Join Telegram

Daily Insight: Khomiis, 07 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Syuhada Lebih Suka Dibangkitkan Sebagai Ulama.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-80. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Hanya Ada Satu Pemilik Dari Suatu Materi/ Benda.

Mencari insight di sosial media seperti mencari air di padang pasir. Meski sulit, tapi saya tetap mencarinya. Karena saya tahu betapa nikmatnya ilmu meski hanya setetes yang saya dapat.

Dan insight internet hari ini datang dari pencarian yang begitu panjang. Meski insight yang saya dapatkan hanya satu, namun saya tetap bersyukur karena kebaikan yang saya dapatkan.

Ada sebuah video yang saya dapatkan dan menurut saya ilmu yang terdapat pada video tersebut sangat bermanfaat. Terlebih untuk kita yang jarang sekali mensyukuri nikmat dari Allah SWt.

Kalau kamu punya mobil dan mobil mu hilang, entah itu karena dicuri atau karena sebab lainnya, apakah kamu akan bersedih? Jawabanmu, pasti kamu akan bersedih kehilangan mobilmu.

Alasanmu bisa bermacam-macam. Kamu bisa bilang kamu sedih karena mendapatkan mobil itu sangat susah. Atau kamu bisa bilang mobil itu harganya mahal itulah kenapa kamu sedih.

Bahkan tidak hanya sedih yang akan dialami oleh seseorang yang kehilangan mobil. Dia akan cari mobilnya sampai ketemu, kalau perlu bayar, dia akan bayar orang untuk mencarinya.

Sebagian lagi ada yang sampai menangisi sesuatu yang hilang dengan berlebih-lebihan. Seakan-akan dirinya tidak menerima apa yang telah ia alami. Dan dia tidak ridho dengan hal itu.

Pertanyaannya, kenapa ada orang yang bisa sampai bersedih dan berlebih-lebihan dalam menanggapi musibah yang sedang ia alami, yaitu sebagai contoh kehilangan mobil tersebut?

Jawabannya, karena dia merasa memiliki atas apa yang sudah hilang dari genggamannya. Dia terlalu melekat dengan benda.

Sekarang, jika saya tanya, apakah kamu akan bersedih jika orang lain yang kehilangan mobil? Katakanlah yang kehilangan adalah pak camat. Apakah kamu akan sedih dengan hal itu?

Apakah kamu akan mengerahkan massa untuk mencari mobil tersebut? Apakah kamu mau membayar orang lain untuk bisa menemukan mobil pak camat tersebut? Apakah demikian?

Saya rasa kamu tidak akan melakukan hal tersebut. Dan untuk apa juga kamu bersedih atas kehilangan barang seseorang yang sama sekali bukan milik, bukankah begitu?

Lantas kenapa kamu tidak bersedih? Karena kamu memiliki pandangan bahwa apa yang hilang adalah bukan kemilikanmu, bukan kepunyaanmu. Itulah kenapa kamu tidak bersedih.

Dan jika kita mau memaknai bahwasanya apa yang bisa kita lihat dan apa yang bisa kita genggam bukanlah milik kita akan tetapi milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kita akan ikhlas.

Kita tidak akan menangisi sesuatu yang hilang dari genggaman kita/ Dan kita tidak akan pernah mencari sesuatu yang hilang dari pandangan kita. Karena kita tahu itu bukanlah milik kita.

Apa jadinya jika benda dimiliki oleh dua orang? Apa jadinya jika suatu harta kekayaan dimiliki oleh dua orang? Apa yang akan terjadi? Yang akan terjadi adalah perkelahian dan perebutan.

Kita mengetahui bahwa semua hal yang ada di bumi dan yang ada di langit adalah milik Allah SWT. lalu kita juga mengaku menjadi pemilik atas apa yang dikuasai oleh Allah SWT.

Maka kita akan bertengkar dengan Allah SWT. Dengan apa kita akan bertengkar? Yaitu dengan cara menampakkan sikap kita yang tidak ikhlas dan tidak mau menerima takdir Allah SWT.

Harta yang kita punya dan kita aku sebagai miliki kita hanyalah sebuah titipan dari Allah. Dan itu bisa diambil kapan saja Allah mau. Kita harus ikhlas menerima, karena itu bukan hak kita.

INSIGHT 2

Emosi Negatif, Dampak Paling Negatif Dari Penundaan.

Setiap orang pasti tidak menginginkan dirinya mendapatkan hal yang negatif (buruk). Tapi sayang itu hanya dimulut. Aslinya dia menginginkan hal-hal negatif melalui tindakannya sendiri.

Penundaan adalah satu dari banyak hal yang memberikan kita dampak yang negatif. Ketika kita melakukan penundaan, maka kita akan merasakan emosi yang negatif dalam diri kita.

Tapi kalau ditanya, “Apakah kita suka melakukan penundaan?” Jawaban kita pasti tidak. Terlebih lagi kita mengetahui bahwa penundaan memiliki resiko yang sangat tidak menyenangkan.

Meski demikian, kita tetap melakukan penundaan dan kita tetap mencari alasan yang membenarkan penundaan yang biasa kita lakukan. Mulut berkata tidak tapi tindakan menunjukkannya.

Apa yang terjadi kalau kita suka melakukan penundaan? Yang akan terjadi pada kita ketika kita suka melakukan penundaan, yaitu kita jadi lebih sering merasakan emosi yang negatif.

Apa itu emosi yang negatif? Emosi yang negatif adalah emosi yang tidak baik untuk kita. Sesuatu yang jika kita rasakan maka akan mempengaruhi perilaku dan cara kita bertindak.

Bahkan dalam sebuah artikel yang saya baca menyebutkan bahwa, emosi negatif tidak mendatangkan keuntungan sama sekali. Itu artinya, hanya mendatangkan kerugian saja.

Emosi negatif hanya akan membuat hidup kita menjadi penuh aura yang tidak baik. Dan emosi negatif menjadikan hidup kita penuh dengan kemalangan. Tidak ada baiknya emosi negatif.

Sehingga jangan heran jika kamu cenderung menciptakan stres yang berlebih dalam keseharianmu. Karen a itulah dampaknya.

Dan perlu kita ketahui, bahwa stres kronis dapat menjadikan kita kehilangan kesehatan. Tidak hanya kesehatan fisik saja, melainkan juga kesehatan mental merasakan akibatnya.

Ketika kamu merasakan emosi yang negatif. Kamu jadi tidak suka dengan dirimu sendiri. Kamu lebih cenderung membenci dirimu sendiri. Selain itu ia juga menurunkan rasa percaya diri.

Dan tidak hanya kamu membenci dirimu sendiri dan kehilangan rasa percaya diri. Tapi kamu juga kehilangan harga diri.dan itu bisa membuat kamu tidak puas dengan kehidupanmu sendiri.

Jika kamu menemukan bahwa ada keputusan yang tidak kamu buat secara rasional. Maka ketahuilah, bahwa keputusan itu lahir dari dampak emosi negatif yang sering kamu rasakan.

Karena emosi negatif yang kamu rasakan bisa menghentikan jalan pikiran dan perilaku rasional sehingga kamu tidak mampu berpikir jernih seperti pada saat kamu memiliki emosi positif.

Kamu jadi cenderung bertingkah semaunya tanpa memikirkan dampak yang akan kamu timbulkan. Kamu merasa putus asa dengan segala kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.

Kamu menjadi seseorang yang tidak memperdulikan perasaan orang lain. Kamu jadi tidak memiliki rasa empati terhadap orang disekitarmu. Kamu menjadi seseorang yang egois dan ansos.

Apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini: Penundaan menjadikan dirimu lebih sering merasakan emosi negatif dan itu berdampak buruk bagi kehidupan, karir, dan masa depanmu.

Dan dampak dari emosi negatif yang kamu dapatkan dari kamu yang suka melakukan penundaan; tidak hanya dialami oleh diri sendiri, melainkan juga orang dan lingkungan di sekitarmu.

Karena itulah, saya mengajak kamu untuk berhenti melakukan penundaan. Ya, memang sulit. Tapi lebih sulit lagi memperbaiki semua masalah yang diakibatkan dari aktivitas penundaan.

INSIGHT 3

Syuhada Lebih Suka Dibangkitkan Sebagai Ulama.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali; berkata Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah,

“Ditimbanglah antara tinta ulama dengan darah syuhada. Maka timbangan tinta ulama masih lebih besar daripada darah syuhada.”

Betapa mulia derajatnya orang yang berilmu jika kita ingin tahu. Dan betapa beruntungnya orang-orang berilmu yang dengan ilmu itu ia menyebarkan kebaikan kepada umat manusia.

Maka apa yang menghambat kita untuk menuntut ilmu serta mengamalkan ilmu yang sudah kita pelajari. Semoga diantara kita selalu diberikan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat.

Tidak untuk umat setidaknya bisa bermanfaat dulu untuk diri kita pribadi. Sebagai contoh, ilmu produktif. Setidaknya dengan ilmu tersebut kita dulu yang produktif, baru ngajak orang lain.

Karena akan sedikit aneh ketika kita paham ilmu produktif, tapi kita sendiri tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan lebih suka mengajarkannya kepada orang lain diluar sana.

Seperti bikin kelas biar bisa cuan. Sekarang apa-apa dicuanin. Dikit-dikit dicuanin padahal dia sendiri belum terlalu paham. Pun jika dia paham, dia masih belum mengamalkannya.

Semoga Allah melindungi kita dari ketidakpahaman agama dan ilmu-ilmu dunia agar kita tidak berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain. Aamiin Allahumma Aamiin.

Adapun jika kita belum memiliki ilmu, maka tidak usah malu dan merasa diri tidak bisa mendapatkan ilmu. Karena ilmu itu sungguh didapatkan dari Allah dengan cara mempelajarinya.

Ibnu Mas’ud ra. dalam Kitab Ihya Ulumuddin dituliskan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa beliau (Ibnu Mas’ud ra.) pernah berkata,

“Seharusnya kalian berilmu sebelum ilmu itu diambil. Ilmu akan diambil bersama orang meninggal dunianya para ulama. Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya para syuhada di jalan Allah Swt. lebih suka dibangkitkan Allah di Hari Kiamat nanti sebagai ulama, karena menyaksikan keutamaan ulama. Dan sesungguhnya, tidak ada orang yang dilahirkan sudah mempunyai ilmu, karena ilmu diperoleh dengan belajar.”

Disini saya mendapatkan insight bahwa kelak para syuhada akan dibangkitkan seperti para ulama dikarenakan mereka melihat keutamaan para ulama (orang-orang yang berilmu).

Ini bisa menjadi penguat kita agar kita lebih rajin dalam mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk memperoleh keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kalaulah para syuhada lebih suka dibangkitkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di Hari Kiamat nanti sebagai ulama, karena menyaksikan keutamaan para ulama.

Maka, bagaimana jika sekiranya kita kelak dibangkitkan juga menjadi orang-orang yang berilmu yang mempelajari dan juga menebarkan ilmu yang baik serta bermanfaat kepada umat.

Ingat selalu bahwasanya ilmu itu senantiasa menjaga diri kita. Sedangkan harta senantiasa dijaga oleh kita. Untuk menjaga harta kita harus mengeluarkan beberapa harta.

Bahkan kita sampai berani membeli pengaman berupa brankas untuk bisa menjaga harta dan kekayaan kita. Tapi kita tidak butuh brankas untuk menjaga ilmu karena ilmu menjaga kita.

Jadilah orang yang berilmu (agama). Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload