Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 02 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ada Yang Lebih Berharga Tapi Bukan Logam Mulia.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-105. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Banyak Orang Yang Berilmu Tapi Tidak Paham Dengan Ilmu.

Apakah ada yang paling penting dari ilmu? Apakah seseorang yang memiliki ilmu menjadikannya insan yang mulia? Apakah ada yang lebih tinggi selain dari ilmu itu sendiri?

Ya, mungkin kita sering dengar dan tidak asing lagi ditelinga kita dengan ungkapan ini, “Kalau hanya pintar, iblis juga lebih pintar!” Familiar, bukan, dengan kalimat tersebut?

Iblis ternyata lebih pintar dari apa yang kita duga. Namun itu berharga di sisi Allah Swt., meski iblis punya ilmu yang banyak. Karena yang ia miliki hanya ilmu dan rasa dengki.

Maka ketika kita hanya memiliki ilmu namun tidak dibarengi dengan iman, kita tidak ada bedanya dengan iblis. Dan yang bisa membedakan iblis dengan kita adalah akhlak.

Sekarang banyak kita temukan orang memiliki pengetahuan yang tidak sedikit, akan tetapi tidak sedikit pun ada akhlak dalam dirinya untuk bisa saling menghormati.

Dengan ilmu yang ia ketahui, ia pergunakan untuk menipu dan menyesatkan orang lain. Bukan bermaksud untuk membawa kebaikan, tapi malah sebaliknya membawa kerusakan.

Mudah-mudahan kelak kita tidak hanya memiliki ilmu yang banyak, tapi juga memiliki akhlak yang baik, aamiin.

Kita sebagai manusia memang diperintahkan untuk berilmu. Jika tidak berilmu, maka tidak hanya membawa kerugian bagi diri sendiri, tapi juga bisa berdampak kepada orang lain.

Tapi meskipun kita memiliki ilmu, belum tentu kita mampu membawa kebaikan kepada orang lain jika kita hanya tahu ilmunya tapi tidak paham dengan ilmunya.

Sangat mudah bagi kita menemukan informasi yang baik dan benar di sosial media maupun di internet. Tapi mengetahui itu semua tidak menjadikan kita paham dengan informasi tersebut.

Dan kita bisa belajar tentang apa saja dari orang yang senang membagikan ilmunya kepada orang seputar tips-tips dan cara menjalani hidup yang bermakna dan bahagia.

Tapi, apakah dari ilmu yang kita lihat dan dengar dari guru kita dapat kita pahami dengan sebenar-benarnya paham? Apakah yang menjadi tolak bahwa kita paham atau tidak?

Menurut saya yang bisa menjadi tolak ukur kita paham atas ilmu yang kita pelajari adalah amalannya. Ilmu tanpa amal, maka sama seperti air dalam gelas tanpa pemilik.

Kita tidak benar-benar mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut jikalau kita tidak mengamalkannya sebagaimana kita mengambil manfaat dari segelas air yang kita teguk (amal).

Kita bisa mengumpulkan banyak informasi. Kita bisa menjadi pengepul ilmu. Tapi saya khawatir, kita tidak bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang kita miliki jika tanpa adanya amal.

Dan kamu bisa mencuri ilmu dari seseorang untuk kepentingan pribadi. Ketahuilah, bahwa kamu dapat mencuri ilmu seseorang namun tidak dengan amalan dari ilmunya.

Dengan kata lain, kamu bisa mengambil ilmu dari orang lain Tapi kamu tidak bisa mengambil aksi dari orang yang ilmunya kamu ambil. Karena aksi hanya milik untuk satu orang saja.

Pernah mungkin terbesit dalam hati kita tentang diri kita yang tidak bisa mendapatkan apapun meskipun kita rajin mengikuti kelas online dan rajin pula membeli buku.

Tapi sayang, tidak ada dari kedua tersebut yang benar-benar bermanfaat bagi kita. Kenapa bisa begitu? Karena kita tidak mengambil aksi (mengamalkan) apa yang kita pelajari.

INSIGHT 2

Tidak Ada Hal Yang Benar-Benar Harus; Kerjakan Atau Tidak.

Jika burung tidak bisa terbebang bebas karena terbelenggu di dalam sangkar. Maka begitulah perumpamaan manusia yang selalu “harus” dan “harus” dalam mengerjakan sesuatu.

Kata “harus” seringkali menjadikan kita terbelenggu seperti burung dalam sangkar yang tidak bisa terbang bebas di luar, alam sana. Dan kita merasa terbiasa dengan hal itu.

Banyak orang yang akhirnya tidak berhasil mencapai apa yang mereka inginkan karena terlalu kaku dan menjadikan apa yang mereka inginkan itu hanya bernilai pasti.

“Harus begini caranya. Harus punya ini dulu baru bisa mulai. Kalau tidak begini, maka hasilnya tidak akan bagus. Kalau belum punya ini, maka kegiatan tidak bisa mulai.”

Akhirnya semua hal dalam hidup kita tertunda hanya karena kita terlalu kaku dalam membuat aturan atau syarat untuk bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Jika kita benar-benar ingin berubah, baik itu adalah sebuah perilaku atau bagaimana perasaan kita terhadap sesuatu. Kita perlu mengamati dan memperhatikan kata yang kita gunakan.

Karena kata atau bahasa yang kita gunakan, baik yang terucap di bibir atau benak dan pikiran kita akan sangat mempengaruhi tindakan yang ambil. Dan semoga itu tidak buruk.

Dari Coach Darmawan Aji, dari Neil Fiore, Ph.D. dalam buku yang ia tulis “The Now Habit”. Dikatakan bahwa ada dua kata yang kerap kali menciptakan perilaku menunda-nunda.

Dan dua kata yang bisa menciptakan perilaku menunda-nunda adalah kata “Harus” dan “Seharusnya”.

Kata “harus” seperti mengatakan, “Saya harus memulainya sekarang, saya harus mengerjakannya sekarang, saya harus menuntaskannya sekarang.” Itu adalah bentuk paksaan.

Pada saat kita menggunakan kata “harus” cenderung kita belum sama sekali memulai atau mengerjakan atau menuntaskan pekerjaan atau tugas yang kita miliki.

Ketika kita mengatakan, “Saya harus mengerjakan PR ini sekarang juga.” Itu sebenarnya, kita tidak mau mengerjakannya. Tapi terpaksa.

Kita sedang tidak ingin mengerjakan tugas tersebut, tapi mau tidak mau, tidak ada pilihan lain. Itulah sebabnya, pada kalimat tersebut kita menggunakan kata harus.

Karena kalau tidak kita “harus” kan, kita menganggap diri kita tidak akan pernah untuk memulai, mengerjakan dan menuntaskan tugas tersebut.

Dan pasti ada konsekuensi yang tidak ingin kita tanggung jika kita tidak menuntaskan tugas tersebut. Itu juga yang membuat kita menggunakan kata “harus” pada kalimat yang kita ucap.

Sekarang saya ingin bertanya, apakah kita bisa mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas dengan baik ketika atasan kita menggunakan kata harus pada kalimatnya?

Ya, sebagian orang bisa menyelesaikannya dengan baik. Tapi sebagiannya lagi tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Itu karena ada keterpaksaan yang membuatnya merasa tertekan.

Orang yang bekerja karena terpaksa lebih banyak tidak ikhlas dan tidak benar-benar tuntas dalam mengerjakan tugasnya, baik tugasnya di kantor maupun tugasnya yang di rumah.

Maka, jangan pernah membuat dirimu merasa terpaksa dalam mengerjakan tugas dunia. Tinggal pilih, kamu mau kerjakan atau tinggalkan.

INSIGHT 3

Ada Yang Lebih Berharga Tapi Bukan Logam Mulia.

Ada yang lebih berharga daripada harta. Ada yang lebih penting dari keluarga. Ada yang lebih penting dari dunia dan seisinya. Dia membawa kebaikan atas izin Tuhan-Nya.

Dia adalah sesuatu yang tidak akan pernah putus meski ruh dalam raga kita telah putus. Ia tidak akan pernah berhenti ada bahkan sampai dunia itu sendiri telah tiada.

Dia adalah sesuatu yang menjadikan kita tidak meninggalkan dunia dan meninggalkan kehidupan yang kekal dan abadi. Tak sedikitpun darinya lahir keburukan.

Satu-satunya yang menjadikannya terpandang buruk adalah dikarenakan orang yang tidak bertanggung jawab atasnya dan tidak pula senantiasa menggunakan untuk tujuan yang mulia.

Tidak menjadikannya berkurang pentingnya diatas dunia meski banyak orang yang tidak meniatkannya untuk mendapatkan keridhaan pemilik-Nya.

Apakah itu yang lebih berharga daripada harta dan lebih penting dari keluarga serta dunia dan seisinya?

Ilmu agama ialah ilmu yang senantiasa bermanfaat bagi siapa saja yang mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya dan bernilai mulia disisi Pemilik-Nya.

‘Ikrimah mengatakan, “Ilmu agama itu sungguh sangat berharga bagi manusia. Ditanyakan kepadanya, ‘Seperti apa harga sebuah ilmu agama?’ Dijawab oleh ‘Ikrimah, ‘Jika engkau sematkan ilmu agama itu kepada diri seseorang, niscaya ia akan membawanya kepada kebaikan; dengan tidak menyia-nyiakan fungsi hidup di alam dunia ini.’”

Ihya Ulumuddin, hal. 31

Bahkan pendapat yang saya baca dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang ia mengutip perkataan dari Yahya bin Mu’adz dikatakan, ulama lebih mencintai umat.

Bahkan dikatakan bahwa ulama yang baik itu lebih mencintai umat Nabi Muhammad Saw. lebih dari ibu dan ayah mereka sendiri.

Dan para ulama tersebut melakukan hal sedemikian rupa bukan karena suatu alasan yang tidak jelas. Justru mereka melakukan hal tersebut karena sesuatu yang jelas adanya.

Dari apa yang saya baca dari kitab Ihya Ulumuddin, sesuatu yang jelas adanya adalah akhirat yang bernilai kekal nan abad dibandingkan dengan dunia yang bersifat fana.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Ulama yang baik itu lebih mencintai umat Nabi Muhammad Saw. ketimbang ibu dan ayah mereka sendiri.”

Lalu ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz, “Bagaimana mungkin kondisi cinta semacam itu bisa terjadi?” Yahya menjawab,

“Sebab, seorang ayah atau ibu akan menjaga anak-anak mereka dari jerat neraka dunia, sedangkan para ulama yang baik akan menjaga mereka dari jerat neraka akhirat; yang jauh lebih kekal.”

Ihya Ulumuddin, hal . 31

Mudah-mudahan para ulama yang menghabiskan waktunya untuk belajar agama dan senantiasa menuntun orang yang tak paham agama menuju jalan yang benar.

Mudah-mudahan yang sekarang masih belajar ilmu-ilmu agama senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah Swt., aamiin.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload