Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 11 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Selimut Sebagai Naungan Orang Berilmu.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-84. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kegelapan Tidak Dapat Hilang Kecuali Dengan Cahaya.

Ketika cahaya sudah datang, maka kegelapan tidak perlu diusir karena kegelapan akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu diusir. Itulah keajaiban cahaya.

Maka ketika ada kegelapan yang hinggap di dalam hati kita. Itu bukan karena kita yang terlalu banyak dosa. Tapi itu karena kita belum terlalu memiliki banyak cahaya (amal shaleh) dalam diri.

Maka kita tidak akan pernah bisa mengusir kegelapan dalam diri, hati dan pikiran kita sampai cahaya datang dalam diri kita. Karena hanya dengan cahaya kegelapan akan pergi.

Lalu apa yang menjadikan kita tidak bisa memiliki cahaya? Ada banyak alasannya, tapi alasan yang paling mendasar yaitu kita tidak pernah berusaha untuk mencari cahaya.

Cahaya perlu untuk kita cari. Ingat, bahwa kita tidak akan bisa mengusir kegelapan. Kegelapan hanya bisa pergi ketika kita memiliki secercah cahaya dalam diri, hati dan pikiran kita.

Bukan berusaha untuk mengusir kegelapan yang perlu kita lakukan. Tapi yang perlu kita lakukan adalah mencari cahaya dimanapun kita bisa menemukan cahaya. Itu kuncinya.

Karena hanya dengan mendekati cahaya yang bisa mengusir kegelapan yang ada dalam diri kita. Dan untuk itu, kita harus berusaha mencari cahaya; mencari sumber cahaya yang asli.

Cahaya yang tidak akan pernah padam meski dunia ini akan sirna. Cahaya yang tidak pernah sekalipun akan redup. Ia adalah cahaya dari sumber cahaya yang pernah kita lihat.

Cahaya yang ketika kita mendapatkan cahaya meski itu hanya sedikit, kita bisa merasakan kedamaian dan ketentraman.

Cahaya yang bisa menjadikan hati yang mati menjadi hidup. Cahaya yang dikehendaki bagi mereka yang mencari tanpa henti dan bagi mereka yang selalu sabar dalam mencari.

Cahaya itulah yang kita butuhkan untuk bisa hidup damai dan merasakan kebahagiaan dari hati yang kita yang paling dalam. Kebahagian munculnya dari hati yang terang.

Sedangkan kemurungan datangnya dari hati yang gelap. Kita hidup dalam penderitaan bisa karena cahaya yang ada dalam diri kita telah tiada. Maka kita perlu mencari cahaya itu kembali.

Banyak orang yang salah paham tentang kegelapan. Mereka beranggapan bahwa kegelapan itu dapat hilang dengan cara mengusirnya. Tapi itu tidak akan membuat kegelapan itu pergi.

Dengan berhenti melakukan hal-hal yang dapat membuat hati kita gelap tidak akan membuat kegelapan itu pergi. Kegelapan itu akan tetap ada dalam hati kita. Tidak akan pernah pergi.

Jangan berpikir bahwa kegelapan akan pergi ketika kita berniat untuk berhenti melakukannya. Itu hanya akan memberhentikan penyebaran kegelapan tersebut agar tidak bertambah besar.

Bilamana kita berhenti ketika kegelapan itu sebesar gumpalan tangan. Maka gumpalan itu akan tetap ada. Dia tidak berkurang ataupun bertambah apalagi pergi. Tidak akan!

Maka dengan begitu, yang sebenarnya yang perlu kita lakukan bukanlah mengusirnya. Tetapi membawa cahaya ataupun jika kita tidak mampu membawanya; kita mencarinya.

Dekatilah diri kita dengan cahaya. Jangan menjauhi cahaya jika ingin menghilangkan kegelapan yang ada dalam hati. Karena menjauhi cahaya adalah cara memanggil kegelapan.

Mendekati cahaya atau cahaya yang mendatangi kita. Jika kita ingin didatangi, maka perbaiki diri kita dengan sebaik mungkin. Cahaya hanya akan datang kepada yang layak menerimanya.

INSIGHT 2

Kita Telah Berbuat Jahat Dengan Kesempatan Yang Ada.

“Procrastination is the grave in which opportunity is buried.”

~ Alyce Cornyn - Selby

“Penundaan adalah kuburan di mana kesempatan terkubur.” Jadi bisa kita simpulkan, penundaan adalah pemakaman bagi kesempatan yang kita biarkan mati begitu saja.

Bisa juga dikatakan sebagai pembunuh harapan atau peluang ketika kita suka melakukan penundaan. Jadi kalau kita suka melakukan penundaan berarti kita sudah membunuh harapan.

Siapa yang paling bersalah ketika dirinya tidak mampu meraih apa yang diinginkannya? Bukankah kita yang bersalah ketika kita mendapatkan kegagalan dalam karir atau hidup kita?

Tapi anehnya kita suka menyalahkan orang lain dan hal-hal yang berada diluar diri kita. Kita menyalahkan alam dan alam yang harus bertanggung jawab atas kegagalan kita.

Betapa sedihnya hidup kita ketika kita gagal tapi kita tidak mengetahui bahwa akar masalah yang menjadi kita gagal adalah diri kita sendiri bukan orang lain ataupun alam.

Kita yang mengubur kesempatan kita. Kita mengubur peluang yang ada. Kita memaksa mereka untuk mati meski kesempatan itu berani mati untuk kita agar kita bisa mencapai kesuksesan.

Ketika kita menunda, maka pada saat itulah kita membiarkan kesempatan yang ada terkubur sia-sia. Padahal jika kita tidak melakukan penundaan kita bisa mendapatkan hasil yang baik.

Jika kita tidak menunda dua menit kesempatan kita, mungkin kita bisa menyelesaikan satu paragraf yang bermanfaat.

Tapi fakta menariknya adalah, ketika kita menunda kesempatan yang kita dapatkan atau dalam bahasa lain, kita membunuh kesempatan tersebut. Kesempatan itu tidak akan pernah mati.

Seringkali kesempatan yang kita bunuh, itu hidup dan bangkit kembali dalam bentuk penyesalan. Itulah kenapa banyak yang menyesal ketika ia disadarkan oleh kesempatan yang ia bunuh.

Kesempatan yang terbunuh, kesempatan yang kita kubur tidak pernah menghantui kita. Melainkan mereka bangikit berusaha menyadarkan kita bahwa kesempatan itu ada untuk dihargai.

Dan cara untuk menghargai kesempatan yang ada adalah dengan tidak membiarkan kesempatan tersebut berlalu begitu saja. Kita harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada.

Kesempatan sangat begitu berarti bagi seseorang. Karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Setiap orang memiliki kesempatan berharganya sendiri.

Sehingga, kita tidak bisa mengatakan kepada orang, “Jika saya mendapatkan kesempatan itu, maka akan saya gunakan sebaik mungkin yang saya bisa.” Kamu tidak bisa mengatakan itu.

Karena bisa jadi ketika kamu yang mendapatkan kesempatan itu, kamu juga akan menyia-nyiakannya. Daripada mengatakan hal seperti itu, lebih baik kita melihat kesempatan kita sendir.

Gampang sekali dan tidak akan berat bagi kita ketika kita mengomentari kesempatan seseorang. Tapi sulit bagi kita untuk bisa mengomentari diri kita sendiri. Kenapa itu bisa terjadi?

Karena mungkin kita dulu pernah menyia-nyiakan kesempatan kita dan membiarkan kesempatan itu terkubur sampai akhirnya kita sadar bahwa kita menyesal membiarkan kesempatan pergi.

Dan jika kita mengomentari diri kita sendiri, kita takut teringat kembali dengan apa yang sudah kita perbuat. Itulah mengapa kita sangat mudah untuk menghakimi orang lain.

INSIGHT 3

Selimut Sebagai Naungan Orang Berilmu.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menuliskan, bahwa ‘Umar Ibnul Khaththab ra. pernah menyampaikan pesan kepada umat manusia. Ia (‘Umar ra.) katakan:

“Wahai sekalian manusia, kalian harus memiliki ilmu. Sebab, Allah Swt. memiliki selimut yang menaungi siapa saja yang dikasihi-Nya. Siapa saja yang mencari sebuah pintu dari pintu-pintu menuju ilmu, maka ia akan mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla dengan bentangan selimut-Nya. Jika ia berbuat dosa, lalu meminta ampunan Allah, meski terulang hingga tiga kali, maka naungan selimut itu tidak akan diangkat dari sisinya; bahkan jika sampai berkepanjangan dosanya hingga ajal menjemputnya.”

Apa yang disampaikan oleh ‘Umar ra. adalah sebuah seruan bagi kita semua untuk memiliki ilmu. Bahkan kita diharuskan untuk memiliki ilmu; menjadi kewajiban bagi kita untuk berilmu.

Bahkan bisa kita katakan bahwa kita butuh ilmu. Bukankah apa yang ada sekarang adalah karena adanya ilmu? Bukankah apa yang ada karena Allah menurunkan ilmu kepada kita semua?

Dan ilmu hanya bisa kita dapatkan jika kita mencarinya. Karena Allah akan memberikan ilmu yang berkah lagi bermanfaat bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Mudah-mudahan kita termasuk.

Dan jika kita benar-benar menuntut ilmu dengan niat yang baik dan untuk membawa kebaikan kepada umat. Insya Allah, Allah akan mudahkan jalan kita dalam mencari dan mempelajari ilmu.

Dan Allah Swt. akan memberikan ganjaran berupa selimut yang akan menaungi kita bilamana kita mau mencari pintu dari pintu-pintu menuju ilmu. Sungguh itu sangat berharga bagi kita.

Bahkan naungan selimut tersebut akan tetap menaungi kita meski kita telah berbuat dosa, lalu meminta ampunan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Lalu, apakah kita tidak menginginkannya?

Bagi orang yang berpikir, ia tidak akan jadikan hal itu sebagai semangatnya untuk menuntut ilmu. Meski jalan yang ia tempuh sangat sulit, maka ia akan tetap semangat menjalaninya.

Ilmu bisa menjadi penghangat bagi kita ketika kita kedinginan. Ilmu bisa menjadi penyelamat bagi kita ketika kita kesusahan. Ilmu bisa menjadi penyemangat bagi kita ketika kita kesulitan.

Maka bagi siapa saja yang merasa dirinya tidak memiliki teman dalam hidupnya; ilmu akan selalu bisa menemaninya kapanpun ia butuhkan. Karena ilmu tidak akan pernah lepas darinya.

Orang-orang yang paling merugi adalah mereka yang punya waktu, tapi mereka tidak menggunakan waktu tersebut untuk belajar, mengkaji dan mengaji segaris ilmu yang bermanfaat.

Orang-orang yang paling merugi adalah mereka yang ketika mereka punya teman, tapi mereka tidak menjadikan temannya sebagai kesempatannya untuk bisa mengambil ilmu darinya.

Orang-orang yang paling merugi adalah mereka yang apabila dihadapkan dengan sebuah ilmu, mereka tidak mengambil ilmu yang ada dihadapan mereka sedikitpun. Mereka sia-siakan itu.

Memang ilmu dijemput melalui belajar, tapi itu datang kepada kita dengan sendirinya. Karena ia (ilmu) tahu bahwasanya kita membutuhkan ilmu tersebut untuk menjemput kebaikan hidup.

Apa yang menjadikan kita tidak mau belajar dan mengambil pelajaran dari apa yang kita hadapi. Maka sesungguhnya itu karena kita tidak menginginkan ilmu itu ada pada diri kita.

Dengan kata lain, orang yang tidak mau belajar dan tidak mau mencari ilmu adalah orang yang tidak menginginkan kebaikan itu ada pada dirinya. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload