Join Telegram

Daily Insight: Khomiis, 21 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Kita Hidup Selamanya Melalui Apa Yang Kita Beri.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-94. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kita Hidup Selamanya Melalui Apa Yang Kita Beri.

Kita bisa bertahan hidup sampai hari ini karena ada seseorang yang selalu menjaga kita dan memperjuangkan hak-hak kita. Bukan seseorang tapi lebih ke dua orang tepatnya.

Ibu adalah seseorang yang selalu menjaga kita. Dia selalu memperhatikan keadaan kita. Dia yang selalu membangunkan kita ketika kita terlelap tidur. Dia juga menyiapkan sarapan.

Ibu adalah seseorang yang banyak melakukan pengorbanan dalam hidup kita. Dan diantara pengorbanan ibu tidak sedikit pun bisa kita balas dengan nilai yang seimbang.

Bahkan jika kita memiliki dunia dan seisinya, tetap itu tidak bisa membalas pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Peranan seorang ibu sangat luar biasa pengaruhnya kepada sang anak.

Maka apa yang bisa menjadikan kita melupakan jasa-jasa ibu kita? Adakah hal yang layak kita berikan kebahagian sebelum ibu kita mendapatkannya dari kita terlebih dahulu.

Apakah ada yang layak untuk dijadikan alasan untuk kita tidak berbakti kepada ibu kita? Apakah ada sesuatu atau seseorang yang pantas menghalang kita dari berbakti kepada ibu?

Saya rasa tidak ada satupun yang layak menjadi alasan bagi seorang anak untuk mengabaikan ibunya. Sekali seorang anak mengabaikan ibunya, maka ia telah mengabaikan ridha Allah.

Ibu adalah sosok yang harus ada dalam hati kita. Tidak ada hal yang dapat menghalangi kita dari berbakti kepada seorang ibu.

Bahkan ketika seorang ibu telah meninggalkan anaknya. Anak tetaplah memiliki kewajiban untuk berbakti kepada seorang ibu. Bahkan waktu tidak dapat membatasi bakti anak kepada ibu.

Kita bisa bertahan hidup sampai sekarang karena ada sosok yang selalu memenuhi hak-hak kita. Diantara hak kita adalah untuk mendapatkan tempat tinggal, pakaian dan makan.

Dan itu tidak lepas dari sosok seorang ayah yang siang-malam banting tulang, peras keringat. Entah apa yang layak yang bisa kita berikan kepada ayah sebagai tanda terima kasih kita.

Tapi saya rasa tidak ada hal yang sepadan dengan perjuangan seorang ayah yang tanpa lelah memberikan semua kebutuhan kita dan mendapatkan semua hak-hak hidup untuk kita.

Kita adalah seorang anak yang tanpa jasa orang tua kita tidak bisa bertahan hidup di dunia. Entah apa yang terjadi dengan hubungan orang lain dengan orang tuanya.

Tapi satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya mencari makna hidup adalah kewajiban bagi seorang anak untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuanya dengan ikhlas.

Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa diri mereka tidak wajib untuk mengurus orang tuanya. Alasannya karena disaat usia mereka masih kecil, mereka tidak diurus oleh orang tua.

Ya memang ada beberapa orang tua yang berlaku kasar atau tidak baik terhadap kita. Tapi itu tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak berbakti kepada kedua orang tua.

Tidak ada hak bagi seorang anak untuk membalas dendamnya kepada kedua orang tuanya. Karena sudah menjadi kewajiban dan keharusan seorang anak berbakti kepada orang tuanya.

Jasa orang tua tidaklah sepadan dengan harta yang kita miliki atau ketenaran yang kita dapati. Itu semua tidak ada nilainya jika kita bandingkan dengan jasa kedua orang tua kita.

Berbaktilah kepada orang tua karena kita hidup sementara melalui apa yang kita dapatkan dan kita akan hidup selamanya melalui apa yang kita berikan kepada kedua orang tua kita.

INSIGHT 2

Jangan Mendahulukan Keinginan Di Atas Niat Dan Keyakinan. 

Siapa yang suka berteman dengan ketidaknyamanan? Adakah seseorang yang bisa berdampingan dengan rasa tidak nyaman dalam hidupnya? Saya rasa tidak ada yang suka akan hal itu.

Setiap orang hidup dengan harapan akan mendapatkan hidup yang layak dan nyaman. Tidak ada orang yang ingin sengsara.

Tapi anehnya apa yang saya baca dari buku kebanyakan orang tidak sesuai tindakannya dengan apa yang mereka harapkan. Mereka ingin hidup bahagia, tapi yang dilakukan bertentangan.

Ini disebut dengan disonansi kognitif. Dimana keyakinan kita yang datang dari apa yang kita inginkan datang dalam hidup kita bertentangan dengan tindakan yang kita lakukan.

Katakanlah ketika kita ingin menyelesaikan tugas. Lalu kita mulai menyalakan komputer kita. Yang seharusnya membuka microsoft word, kita malah membuka youtube.

Niat awal kita adalah untuk menyelesaikan pekerjaan agar kita bisa tenang dan pikiran kita tidak terbebankan oleh tugas-tugas yang belum selesai. Tapi apa yang kita lakukan pada diri kita?

Kita lebih tertarik pada kesenangan (sementara) daripada rasa tenang yang mana itu lebih baik untuk kita. Kita tenang ketika kita bisa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.

Tapi kita mencari kesenangan dengan cara membuka sosial media dan mulai mencari hiburan yang bisa membuat kita lupa dengan tugas yang harus kita selesaikan pada saat itu juga.

Secara tidak sadar kita lebih suka dengan kesenangan yang sifat sementara dibandingkan ketenangan yang mana kita juga bisa memperoleh kesenangan tanpa ada kecemasan.

Saya yakin ketika kita berniat menyelesaikan suatu tugas, tapi kita memilih untuk scrolling media sosial atau menonton video hiburan berjam-jam kita lakukan dengan rasa cemas.

Disatu sisi kita menginginkan hiburan dan kita lakukan hal itu. Tapi sayang kita tidak bisa menikmati hiburan tersebut dengan kondisi hati yang tenang karena selalu kepikiran tugas.

Maka cara terbaik untuk bisa menikmati hiburan adalah dengan menyelesaikan semua tugas yang harus kita selesaikan. Kalau tidak, kita tidak akan tenang dengan apa yang kita lakukan.

Keinginan kita (nafsu) untuk menikmati hiburan lebih cepat dan meninggalkan pekerjaan yang awalnya sudah kita niatkan dan kita prioritaskan untuk kita kerjakan akan membuat kita cemas.

Kecemasan kita datang dari rasa bersalah karena kita dengan sadar kita meninggalkan tugas kita. Dan kita pun merasa kesal dengan diri kita karena tidak bisa mengendalikan diri kita.

Saya yakin, setelah kita kesal yang akan muncul selanjutnya adalah menyesal. Menyesal karena telah menyia-nyiakan hal penting dalam hidup: mengerjakan tugas tepat waktu.

Masih mending jika kita melakukan hal yang salah kemudian kita merasa bersalah. Karena ada beberapa orang yang tahu dirinya melakukan kesalahan, tapi tidak mau mengakuinya.

Orang yang seperti itu, biasanya mencari pembenaran atas apa yang telah ia perbuat. Dengan kata lain ia senang bersembunyi di balik kebenaran yang dibuat oleh dirinya sendiri.

Dia tidak pernah mencari kebenaran yang sebenarnya. Karena itu dapat membuat dirinya menjadi bersalah di hadapan orang lain. Dia merasa lebih baik bersalah di hadapan diri sendiri.

Jika kita membiasakan diri dengan hal tersebut, maka kita tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan diri kita. Kebenaran itu penting bagi perubahan yang baik dalam diri dan hidup kita.

INSIGHT 3

Jangan Hanya Memikirkan Kebaikan Untuk Dirimu Sendiri.

Hari ini saya mendapatkan insight dari  kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali tentang dahsyatnya orang yang berilmu jika diantara orang yang berilmu pergi meninggalkan kita.

“Meninggalnya dunianya seribu, orang ahli ibadah yang suka mengerjakan shalat sunnah sepanjang malam dan berpuasa sunnah sepanjang siang hanyalah penggalan dari malapetaka kecil jika dibandingkan dengan meninggal dunianya seorang ahli ilmu yang mengetahui urusan yang dihalalkan maupun yang diharamkan agama.”

‘Umar Ibnul Khaththab ra.

Saya baru menyadari bahwa ternyata meninggalnya orang ahli ibadah, itu hanyalah sebagian kecil dari malapetaka. Sedang meninggalnya ahli ilmu itu sangat luar biasa malapetakanya.

Orang yang mengerjakan sunnah, maka ia hanya mengerjakan sesuatu yang baik untuk dirinya sendiri. Mereka mengerjakan sunnah untuk kebaikan diri saja. Bukan untuk umat.

Jika kita mengerjakan shalat sunnah, siapa yang mendapatkan kebaikan dari shalat sunnah tersebut? Kalau kita mengerjakan puasa sunnah, siapa yang mendapatkan kebaikan darinya?

Yang mendapatkan kebaikan dari shalat sunnah dan puasa sunnah yang dikerjakannya adalah orang itu sendiri. Mereka telah mendatangkan kebaikan pada dirinya sendiri.

Tapi siapakah yang merasakan kebaikan dari orang-orang yang berilmu? Jawabannya sudah pasti kita semua.

Karena salah satu manfaat dari orang-orang yang berilmu ialah mampu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat

Cara pandang dan berpikirnya orang-orang yang berilmu ialah memikirkan tentang solusi-solusi yang bisa diberikannya pada masyarakat. Tujuannya agar masyarakat merasa sejahtera.

Orang yang berilmu lebih cenderung memikirkan masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kemudian mereka berusaha untuk mencari solusi dari masalah tersebut.

Kebaikan dan kesejahteraan umat adalah prioritas orang-orang yang berilmu. Pantang bagi seseorang yang berilmu hanya memikirkan kebaikan dirinya sendiri saja.

Jika ada seseorang yang hanya memikirkan tentang kebaikan dirinya sendiri saja. Maka bisa kita pastikan bahwa dia adalah seseorang yang tidak memiliki ilmu sama sekali.

Pertama-tama orang yang berilmu akan mempelajari ilmu untuk mendapatkan kebaikan pada dirinya. Setelah berhasil dengan dirinya, orang yang berilmu akan berpindah pada umat.

Sesuatu yang bermanfaat dan bisa mendatangkan kebaikan pada dirinya akan ia bagikan kepada orang-orang yang juga mengharapkan manfaat dan kebaikan yang kita dapatkan.

Maka impact dari orang yang berilmu sangatlah dahsyat. Orang yang berilmu sangat mempengaruhi aspek kehidupan.  Tanpa orang yang berilmu, kita akan mengalami banyak masalah.

Ketika yang meninggal adalah orang yang paham dengan hukum halal-haram. Maka akan kesulitan mencari kebenaran tentang suatu perkara yang harus ditentukan halal-haramnya.

Ketika yang meninggal adalah orang yang paham tentang Sirah Nabawiyah. Maka kita akan kesulitan dalam mengenal dalam mempelajari sejarah dan kehidupan Rasulullah ﷺ

Maka malapetaka yang amat besar akan datang jika banyak orang-orang yang berilmu meninggalkan kita, karena kita telah menyia-nyiakan waktu untuk belajar. Wallahu A’lam Bishawab. 


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload