Join Telegram

Daily Insight: Sabtu, 16 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Orang Haus Tak Butuh Gelas, Melainkan Isi Gelas Tersebut.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-89. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kegagalan Datang Dari Kurangnya Percaya Diri.

Entah berapa banyak mimpi yang ingin kita raih tapi tidak dapat kita raih. Dan ada banyak sekali penyebab yang menjadikan kita gagal dalam meraih impian kita.

Ditambah lagi, banyaknya alasan yang sebenarnya hanya kita buat hanya untuk membenarkan bahwa, “Ya, tidak apa-apa lah, tidak kesampaian, masih ada waktu.”

Ketika ada waktu dan kesempatan, apa yang kita lakukan? Yang kita lakukan adalah menyia-nyiakan lagi seperti yang sebelumnya, kita mencari alasan untuk mencari pembenaran.

Kenapa kita selalu terdorong untuk mencari pembenaran untuk membenarkan bahwa “tidak apa-apa gagal.” Apakah kita tidak bisa berusaha dengan maksimal dan semampu yang kita bisa?

Jika kita melakukannya hanya sekali tidak apa-apa. Tapi yang menjadi masalah adalah, kita selalu mencari pembenaran atas kegagalan yang mana itu disebabkan oleh kelalain kita sendiri.

Tidak jarang juga orang yang selalu mencari pembenaran atas kegagalannya malah mencari kesalahan-kesalahan yang diluar diri mereka sendiri. Mereka enggan mengakui kesalahanya.

Meski pada kenyataannya bahwa kegagalan yang didapatkan adalah hasil dari kelalaian yang selalu tidak mau mengambil tindakan dan usaha untuk mencapai impiannya sendiri.

Memang pantas jika ada pepatah yang mengatakan, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.”

Ya, begitulah ketika orang mendapatkan kegagalan. Ia melihat kegagalan sebagai sebuah hasil buruk yang disebabkan oleh orang lain, lingkungan, bukan disebabkan oleh dirinya sendiri.

Padahal masalah utama atau penyebab utama seseorang tidak bisa mencapai keberhasilan adalah diri kita sendiri. Bukan hal lain seperti, orang lain, teman, saudara ataupun lingkungan.

Tapi faktor kegagalan kita dalam mencapai impian kita terletak pada diri kita sendiri. Apakah kita sudah cukup berusaha untuk mencapai impian kita? Jujurlah dengan diri kita sendiri.

Pahamilah bahwa orang yang bisa membuat kita gagal bukan orang lain. Melainkan diri kita sendiri yang terkadang kita tidak cukup percaya dengan diri kita sendiri untuk mencapainya.

Maka dari itu, langkah pertama untuk bisa mencapai apa yang menjadi impian kita selama ini adalah dengan menumbuhkan rasa percaya terhadap diri kita sendiri. Percaya itu penting!

Mungkin kamu merasa tidak memiliki kemampuan untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu impikan. Tapi itu bukanlah sebuah masalah yang besar.

Masalah besar datang ketika kamu tidak memiliki kepercayaan terhadap diri kamu sendiri. Kurang percaya diri, itu lebih banyak membunuh mimpi daripada tidak memiliki kemampuan apapun.

Kemampuan, keterampilan atau bakat memang penting adanya untuk bisa meraih semua impian kita, keinginan kita dan segala hal yang sebelumnya belum pernah kita capai sama sekali.

Tapi hal yang sebut sebagai kemampuan, keterampilan atau bakat merupakan nomor sekian yang menjadi pembatas kita untuk bisa meraih apa yang kita inginkan dalam hidup kita.

Kita sebenarnya mampu lebih dari apa yang kita tahu. Hanya saja seringkali orang tidak memiliki keyakinan yang kuat untuk mempercayai diri mereka sendiri bahwa mereka mampu.

Jangan menjadi hambatan bagi diri kita sendiri dengan cara tidak meyakini dan mempercayai bahwa kita mampu untuk bisa meraih impian. Kesuksesan kita terletak pada keyakinan kita.

INSIGHT 2

Hal Yang Sudah Terbiasa Selalu Terlihat Masuk Akal.

Bagi orang yang sudah kecanduan menunda, dia tidak akan pernah merasa bersalah dengan penundaan yang ia lakukan. Karena bagi dia tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Semua penundaan yang dia lakukan masuk akal baginya. Ia tak sedikitpun merasakan kejanggalan pada dirinya jika dibandingkan dengan orang yang belum pernah menunda.

Atau orang-orang yang paham apa itu penundaan, mereka tak akan sama dengan orang-orang yang suka menunda pekerjaan yang penting. Orang yang paham sadar kapan harus menunda.

Sedangkan orang yang terlalu sering melakukan penundaan seringkali mereka tidak merasa bersalah. Bahkan kebanyakan begitu, merasa baik, merasa tidak ada yang perlu diperbaiki.

Sama seperti orang yang senang mencuri atau orang yang sudah terbiasa mencuri. Mereka tidak merasa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang salah.

Kenapa? Karena mereka sudah melakukannya secara berulang dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Sehingga mereka tidak akan merasa bersalah.

Selama mencuri itu lancar-lancar saja. Maka tidak ada hal yang harus mereka salahkan. Begitu juga dengan menunda. Selama menunda itu lancar-lancar saja, maka tidak ada yang salah.

Kebiasaan membuat kita jadi tidak bisa melihat dengan jernih apakah itu salah atau benar. Karena itu sudah melekat dengan diri kita dan telah menjadi bagian dari diri dan hidup kita.

Maka untuk bisa melihatnya kita perlu melepasnya sesekali dengan melihat fakta yang sebenarnya dengan bertanya.

Apakah iya, selama ini saya tidak menunda? Apakah kegiatan yang saya lakukan selama ini sudah termasuk dalam daftar aktivitas bisa dibilang baik? Atau justru sebaliknya?

Cobalah untuk menanyakan semua aktivitas yang kita lakukan setiap hari; aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan. Seperti scrolling media sosial berjam-jam yang kita lakukan setiap hari.

Apakah scrolling media sosial berjam-jam merupakan aktivitas yang baik, yang memiliki kontribusi pada pencapaian kita? Itu perlu kita pertanyakan agar yang salah tidak menjadi lumrah.

Ketika sesuatu yang salah menjadi lumrah, maka kita tidak akan pernah merasa bahwa yang salah adalah salah. Tetapi kita akan beranggapan bahwa itu adalah sesuatu yang benar.

Untuk bisa keluar dari sesuatu yang salah, yang selama ini kita anggap lumrah dan biasa-biasa saja. Kita perlu menanyakan hal tersebut kepada diri kita dan kepada orang lain.

Cobalah bertanya untuk mencari kebenaran, bukan bertanya untuk pembenaran atas apa yang kita lakukan. Karena ketika kita mencari pembenaran kita tidak akan pernah lepas.

Kita akan semakin erat dan melekat dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan kita, jika kita bertanya untuk mencari hal yang dapat membenarkan yang kita lakukan, meski itu salah.

Segala sesuatu akan terasa masuk akal sampai kita bertanya dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada diri kita. Bertanya akan membuat kita mendapatkan data.

Dan data itu sangat kita butuhkan untuk membandingkan data yang ada pada diri kita yang sekarang. Misalnya saja kita suka scrolling sosial media. Kemudian kita bertanya kepada diri kita.

“Apakah scrolling sosial media berjam-jam adalah kebiasaan orang sukses?” Jawabannya akan membandingkan dengan apa yang sering kita lakukan. Disitulah logisnya akan terlihat.

INSIGHT 3

Orang Haus Tak Butuh Gelas, Melainkan Isi Gelas Tersebut.

Hari ini membaca kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, saya mendapatkan sebuah hadist yang sangat penting untuk kita ketahui sebagai seorang muslim. Nabi ﷺ pernah bersabda,

“Menuntut ilmu itu diwajibkan atas diri setiap muslim.”

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadist Anas bin Malik ra.. Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi melemahkan satunya, demikian pula dengan selain kedua Imam tersebut. Saya (muhaqqiq) berpendapat, riwayat ini sebenarnya berstatus shahih dari berbagai sumber yang ada. Dan, Imam Al-Albani mencantumkan dalam Shahih Al-Jami’, hadist nomor 3914, juga dari hadis Anas bin Malik ra.. Ada pula yang bersumber dari jalur Al-Hasan bin ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Abi Sa’id Al-Khudri ra.

Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum mengambil tindakan apapun. Seharusnya kita berilmu sebelum bertindak. Entah dalam hal apapun itu, ada baiknya kita berilmu dahulu.

Jika kita bertindak tanpa berilmu, darimana kita bisa tahu apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah? Maka ilmu bisa memperjelas hal tersebut.

Bila ada sesuatu yang kurang jelas dalam hati kita, biasanya akan datang dalam hati kita dalam bentuk perasaan yang was-was. Was-was tidak akan hilang sampai sesuatu itu jelas.

Dengan kata lain, cara menghilangkan perasaan yang was-was adalah dengan cara berilmu. Bagaimana cara kita belajar?

Saya rasa kita semua sudah tahu jawabannya. Yups, benar sekali. Jawabannya adalah dengan belajar.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin saya mendapatkan sabda Nabi ﷺ tentang ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidak semestinya orang yang belum berilmu itu berdiam diri pada kejahilannya, dan tidak seharusnya pula orang yang sudah berilmu berdiam diri atas ilmunya (tidak mengamalkan ilmunya).”

Dari footnote: Diriwayatkan oleh Imam Al-Thabrani dalam Al-Ausath. Juga oleh Ibnu Mardawaih dalam kitab Tafsir miliknya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim dalam Riyadhah Al-Muta’allimin, dari hadis Jabir ra. dengan sanad lemah (dha’if).

Maka apabila ilmu adalah sebuah keharusan bagi kita semua untuk mencari dan mempelajarinya; janganlah kita berdiam diri dengan cara membiarkan diri kita tetap kosong tanpa ilmu.

Tidak akan pernah datang suatu manfaat dari sebuah gelas bagi seseorang yang kehausan kecuali gelas tersebut terisi dengan air. Maka isilah gelas (otak) kita dengan air (ilmu).

Dan kita tidak akan pernah dipandang sebagai orang yang membawa manfaat jika kita hanya membawakan gelas bagi seseorang yang sedang kehausan. Tidak akan pernah.

Mau gelas itu terlihat cantik, secantik-cantiknya. Orang yang sedang kehausan tidak membutuhkan hal tersebut. Yang Ia butuhkan adalah apa yang ada dalam gelas tersebut, yaitu air.

Maka sebagus apapun penampilan kita. Entah kita berkemeja dan berjas mahal dengan kendaraan yang mewah, orang lain tidak membutuhkan manfaat dari hal-hal tersebut.

Karena yang dibutuhkan oleh orang lain adalah ilmu yang bisa mendatangkan kebaikan kepada dirinya. Itu yang mereka butuh dalam hidup mereka. Maka jadilah orang yang bermanfaat.

Yaitu, orang yang berilmu. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload