Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 18 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Semudah-Mudahnya Kita Belajar Sesuatu Adalah Membaca.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-91. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Tidak Cukup Hanya Memiliki Satu Keterampilan Saja.

Di era digital, sekarang kita dituntut untuk tidak hanya memiliki satu keterampilan saja, melainkan kita dituntut dan diharuskan untuk memiliki berbagai macam keterampilan.

Dulu, orang-orang pasti akan mendalami satu keterampilan dan mereka sangat menguasainya. Tapi lebih ke belakang lagi, kita akan temukan orang-orang terdahulu tidak seperti orang dulu.

Orang yang hidup di sekitar tahun 1900-an fokus hanya pada satu bidang saja. Jika mereka ahli dalam fisika, maka hanya fisika yang dikuasai. Tidak semua, tapi sebagian besar.

Dan orang-orang terdahulu, maksudnya adalah orang-orang yang hidup sebelum masehi atau sesudah beberapa puluhan tahun masehi. Mereka ahli dalam berbagai bidang.

Sekarang kita dituntut seperti zaman terdahulu dimana satu orang memiliki banyak keterampilan. Sebagai contoh, kita bisa menulis script, paham digital marketing, paham kreasi konten.

Jika kita ingin bertahan di era sekarang maka kita harus punya keahlian yang benar-benar kita dalami dan kuasai yang mana orang akan mengenal kita dengan keahlian tersebut.

Dan sisanya adalah keahlian lain yang kita butuhkan untuk bisa menunjang keahlian yang kita dalami.

Sebagai contoh, yaitu ketika kita ingin mendalami keahlian kita dalam hal menulis karena kita ingin menerbitkan buku. Maka itu akan menjadi keahlian utama yang akan kita dalami.

Dan keahlian lainnya yang perlu kita kuasai adalah bagaimana cara membuat konten mulai dari desain, editing, dan marketing. Kenapa harus begitu? Agar kita bisa dikenal sebagai penulis.

JIka hanya menulis akan sangat sulit bagi orang diluar sana mengenal kita sebagai penulis. Karena kita belum memiliki karya sebelumnya sebagai media orang lain mengenal kita.

Kemampuan konten kreasi atau membuat konten bisa menjadi media kita untuk memperkenalkan diri kita kepada orang lain diluar sana, agar mereka mengenal kita sebagai penulis.

Personal branding adalah keahlian yang harus kita miliki di era digital sekarang. Karena kalau kita tidak memiliki akun sebagai tempat kita membranding diri, maka kita sulit untuk dikenal.

Tidak harus menguasai secara mendalam terkait keterampilan lain yang harus kita pelajari. Kita pelajari saja secukupnya, lalu kita terapkan. Selebihnya kita fokus pada hal yang kita dalami.

Hal apapun yang ingin kita pelajari, yang ingin kita kuasai di era sekarang tidak cukup hanya menguasai satu keterampilan atau satu bakat saja. Harus ada hal lain yang kita pelajari juga.

Seperti saya yang sekarang yang mana saya mendalami dunia kepenulisan sebagai keterampilan utama yang harus bisa saya kuasai diluar kepala, karena ini keahlian saya sampai mati.

Tapi diluar dari belajar dan berlatih menulis. Saya juga belajar hal lain, seperti cara membuat blog. Blog adalah tempat yang harus saya miliki untuk menyimpan semua hal yang saya tulis.

Selain itu, saya juga belajar desain. Setidaknya saya bisa untuk membuat desain thumbnail yang menarik sebagai thumbnail di blog saya. Apakah itu cukup bagi saya? Tentu saja tidak.

Lebih dalam lagi, saya juga belajar coding atau pemrograman. Tujuannya untuk apa? Ya, agar saya bisa mengedit beberapa tampilan blog supaya orang lain suka melihat blog saya.

Jadi jika disimpulkan, saya belajar dan berlatih menulis, saya juga banyak belajar tentang desain, coding, lalu blog, kemudian juga saya belajar bagaimana cara produktif menulis setiap hari.

INSIGHT 2

Sesuaikan Tingkat Kesulitan Tugas Dengan Kemampuan Diri.

Saya orang suka bermain game. Lebih tepatnya dulu, ketika saya masih dibangku SD. Karena dulu saya punya teman yang punya Playstation dan saya sering diajak main kerumahnya.

Dari situlah saya mulai kecanduan bermain game. Bahkan saya sering dimarahi oleh orang tua saya karena sering telat pulang. Yang seharusnya saya pulang cepat, tapi malah tidak pulang.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya tertarik ketika saya asyik bermain game. Kalau kamu suka bermain game, pasti kamu paham dengan apa yang saya maksud. Saya akan jelaskan.

Sebelum kita bermain, kita pasti sering temukan pilihan yang merujuk pada level kesanggupan atau kemampuan kita dalam bermain game yang sedang kita mainkan.

Misalnya kita bermain permainan bola melawan komputer. Kita selalu disuguhkan pilihan untuk memilih level kesulitan musuh yang akan kita lawan. Ada low, normal, dan hard.

Jika kita baru pertama kali bermain dan belum paham apapun, maka kita akan memilih low. Kita memilih itu, karena sesuai dengan kemampuan kita; kan baru pertama kali main.

Nah, kalau kita merasa low terlalu mudah dan terlalu gampang, maka kita akan mencoba untuk menaikkan tingkat kesulitannya menjadi normal. Dan kita lihat apakah kita bisa melewatinya.

Tingkat kesulitan haruslah disesuaikan dengan seberapa besar kemampuan kita dalam menuntaskan game tersebut.

Maka jangan pernah memilih tingkat kesulitan yang diluar dari kemampuan kita. Karena itu bisa membuat kita jadi frustasi dan stres dan kita pun jadi tidak bisa menikmati game tersebut.

Itu di dalam game. Diluar game juga sama. Ketika kita ingin bisa melakukan sesuatu dengan konsisten, maka kita harus bisa mengukur seberapa besar kemampuan yang kita miliki.

Setelah itu, kita sesuaikan dengan apa yang akan kita lakukan. Jangan sampai apa yang kita lakukan lebih besar dari apa yang mampu kita kerjakan. Jika terlalu besar kurangilah porsinya.

Misal saja ketika kita ingin konsisten lari setiap pagi. Kita lihat dulu diri kita. Apakah kita sudah terbiasa bangun pagi? Kalau belum terbiasa, maka biasakan diri dulu bangun pagi.

Jangan langsung ingin lari pagi. Karena itu akan sangat berat bagi siapa saja yang belum terbiasa bangun pagi. Mungkin tak harus dibiasakan dalam jangka waktu yang panjang.

Tapi setidaknya minimal dalam seminggu kita sudah terbiasa bangun pagi. Setelah itu, baru kita membiasakan diri untuk lari pagi. Dan jaraknya pun jangan langsung jauh-jauh.

Kita lari mulai dengan jarak tempuh yang dekat-dekat saja dulu. Karena akan sangat menyulitkan ketika seseorang belum biasa lari jauh langsung memaksakan dirinya untuk bisa lari jauh.

Mungkin dicoba untuk lari satu kilo dulu. Kalau semisalnya satu kilo terlalu mudah, maka keesokan harinya kita tambah jarak tempuhnya menjadi dua kilo. Kalau masih mudah, tambah lagi.

Semisalnya sudah merasa terlalu berat dengan jarak tempuh yang kita pilih. Maka turunkan untuk sementara waktu, agar kita tidak tiba-tiba berhenti membiasakan diri untuk berlari.

Terlebih lagi jika kita sudah melakukannya selama satu minggu lalu kita berhenti hanya karena kita sudah tidak mampu berlari dengan jarak tempuh yang sudah kita tentukan.

Artinya, jika kita ingin konsisten, yang harus kita lakukan adalah menyesuaikan tingkat kesulitan dengan kemampuan kita. Jika itu terlalu berat, dikurangi. Jika terlalu mudah, ditingkatkan.

INSIGHT 3

Semudah-Mudahnya Kita Belajar Sesuatu Adalah Membaca.

Pagi ini saya mendapatkan sebuah nasehat yang mengajak diri saya untuk berpikir kenapa saya tidak boleh membiasakan diri dengan rasa malas untuk mencari dan mempelajari ilmu.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang saya baca, saya mendapati Ibnu al-Mubarak Rahimahullah berkata,

“Aku heran kepada orang yang tidak suka (malas) menuntut ilmu. Bagaimana mungkin ia mampu membawa dirinya kepada kemuliaan tanpa rela menuntut ilmu?”

Saya yang dulu adalah orang yang malas mempelajari ilmu. Padahal ilmu itu baik untuk diri sendir. Ketika saya tidak punya ilmu, tidak ada orang yang memperdulikan diri saya.

Tapi ketika saya mencari dan mempelajari sebuah ilmu, ada banyak orang yang datang kepada saya untuk bisa belajar dan mencari tahu tentang hal-hal yang dulu saya pelajari.

Sebagai contoh, ketika saya belajar cara desain dan sering sharing tentang hal-hal yang terkait tenangnya. Banyak juga orang yang akhirnya bertanya dan meminta masukan.

Mereka semua datang dengan kerendahan hati untuk bisa memperoleh sesuatu dari saya. Mereka minta masukan dan bertanya apakah desain mereka sudah bagus atau tidak.

Dan beberapa dari mereka meminta nasehat bagaimana cara bisa menjadi graphic designer, bagaimana bisa belajar desain menggunakan powerpoint atau aplikasi smartphone.

Ketika saya membagikan ilmu yang sebelumnya pernah saya pelajari. Mereka selalu berterimakasih, dan tak jarang sebagian dari mereka mendoakan kebaikan untuk saya.

Kalau sampai ada orang yang rela mendoakan kita tanpa kita minta, maka sesungguhnya orang itu sangat memuliakan kita karena kebermanfaatan ilmu yang kita bagi pada mereka.

Maka pengalamanan yang pernah saya alami ini sebenarnya menunjukkan bahwa ilmu bisa memuliakan siapa saja yang dengan ikhlas mempelajar dan membagikannya kepada orang.

Benar yang dikatakan oleh Ibnu al-Mubarak Rahimahullah, bahwa “Bagaimana mungkin ia mampu membawa dirinya kepada kemuliaan tanpa rela menuntut ilmu?”

Bagaimana mungkin seseorang bisa membawa dirinya pada kemuliaannya jika dirinya sendiri tidak mau menyandingkan dirinya kepada sesuatu yang mulia, yaitu ilmu.

Kemalasan seseorang dalam belajar menunjukan bahwa dirinya tidak menginginkan kemuliaan bernaung dalam dirinya. Ia lebih senang menghinakan dirinya sendiri.

Ketika ada cara mudah untuk mendekatkan diri kita kepada hal yang mulia, namun kita malas melakukannya. Sebenarnya kita hanya menginginkan kehinaan yang ada dalam diri kita.

Ringannya belajar adalah membaca. Apa yang menjadikan kita berat untuk menggerakkan tangan membuka buku-buku yang baik untuk kita baca? Padahal kita suka membeli buku.

Padahal dengan membaca kita bisa mempelajari banyak hal. Kita bisa mendapatkan pengalaman seseorang yang mustahil untuk bisa kita dapatkan sampai kita menemukan ajal kita.

Mustahil bagi kita bisa belajar banyak hal hanya dengan usia yang kita miliki tanpa kita membaca. Membaca memberikan banyak hal yang tidak bisa kita capai semasa hidup kita.

Dengan membaca kita bisa menyelesaikan berbagai masalah yang sedang kita hadapi dan tidak menutup kemungkinan juga kita bisa membantu orang lain. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload