Join Telegram

Daily Insight: Arbi'aa', 27 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Tanah Tandus, Tanah Subur, Sungai-Sungai Dan Lautan.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-100. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Tidak Semua Hal Harus Kita Kerjakan Dengan Keras.

Sukses adalah sesuatu yang dapat kita ukur. Maka batas antara kita dan kesuksesan tergantung diri kita.

Kesuksesan dapat kita raih dengan perhitungan. Sebagaimana matematika yang dapat kita hitung, begitu juga dengan sukses yang kita inginkan dalam hidup kita.

Dalam matematika kita mengenal cara berhitung dengan rumus dan dalam mencapai kesuksesan juga ada rumusnya. Rumus daripada kesuksesan sangatlah mudah.

Rumus daripada kesuksesan adalah sukses = (Kerja Keras + Waktu) x Strategi. Kerja keras sangat penting bukan? Tapi kita harus pikirkan, apa yang kita kerjakan sudah benar atau tidak?

Bagaimana kalau ternyata kita mengerjakan sesuatu yang salah? Apakah kerja keras yang kita letakan pada tugas yang salah akan membuahkan kesuksesan?

Saya rasa kita harus sadar dengan apa yang kita lakukan dan kita harus memiliki rencana untuk mengerjakan sesuatu. Bukan karena kerja keras, lalu seenaknya melakukan apa saja.

Bekerja keras pada sesuatu tugas atau aktivitas yang salah tidak akan membuahkan hasil yang baik. Karena apa yang kita kerjakan saja sudah salah. Lalu kita berharap hasilnya baik?

Berpikir dua kali ketika kita ingin melakukan sesuatu dengan keras. Pikirkan baik-baik tindakan yang akan kita ambil. Karena percuma kita berusaha pada sesuatu yang tidak benar.

Bekerja keras memanglah sesuatu yang penting agar kita bisa sukses dalam suatu bidang yang kita geluti. Tapi mengerjakan sesuatu yang benar, itu jauh lebih penting.

Sebaliknya, jika kita memiliki strategi yang baik tapi kita tidak mau bekerja keras atas strategi yang telah kita buat. Maka itu tidak akan memiliki arti apa-apa.

Ketika rencana sudah kita susun dengan bagus, maka giliran kita yang harus bekerja keras mengeksekusinya. Tanpa eksekusi, maka strategi adalah makan yang basi.

Kita pasti tidak ingin memakan makan yang basi. Bahkan sebagian orang tidak suka mencium aroma dari makanan yang sudah basi. Lalu bagaimana dengan rencana kita?

Apakah kita ingin melihat dan mencium rencana kita seperti mencium aroma makanan yang sudah basi? Agar rencana kita tidak basi cara satu-satunya adalah dengan beraksi.

Hal yang paling penting lainnya selain dari kerja keras dan strategi adalah waktu. Waktu selalu berkaitan dengan kita dan waktu terus berjalan mundur ke akhir.

Ya, mungkin kita melihat waktu itu maju. Tapi sebenarnya waktu itu berjalan mundur untuk mencari akhirnya. Maka penting bagi kita untuk menyegerakan aksi agar waktu kita tidak habis.

Dan yang paling penting pula adalah mengenal waktu itu sendiri. Kapan kita harus bekerja dengan keras dan kapan kita harus istirahat sejenak dari kerja keras yang melelahkan.

Di dalam tubuh kita terdapat energi yang jika terus menerus berusaha, energi itu pasti akan habis. Maka untuk memastikan energi itu tidak habis adalah dengan mengisinya kembali.

Cara untuk mengisinya adalah dengan mengistirahatkan tubuh kita dari segala usaha dan kerja keras yang kita lakukan. Bagi orang sukses sangat penting untuk mengelola energinya.

Jangan biarkan diri kita terlalu lelah. Disaat kita merasa lelah, kita bisa mengambil istirahat sejenak untuk memulihkan kondisi tubuh kita. Kita manusia, dan kita bukanlah mesin.

INSIGHT 2

Nanti Adalah Waktu Untuk Tugas Yang Lebih Berharga.

Salah satu alasan mengapa kita sering munanda disebabkan karena kita sering memberi tanggapan yang salah.

Kita sering beranggapan bahwa kita bisa lebih rajin ketika kita melakukan tugas yang seharusnya kita kerjakan sekarang, tapi malah kita niatkan untuk kita kerjakan di hari esok.

Kita sering beranggapan bahwa kita akan lebih semangat mengerjakan tugas yang kita tunda sampai esok. Saya tidak tahu, apakah esok kita akan menundanya lagi atau tidak.

Tapi saya tebak, sesuatu yang kita tunda biasanya akan kita tunda lagi. Balik lagi ke awal, kita merasa jika tugas yang kita tunda pengerjaannya akan membuat kita jadi lebih semangat.

Anggapan tentang tugas dapat membuat kita lebih semangat jika kita mengerjakannya esok adalah sebuah anggapan yang salah karena kita tidak tahu semangat kita masih atau tidak.

Kalau hari ini saja kita merasa tidak bersemangat, lalu apa yang bisa membuat kita bersemangat besok hari dengan tugas yang sama? Saya rasa kita akan semakin tidak bersemangat.

Maka, bukan kita tidak bersemangat untuk mengerjakan suatu tugas yang harus kita kerjakan hari itu. Tapi lebih ke karena kita suka membuang waktu kita dengan aktivitas yang menghibur.

Karena aktivitas yang menghibur lebih membuat kita bahagia, meski itu hanya sesaat. Dan kita lebih suka terhadap sesuatu yang membuat kita bahagia secara instan.

Padahal kalau kita mengerjakan tugas yang ada dihadapan kita bisa membuat kita merasa lebih bahagia. Dan ketika tugas kita selesai, seketika beban di pundak kita terasa hilang.

Kita selalu mencari waktu yang tepat menurut kita untuk bisa mengerjakan suatu tugas. Tapi kita tidak tahu, bahwa apa yang sering kita anggap tepat, itu seringkali tidak tepat.

Kita suka salah dalam menebak waktu untuk mengerjakan satu tugas. Satu-satunya tebakan yang tidak salah adalah ketika kita menebak tugas tersebut tepatnya dikerjakan sekarang.

Momen yang tepat untuk mengerjakan tugas yang dapat kita selesaikan yang hanya membutuhkan waktu sebentar (2 menit, mungkin) adalah sekarang, bukan nanti.

Nanti adalah waktu dimana kita mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih penting daripada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Nanti, itu untuk pekerjaan yang lebih berharga.

Maka esok adalah hari untuk segala aktivitas yang lebih berharga daripada aktivitas kita hari ini. Jadi sangat aneh ketika kita memindahkan tugas hari ini menjadi nanti atau esok.

Karena melakukan hal tersebut sama saja menggambarkan diri kita yang tidak menginginkan peningkatan nilai dalam hidup kita dan tidak memiliki hasrat untuk bertumbuh dari hari ke hari.

Memindahkan tugas hari ini ke nanti, dimana nanti merupakan waktu untuk mengerjakan tugas yang jauh lebih berharga dari sekarang, itu sama saja kita tidak menghargai masa depan kita.

Kita tidak menghargai masa depan kita, karena kita telah membiarkan masa depan kita (nanti) untuk mengerjakan tugas yang seharusnya kita kerjakan hari ini juga.

Ingat, bahwa nanti adalah waktu untuk mengerjakan tugas yang jauh lebih berharga daripada tugas yang akan kita kerjakan hari ini atau saat ini.

Jika ingin mengalami peningkatan dalam hidup kita; kerjakan tugas hari ini dihari ini. Dan tidak usah memikirkan tugas untuk nanti, karena tugas untuk nanti sudah menunggu kita disana.

INSIGHT 3

Tanah Tandus, Tanah Subur, Sungai-Sungai Dan Lautan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Perumpamaan Allah ‘Azza wa Jalla mengutus aku dengan petunjuk (hidayah) dan ilmu laksana hujan lebat yang menyirami bumi. Ada tanah yang bisa menerima (menyerap) air hujan, lalu menumbuhkan rumput maupun tumbuhan lainnya. Ada pula tanah yang dapat menampung air hujan itu, sehingga tersimpan berbentuk seperti sungai atau laut. lalu Allah ‘Azza wa Jalla memberi manusia karunia untuk memanfaatkannya. Maka manusia minum, mencuci dan bercocok tanam dari air-air tersebut. Dan ada pula tanah yang gersang, tidak mampu menahan air, dan tidak pula bisa menumbuhkan rumput maupun tumbuhan lainnya.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘Alaih), dari hadist Abi Musa Al-Asy’ari ra.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menuliskan syarahnya tentang hadist Rasulullah ﷺ diatas,

“Perumpamaan yang pertama adalah contoh hidup bagi orang yang bisa menarik keuntungan dari ilmu yang dimilikinya. Perumpamaan yang kedua adalah contoh hidup bagi orang yang mampu memanfaatkan ilmu dengan sebaik-baiknya. Sedangkan perumpamaan yang ketiga adalah contoh hidup bagi orang yang tidak memperoleh apa pun dari kedua contoh hidup sebelumnya.”

Ihya Ulumuddin, hal. 29

Dari sabda Rasulullah ﷺ diatas, kira-kira kita ingin menjadi orang yang seperti apa? Apakah kita ingin menjadi seseorang yang berilmu dan bisa mengamalkan ilmunya?

Ataukah kita ingin menjadi orang yang berilmu namun kita tidak bisa mengambil kebaikan apapun dari ilmu yang kita miliki? Pilihan ada ditangan kita masing-masing.

Untuk orang yang berpikir, pastilah ia ingin menjadi orang yang berilmu dan bisa mengambil kebaikan dari ilmu yang ia kuasai. Artinya, ia mampu mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.

Namun untuk orang yang tidak berpikir dan hanya membawa hawa nafsu di dalamnya, maka ia tidak akan pernah memilih untuk bisa mengambil manfaat dari ilmu yang ia pelajari.

Mungkin lisannya bisa berkata bahwa dirinya belajar untuk kebaikan umat. Namun pada kenyataannya, ia mengambil keuntungan dunia dari ilmu yang dipelajarinya.

Niatnya untuk belajar bukan untuk mengharapkan ridha dari Allah ‘Azza wa Jalla. Melainkan niat belajarnya hanya untuk mendapatkan kenikmatan dunia.

Ia mengetahui bahwa ilmu yang dipelajarinya sangatlah dibutuhkan oleh orang lain. Oleh karena itulah, bagi orang yang ingin belajar kepadanya harus membayar beberapa rupiah.

Ia mengetahui bahwa ilmu yang dipelajari belumlah sempurna. Namun ia tergesa-gesa dan tidak sabaran untuk membagikan ilmu tersebut kepada orang lain.

Padahal dirinya sendiri belum mengetahui kebenaran pasti dari apa yang ia sampaikan. Namun itu tetap ia lakukan agar orang lain memandang memiliki ilmu yang banyak dan up to date.

Orang yang seperti ini sama seperti tanah yang tetap tandus walau telah diberikan hujan oleh Tuhannya. Ia tidak akan pernah menjadi tempat tinggal yang baik bagi seseorang.

Tapi untuk orang yang sungguh-sungguh belajar karena mengharapkan ridha Allah, maka amal yang tak terputus baginya sampai hari kiamat.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload