Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 29 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Diharamkan Bersikap Iri Kepada Sesama Kecuali Dua Perkara.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-102. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Membaca Itu Mudah. Tapi Untuk Setiap Hari, Itu Susah.

Jangan pernah memandang rendah tindakan yang terlihat seperti sebuah tindakan yang remeh temeh.

Kita tidak tahu kenapa orang bisa melakukan hal yang remeh tersebut. Entah apa yang menjadi motivasinya. Tapi selama itu tidak melanggar norma dan agama, maka itu baik-baik saja.

Salah satu saja kita disebut, orang yang suka membaca buku hanya dua halaman setiap hari. Mungkin dimata kita itu terlihat seperti kebiasan yang biasa-biasa saja.

Tapi kita tidak tahu bagaimana perjuangan orang tersebut bisa sampai rutin membaca buku 2 halaman setiap hari. Mungkin dulunya ia bukan orang yang gemar membaca buku.

Dan pasti sangat berat baginya untuk bisa konsisten membaca buku setiap hari walaupun hanya 2 halaman. 2 halaman sudah lebih baik daripada orang yang tidak membaca sama sekali.

Lagipula kita tidak mengetahui apa yang bisa ia dapatkan dari hanya membaca buku 2 halaman setiap hari. Mungkin ada begitu banyak hal yang ia dapatkan dari 2 halaman buku.

Mungkin dia adalah orang yang mampu menulis ulang lebih banyak jumlah lembarannya dari apa yang telah dibacanya. Sedang yang lain tak menulis apa-apa dari yang mereka baca.

Meskipun itu hanya sebuah aksi kecil dan kelihatannya tidak berdampak. Jangan pernah meremehkannya. Karena sekarang ia tidak berdampak, tapi nanti, siapa yang tahu?

Mungkin nanti dia bisa menghasilkan banyak karya dari aksinya yang rutin membaca buku 2 halaman setiap hari. Atau mungkin dia bisa menulis bukunya sendiri. Lagi-lagi siapa yang tahu?

Aksi kecil tidak mudah dilakukan seperti apa yang kita pikirkan jika orang lain yang melakukannya. Memang terlihat biasa, tapi sebenarnya itu butuh effort yang sangat luar biasa.

Membaca dua halaman setiap hari mungkin mudah untuk kita lakukan jika hanya sekali - dua kali, atau sehari-dua hari. Tapi apakah kita bisa melakukannya secara konsisten setiap hari?

Jawabannya, belum tentu! Karena untuk bisa konsisten setiap hari membaca dua halaman, itu membutuhkan kemampuan diri kita untuk bisa mengendalikan pikiran dan perasaan kita.

Hari pertama mungkin kita bisa membaca buku dengan penuh rasa penasaran. Hari kedua mungkin kita bisa membaca buku dengan penuh kebahagian dan rasa syukur.

Tapi, saya tidak yakin akan ada banyak orang yang tetap bisa membaca buku dengan perasaan yang sama seperti ketika dia membaca buku di hari pertama dan kedua.

Hal yang mudah dimata kita sebenarnya sangat susah untuk kita jalankan ketika aktivitas yang mudah tersebut kita terikat dengan kata konsisten dan disiplin.

Membaca dua halaman itu mudah. Yang sulit adalah konsisten membaca buku dua halaman setiap hari. Menulis 1000 kata itu mudah. Yang sulit itu, konsisten menulis 1000 kata setiap hari.

Apapun yang mudah kalau dikaitkan dengan kata konsisten dan disiplin akan menjadi susah untuk dijalankan. Karena kita akan berpacu dengan waktu, pikiran dan perasaan kita.

Maka sangat hebatlah orang yang mampu melakukan hal yang mungkin terlihat mudah, namun ia dapat melakukannya setiap hari dengan pikiran dan perasaan yang positif.

Aksi kecil itu berangkat dari berjuta-juta perlawan pada diri kita; pikiran dan perasaan. Jadi, jangan pernah untuk menyepelekan aksi kecil yang dilakukan oleh seseorang setiap hari.

INSIGHT 2

Kerja Mepet Deadline Sering Menimbulkan Banyak Kesalahan.

Entah kenapa kebanyakan orang senang bekerja di bawah tekanan, (kecuali tekanan atasan). Ya, maksud saya adalah mengerjakan tugas dibawah tekanan deadline.

Saya tidak heran lagi jika kamu sudah mengenal istilah “The Power of Kepepet”, karena itu sudah lazim di kalangan para kaum yang senang mengerjakan tugas dekat-dekat deadline.

Beberapa orang yang senang mengerjakan tugas di waktu yang mepet dengan deadline sering mengatakan bahwa dirinya lebih cepat dan hebat dalam mengerjakan tugas.

Mereka memiliki pandangan: tugas yang dikerjakan dalam keadaan kepepet lebih cepat selesai dan semangat untuk mengerjakannya lebih besar dari yang biasanya.

Dengan kata lain, kepepet adalah cara orang untuk bekerja lebih semangat dan cepat karena sewaktu mengerjakan tugas yang mepet deadline, adrenaline mereka terpicu.

Karena itulah mereka merasa bekerja dibawah tekanan dengan memepetkan tugas dengan deadline membuat mereka merasa hebat, cepat dan semangat dalam bekerja.

Ketika tugas baru diberikan dan deadlinenya masih panjang, kita cenderung mengerjakannya dengan tingkat emosi yang biasa-biasa saja, “Masih jauh deadlinenya, jadi santai aja.”

Tapi, apakah bekerja dibawah tekanan ketika deadline sudah di depan mata membuat kita merasa cepat dan semangat dalam mengerjakan tugas adalah fakta? Atau malah mitos belaka?

Faktanya adalah benar. Mengerjakan tugas sewaktu deadline bisa membuat kita semangat mengerjakannya. Tapi…

Apakah mengerjakan tugas yang dekat dengan deadline bisa membuahkan hasil yang optimal? Mungkin kita bersemangat mengerjakannya, tapi bagaimana dengan hasil yang didapat?

Setiap orang yang mengerjakan tugas dengan semangat karena berada di bawah tekan dan bayang-bayang deadline, mereka seringkali gagal fokus dalam bekerja.

Karena semangat dengan hal tersebut membuat seseorang menjadi terburu-buru, tergesa-gesa, dan selalu memperhatikan waktu setiap beberapa menit sekali.

Orang yang senang mengerjakan tugas di waktu yang mepet dan kepepet cenderung lebih banyak menghasilkan kesalahan dibandingkan dengan orang yang mengerjakannya lebih awal.

Namun, mereka yang senang bekerja dengan gaya seperti itu selalu merasa bahwa dirinya telah menyelesaikan tugas lebih baik daripada orang-orang yang tidak menunda.

Tapi saya rasa itu hanyalah sebuah alasan bagi mereka yang senang bekerja di bawah tekanan. Mereka senang dengan perasaan yang menegangkan ketika mengerjakan tugas.

Mereka hanyalah orang-orang yang meyakini bahwa dirinya membutuhkan adrenalin tinggi untuk dapat bekerja dengan hebat, cepat dan semangat.

Mungkin mengerjakan tugas di waktu deadline bisa membuat kita merasa berhasil menyelesaikan tugas dengan sempurna. Tapi ketahuilah, bahwa itu hanyalah sebuah keberuntungan.

Sekali, dua kali, tiga kali, mungkin kamu akan berhasil. Tapi itu tidak akan pernah terjadi sepanjang hidupmu, dan itu tidak akan pernah bertahan lama.

Akan ada waktu dimana kamu akan mendapatkan penyesalan karena suka mengerjakan tugas di waktu mepet. Dan akan ada masa dimana kamu sudah tidak kuat lagi mengerjakan tugas.

INSIGHT 3

Diharamkan Bersikap Iri Kepada Sesama Kecuali Dua Perkara.

Diantara jalan masuknya syaithan kedalam hati manusia ialah sikap iri terhadap seseorang. Oleh karena itulah, kita harus bisa menjaga hati kita dari sikap iri hati kepada orang lain.

Allah selalu tahu kepada siapa yang layak untuk menerima nikmat-Nya. Tugas kita sebagai manusia adalah mensyukuri nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita.

Maka ketika kita iri kepada orang lain atau bahkan kita iri kepada saudara kita, hendaknya kita langsung mengingat nikmat apa yang sudah kita dapatkan, lalu kita syukuri.

Bila hati tak berbuah syukur, maka yang tumbuh adalah kufur. Jangan biarkan hati ini sakit dikarenakan iri. Karena sungguh, lebih baik tubuh tersutuk duri daripada hati yang selalu iri.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Rahimahullah, saya membaca sabda Rasulullah ﷺ tentang dua perkara yang kita dihalalkan untuk iri atasnya.

“Tidak diizinkan bersikap iri kecuali pada dua perkara; terhadap seseorang yang diberi ilmu oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga keadilan ditegakkan karena ilmunya, dan diajarkan ilmu itu kepada sesama manusia. Yang kedua, terhadap seseorang yang diberi harta oleh Allah, yang dengan hartanya itu ia pergunakan untuk jalan kebaikan.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘Alaih), dari hadist Ibnu Mas’ud ra.

Kita tidak dibolehkan iri dari nikmat yang didapatkan oleh seseorang kecuali dalam dua perkara sebagaimana yang disebutkan dalam hadist diatas.

Seharusnya kita tidak iri terhadap orang yang memiliki harta banyak yang mana dengan hartanya ia hanya pergunakan untuk membeli segala kemewahan dunia.

Seharusnya kita tidak iri dengan orang yang terkenal di dunia yang dengan terkenalnya ia pergunakan untuk menyesatkan orang lain sehingga orang lain keluar dari kebenaran.

Seharusnya kita tidak iri dengan orang-orang yang gemar memamerkan harta dan kemewahan yang ia miliki. Karena itu belum tentu cara Allah memuliakan seorang hamba.

Justru kita harus iri kepada seseorang yang berilmu yang dengan ilmunya ia mendatangkan kebaikan kepada umat dengan menegakkan keadilan dengan ilmunya.

Seseorang yang berilmu yang mampu membawa kebaikan dan manfaat, itulah orang yang seharusnya kita meletakkan rasa iri kepadanya. Ilmu yang baik lagi bermanfaat, itu yang mulia.

Kebaikan apa yang bisa didatangkan dari seseorang yang senang memamerkan kekayaannya. Tidak ada, sekali-kali tidak ada. Dia hanya membuat orang lain merasa minder.

Tapi kepada seseorang yang memiliki harta dan kekayaan yang dengan hartanya itu ia pergunakan untuk jalan kebaikan. Maka disitulah seharusnya kita iri.

Iri kepada seseorang yang berbuat baik dengan hartanya akan menjadikan kita mengikuti jejaknya. Kelak kita akan berbuat hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

Dan harta tersebut bisa bermanfaat bagi banyak orang. Orang lain bisa merasakan kebaikan atas apa yang kita perbuat. Tapi kalau iri pada orang yang suka pamer, tidak.

Iri kepada orang yang suka pamer kemewahan akan membuat kita mengikuti jejaknya. Dan memamerkan harta tidak akan pernah membawa kebaikan apapun kepada sesama.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload