Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 01 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Manusia Tanpa Ulama Seperti Jalan Tanpa Cahaya.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-104. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kompetensi Boleh Ada Tapi Jangan Tinggalkan Kolaborasi.

Kita hidup dizaman dimana kita tidak lagi berkompetisi dengan rival kita. Tapi kita hidup dizaman dimana kita dituntut untuk bisa berkolaborasi, bekerja sama dan saling bersinergi.

Dan satu-satunya kompetisi yang tersisa di zaman sekarang adalah kompetisi dengan diri kita sendiri.

Apakah kita tetap kekeh dengan pendirian kita yang ingin kerja sendiri dan beranggapan bahwa kita mampu menuntaskan satu tugas hanya dengan diri kita sendiri.

Sekarang sudah tidak zaman lagi maju sendiri-sendiri. Kalau bisa maju bersama kenapa tidak kita maju bersama-sama. Dan lebih indah rasanya ketika kita bersama daripada sendiri.

Hal yang tidak dapat kita lakukan atau berat untuk kita lakukan ketika sendiri bisa menjadi ringan ketika bekerja sama. Apapun yang dibagi akan menjadi sedikit.

Kerjaan yang berat kalau dibagi akan menjadi ringan. Tapi ada hal lain yang menjadikan alasan orang tidak mau bekerja sama, yaitu tentang hasil yang didapatkan jadi lebih sedikit.

Jika kamu beranggapan bahwa bekerja sama menjadikan hasil yang kamu dapatkan lebih kecil dari kerja sendiri-sendiri, maka kamu salah besar. Justru yang ada sebaliknya.

Ketika kamu bekerja sama dan berkolaborasi, hasil yang akan kamu dapatkan lebih besar jika dibandingkan ketika kamu tidak berkolaborasi dengan orang lain.

Jika kerja sendiri-sendiri bisa menghasilkan hasil yang lebih besar. Lalu kenapa banyak contoh di dunia yang mengajarkan kita pentingnya kerja sama dan berkolaborasi.

Kalaulah kerja sendiri-sendiri bisa menghasilkan hasil yang kita inginkan lebih besar dari kerja sama. Lalu kenapa banyak diluar sana orang gagal sebelum mereka mendapatkan hasilnya.

Itu menandakan bahwa kerja sama dapat meringankan beban besar yang kita pikul dan tidak mengurangi sedikitpun dari hasil yang kita dapatkan, malah hasilnya menjadi bertambah.

Kerja sendiri itu sangat merugikan karena pilihannya ada dua: Mendapatkan hasil yang sedikit, atau tidak ada hasil yang kita dapatkan sama sekali karena gagal memikul beban berat.

Berkolaborasi selain meringankan beban yang terlalu besar juga bisa sebagai sarana kita berkenalan dengan banyak orang dan memperbanyak relasi kita.

Karena relasi sangat kita butuhkan untuk bisa mendapatkan berbagai macam peluang yang berharga dan bermanfaat. Mungkin tidak secara langsung, tapi pasti ada saja.

Seperti misalnya kita ingin belajar bisnis dan kita punya teman yang tidak pandai berbisnis. Tapi beruntungnya, meski teman kita tidak pandai berbisnis, dia kenal seseorang yang pandai.

Dan karena dia tahu bahwa kita ingin belajar berbisnis, dia beri kontak temannya yang pandai berbisnis tersebut kepada kita. Akhirnya, peluang kita berbisnis menjadi terbuka.

Saya rasa kita tidak akan pernah benar-benar sukses jika kita masih saja mempertahankan kompetisi dengan berlomba siapa yang bisa menjadi yang terbaik dalam tertentu.

Saya rasa kita bisa sukses ketika kita berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan kita. Jadi untuk mendapatkan kesuksesan itu mudah.

Sukses adalah sesuatu yang bisa kita raih dengan kompetensi yang kita miliki. Tapi yang menjadikan kita mudah untuk meraih kesuksesan adalah kolaborasi dan relasi yang kita miliki.

INSIGHT 2

Kita Cenderung Melebih-Lebihkan Perasaan Di Masa Depan.

Kamu tahu… kita tuh, cenderung membesar-besarkan apa yang ada dalam benak dan pikiran kita. Kita membuat diri kita menjadi terlalu over dalam merasakan sesuatu.

Kita senang sekali membesarkan perasaan buruk yang muncul dalam benak kita dan kita juga suka memperjelas gambar yang kurang baik untuk kita pikirkan dalam pikiran kita.

Dan anehnya lagi, kita suka memanjangkan durasi perasa dan pikiran buruk yang ada dalam benak dan pikiran kita.

Salah satu hal yang sering kita lakukan ialah ketika kita gagal mendapatkan seseorang yang kita kagumi dan cintai. Apa yang kita katakan kepada diri kita?

“Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tanpamu hidupku terasa suram dan separuh nafasku ada padamu. Jika kamu tidak menerima cintaku, hidupku akan menderita selamanya.”

Kata-kata tersebut adalah gambaran bahwa kita senang sekali membesar-besarkan masalah dan suka sekali memanjangkan durasi penderitaan kita dengan kata, “menderita selamanya.”

Padahal ada banyak orang lain yang bisa menggantikan posisi dari seseorang yang menolak cinta kita. Kenapa kita harus di butakan oleh cinta dan menjadi budak cinta sesama makhluk.

Tidak cinta, pekerjaan juga kita perlakukan dengan hal yang sama. Menganggap dirinya tidak bisa menghidupi keluarganya jikalau dirinya tidak menjadi PNS.

Atau orang tua yang terlalu cemas dengan masa depan anak yang tak kunjung menikah. Orang tua beranggapan kalau tidak menikah di usia muda, maka akan sulit mendapatkan jodoh.

Bahkan sebelum lari ke masalah kerja dan menikah, kita juga suka membesar-besarkan perasaan buruk kita terhadap hal-hal yang semestinya tidak terlalu kita permasalahkan.

Misalnya, terlalu membesar-besarkan perasaan buruk ketika tidak mengenakan pakaian bagus ketika ngampus atau merasa tidak bisa mengerjakan tugas kalau tidak punya laptop.

Dan tidak hanya perasaan buruk saja yang kita seringkali kita besar-besarkan. Bagaimana kita merasakan perasaan positif juga sering kali kita lebih-lebihkan.

Beranggapan bahwa dirinya akan menjadi manusia yang paling bahagia kalau menikah dengan seseorang yang ia kagumi dan cintai. Padahal belum tentu, bisa jadi malah sebaliknya.

Mungkin kita yang bahagia bisa memilikinya, tapi kalau dia tidak bahagia dengan menjadi miliki kita, apa yang bisa kamu perbuat? Yang ada cintamu akan hilang secara perlahan.

Bisa jadi orang yang kamu cintai tidak mencintaimu dan dia malah mencari pria di luar sana. Dan ini sering terjadi ketika seseorang sudah terlalu mencintai makhluk.

Atau bahkan melebih-lebihkan perasaan positifnya ketika ia bisa diterima sebagai PNS atau ASN dengan mengatakan, “Saya akan bahagia selamanya kalau diterima menjadi ASN.”

Namun setelah menjadi PNS bukannya senang tapi malah iri dengan profesi orang lain, karena dilihatnya profesi orang tersebut lebih menghasilkan banyak uang.

Banyak contoh orang yang ketika mereka gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan mereka malah bahagia. Dan banyak yang berhasil mendapatkan keinginannya justru menderita.

Yang ingin saya sampaikan adalah, kita tidak bisa memastikan bagaimana masa depan kita akan benar-benar terjadi. Tapi kita hanya bisa memperkirakannya, dan itupun sering salah.

INSIGHT 3

Manusia Tanpa Ulama Seperti Jalan Tanpa Cahaya.

“Para ulama adalah lentera penerang bagi segala zaman. Dan, masing-masing ulama menjadi lentera penerang bagi zamannya. Umat yang sezaman dengannya dapat memperoleh cahaya ilmu langsung dari sisi mereka (masing-masing ulama).”

Ihya Ulumuddin, hal. 31

Begitulah yang saya baca dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Rahimahullah. Bahwa para ulama adalah lentera penerang bagi segala zaman, itu benar adanya.

Karena tiada zaman tanpa adanya seorang ulama yang bisa membimbing umat manusia menuju keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Itulah sebabnya dunia dan manusia yang di dalamnya akan terus ditemani lentera penerang laksana berjalan di kegelapan malam. Dan itu bisa menjadi teman kita ke jalan yang benar.

Tapi yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, apakah kita mau dan bersedia mengikuti mereka para ulama sebagai lentera kita menuju jalan yang benar?

Ya, sebagian dari kita ada yang mengikuti jejak mereka dan sebagian lagi tidak. Entah apa yang menjadikan sebagian orang tidak sampai hati mengikuti mereka.

Mungkin gemerlapnya dunia telah menghiasi hatinya dari terangnya lentera. Mungkin kecintaan yang terlalu amat besar terhadap dunia menjadikan seseorang tidak mengikutinya.

Apakah kita ingin mendapatkan dan memperoleh cahaya dari sisi-sisi mereka para ulama?

Kembali kepada kita masing-masing. Tapi saya berdoa kita semua bisa memperoleh cahaya dari sisi-sisi mereka para ulama yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Aamiin.

Dituliskan oleh Imam Al-Ghazali Rahimahullah bahwa Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,

“Kalau saja ulama tidak ada di tengah-tengah kita, niscaya pola kehidupan manusia laksana binatang (tanpa kendali). Dengan kata lain, berkat jasa ulama yang mengajarkan ilmu manusia bisa keluar dari alam kebinatangan dan masuk ke alam kemanusiaan yang dimuliakan.”

Salah satu manfaat dari mendekat kepada ulama di zaman kita yang insya Allah, Allah jaga keilmuan dan pemahamannya bisa menjadikan kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia.

Telah banyak sekarang ktia melihat peristiwa dimana manusia tidak lagi seperti manusia. Bahkan sering kita dengar seruan untuk memanusiakan manusia.

Itu adalah tanda bahwa: pertama, kita tidak memperlakukan manusia selayaknya manusia, dan; kedua, kita tidak bersikap sebagaimana manusia seharusnya.

Kita tidak berperilaku kemanusian kepada sesama manusia dengan menerapkan hukum-hukum hewan; siapa yang berkuasa itulah yang menang.

Sekarang banyak orang yang kalangan bawah tertindas oleh mereka petinggi yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Dan tidak sedikit orang yang merasakan penderitaan.

Mari kita berdoa bersama, semoga Allah turunkan bagi kita para ulama yang bisa membawa manusia keluar dari sifat hewan dan mulai memahami tingkah lakunya sebagai manusia.

Jika hilang ulama diantara kita, maka tidak hanya manusia itu bersikap seperti hewan, tapi mereka akan melampaui batas.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload