Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 25 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ajarkan! Jangan Menyembunyikan Ilmu Yang Kita Ketahui.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-98. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kita Seringkali Salah Dalam Memaknai “Hidup Bahagia”.

Apa definisi kita tentang bahagia? Saya rasa setiap orang pasti punya definisi sendiri tentang bagaimana setiap orang bahagia.

Tapi apakah setiap definisi orang yang berbeda itu benar? Apakah bahagia yang menurut pendapat kita pribadi itu sudah benar adanya dan tidak ada masalah di dalamnya?

Saya tidak berusaha untuk menyalahkan pendapat orang tentang bagaimana mereka ingin bahagia. Tapi saya berhak menyampaikan sesuatu yang benar tentang bahagia.

Setiap orang berhak untuk mendefinisikan kebahagiaan mereka. Sebagian orang, kebahagian bisa tercapai jika apa yang kita inginkan bisa kita dapatkan.

Sebagian lagi ada yang secara spesifik mendefinisikan bahagia. Ada yang berpendapat bahwa bahagia itu bisa diraih ketika seseorang memiliki harta yang berlimpah.

Tapi ada juga orang yang berpendapat bahwa bahagia itu bukan pada saat seseorang bisa memiliki banyak harta. Karena jika sakit, tidak ada seorangpun yang bisa menikmati hartanya.

Maka mereka mengatakan kebahagian adalah ketika seseorang bisa sehat. Tapi bagi sebagian lagi, jika seseorang sehat tapi tidak memiliki kontribusi, maka tidak ada gunanya.

Mereka berkata, tidak ada gunanya hidup 100 tahun dengan fisik yang sehat jika tidak ada prestasi atau tidak ada manfaat yang diberikannya semasa hidupnya kepada orang lain.

Maka, kebahagiaan menurut mereka yaitu ketika seseorang mampu memberikan manfaat dan memiliki kontribusi kepada bangsa, masyarakat, dan keluarganya.

Sebagian definisi bahagia diatas tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar jika hanya melihatnya dengan mata. Tapi ketika kita mencari kebenaran tentang bahagia, itu hanya ada satu.

Dan kebenaran tentang bahagia itu simpel. Tidak serumit apa yang kita pikirkan selama ini. Tidak perlu mencari harta sampai lupa tidur untuk mendapatkan kebahagian.

Tidak juga ketika kita mendapatkan kesehatan maka kita akan hidup bahagia. Berapa banyak orang yang sehat akhirnya bunuh diri karena suatu masalah yang ia hadapi?

Bahkan diantaranya banyak orang-orang yang terkenal di dunia yang memutuskan dirinya untuk berhenti hidup hanya karena tidak mampu menahan beban masalah yang dipikulnya.

Ini menandakan bahwa meskipun kita kaya, sehat, dan terkenal belum tentu kita bahagia. Sangat sempit ruang bahagia di hati seorang manusia jika memaknai kebahagian seperti itu.

Lagi-lagi saya katakan tidak ada yang salah dan benar definisi bahagia jika itu berdasarkan pendapat manusia. Semua orang berhak untuk mencari kebahagiaannya sendiri.

Masalahnya, kita sering salah dan tidak memiliki referensi yang jelas tentang makna kebahagian yang kita buat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

"Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."

(QS. Yunus 10: Ayat 62)

Definisi bahagia yang bisa dicapai oleh semua orang adalah, “Tidak khawatir dengan masa depan, dan tidak pula bersedih hati dengan masa lalu.”

INSIGHT 2

Kesalahan Besar Jika Kita Masih Beranggapan Ada Hari Esok.

Ada beberapa keyakinan-keyakinan yang selama ini salah dan keyakinan tersebut bersarang dalam diri kita.

Keyakinan yang saya maksud adalah sebuah keyakinan yang bisa menjadikan kita seseorang yang suka menunda pekerjaan atau tugas penting yang harus segera kita selesaikan.

Keyakinan yang paling sering kita tanam pada diri kita adalah, kepercayaan bahwa kita merasa memiliki banyak waktu untuk mengerjakan dan/atau menyelesaikan tugas yang kita tunda.

Misalnya kita tahu bahwa ada tugas yang harus kita kerjakan, tapi kita tinggalkan atau kita tunda pengerjaannya dengan dalih masih banyak waktu untuk bisa mengerjakannya.

Biasanya kita meyakini waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas ketika sudah datang masa deadline dari tugas itu sendiri. Selagi belum datang, maka masih banyak waktu yang tersisa.

Kita seringkali memunculkan keyakinan yang dapat merugikan diri kita sendiri. Kita tidak tahu apa yang kita lakukan itu dapat merugikan kita, sampai kita melakukan hal tersebut

Tapi anehnya, ketika kita sudah melakukannya dan kita tahu bahwa hal tersebut merugikan diri kita, kita masih saja tetap melakukannya. Kenapa? Karena keyakinannya masih ada.

Kita selalu merasa yakin bahwa waktu kita masih banyak dan tidak perlu menyegerakan tugas yang penting untuk dikerjakan. Tapi ketika sudah mepet, baru kita kerjakan dengan buru-buru.

Pada saat itu, kita sudah tahu dampak buruk dari menunda tugas karena selalu merasa punya banyak waktu yang banyak. Tapi nanti kita mengulanginya kembali, karena kita yakin.

Jangan pernah meremehkan waktu dengan berkata, masih banyak waktu lain untuk mengerjakan tugas. Waktu memang masih banyak, dan waktu memang akan tetap ada.

Bahkan waktu tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat datang. Tapi yang menjadi masalah, meski waktu masih ada, kita kan belum tentu masih ada untuk mengerjakan tugas.

Bisa saja kita katakan kita masih punya waktu besok untuk mengerjakan tugas penting. Tapi siapa yang menjamin bahwa hidup kita akan bertahan sampai besok? Siapa yang jamin?

Jangan pernah menunda pekerjaan, karena pekerjaan dan tugas kita terlalu banyak yang harus diselesaikan. Bahkan tugas kita bisa lebih banyak daripada waktu yang kita miliki.

Lakukan apa yang sudah seharusnya kita lakukan pada hari itu juga. Kerjakan apa yang harus kita kerjakan pada hari itu juga. Dan tinggalkan hal-hal yang seharusnya tidak kita kerjakan.

Jika kita berpikir masih ada waktu, yaitu esok. Maka kita harus paham, bahwa waktu esok adalah waktu yang disediakan untuk tugas lain yang itu juga penting untuk kita kerjakan.

Jadi, ketika kita menunda satu pekerjaan, kita juga menunda pekerjaan yang lainnya. Dan semakin sering kita menunda, maka semakin banyak tugas yang harus kita kerjakan.

Semakin banyak tugas yang harus kita kerjakan akan semakin berat bagi kita untuk mengerjakannya. Dan ketika tugas yang akan kita kerjakan itu terasa berat, disitulah kita menunda lagi.

Dan penundaan kita akan menjadi lingkarang setan yang tidak akan pernah berhenti. Penundaan menjadi kebiasaan yang sulit untuk bisa kita ubah karena semakin hari semakin jadi.

Maka cara untuk berhenti dari penundaan, yaitu dengan cara mengganti keyakinan yang kita kita miliki dengan tidak lagi selalu merasa memiliki banyak waktu untuk satu tugas.

INSIGHT 3

Ajarkan! Jangan Menyembunyikan Ilmu Yang Kita Ketahui.

Derajat dan/atau tingkat keutamaan orang-orang yang memiliki ilmu (para ulama) menurut pendapat Imam Al-Ghazali terletak seberapa sering mereka mengajarkan ilmu yang mereka miliki.

Jika telah datang ilmu itu dari Allah Swt. kepada kita, maka akan menjadi salah ketika kita menyembunyikan ilmu tersebut dari orang-orang yang membutuhkannya.

Menurut Imam Al-Ghazali selain orang yang menyembunyikan ilmunya dari sebagian golongannya. Terdapat juga orang yang tidak mendapatkan keutamaan dari ilmu yang dimilikinya.

Mereka adalah orang-orang yang suka membekukan ilmunya. Yang dimaksud membekukan ilmunya adalah ilmu yang tidak dikembangkan. Tidak ada niat untuk menggali lebih dalam lagi.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) dari hadi ‘Abdullah bin ‘Umar ra..

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mencabut ilmu dari sisi manusia yang telah dianugerahi oleh-Nya. Akan tetapi, keberadaan ilmu justru Allah tarik (cabut) dari sisi manusia bersamaan meninggal dunianya para ulama. Setiap kali seorang ulama meninggal dunia, maka bersamanya pula diangkat keberadaan ilmu, sehingga tidak ada yang tertinggal di muka bumi selain orang-orang jahil yang apabila mereka dimintai fatwa akan memberinya tanpa ilmu. Maka tersesatlah mereka, dan tersesat pula orang lain atas kejahilan mereka yang berfatwa tanpa dilandasi ilmu.”

Maka agar ilmu itu tetap ada di muka bumi, sebagai seseorang yang memiliki ilmu, hendaknya kita ajarkan kepada orang lain.

Karena ilmu yang kita miliki akan hilang bersama dengan dicabutnya nyawa kita oleh Allah Swt.. Dan ketika tidak ada orang mewarisi ilmu kita, maka disitulah ilmu tersebut hilang.

Tidak akan rugi sedikitpun ketika kita membagikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain meski kita tidak mendapatkan hal atau balasan berupa material dari sisi penerimanya (pelajar).

Justru kita harus malu ketika kita membagi ilmu yang kita miliki kepada orang lain dengan membebankan biaya atau menyuruh orang lain membayar beberapa rupiah kepada kita.

Meski kita tak dibayar, kita tetap diwajibkan untuk membagikan ilmu yang kita miliki. Tidak boleh bagi seseorang yang berilmu menyembunyikan ilmu yang dimilikinya dari orang lain.

Jika kita menyembunyikan ilmu yang kita miliki dari orang lain, maka kita akan merasakan kepedihan dari apa yang telah kita perbuat terhadap ilmu tersebut.

Dari kitab Ihya Ulumuddin dari Imam Al-Ghazali saya membaca tentang sabda Nabi ﷺ yang menjelaskan betapa pedihnya ilmu yang kita sembunyikan kelak di Hari Kiamat.

“Siapa saja yang mengetahui suatu ilmu, lalu menyembunyikannya dari sisi manusia, maka Allah Swt. akan mengalungkan pada lehernya tali kekang yang terbuat dari api neraka pada Hari Kiamat nanti.”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Imam Al-Hakim dalam kitab Shahih milikinya, dari hadits Abi Hurairah ra. Imam Al-Tirmidzi berkomentar, bahwa status riwayat ini adalah hasan.

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang diberikan ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang terdapat pemahaman didalamnya serta mudah dalam mengamalkannya.

Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload