Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 22 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Urutan Yang Sebenarnya Ialah Berilmu Dulu Sebelum Beramal.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-95. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Aktivitas Rutin Yang Remeh Membawa Dampak Yang Besar.

Hidup adalah perubahan, karena hidup selalu berubah. Hidup tidak cukup hanya berdiri di satu titik saja. Hidup haruslah bisa menjelajahi berbagai titik untuk mencari perubahan.

Bagi seseorang yang tidak menginginkan perubahan dalam hidupnya, maka ia akan mengalami kemunduran. Dan itulah satu-satunya perubahan yang akan dialaminya.

Setiap orang haruslah melakukan perubahan dalam hidupnya, karena waktu terus berubah, hari terus berganti, tahun semakin bertambah dan usia kian hari kian bertambah pula.

Tidak adakah perubahan yang pernah kita lakukan selain dari mengalami kemunduran yang nyata?

Jika tidak ada, maka kita perlu melakukan perubahan mulai dari hari ini dan seterusnya. Tidak usah jauh-jauh berpikir tentang mengubah hal-hal yang besar. Mulai dari yang kecil saja dulu.

Tidak usah jauh-jauh berpikir untuk mengubah orang lain. Tapi mulailah berpikir untuk mulai mengubah kehidupan kita sendiri. Jika kita baik, maka orang lain akan merasakan perubahan kita.

Hidup tidak cukup hanya dengan melakukan pertahanan. Jika kita hanya bertahan, maka tidak ada kemajuan yang bisa kita ciptakan. Kita harus bisa pada mode bertahan dan menyerang.

Bertahan ketika ada sesuatu yang menyerang. Dan menyerang untuk sesuatu yang bertahan. Apa yang selama ini ada dan itu bertahan dalam diri kita? Apakah itu kebiasan buruk?

Jika itu adalah kebiasaan buruk, kita harus mampu mengubah itu dengan cara menyerang; melakukan kegiatan dan aktivitas yang baik dan positif dalam kegiatan kita sehari-hari.

Namun dalam menyerang kita tidak boleh tergesa-gesa tanpa adanya perhitungan. Karena hasil yang baik selalu datang dari perhitungan. Perhitungkanlah secara matang rencana kita.

Memperhitungkan apa saja yang perlu kita lakukan untuk bisa mengalami perubahan yang positif dalam hidup, itu termasuk sebuah proses yang perlu kita jalankan.

Jangan menjadikan diri kita malas dalam berproses, tapi kita selalu mengharapkan hidup kita akan sukses. Jika ingin sukses maka jalan satu-satunya adalah dengan berproses.

Banyak orang gagal bukan karena mereka menginginkan hal tersebut. Setiap orang pasti tidak menginginkan kegagalan ada dalam hidupnya. Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan.

Namun, sebagian orang yang tidak menginginkan kegagalan dan hanya menginginkan kesuksesan adalah orang-orang yang dalam hidupnya mereka tidak mau berproses sama sekali.

Perubahan itu butuh proses. Akan sangat aneh sekali jika ada seseorang yang menginginkan perubahan positif dalam hidup dan karirnya, tapi tetap saja tidak mau berproses.

Kita tidak akan pernah menemukan hal-hal dalam hidup kita berubah sampai diri kita sendiri yang mau berubah. Kita tidak akan pernah berjalan sampai kita mau melangkahkan kaki.

Tidak usah menunggu hal yang bagus, baru kita mau bergerak untuk melakukan perubahan. Mungkin perubahan yang ingin kita lakukan terlihat seperti sesuatu yang tidak bernilai.

Tapi sebenarnya yang kita anggap tidak bernilai, itulah yang paling berharga dalam hidup kita nanti. Seperti hal-hal remeh yang sering kita lakukan; membersihkan kamar setiap pagi.

Itu terlihat sepele, tapi itu adalah sebuah perubahan yang bagi kita akan berharga kedepannya nanti. Karena tanpa kita sadari kita sedang melatih kedisiplinan diri dari kegiatan rutin tersebut.

INSIGHT 2

Kegagalan Bagi Seseorang Yang Suka Mencari Pembenaran.

Setidaknya ada tiga justifikasi yang dilakukan seseorang untuk membenarkan dan/atau menghindarkan dirinya dari kesalahan.

Yang pertama, yaitu mencari pembenaran dengan cara mencari dalih bahwa yang dikerjakan adalah sesuatu yang benar yang menurutnya orang lain tidak bisa mempermasalahkannya.

Pembenaran sering kita lakukan dengan tujuan agar kita bisa melakukan apa yang menurut orang lain itu salah. Bahkan tak jarang kita mencari pembenaran yang menurut agama salah.

Kita mengabaikan nasehat orang-orang yang berilmu dengan berbagai dalih yang kelihatannya benar di mata kita. Namun itu tetap salah secara hukum norma maupun agama.

Inilah dahsyatnya orang yang senang melakukan kesalahan. Mereka selalu bisa mencari dalil yang membenarkan perbuatan mereka meski faktanya perbuatan itu ialah sesuatu yang salah.

Jangan jauh-jauh membahas agama. Dalam hal sepele, orang pun banyak mencari pembenaran ketika mereka sedang ingin bermalas-malasan. Contoh: orang yang lagi malas jogging.

Kalau lagi hujan, biasa orang yang rajin jogging setiap hari jadi malas jogging. Dan ketika orang tersebut malas, maka dia akan mencari pembenaran atas kemalasannya tersebut.

Seperti misalnya, dia mengatakan, “Kan jogging biar kita sehat, kalau jogging pas hujan, bukannya sehat malah sakit.” “Cuman sehari aja kok, liburnya, besok juga jogging lagi.”

Inilah yang dimaksud dengan pembenaran; mencari dalih untuk merasa dibenarkan atas pilihan yang diambil. Padahal dia bisa saja tetap melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda.

Kemudian yang kedua, ialah menyangkal tanggung jawab yang ada pada diri kita, yaitu dengan cara menyalahkan orang lain atau pihak lain diluar diri kita.

Manusia sifatnya tidak mau salah. Meski kita adalah seseorang yang suka melakukan kesalahan. Kita cenderung tidak mau disalahkan oleh orang lain.

Jadi, karena kita adalah seseorang yang notabenenya tidak mau disalahkan. Itulah yang menjadikan kita seseorang yang suka menyangkal kesalahan dan menyalahkan pihak lain.

Kita bisa tahu orang lain sedang menyangkal atau melempar kesalahan dari kalimat yang dia ucapkan. Biasanya orang yang suka menyangkal dan melempar kesalahan kalimat seperti ini,

“Bukan salah saya yang tidak mau jogging. Hujan yang tiba-tiba turun, jadi saya tidak bisa jogging. Bukan saya tidak mau, tapi saya tidak bisa karena hujan.”

Kalimat yang sering digunakan biasanya “Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa.” Padahal kalau dirinya mau mencari cara lain, pastilah dia tetap bisa jogging. Pasti ada cara lain.

Dan yang terakhir, yaitu suka mengubah keyakinan. Tujuannya supaya keyakinan kita selalu terlihat selaras dengan apa yang kita lakukan, selaras dengan pilihan yang kita ambil.

Sekarang banyak sekali orang yang suka menipu diri mereka sendiri dengan cara mengubah hal-hal awalnya mereka yakini, menjadi sesuatu yang bertentangan dengan mereka sendiri.

“Halah… masalah jogging aja dijadikan masalah besar. Jogging bukan sesuatu yang harus kita kejar. Jogging bukanlah amalan yang bisa kita bawa mati, bukan juga amalan akhirat.”

Kita mengubah keyakinan kita yang awalnya jogging sebagai cara hidup sehat. Tapi ketika kita malas jogging, kita mengubah keyakinan kita dengan mengatakan jogging bukanlah amal.

INSIGHT 3

Urutan Yang Sebenarnya Ialah Berilmu Dulu Sebelum Beramal.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin dituliskan oleh Imam Al-Ghazali bahwa Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah pernah mengatakan,

“Menuntut ilmu agama itu jauh lebih utama daripada melakukan ibadah-ibadah yang disunnahkan.”

Saya setuju dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i. Karena ilmu itu penting bagi ibadah-ibadah yang kita lakukan. Jangan kita hanya menjadi seseorang yang istilahnya “niru-niru saja.”

Kalau kita hanya meniru tanpa mengetahui ilmunya, maka apa yang kita lakukan tidak akan pernah sebaik ketika kita memiliki ilmunya. Maka belajar itu jauh lebih utama daripada amalan.

Karena urutan yang seharusnya adalah berilmu dulu baru kita beramal. Bukankah begitu yang kita lakukan ketika kita ingin membeli (baca: mendapatkan) sesuatu?

Kalau kita mau membeli sesuatu, yang kita lakukan dulu apa? Ya, pasti nyari uang dulu. Punya uang dulu baru kita bisa beli yang ingin kita beli. Tanpa uang kita tidak bisa membeli.

Maka begitu juga dengan amalan. Sebaik-baiknya amalan ialah amalan yang dikerjakan berlandaskan ilmu (Qur’an dan Hadist). Tanpa itu, amalan kita mudah sekali diganggu oleh syaithan.

Kita akan lebih mudah merasakan was-was ketika ingin berbuat sesuatu yang sesuatu itu kita belum memiliki ilmunya. Agar kita tidak mudah was-was, caranya ialah dengan memiliki ilmunya.

Bertindak tanpa ilmu itu seperti belajar tanpa peta dan kompas. Apa yang akan terjadi jika kita berlayar tanpa peta dan kompas di tengah besarnya guncangan ombak lautan?

Yang akan terjadi pada kita adalah pupus harapan. Kita akan hidup tanpa kepastian. Kita tidak tahu dimana kita sekarang dan akan kemana kita akan berlayar.

Ketika kita pupus harapan, disitulah kita akan menyerah. Nasib baik bagi seseorang yang berserah diri kepada Tuhannya. Tapi sayang kebanyakan yang dilakukan orang adalah menyerah.

Menyerah dengan keadaan. Tidak berusaha untuk memikirkan jalan atau cara lain yang bisa dilakukannya. Dia hanya berdiam diri ditemani putus asa tanpa melakukan satu usaha apapun.

Begitu pula kondisi orang-orang yang beribadah tanpa ilmu. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menyerah daripada berusaha terus sampai lelah.

Lelah bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk kita menyerah. Tapi lelah adalah sebuah tanda bahwa sebenarnya kita butuh rehat sejenak sebelum bangkit lagi untuk berusaha.

Orang yang sering melakukan amal tanpa memiliki ilmu tentang amalan yang ia perbuat, itu tidak akan bertahan lama. Ilmu bisa menjadi semangat bagi seseorang untuk tetap beramal.

Salah satu dari sekian banyak amalan yang sering kali kita menyerah dalam mengamalkannya adalah doa. Sudah tidak menjadi rahasia lagi jika sehabis shalat orang langsung pergi.

Karena mereka tidak tau ilmu tentang doa. Ilmu tentang doa bukanlah ilmu yang hanya berbicara tentang bagaimana cara seseorang berdoa. Bukan! Tapi lebih dari itu.

Ketika kita paham akan ilmu dan pengetahuan tentang doa. Maka kita tidak akan pernah meninggalkan doa kita walaupun doa yang sering kita pinta belum kelihatan hasilnya.

Karena kita tahu apa itu doa dan kita paham ilmunya. Tapi bagi mereka yang tidak paham ilmunya akan sangat mudah untuk meninggalkan doa. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload