Join Telegram

Daily Insight: Sabtu, 23 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Mencari Dan Mempelajari Ilmu, Itu Sama Dengan Berjihad.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-96. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Lebih Baik Menjadi Sok Bodoh Daripada Jadi Sok Pintar.

Jangan menjadi seseorang yang suka dilihat pintar, tapi jadilah seseorang yang suka dilihat bodoh. Jangan sok pintar di depan orang, jadilah sok bodoh di depan orang, itu jauh lebih baik.

Semakin kita ingin terlihat pintar maka semakin terlihat bodoh diri kita. Terlebih ketika kita mendebatkan sesuatu yang tidak penting sama sekali untuk kita perdebatkan dengan orang lain.

Hiduplah dalam kesunyian di tengah-tengah kebisingan. Tak usah menambah kebisingan dengan menjadi sok pinter di hadapan orang lain. Karena itu tidak ada nilainya sama sekali.

Satu nasehat dari seorang inovator, yaitu tetaplah bodoh meski kita mengetahui secara benar apa yang didebatkan oleh orang.

Orang yang bijak adalah orang yang bisa menjadi orang bodoh secara selektif. Dia akan selalu memilih waktu dan kondisi yang tepat untuk menampilkan kebodohannya di depan orang lain.

Karena baginya menjadi orang pintar di tengah orang-orang bodoh adalah sebuah kelelahan. Tidak akan dianggap benar jika menampakkan kepintaran kita di depan orang bodoh.

Sok pintar adalah orang yang pandai bersilat lidah dengan lawan bicaranya. Sedang orang bijak adalah orang yang bisa menahan lidahnya dari membicarakan sesuatu yang sia-sia.

Sok pintar adalah orang yang suka membuka mulut dan berdebat dengan orang lain. Sedangkan orang bijak adalah orang yang suka buka buku dan berdamai dengan orang lain.

Orang bijak selalu mengutamakan waktu untuk hal-hal yang baik. Sedangkan sok pintar mengutamakan lidahnya untuk melawan orang baik jadi terlihat buruk di mata orang lain.

Tidak ada manfaat menjadi sok pintar karena orang yang sok pintar bukanlah orang pintar. Dan tujuan dari mereka yang ingin terlihat sok pintar bukanlah sesuatu yang baik.

Pun jika ada kebaikan yang ia dapatkan, itu adalah keburukan. Orang yang sok pintar hanya menginginkan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, bukan untuk kebaikan orang lain.

Orang yang sok pintar hanya bergerak dengan hawa nafsu. Mereka ingin terlihat menjadi sosok pahlawan di depan orang lain. Mereka berhasil menjadi pahlawan, tapi ‘pah’-nya hilang.

Tidak usah menjadi orang yang sok pintar. Abaikan topik yang menguras energi meski kita menguasai topik tersebut. Kita ada di dunia bukan untuk berdebat dan menimbulkan masalah.

Melainkan kita ada di dunia untuk berdiskusi, saling berbagi dan bertukar pikiran untuk menghadirkan solusi atas masalah yang sering dialami oleh banyak orang.

Jadilah bodoh selektif. Artinya kita harus bijak menempatkan diri kita di dalam situasi dan kondisi tertentu. Abaikan hal-hal yang menghabiskan waktu kita tanpa ada hasil yang baik.

Bahkan kita harus berhenti mengikuti orang-orang yang terlalu menguras energi kita, yaitu orang-orang yang sok pintar yang selalu ingin mengajak kita berdebat dengan hal-hal remeh.

Jangan pernah mengikuti orang yang mengajak kita berdebat. Karena perdebatan mereka itu tidak membuahkan ilmu untuk kita. Itu hanya akan membuang energi dan waktu kita saja.

Orang bijak selalu memikirkan kebaikan banyak orang, bukan memikirkan kebaikan yang hanya datang untuk kepentingan diri mereka sendiri. Terlebih berdebat karena ingin terlihat pintar.

Menjadi sok pintar membuat kita jadi orang yang benar-benar bodoh. Menjadi sok bodoh membuat kita jadi orang yang luas pengetahuannya. Dan itulah aslinya orang cerdas nan bijak.

INSIGHT 2

Carilah Alasan Untuk Maju, Bukan Alasan Untuk Mundur.

Diantara ciri-ciri orang yang suka mencari pembenaran adalah orang-orang yang suka mengalihkan satu topik ke topik yang lain dan dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain.

Orang yang suka mencari pembenaran pintar dalam melakukan hal tersebut; pintar dalam mengalihkan fokus seseorang.

Bahkan mereka pintar dalam mengalihkan fokus mereka sendiri agar tidak merasa bersalah atas pilihan yang mereka ambil. Itu membuat mereka bisa menjalani hidup tanpa rasa bersalah.

Orang-orang yang melakukan hal ini biasanya sering muncul di kalangan orang-orang yang suka melakukan penundaan. Itulah yang mereka lakukan ketika mereka melakukan penundaan.

Mereka yang suka melakukan penundaan cenderung mencari pembenaran atas penundaan yang mereka lakukan. Setelah itu mereka akan mengalihkan fokus mereka dengan aktivitas lain.

Tujuan dari mengalihkan fokus adalah untuk mendistraksi diri sendiri dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat agar tidak terus menerus merasa bersalah.

Misal saja, kita suka menyibukkan diri kita dengan scrolling sosial media dengan dalih sibuk mencari referensi ketika kita lagi sedang malas untuk memulai sebuah pekerjaan tertentu.

Atau yang sering kita katakan kepada diri kita, yaitu kita butuh memperbaiki mood kita terlebih dahulu sebelum kita memulai pekerjaan berat. Alasannya agar pekerjaan lancar.

Kemudian kita mengalihkan pikiran kita dengan bersikap acuh pada pekerjaan kita. Kita merasa bahwa bagaimana perasaan kita, itu lebih baik daripada menyelesaikan pekerjaan penting.

Kita itu orangnya terlalu khawatir dengan kemampuan yang kita miliki. Kita beranggapan bahwa kita tidak mampu menuntaskan pekerjaan yang sebenarnya ringan, tapi kita lihat berat.

Dengan alasan pekerjaan yang terlalu berat akhirnya kita pun mengarahkan aktivitas kita atau mengganti kesibukan kita pada pekerjaan-pekerjaan yang ringan dan remeh temeh.

Karena memilih aktivitas lain yang lebih ringan, itu lebih mudah bagi kita daripada memilih pekerjaan yang berat. Aktivitas yang lebih ringan juga menyenangkan daripada aktivitas yang berat.

Kita merasa kita bisa menjadi orang sukses. Tapi faktanya kita terlalu banyak alasan untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat yang mana itu bisa membawa kita pada kesuksesan.

Kita merasa tidak pantas untuk memiliki banyak alasan untuk melakukan pekerjaan yang berat meski itu penting. Kita merasa lebih lebih pantas beralasan untuk hal-hal yang merugikan kita.

Ada sebuah kutipan yang bagus untuk kita bagi kita yang suka melakukan penundaan. “Jika ingin sukses, tinggalkan alasan. Jika ingin beralasan, tinggalkan kesuksesan.

Jangan pernah merasa pantas untuk mendapatkan kesuksesan jika masih suka mencari berbagai macam alasan untuk tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kesuksesan kita.

Tidak ada ruang kesuksesan bagi orang yang suka melakukan penundaan. Tidak ada ruang kesuksesan bagi orang yang suka mencari alasan untuk melakukan penundaan.

Tapi sebaliknya, orang yang benar-benar memantaskan dirinya untuk mendapatkan kesuksesannya pasti akan selalu mencari berbagai macam alasan yang kuat untuk terus bergerak maju.

Jika suka mencari alasan, maka mulai dari sekarang cobalah untuk mencari alasan yang bisa membuat kita terus berjalan maju, bukan alasan yang menjadikan kita berjalan mundur.

INSIGHT 3

Mencari Dan Mempelajari Ilmu, Itu Sama Dengan Berjihad.

Entah berapa banyak yang saya baca tentang pentingnya mencari dan mempelajari ilmu dari kitab Ihya Ulumuddin.karya Imam Al-Ghazali. Terlalu banyak yang saya baca.

Termasuk yang saya baca sekarang; pentingnya mempelajari ilmu jika kita benar-benar belajar hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla lebih baik dari segalanya.

Ada satu pengalaman yang dikisahkan oleh Ibnu ‘Abdil Hakam yang kemudian dituliskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Ibnu ‘Abdil Hakam Rahimahullah berkata,

“Aku pernah belajar ilmu agama pada Imam Malik bin ‘Atha’ Rahimahullah. Lalu masuk waktu shalat Zhuhur. Segera aku kemasi dan kumpulkan semua kitab yang tengah kami pelajari untuk bergegas mengerjakan shalat berjama’ah. Imam Malik pun berkata, ‘Wahai Ibu ‘Abdil Hakam, tidaklah yang engkau bangun dan hendak segera mengerjakannya itu (shalat di awal waktu) lebih utama dari apa yang saat ini engkau berada di dalamnya (mempelajari ilmu agama); tentunya apabila niatmu dalam menuntut ilmu agama benar dan semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla.”

Ihya Ulumuddin, hal 23.

Dari pengalaman Ibnu ‘Abdil Hakam Rahimahullah saya dapat insight, bahwa tentu belajar itu lebih baik jika kita benar-benar berniat untuk mengharapkan keridhaan Allah dari aktivitas lain.

Bahkan belajar karena niat mengharapkan keridhaan Allah itu lebih utama dari shalat di awal waktu. Tapi tentu bukan berarti kita boleh menunda waktu shalat kita hanya karena belajar.

Abu Al-Darda’ ra. dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dituliskan bahwa Abu Al-Darda’ ra. mengatakan bahwa mencari ilmu sama dengan berjihad di jalan Allah Swt.

“Siapa saja yang berpendapat bahwa berangkat mencari ilmu bukan bagian dari berjihad di jalan Allah Swt., maka ia adalah orang yang pikiran dan akalnya dangkal.”

Ihya Ulumuddin, hal 23.

Bukankah selama ini kita ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah? Bukankah selama ini kita ingin mati sebagaimana matinya orang-orang yang membela agama Allah Swt?

Maka jika demikian keinginan dan harapan kita, kita bisa mendapatkan kemulian tersebut dengan cara mencari dan mempelajari ilmu (agama) dengan sebaik-baiknya.

Mencari dan mempelajari ilmu dengan niat hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah Swt. bukan karena niat lainnya bahkan karena mengharapkan balasan berupa dunia.

Mungkin mulai hari ini kita bisa memasang dan mematangkan niat kita mencari dan mempelajari ilmu semata-mata hanya karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.

Untuk apa mencari dan mempelajari ilmu dengan niat agar kita terlihat lebih pintar di hadapan orang lain. Tidak ada gunanya dan baiknya kita terlihat pintar di hadapan orang lain.

Untuk apa mencari dan mempelajari ilmu dengan niat agar kita bisa mendapatkan harta yang banyak dari mengadakan kelas. Ilmu terlalu mulia untuk dijadikan alasan mencari kekayaan.

Untuk apa mencari dan mempelajari ilmu dengan niat agar kita bisa terkenal dan orang lain bisa menghormati kita. Sungguh mereka menghormati ilmu bukan kita tempat ilmu itu bernaung.

Cari dan pelajarilah ilmu dengan niat mengharapkan keridhaan Allah Swt. semata. Bukan karena mengharapkan kekayaan dan ketenaran ataupun hal lainnya. Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload