Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 27 Rabiul Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Waktu Luang Hilang Diganti Begadang.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-71. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Jangan Putuskan Doa Meski Kita Penuh Dosa.

Hari ini saya mendapatkan insight dari scrolling media sosial, yaitu instagram, dan tidak sengaja menemukan video yang Alhamdulillah memberikan insight yang luar biasa.

Video tersebut adalah potongan dari video seorang Ustadz yang sedang menyampaikan kajiannya. Sayang sekali tidak disebutkan siapa nama Ustadz tersebut.

Tapi saya berdo’a untuknya mudah-mudahan ia mendapatkan kebaikan dari Allah serta dirahmati ilmunya oleh Allah SWT. Dan mudah-mudahan Allah selalu memberikannya kebaikan.

Video tersebut menampilkan kisah seorang hamba yang berdoa dalam keadaan penuh dosa. Dan doa-doa yang ia panjatkan selalu ditutup oleh malaikat untuk sampai ke Allah.

Akan tetapi Allah Maha Tahu. Sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini, Allah SWT. pasti tahu. Termasuk ketika malaikat menutupi doa hamba pendosa kepada Rabbnya.

Sampai kemudian Allah SWT. bertanya kepada malaikat yang menutup doa seorang hamba tersebut. “Wahai malaikat, apa yang kau tutup?”, “Kenapa doa hamba-Ku ditutup?”

Malaikat menjawab, “Wahai Rabbi, ini orang gak pantas berdoa kepada Mu dan gak pantas doanya engkau kabulkan karena dosanya banyak Ya Allah.”

“Wahai malaikat-Ku, tidakkah engkau mengetahui Aku telah berjanji kepada hamba-Ku.”

"Dan Rabb kalian berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.”

(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Tatkala kita berdoa sambil menyebut nama Allah, menyerukan nama Allah, mengagungkan Allah; Ya Allah, Lailahailallah dengan tetesan air mata, malaikat ditegur sama Allah SWT.

“Wahai malaikat, tidakkah engkau melihat hamba-Ku yang sampai bercucuran air mata, memanggil nama-Ku.” Dan Allah SWT. memerintahkan malaikat untuk membuka penutup itu.

“Singkirkan, biar, Aku ingin mendengar apa rintihan yang dia inginkan.”

Insight yang saya dapatkan dari video tersebut adalah “Jangan kita pernah memutuskan doa kita. Meski kita merasa bahwa diri kita ini diselimuti oleh dosa-dosa yang pernah kita perbuat.”

Doa adalah nikmat terbesar yang kita miliki. Bahkan doa lebih besar dan lebih baik jika kita mau bandingkan dengan dunia dan seisinya. Saya rasa tidak ada yang bisa menandingi doa.

Sekalipun itu doa dari orang-orang yang berdosa. Doa tetaplah nikmat baginya. Jika seseorang yang berdosa berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT. maka Allah akan dengar.

Allah Maha Mengetahui. Jangankan doa yang kita panjatkan di sepertiga malam yang mana di waktu tersebut banyak orang yang lebih memilih untuk tidur, Allah akan tetap dengar.

Bahkan ketika ada yang berdoa, doanya ditutup oleh malaikat. Allah akan tetap mengetahui dan memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan penghalang daripada doa hamba-Nya.

Lantas apa yang menghalangi kita untuk berdoa? Kalau bisa nangis, nangis dah sekalian. Nangis yang menandakan kita merindukan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Orang yang meninggalkan doa, itu seperti orang yang menolak pertolongan orang lain ketika dirinya mendapati kesusahan.

INSIGHT 2

Menyia-nyiakan Waktu Luang Tapi Siap Begadang.

“Tidak mencuci baju ketika tidak ada baju di lemari, misalnya, adalah sebuah tindakan yang irasional, bukan?”

Dikutip dari buku Kitab Anti Penundaan.

Apakah kamu pernah memikirkan hal itu? Atau kamu pernah melakukannya. Melihat pakaian sudah tidak ada di lemari, tapi masih saja tidak mau mencuci baju.

Itu adalah contoh cara berpikir yang salah dan cara bertindak yang salah. Seharusnya, kalau kita tahu bahwa baju yang ada di lemari tinggal sedikit, maka kita cuci yang sudah kotor.

Agar apa? Ya, agar bisa berpakaian. Masak kita keluar tanpa pakaian. Emang kita mau keluar tanpa berbusana sama sekali? Pasti semua pandangan akan mengarah pada kita, haha.....

By the way, ada yang aneh dengan aktivitas mencuci baju. Kita selalu beranggapan bahwa akhir pekan adalah hari atau waktu yang baik untuk mencuci baju. Kenapa dengan hari lain?

Apakah kita tidak punya waktu untuk mencuci di hari selain hari minggu atau akhir pekan? Padahal jika kita mencuci baju di hari biasa, maka akhir pekan kita akan lebih tenang.

Tapi kita lebih suka melakukan pekerjaan yang banyak di satu waktu. Alasannya, biar sekalian. Padahal kalau kita mau santai di akhir pekan, ya caranya jangan bikin pekerjaan numpuk.

Ada pepatah yang mengatakan sedikit demi sedikit, besoknya tidak jadi bukit. Ya, kan? Haha… Kalau kita cicil pekerjaan yang ada hari ini, besoknya tidak akan menumpuk seperti bukit.

Tapi kita merasa bangga bisa menyelesaikan tugas yang banyak atau tugas yang menumpuk dengan durasi yang singkat. Hasilnya? Ya, bisa kita lihat sendiri.

Budaya kita suka menumpukkan pekerjaan jadi banyak terlebih dahulu, baru dikerjakan, mungkin lahir dari aktivitas ini. Karena terbiasa, jadinya menular ke aktivitas lainnya.

Ini hanya pendapat saya saja; bisa salah, bisa benar. Hal lain yang saya dapatkan dari aktivitas mencuci baju di akhir pekan adalah tentang melatih diri untuk menjadi prokrastinator.

Karena aktivitas mencuci baju di akhir pekan, meliputi aktivitas yang ada dalam penundaan, seperti menumpukkan baju yang sama dengan menumpukkan pekerjaan.

Lebih suka mengerjakan tugas di akhir-akhir waktu yang mana sejalan dengan mencuci baju di akhir pekan. Dan tidak jarang juga, aktivitas tersebut kita lakukan secara tergesa-gesa.

Karena ciri-ciri orang yang suka menunda pekerjaan sampai mepet dengan batas waktu pengerjaan atau yang kita kenal dengan sebutan deadline, adalah tergesa-gesa.

Coba perhatikan orang-orang yang suka menunda pekerjaan. Maka kita akan temukan kesamaan mereka semua, yaitu selalu tergesa-gesa dalam mengerjakan pekerjaannya.

Pekerjaan yang menumpuk dan dikerjakan di satu waktu akan memberikan dampak buruk bagi otak kita. Karena kita memacu diri kita sampai melewati batas kemampuan kita.

Tapi anehnya adalah … orang yang suka menunda tetap berani begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Demi pekerjaan, ia berani begadang. Padahal siang, ia punya waktu luang.

Tapi, ya … begitulah. Penyesalan selalu hadir dan baru bisa dirasakan di akhir. Hanya sedikit orang yang bisa merasakan penyesalan sebelum waktu penyesalan itu tiba menemuinya.

INSIGHT 3

Lebih Berat Ketika Kita Ditinggal Oleh Ahli Ilmu.

“Kematian seluruh suku pada sebuah bangsa sesungguhnya masih lebih terasa ringan ketimbang meninggal dunianya seorang yang berilmu (‘alim) di antara mereka.”

Hadist dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin.

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Imam Al-Thabrani dan Ibnu ‘Abdil Barr dan hadist Abi Al-Darda’. Sumber asal yang sesungguhnya dari riwayat ini kembali kepada Abi Al-Darda’. Saya (muhaqqiq) berpendapat, Imam Al-Haitsami menyebutkan riwayat ini dalam Majmu’ Al-Zawaid, Jilid 1, hal. 201. Lalu dikatakan, diriwayatkan oleh Imam Al-Thabrani dalam Al-Kabir, yang di dalam sanad-nya terdapat ‘Utsman bin Aiman,. Dan saya tidak mendapati seseorang yang menyebutkan seperti itu selain Ismail bin Shalih.

Pandemi adalah hal yang tidak akan pernah kita lupakan dimulai dari awal tahun 2020. Itu adalah masa-masa berat yang harus kita lalui dengan sabar dan tabah.

Ada banyak sekali orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita. Dan saya turut berduka cita atas semua yang meninggal dan berdoa semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah.

Bahkan diantara yang paling berat yang kami rasakan adalah kehilangan para guru, para ulama dan para ahli ilmu. Ini adalah hal yang paling memberatkan bagi kami umat Islam.

Tapi saya mulai mengingat tentang cerita seorang anak yang bertanya kepada orang tuanya, “Kenapa orang baik selalu pergi dan meninggalkan kita duluan menghadap Allah SWT?”

Mungkin kamu juga pernah bertanya pertanyaan seperti itu.

Dan jawabannya orang tua tersebut sangat menarik. Orang tua yang baik adalah orang tua yang bisa menjelaskan yang sulit menjadi mudah untuk dipahami oleh seorang anak.

Ia bertanya kepada anaknya, “Kalau kamu berada di taman, padang yang penuh dengan bunga. Kira-kira, bunga apa yang akan kamu petik untuk kamu bawa pulang?”

“Bunga yang paling bagus dan bunga yang paling indah.” Jawab anak itu kepada orang tuanya.

Setelah itu orang tuanya melanjutkan jawaban anaknya dengan menjelaskan, “Tuhan juga demikian, nak. Tuhan mengambil nyawa hamba-hamba-Nya yang indah dan suci (‘alim).”

Kata anaknya, “Meski demikian, aku tetap sedih.”, “Kenapa kamu sedih, nak?” tanya orang tuanya. “Karena sekarang aku ditinggalkan oleh orang-orang baik.”

“Apakah dunia ini akan tetap baik, tanpa orang-orang baik?” lanjut anak itu. Orang tuanya mulai melihat kepadanya dan ia sedikit bersedih dengan pernyataan anaknya tersebut.

Ditinggal oleh satu suku mungkin akan terasa berat. Tapi tidak ketika kita ditinggal oleh para ahli ilmu. Karena ditinggalkannya kita oleh para ahli ilmu adalah awal kehancuran bangsa kita.

Kepada siapa kita akan bertanya dan meminta pendapat untuk solusi dari masalah yang sedang kita hadapi. Tidak mungkin bagi kita meminta pendapat kepada orang yang bukan ahlinya.

Yang ada jika kita meminta pendapat orang-orang yang bukan ahlinya, kita malah akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi. Terlebih lagi pendapat yang kita dapatkan adalah pendapat yang menyesatkan.

Maka akan sangat bersedih bagi dunia dan seisinya ketika kehilangan orang-orang shaleh, ahli ibadah dan ahli ilmu. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload