surah pertama, bukannya ayat yang pertama turun adalah surah Al-Alaq (Iqra’)?

Lalu disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad surah Al-Qur’an yang turun secara historikal atau turunnya Al-Quran berdasar kisah perjalanan hidup baginda Rasulullah ﷺ

Maka turunlah ayat pertama ketika Nabi ﷺ sedang berada di Jabal Nur di Gua Hira.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١

(Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan)

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢

(Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah).

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣

(Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pengasih),

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤

(Yang mengajar (manusia) dengan qalam).

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥

(Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya).

Nabi ﷺ pun menggigil dan lalu pulang kerumah. Setibanya di rumah, Rasulullah ﷺ pun dipakaikan selimut oleh istrinya, yaitu Siti Khadijah. Saat diselimuti, lalu turun ayat lagi,

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ - ١

(Wahai orang yang berkemul (berselimut)!)

قُمْ فَاَنْذِرْۖ - ٢

(bangunlah, lalu berilah peringatan!)

Rasulullah ﷺ diperintahkan Allah untuk memberi peringatan. Kepada siapa Rasulullah ﷺ harus memberi peringatan? Lalu turunlah Ayat 214 Quran Surah ke-26 Asy-Syu’ara.

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,

Lalu Rasulullah memanggil berbagai macam suku Quraisy mulai dari kabilah per kabilah: Bani Fihr, Bani Uday, Bani Abdi Manaf, dan Bani Abdul Muththalib, semua diseru.

Lalu mereka semua pun segera mendatangi beliau, termasuk Abu Lahab. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka:

“Menurut kalian, kalau kukabarkan bahwa ada pasukan berkuda di lembah di kaki gunung sana yang hendak menyerang kalian, percakah kalian kepadaku?”

Mereka menjawab, “Tentu, kami tidak pernah sekali pun mendapatimu berdusta. Kami tidak pernah mendapatimu berkata-kata, kecuali benar.”

Setelah itu Rasulullah ﷺ menyeru mereka kepada kebenaran dan mengingatkan mereka akan siksa Allah. Dan Rasulullah ﷺ menyeru secara khusus Abbas ibn Abdul Muththalib, dan bibi beliau Shafiyah binti Abdul Muththalib.

Kepada masing-masing, Rasulullah ﷺ mengatakan: “Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.” ( Ar-Rahiq al-Makhtum hal. 92-93)

Setelah Rasulullah ﷺ telah usai menyampaikan peringatan, orang-orang pun berpencar membubarkan diri. Tidak ada sedikitpun respons dari mereka.

Hanya Abu Lahab seorang yang menanggapi Rasulullah dengan cara yang buruk, “Celakalah engkau selama-lamanya! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami semua?”

Setelah itu turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ

(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa).

مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ

(Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan).

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak).

وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ

(Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar).

فِى جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍۭ

(Yang di lehernya ada tali dari sabut)

Alhamdulillah, hari ini mendapat insight yang sangat luar biasa. Bahkan saya belajar sedikit Sirah Rasulullah ﷺ yang luar biasa perjuangan dakwah. Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Allahumma sholli wasallim ala sayyidina Muhammad.

INSIGHT 2

Tidak Mau Terlihat Tidak Sempurna Dimata Orang.

Jika kita ingin mengatasi penundaan, maka kunci pertama yang bisa kita lakukan ialah, jangan pernah mengejar kesempurnaan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Karena ketika kita mengejar kesempurnaan dalam hal-hal yang kita kerjakan, kita cenderung melakukannya dengan melakukan pekerjaan tersebut dengan penuh khawatir.

Dan ketika kita ingin mengerjakan pekerjaan lain, kita jadi lebih berpikir dulu, “apakah yang saya lakukan ini bisa bernilai bagus dimata orang-orang?’ Dan itu yang membuat kita menunda.

Terlalu mengejar kesempurnaan menjadikan kita takut dikritik karena kesalahan. Padahal, kesalahan itu wajar dalam setiap pekerjaan. Hanya saja, jangan terlalu sering melakukannya.

Kalau kita terlalu sering melakukan kesalahan, terlebih lagi kesalahan yang kita ulang adalah kesalahan yang sama, maka saya rasa, itu adalah kesalahan yang disengaja.

Sengajanya dimana? Sengaja untuk tidak belajar dari hal-hal baik maupun buruk dari kesalahan yang ia perbuat. Jadi, kalau kita berbuat salah, wajar, asal kita bisa mengambil pelajaran.

Setiap kesalahan pasti meninggalkan pelajaran. Dan itu sangat berharga dalam hidup kita untuk mensukseskan kegiatan lainya yang ingin kita capai. Jadi sekali lagi, jangan takut salah.

Jika ada tanggung jawab yang diberikan oleh seseorang; ambil. Jangan takut mengambil tanggung jawab hanya karena terlalu berpikir jauh kedepan tentang masalah yang akan muncul.

Kenapa kita tidak berpikir hal positif apa yang bisa kita dapat jika tanggung jawab yang kita ambil berjalan lancar atau tidak.

Jangan pernah kita takut mengambil tanggung jawab dari hal yang kita putuskan. Keputusan apapun yang kita ambil dalam hidup kita, harus berani kita pertanggungjawabkan.

Takut mengambil tanggung jawab atas keputusan yang akan kita ambil juga menjadikan kita suka menunda-nunda. Padahal setiap keputusan selalu datang dengan segala kemungkinan.

Mungkin keputusan yang kita ambil bisa berdampak baik dan mungkin juga keputusan yang kita ambil bisa berdampak buruk. Tapi terlepas dari itu semua, selalu ada pelajaran didalamnya.

Kita itu terlalu suka dengan hal-hal yang sempurna. Saking sukanya kita dengan hal-hal yang sempurna, menjadikan kita suka mengejar kesempurnaan dalam hal-hal yang remeh.

Menata alat dapur bisa sampai berjam-jam kalau kita terlalu mengejar kesempurnaan dalam penyusunannya. Jangan terlalu sempurna, yang penting masih tetap terlihat bersih dan rapi.

Menata barang-barang dikamar bisa sampai berjam-jam kita melakukannya. Padahal yang perlu kita lakukan bukanlah apa yang terlihat, tapi apakah itu sudah rapi dan bersih dari kuman.

Seharusnya kita mengejar hal-hal yang penting atau hal-hal yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan dan apa saja yang orang ingin lihat dari kita. Karena mereka tidak butuh itu.

Kita terlalu suka mengejar kesempurnaan dari segi penampilan yang mana itu tidak terlalu penting. Dan ketika kita terlalu fokus pada hal-hal yang seperti ini, kita jadi lebih suka menunda.

“Bagaimana, ya, kalau orang melihatnya tidak bagus? Apakah yang saya lakukan ini sudah sempurna? Apa kata orang nanti dengan apa yang sudah saya lakukan; positif atau negatif?”

Kita terlalu cemas dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab, yang mana jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu ada diluar diri kita. Dan kita tidak punya kendali atas hal itu.

INSIGHT 3

Ilmu Adalah Bukti Kita Mencari Petunjuk.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali terdapat sebuah sya’ir dari Sayyidina ‘Ali ra. yang menggambarkan ilmu dan derajat orang-orang yang berilmu. Sya’ir itu berbunyi:

“Tiada kemuliaan selain bagi orang yang berilmu.

Memberi tuntunan dan menjadi bukti bagi pencari petunjuk.

Setiap orang dihargai sebanding ilmunya.

Tapi orang yang tidak berilmu dipandang sebagai lawan orang yang berilmu.

Oleh karena itu carilah ilmu, niscaya engkau akan kekal.

Sebab, semua orang mati, dan hanya orang berilmu yang tetap hidup.”

Saya yakin sya’ir akan lebih indah jika dibaca dalam bahasa aslinya, yang mana dalam hal ini bahasa Arab. Tapi sayang, saya tidak menemukan bahasa Arabnya.

Karena kitab Ihya Ulumuddin yang saya baca adalah versi terjemahan yang mana semua teks arab diterjemahkan, kecuali beberapa hal, seperti Ayat Al-Quran dan Hadist.

Meski demikian, apa yang saya baca tidak mengurangi insight yang saya dapat. Karena selalu ada insight yang menarik pada semua yang saya baca. Begitulah berkahnya ilmu.

Ilmu akan semakin bertambah. Semakin kita mencari ilmu lebih dalam, maka semakin melimpah ilmu yang akan kita dapatkan. Maka jangan pernah berhenti menggali ilmu yang kita minati.

Dan terlebih lagi, jangan pernah pelit membagi ilmu kita.

Tiada kemulian bagi orang-orang selain orang-orang yang berilmu. Maka dari itu, jangan bosan untuk mencari ilmu serta mengamalkan ilmu sekaligus membagikan ilmu tersebut.

Karena ilmu yang tersimpan sama seperti harta yang disimpan. Adakah kebaikan atau manfaat dari harta yang kita simpan? Tidak ada, karena harta itu hanya diam ditempat.

Jika kamu menganggap bahwa ada manfaat dari menyimpan harta yang mana seperti zaman sekarang kita sangat mudah untuk menyimpan uang dan mendapatkan keuntungan.

Tapi pertanyaanya, apakah keuntungan tersebut halal adanya? Maka bukan lagi tidak ada manfaatnya. Tapi bisa lebih parah dari hal tersebut, yaitu membawa mudharat.

Maka agar ilmu kita tidak memberatkan hisab kita dikarenakan kita tidak pernah membaginya. Maka dari itu, ilmu yang pernah kita pelajari, hendaknya kita bagi, agar manfaat kita dapati.

Ilmu yang kita pelajari, sebagaimana sya’ir Sayyidina ‘Ali bisa memberi tuntunan dan menjadi bukti bagi pencari petunjuk bagi orang-orang yang selama hidupnya mencari petunjuk.

Maka kelak ketika kita ditanya apa yang menjadi bukti bahwa kita adalah orang yang termasuk kedalam orang-orang yang mencari petunjuk; ilmu dapat menjadi bukti bagi kita kelak.

Setiap orang dipandang sebanding dengan ilmunya. Maka ilmu yang kita miliki akan meninggikan derajat kita atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semakin banyak, maka semakin tinggi.

Tapi orang yang tidak berilmu dipandang sebagai lawan orang yang berilmu. Dikarenakan mereka adalah orang-orang yang selalu mencari masalah atas solusi yang salah.

Maka orang-orang yang berilmu berhak menegurnya. Jika mereka tetap membangkang. Maka sesungguhnya mereka adalah musuh orang berilmu. Wallahu A'lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload