Join Telegram

Daily Insight: Khomiis, 14 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Pelajari, Dekati Dan Cintai Para Ahli HIkmah (Ulama).

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-87. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Jangan Mencaci Kalau Tidak Bisa Mengapresiasi.

Apa tanggapan kita ketika kita melihat seseorang yang muncul dengan karyanya? Sebagian dari kita ada yang mengapresiasi dan sebagiannya lagi ada yang mencaci.

Mengapresiasi karya orang lain adalah bentuk kita menghargai kerja keras, proses, dan berbagai macam progres yang dicapai oleh pencipta karya. Kita kagum dengan karyanya tersebut.

Tapi orang yang mencaci karya orang lain dengan mengatakan bahwa karya orang adalah karya yang biasa. Sebenarnya dia iri dengan pencapaian yang sudah dicapai orang lain.

Dan beberapa orang yang mencaci karya orang, mereka sering mengatakan, “Kalau gitu doang, mah, gampang! Saya juga bisa kalau cuman gitu doang!” Itulah kata orang-orang gagal.

Jika tidak suka dengan karya orang lain dan berkata bahwa karya orang itu gampang, lalu kenapa tidak kamu coba, kenapa tidak kamu lakukan? Apakah karena kamu takut gagal?

Kamu yang suka mengatakan karya orang gampang dibuat dan tidak pernah membuatnya. Maka sesungguhnya kamu adalah orang yang bermental lemah, pengecut dan takut gagal.

Kalaupun karya orang itu gampang, tapi lihat, mereka bisa melakukannya, sedangkan kamu tidak. Mereka bisa berjuang, sedangkan kamu tidak. Mereka berhasil dan kamu tidak.

Tidak ada ruang untuk mencaci karya orang lain selagi kamu sendiri tidak bisa melakukan apa yang orang lakukan. Orang lain sudah berhasil, sedangkan kamu? Kamu belum berhasil.

Jika kamu katakan karya orang mudah. Bukankah akan lebih mudah jika kamu mencobanya? Kenapa tidak kamu lakukan?

Kamu tidak melakukannya karena kamu tidak punya mental sebagaimana mental orang berhasil yang kamu caci. Orang lain berani mencoba, sedangkan takut dengan kegagalan.

Dan ketika orang lain berhasil melalui kegagalan yang tidak bisa kamu lalui; kamu katakan, “Gitu doang mah gampang!” Cobalah kalau memang gampang, Jangan hanya bicara.

Kadang bicara itu gampang karena hanya bermodalkan udara. Tapi berusaha itu tidak semudah bicara, karena penggeraknya bukan udara, melainkan mental juara yang kamu butuhkan.

Orang yang tak memiliki mental juara biasanya akan menyerah sebelum memulai, seperti kamu yang mengatakan karya orang mudah tapi kamu sendiri tidak pernah memulainya sama sekali.

Sudah bagus orang berani mencoba meski hasilnya biasa. Itu lebih baik daripada orang yang selalu mengejar kesempurnaan. Kalau hasilnya tidak bagus, kamu tidak mau mencobanya.

Bagaimana kamu tahu hasilnya akan bagus atau tidak kalau kamu sendiri belum pernah mencobanya? Maka sebenarnya kamu hanya mencari dan memiliki alasan saja, no action.

Sebenarnya orang yang mencaci karya orang lain adalah orang yang ingin bisa menciptakan karya tersebut. Namun, karena dia tidak bisa melakukannya, itu menyisakan trauma bagi dirinya.

Dan cara dia untuk menghilangkan traumanya adalah dengan mencela dan mencaci orang yang bisa menciptakan karya yang dia sendiri tidak berhasil atau gagal menciptakan karya itu.

Dengan kata lain, orang yang mencaci karya orang lain adalah orang yang iri, dengki dan cemburu dengan pencapaian orang. Dan orang yang iri adalah orang yang selama hidupnya selalu gagal. Dia adalah orang yang tidak pernah mau mencoba.

Orang yang paling sedih di dunia adalah orang yang selalu iri dengan pencapaian orang lain dan selalu mencaci karya orang.

INSIGHT 2

Hasil Adalah Wujud Dari Apa Yang Kita Pikirkan.

Apa yang kamu pikirkan sebelum kamu mengalami kegagalan? Atau apa yang kamu pikirkan sebelum kamu bisa berhasil? Hal yang kamu pikirkan itu mempengaruhi tindakanmu.

Pikiran dalam diri kita memang kadang sering muncul secara sendirinya. Bahkan ketika kita diam saja, pikiran kita dengan sendirinya bisa terlintas dalam benak kita.

Jika kita biarkan itu terus menerus, ia akan mendominasi dalam diri kita. Sehingga kita hidup dikendalikan oleh pikiran kita. Ini berbanding terbalik dengan yang para ahli katakan.

Mereka katakan bahwa kita dapat mengendalikan apa yang kita pikirkan. Kita dapat menentukan apa saja yang harus dipikirkan dan apa yang seharusnya tidak kita pikirkan dalam benak kita.

Harus ada keinginan dalam diri kita untuk bisa mengendalikan apa saja yang kita pikirkan. Karena kalau tidak, kita akan sering berpikir hal-hal yang negatif atau hal-hal yang sifatnya subjektif.

Ingat bahwa terlalu memikirkan hal-hal yang negatif, hal itu bisa berdampak pada perasaan dan perilaku kita. Pikiran negatif, itu bisa mengacaukan perasaan dan perilaku kita.

Perasaan yang kaca menjadikan kita seseorang yang selalu merasa down dan tidak punya harapan hidup. Dan mungkin ini akan menjadi pengalaman hidup yang paling berat.

Hidup seseorang yang paling berat yaitu ketika dia merasa dirinya tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan harapannya untuk hidup. Hilang harapan, hilang jalan, hanya keputusasaan.

Maka, apa yang kita pikirkan ketika kita melihat, mendengar atau merasakan hal-hal yang tidak baik atau hal-hal yang baik?

Misalnya ketika kita belum berhasil. Apa yang kita pikirkan akan hal itu? Apakah suatu pikiran yang baik yang muncul? Atau ada sesuatu yang buruk yang muncul dalam pikiran kita?

Jika yang muncul adalah sesuatu yang baik, maka mungkin kita akan berpikir, “Mungkin saya masih harus belajar bagaimana cara yang tepat untuk bisa mendapatkan hasil yang baik.”

Tapi kalau kita belum berhasil dalam melakukan sesuatu, lalu kita memikirkan hal-hal yang negatif. Mungkin apa yang muncul adalah kalimat, “Memang saya tidak berbakat dalam hal ini.”

Padahal seseorang tidak bisa dikatakan tidak berbakat kalau mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan melatih dirinya untuk menguasai suatu bakat atau keterampilan.

Dan salah satu faktor orang bisa bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mendalami suatu bidang adalah dengan cara selalu menghadirkan hal-hal yang positif dalam pikirannya.

Jika seseorang mengatakan kepada dirinya, “Saya pasti bisa menguasai ini (suatu bidang/keterampilan) jika saya terus berusaha dan berlatih. Tidak ada yang tidak mungkin.”

Maka dengan pikiran (baca: keyakinan) itulah dia akan berjalan kemanapun dia pergi, dan dalam kondisi apapun yang ia alami. Dia tidak akan pernah berhenti untuk terus belajar dan berlatih.

Pemikiran yang selalu kita ulang akan menjadi keyakinan yang akan mempengaruhi perasaan dan bagaimana kita bertindak. Dan tindakan selalu sejalan dengan hasil.

Sehingga bisa kita simpulkan, bahwa hasil apa yang kita dapat merupakan wujud atau buah dari apa yang kita pikirkan. Itulah kenapa kita selalu diperintahkan untuk selalu berpikiran positif.

Karena jika kita menarik balik atau melihat kilas balik dari apa yang kita dapatkan, maka kita akan temukan bahwa itu semua datang dari apa yang kita pikirkan selama ini dalam hidup kita.

INSIGHT 3

Pelajari, Dekati Dan Cintai Para Ahli Hikmah (Ulama).

Kira-kira jika kita tidak mengetahui cara melakukan sesuatu, kemanakah kita akan pergi? Katakanlah kita tidak mengetahui cara menjalani hidup produktif, kemanakah kita akan bertanya?

Jika kita mendapati peralatan rumah kita rusak seperti kulkas, kemanakah kita akan meminta bantuan? Ketika kita motor kita rusak, kemanakah kita bisa memperbaiki motor yang rusak?

Jawaban dari semua permasalahan tersebut pasti merujuk kepada orang yang paham. Jika kita belajar hidup produktif, maka kita cari orang yang paham tentang produktivitas.

Jika punya AC yang rusak, maka kita akan serahkan kepada orang yang ahli dalam per-AC-an. Begitu juga ketika motor kita rusak, maka kita akan minta bantuan tukang bengkel.

Sangat aneh ketika kita, misalnya, ingin belajar cara hidup yang produktif, tapi meminta saran produktif dari tukang bengkel. Itu adalah jalan yang salah. Belajarlah produktif dari ahlinya.

Masalah akan sangat mudah terselesaikan jika kita serahkan kepada ahlinya. Dan akan jadi rusak atau menambah masalah jika kita serahkan kepada sembarang orang; orang yang salah.

Untuk itulah kita harus bertanya kepada seseorang yang punya ilmu. Jika ingin belajar agama, maka belajarlah kepada orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama.

Karena kalau tidak, yang ada kita akan jadi sesat. Belajar pada guru yang benar akan menuju kepada jalan dan tujuan yang benar. Yang salah, pasti kejalan yang salah juga.

Bertanyalah kepada ahlinya, belajarlah kepada ahlinya jika kita benar-benar ingin menjadi seseorang yang ahli juga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan kita melalui firman-Nya untuk bertanya kepada orang yang paham, orang yang memiliki pengetahuan yang tidak kita miliki.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡ ۖ فَسۡئَلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,"

(QS. An-Nahl 16: Ayat 43)

Di zaman sekarang (hari ini), kita sudah tidak punya Rasulullah ﷺ tempat kita bertanya. Tapi sekarang kita memiliki para ulama yang menjadi penyambung lisan dari pada Rasulullah ﷺ

Maka, jika kita mengalami kesulitan dalam memahami agama. Sangat dianjurkan dan diharuskan untuk kita datang kepada para ulama guna memperjelas pemahaman agama kita.

Malu bertanya sesat dijalan adalah kiasan yang mungkin dapat menggambarkan keadaan seseorang yang ketika memiliki satu masalah, namun ia tidak serahkan masalah itu kepada ahlinya.

Tidak dapat datang di kajian para ulama, mungkin sementara waktu kita bisa menyaksikannya melalui sosial media yang ada. Bisa kita akses melalui YouTube atau sosial media lainnya.

Dan mudah-mudahan kelak kita bisa berjumpa dengan para ulama; tidak hanya di dunia, namun di akhirat juga. Insya Allah kita bisa bertemu dengan mereka jika kita mencintai mereka.

Tidak hanya berjumpa dengan para ulama, tapi insya Allah kita juga akan berjumpa dengan Rasulullah ﷺ Dengan catatan, kita mencintai mereka. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload