Join Telegram

Daily Insight: Khomiis, 05 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Bersedekah Dan Mendekat Kepada Allah Dengan Ilmu.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-108. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Hanya Perlu Membuka Jendela Dunia Untuk Alam Yang Indah.

Diantara perbedaan antara orang yang suka membaca dan yang tidak suka membaca adalah, orang membaca hidupnya seperti di taman yang indah dan penuh kebebasan.

Sedangkan orang yang tidak membaca, hidupnya seperti orang yang terpenjara di satu tempat. Apa yang dia lihat adalah sesuatu yang pernah dia lihat, tidak ada yang baru.

Selalu ada hal yang baru datang kepada orang-orang yang gemar membaca. Hidup orang yang suka membaca adalah hidup yang selalu mendapatkan upgrade.

Orang yang tidak suka membaca tidak akan mendapatkan peningkatan apapun dalam hidupnya. Mereka hanya hidup pada lingkaran yang selalu mereka lihat.

Ibarat kata, orang yang tidak suka membaca seperti orang yang tidak dapat menggerakkan lehernya. Ia hanya mampu menggerakkan matanya saja.

Sehingga dari situ, yang bisa dia lihat hanyalah segala hal yang ada di depannya. Bahkan sampingnya saja dia tidak mampu melihatnya dengan jelas, kecuali sama-samar.

Tidak sama dengan orang yang tidak suka membaca. Orang yang gemar membaca, ibarat kata seperti orang yang bisa menggerakkan lehernya ke arah mana saja.

Sehingga, tidak hanya apa yang ada didepan yang dapat dia lihat. Melainkan apa yang ada di samping kanan-kiri mereka juga dapat lihat, termasuk depan-belakang dan atas-bawah.

Apakah kamu ingin hidup seperti orang yang terpenjara dan tidak bisa menggerakkan leher untuk melihat keindahan alam?

Perlu kamu ketahui bahwa tidak ada jalan keluar bagi seorang yang terjebak dalam keburukan orang yang tidak suka membaca buku sama sekali.

Kecuali kamu ingin mengubah kebiasaanmu dan mulai rajin membaca buku, maka pintu keluar ke alam indah nan bebas terbuka lebar untukmu.

Melihat keindahan dunia tidak harus melangkahkan kaki yang begitu jauh. Tidak perlu menempuh jalan yang begitu panjang. Dan tidak juga bersusah payah hanya untuk melihat cakrawala.

Satu hal yang bisa kamu lakukan untuk melihat keindahan alam dan luasnya cakrawala adalah dengan membuka jendela dunia yang ada disekitarmu dan mudah untuk kamu jangkau.

Ketika kamu jendela tersebut berada di genggamanmu dan kamu mulai membukanya, kamu akan memasuki dunia yang berbeda dari apa yang pernah kamu lihat sebelumnya.

Dan jika jendela yang kamu buka adalah jendela yang bagus. Itu akan membawamu kepada seseorang yang dapat memberi kebajikan dan nasehat kehidupan untukmu.

Apa yang akan kamu dapatkan dari membuka jendela dunia adalah sesuatu yang kamu butuhkan untuk bisa menjalani hidup yang damai, bermakna dan memberi dampak.

Tidak akan pernah rugi bagi seseorang yang senang membuka jendela dunia. Bahkan di jam berapapun kamu membacanya, kamu akan tetap menjelajahi alam yang indah.

Apakah jendela dunia itu? Jendela dunia yang saya maksud disini adalah buku. Ya, benar bahwa buku adalah sesuatu yang bisa menghadirkan keindahan bagi pembacanya.

Dan tidak akan pernah bagi seseorang yang suka membaca pulang dalam keadaan kosong, kecuali ia telah membawa ilmu dari apa yang dibacanya.

INSIGHT 2

Rasa Kecewa Dan Menyesal Bisa Mendorong Kita Menunda.

Jika kemarin saya menulis tentang dampak buruk dari menggunakan kata “harus” pada sebuah tugas yang ingin akan kita kerjakan. Maka sekarang adalah kata “seharusnya”.

Apa yang saya tulis kemarin adalah sama dengan apa yang saya tulis sekarang, yaitu sama-sama insightnya saya dapat dari membaca buku Kitab Anti Penundaan.

Dari buku tersebut, saya membaca bahwa kata “seharusnya” dapat menciptakan rasa menyesal dan sama-sama mendorong seseorang untuk melakukan penundaan.

Kalau yang kemarin kata “harus” dapat menimbulkan tekanan pada seseorang. Kata “seharusnya” dapat menimbulkan rasa penyesalan pada seseorang.

Karena kebanyakan dari seseorang yang suka menggunakan kata “seharusnya” adalah orang-orang yang sudah terlanjur melakukan sesuatu dan hasil adalah hasil yang tidak baik.

Oleh karena itulah, mereka menggunakan kata “seharusnya” untuk mengungkapkan rasa kesal dan mengeluhkan semua hasil yang ia dapatkan.

Dari buku Kitab Anti Penundaan, dikatakan bahwa kata itu sering menjadi kata yang digunakan dalam sebuah kalimat ketika seseorang sedang mengeluh dan menyesal.

Kata “seharusnya” aslinya bermakna “saya tidak suka dengan apa yang terjadi dan saya akan mengubahnya”.

Jadi sudah jelas ketika kita menggunakan kata “seharusnya”, kita sedang tidak menyukai hasil yang kita dapatkan atau kita tidak suka bagaimana sesuatu bekerja terhadap kita.

Bahkan sebagian orang bisa menggunakan kata “seharusnya” ketika mereka merasa marah dan sangat kecewa dengan sesuatu yang terjadi padanya.

Apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang sangat jauh dari apa yang diharapkannya. Sehingga kata “seharusnya” menjadi berubah makna dari yang sebelumnya.

“Saya merasa marah dan kecewa tentang apa yang terjadi, saya benar-benar merasa buruk dengan apa yang saya lakukan dan akan mengeluh tentang hal ini”.

Fakta yang saya dapatkan dari buku Kitab Anti Penundaan: Pada saat kita menggunakan kata “seharusnya”, kita akan membanding dua hal yang ada diluar dan didalam pikiran kita.

Kita membandingkan fakta yang ada dan yang kita terima dari peristiwa dengan imajinasi dan harapan kita. Alih-alih menjadi , termotivasi, sebaliknya kita akan terdemotivasi.

Itulah yang kemudian membuat kita merasa kecewa dan menyesal dengan tindakan yang kita kita ambil. Dan itu juga yang mendorong kita untuk melakukan penundaan.

Coba kamu baca kalimat ini, “Saya seharusnya mulai lebih awal. Kalau saja saya mulai lebih awal, pekerjaanya seharusnya sudah selesai”.

Kira-kira perasaan apa yang muncul ketika kamu membaca kalimat diatas. Apakah kamu merasa termotivasi dan semangat untuk melanjutkan pekerjaanmu.

Atau sebaliknya. Kamu justru merasa depresi, kesal, menyesal dan hilang harapan? Jujur, jika saya mengatakan perkataan itu, saya akan merasa menyesal dan putus harapan.

Ketika kita merasa kesal, depresi dan menyesal dengan apa yang terjadi, kita akan menunda. Ingat, penundaan merupakan mekanisme untuk “lari: dari emosi yang tidak menyenangkan.

INSIGHT 3

Bersedekah Dan Mendekat Kepada Allah Dengan Ilmu.

Ada satu hadist yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali Rahimahullah tentang menuntut ilmu, mengulang apa yang dipelajari dan mengarinya kepada orang lain.

Hadist tersebut Imam Ghazali kutip melalui Mu’adz bin Jabal ra. Berkata Mu’adz bin Jabal ra. secara marfu’, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Tuntutlah ilmu, sebab menuntut ilmu karena Allah Swt. itu merupakan perwujudan dari sikap takwa kepada-Nya.

Menuntut ilmu bagian dari ibadah, mengulang-ulanginya berarti bertasbih. Membahas atau membicarakan ilmu senilai dengan berjihad dijalan-Nya.

Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak mengetahui berarti sedekah. Memperolehnya (ilmu) dari ahlinya (para ulama) berarti mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ilmu adalah teman di kala sendirian, dan sahabat di waktu kesepian. Ilmu juga menjadi petunjuk menuju jalan agama, pemberi nasihat bagi kesabaran di waktu suka maupun duka,

penghibur lara di tengah-tengah kegelisahan, teman sejawat serta kerabat dekat di tengah-tengah orang asing, dan sekaligus pelita bagi jalan menuju surga.

Dengan ilmu, Allah Swt. mengangkat derajat beberapa kaum, menjadikan mereka pemimpin, pembimbing, dan petunjuk jalan kepada kebajikan.

Orang menjadikan mereka (para ulama) perintis dan petunjuk jalan menuju kebaikan. Jejak mereka diikuti, amal para ulama itu pun menjadi perhatian kita semua.

Para malaikat suka kepada tindakan para ulama, menaungi mereka dengan sayap-sayap kemulian.

Semua yang basa dan yang kering memintakan ampunan atas dosa para pengajar, bahkan ikan dan binatang di laut, binatang buas serta jinak di daratan, udara, sekaligus makhluk-makhluk di ruang angkasa dan bintang-gemintang juga turut mendoakan kebaikan bagi mereka.”

Diriwayatkan oleh Abu Al-Syaikh Ibnu Hayyan dalam kitab Al-Thawab. Juga oleh Ibnu ‘Abdil Barr, dan ia mengatakan, “Isnad pada riwayat ini bukanlah termasuk yang cukup kuat.

Meskipun isnad dari hadist tersebut bukanlah termasuk yang cukup kuat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abdil Barr. Tapi ada beberapa poin yang bisa menjadi renungan kita.

Dari apa yang saya dapatkan ketika membaca hadist tersebut, saya mendapatkan bahwa mengajarkan ilmu yang kita pelajari kepada orang lain, itu bernilai sedekah.

Dan memperoleh ilmu dari ahlinya, yaitu para ulama sama dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak mengetahui berarti sedekah. Memperolehnya (ilmu) dari ahlinya (para ulama) berarti mendekatkan diri kepada Allah Swt.”

Dimana saya selalu beranggapan bahwa bersedekah haruslah menggunakan harta. Sekarang saya menemukan fakta bahwa bersedekah tidak harus menggunakan harta.

Karena sangat tidak adil bagi orang-orang yang miskin dan tidak memiliki harta karena telah menghabiskan hardan dan waktunya untuk mencari ilmu.

Ilmu dan segala yang ada di dalamnya adalah paket lengkap bagi siapa saja yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. dan mendapatkan keridhoan dari sisi-Nya.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload