Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 17 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Orang Mulia Karena Ada Sesuatu Yang Mulia Didalamnya.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-90. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Apa Yang Telah Kamu Beri, Semua Itu Pasti Akan Kembali.

Alhamdulillah hari ini saya mendengar sebuah kisah seseorang yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan lapar. Kisah ini saya dengar di tiktok official Ustadz Das’ad Latif.

Suatu ketika datanglah seseorang bertamu ke rumah Nabi ﷺ dalam keadaan lapar. Ia mengetuk pintu daripada rumah Nabi ﷺ seraya mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ

Tuk… tuk… tuk.. bunyi pintu diketuk. “Assalamualaika Ya Rasulullah.” Lalu Nabi ﷺ menjawab salam orang tersebut seraya membuka pintu untuk tamu tersebut.

Lalu tamu tersebut mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata, “Yaa Rasulullah, beri saya maka, Yaa Rasulullah. Saya sudah berhari-hari tidak makan, roti tak ada, kurma tak ada.”

“Saya cuma minum air saja. Pucat pasi saya (karena lapar). Beri saya makan, Yaa Rasulullah.” Pinta tamu tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ menjawab,

“Saya juga tidak ada makanan sekarang. Tapi kalau kamu mau Jubah baju saya, silahkan kamu ambil.”

Allahu Akbar. Betapa mulianya perilaku Rasulullah ﷺ yang bisa kita contohi dalam kehidupan kita. Meski Rasulullah ﷺ waktu itu tidak memiliki makanan untuk diberi, Rasulullah tetap memberi.

Rasulullah menawarkan jubahnya kepada orang yang sedang kelaparan itu untuk dijual, kemudian hasil dari penjualannya bisa ia (tamu) gunakan untuk membeli makanan.

Kalau ada orang minta makanan dan tidak ada makanan untuk kita beri, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita memberi hal lain kepada orang yang minta, seperti uang sebagai gantinya?

Apakah Rasulullah ﷺ tidak memiliki uang atau harta untuk diberikan kepada tamu tersebut? Dari kisah yang saya dapat dari Ustadz Das’ad Latif, bahwa Rasulullah ﷺ punya harta.

Tapi setiap Rasulullah ﷺ ada harta, Rasul sedekahkan kepada orang lain. Karena Rasulullah ﷺ tidak menginginkan ada harta yang tersisa ketika Rasulullah ﷺ berpindah ke alam lain.

Singkat cerita, tamu tersebut senang bukan kepalang ketika ia mendapatkan jubah Rasulullah ﷺ. Ia pergi ke pasar, lalu teriak bahwa ia punya jubah Rasulullah ﷺ dan ingin melelangnya.

Kabar ini (pelelangan jubah Rasulullah ﷺ) sampai ke telinga orang terkaya di Madinah pada saat itu. Orang kaya tersebut punya penglihatan rabun, dia tak mampu melihat dengan jelas.

Sehingga diperintahkannya lah budak untuk bisa mendapatkan jubah Rasul tersebut. Jika budaknya berhasil mendapatkannya, maka budak tersebut akan dibebaskan oleh majikannya.

Lalu pergilah budak tersebut atas perintah majikannya. Dan ia pulang dengan membawa jubah Rasulullah ﷺ. Diberikannya lah kemudian jubah tersebut kepada majikannya dengan senang.

Majikannya pun berbahagia. Lalu ia mengusap jubah itu ke matanya seraya bershalawat. Atas izin Allah, mata orang kaya itu sembuh. Dan dia pun sangat berbahagia akan nikmat itu.

Setelah itu, ia pergi ke rumah Rasulullah ﷺ dengan membawa jubah tersebut “Assalamualaika Yaa Rasulullah.”

“Yaa Rasulallah, ini jubahmu aku kembalikan sebagai hadiah untukmu.” Lalu Rasulullah ﷺ pun memanggil putrinya, Fatimah.

“Kau lihat hebatnya sedekah. Jubah yang aku (Nabi ﷺ) berikan telah mengenyangkan perut orang kelaparan, memerdekakan seorang budak, dan menyembuhkan penyakit orang sakit.”

“Dan hebatnya lagi, jubah ini kembali lagi kepadaku.”

INSIGHT 2

Saya Bukanlah Hasil Dari Apa Yang Dikatakan Orang Lain.

Tugas bukanlah sesuatu yang menentukan nilai diri kita. Ia tak mendefinisikan siapa diri kita yang sebenarnya. Ia hanya dapat mendefinisikan kita sesaat kita menyelesaikan tugas.

Diluar dari itu, tugas bukanlah penentu hidup kita. Ketika kita gagal menyelesaikan sebuah tugas, bukan berarti kita adalah manusia yang selalu dirundung kegagalan terus menerus.

Bukan berarti kita gagal di satu waktu lalu kita akan gagal juga di waktu yang lain. Bukan berarti ketika kita berhasil melakukan sesuatu di satu waktu lalu akan berhasil di waktu yang lain.

Semua ada masanya. Ada masanya kita gagal, dan ada pula masanya kita berhasil. Semua datang bergantian seperti roda yang berputar; kadang dibawah, kadang pula diatas.

Banyak orang yang beranggapan bahwa menyelesaikan suatu tugas berbanding lurus dengan nasibnya. Ketiak misalnya, ada orang yang tidak berhasil menyelesaikan pendidikan S1-nya.

Bukan berarti orang tersebut tidak memiliki masa depan yang cerah hanya karena dia gagal menyelesaikan S1. Begitu juga sebaliknya dengan orang yang berhasil menyelesaikan S1.

Bukan berarti setelah dia mendapatkan gelar S1, lalu masa depannya akan cerah, belum tentu. Kita tidak pernah tahu.

Orang yang dikenal gagal sekarang, bisa jadi 1, 2, 3 tahun kemudian dia akan berhasil mencapai kesuksesan yang besar. Sedang yang berhasil sekarang akan mendapatkan kegagalan.

Yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin. Kita sudah berdoa sebaik mungkin, itu saja sudah sangat baik. Janganlah kita memaksakan hasil harus sesuai dengan keinginan kita.

Ketika ada orang yang mengatakan tulisan saya jelek ataupun ada orang yang mengatakan tulisan saya sampah, saya tidak ada masalah. Bagi saya pribadi, itu adalah hak mereka.

Tapi kata mereka tidak mendefinisikan masa depan saya. Ya, mungkin sekarang tulisan saya jelek dan sampah. Tapi dari itu saya bisa belajar dan bertumbuh untuk menjadi lebih baik.

Kata-kata buruk yang dilontarkan orang lain tidak akan pernah mendefinisikan siapa saya di masa yang akan datang. Jika ada yang baik dari perkataan mereka, maka saya akan ambil itu.

Tapi jika tidak ada kebaikan yang bisa saya dapatkan dari apa yang mereka katakan kepada saya, maka saya akan tinggalkan itu. Saya bukanlah hasil dari apa yang orang-orang katakan.

Saya adalah hasil dari apa yang saya usahakan dan dari apa saya doakan kepada Tuhan saya. Saya tidak akan pernah jadi seseorang yang gagal hanya karena perkataan orang lain.

Jika saya gagal, maka itu adalah takdir yang telah ditetapkan Allah pada saya. Dan sebagai hamba, sudah seharusnya saya harus menerima ketetapan Allah apapun itu bentuknya.

Banyak sekarang orang-orang yang terlalu berputus asa ketika mereka mendapatkan dirinya dalam sebuah masalah. Lalu apa yang mereka lakukan bukanlah kembali kepada Allah SWT.

Melainkan mereka mencurahkan semua masalah mereka ke sosial media. Mereka berharap ada orang yang bisa membantu dirinya menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Setidaknya ada orang yang peduli dengan mereka. Setidaknya ada orang bersimpati kepada mereka. Bukannya mencari solusi kepada Yang Maha Pemberi Pertolongan, yaitu Allah SWT.

Tapi malah kembali kepada manusia yang mana manusia tidak dapat menolongnya. Jangan meminta kepada manusia, karena manusia sudah cukup lelah dengan masalahnya sendiri.

INSIGHT 3

Orang Mulia Karena Ada Sesuatu Yang Mulia Didalamnya.

Imam Al-Ghazali mengisahkan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, bahwa dulu pernah Ibnu ‘Abbas ra. berkata,

“Aku pernah tidak menyukai seorang pencari ilmu, namun sungguh aku sangat memuliakan apa yang dicarinya (ilmu itu sendiri).”

Ibnu 'Abbas ra.

‘Tidak menyukai seorang pencari ilmu’, maksudnya disini ialah orang-orang yang salah dalam berniat ketika mencari ilmu. Dia tidak berniat mencari ilmu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dia tidak berniat mencari ilmu untuk agamanya atau untuk kebaikan umat dan orang banyak. Melainkan ia meniatkan ilmu diluar dari hal-hal yang saya sebutkan.

Tapi meski demikian, Ibnu ‘Abbas ra. tetap memuliakan apa yang dicari oleh seseorang yang mencari ilmu. Artinya, Ibnu Abbas ra. memuliakan ilmu yang dicari oleh orang tersebut.

Singkat Ibnu ‘Abbas ra. memuliakan ilmu. Disini otak saya jadi berpikir, bahwa sesungguhnya jika kita ingin mulia maka sudah seharusnya kita mencari ilmu. Tentu dengan niat yang baik.

Karena pada dasarnya orang yang mencari ilmu, mempelajari ilmu dan mengamalkan ilmu yang ia pelajari. Sesungguhnya ia adalah orang yang mulia mengingat ilmu itu sendiri mulia.

Kenapa orang yang mencari ilmu menjadi mulia? Ya karena dia telah menjadi sarang dan tempat bagi hal-hal yang mulia, yaitu ilmu. Ilmu yang mulia itulah yang membuatnya jadi mulia.

Apakah orang yang disebut kaya, dirinya ( manusianya itu sendiri) benar-benar kaya? Tidak, melainkan ia disebut kaya karena ada harta yang banyak bersarang dirumahnya.

Aslinya orang kaya tidaklah kaya. Melainkan orang kaya itu hanyalah sebuah label bagi mereka yang memiliki banyak harta yang bersarang dalam dompet, rekening, dan rumah mereka.

Begitulah juga dengan keadaan orang-orang yang mulia di muka bumi. Sungguh mereka mulia karena ada sesuatu yang mulia bersarang dalam pikiran dan hati mereka.

Maka, jika kita ingin mulia. Masukkanlah hal-hal yang mulia kedalam pikiran dan hati kita. Karena kita akan mulia ketika kita telah memiliki sesuatu yang mulia bersarang dalam diri kita.

Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin dituliskan oleh Imam Al-Ghazali. Bahwa dia (Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah) pernah berpendapat tentang Ibnu ‘Abbas ra.

“Belum pernah aku menyaksikan orang seperti Ibnu ‘Abbas ra. dalam urusan menuntut ilmu. Apabila aku melihatnya, maka tampaklah raut wajahnya sangat menawan. Apabila ia bertutur kata, maka urusannya amat lancar mengucap kalimat demi kalimat yang tersusun indah. Dan apabila ia memberikan fatwa (pendapat hukum), maka ia adalah orang yang sangat menguasai ilmunya.”

Ihya Ulumuddin, hal 22.

Pendapat saya, salah satu alasan mengapa seseorang bisa dengan mudah menyusun kalimat demi kalimat dengan sangat mudah adalah karena mereka memiliki banyak kosa kata.

Dan kosa kata yang banyak hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang bersungguh dalam menuntut ilmu. Karena ketika mereka bersungguh-sungguh, mereka banyak membaca kitab.

Banyak membaca membuat seseorang wawasannya jadi luas dan pandangannya menjadi jauh meski dia adalah orang yang tidak pernah memandang sesuatu yang jauh.

Banyaklah membaca. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload