Join Telegram

Daily Insight: Sabtu, 30 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ulama Bersedih Ketiak Tidak Ada Orang Yang Bertanya.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-103. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Hiduplah Sebagaimana Obor Menyala, Bukan Seperti Lilin.

Bagi saya, hidup ini seharusnya berjalan seperti obor, bukan seperti lilin. Ya, sedikit aneh memang ketika saya menganologi sebuah kehidupan seperti obor dan lilin.

Lilin memang membawa kebaikan dengan cahayanya yang menerangi malam. Masih teringat betapa indahnya hidup ketika saya masih kecil yang suka bermain lilin.

Meski demikian, untuk menganalogi sebuah kehidupan yang baik adalah hidup seperti obor. Sedangkan untuk menganologi sebuah kehidupan yang buruk adalah hidup seperti lilin.

Bagi saya hidup yang bermakna adalah hidup yang membawa segala kebaikan ke atas muka bumi. Bukan hanya kebaikan yang bernilai di dunia, tapi bernilai pula tuk akhirat.

Dan untuk bisa membawa kebaikan di atas muka bumi ini, kita tidak bisa memaknai hidup sebagai milik kita sendiri. Hidup kita juga adalah milik orang lain yang berharga dalam hidup kita.

Bahkan hidup kita bukanlah milik kita pribadi, tapi hidup kita adalah milik seluruh komunitas yang ada dimuka bumi. Tinggal kita pilih komunitas mana yang kita ingin hidup di dalamnya.

Apakah itu sebuah komunitas yang baik atau tidak untuk kita dan untuk orang-orang berharga dalam hidup kita. Tapi kalau boleh saran, carilah komunitas mengeratkan dua hubungan.

Yaitu komunitas yang mengeratkan hubungan kita dengan Allah dan komunitas yang mengeratkan hubungan kita antar sesama.

Ketika saya atau kamu mendapatkan komunitas yang dapat mengeratkan hubungan tersebut. Ada baiknya untuk kita hidup dengan sungguh-sungguh di dalamnya.

Karena itulah yang akan menjadi obor kehidupan kita untuk generasi selanjutnya. Amat kecil sebuah kehidupan jika kita maknai sebagai hidup bermanfaat untuk diri sendiri.

Kita bukan hanya hidup bermanfaat diri sendiri, tapi kita juga hidup untuk bermanfaat bagi sesama, entah itu sebagai manusia ataupun sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Tapi bukan pula hidup ini hanya untuk bermanfaat bagi sesama namun tidak bermanfaat bagi diri sendiri. Jika demikian, maka kita hidup seperti lilin. Dan kalian pasti tahu apa maksudnya.

Ya, hidup seperti lilin adalah perumpamaan hidup yang hanya mementingkan kebahagiaan orang dan sibuk untuk membantu orang, namun tidak dapat membantu dirinya sendiri.

Bermanfaat untuk orang lain memang baik, tapi akan jadi tidak baik ketika kita bermanfaat bagi orang lain dan kita tidak dapat mendatangkan manfaat bagi diri kita sendiri.

Lilin dapat memberikan cahaya kepada orang lain di tengah kegelapan malam. Namun lilin tidak dapat membantu dirinya sendiri karena kian waktu dirinya kian menghilang.

Lilin hanya memberi manfaat berupa cahaya yang sementara dan tidak bisa di pindah tangankan kepada orang lain. Dalam makna lain, ia tidak dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Pun ketika lilin itu dipegang, ia seringkali menjatuhkan rasa sakit (cairan lilin) kepada orang yang memegangnya. Kadang ia bermanfaat, tapi kita dipegang ia bisa menyakiti bagi orang lain.

Namun apa yang terjadi pada lilin tidaklah terjadi pada obor. Obor bisa membawa manfaat kepada orang dan diwaktu yang bersamaan dia tidak menyakiti orang ketika dipegang.

Dan itu menjadikan obor dapat dipindah tangankan kepada orang lain, tanpa harus menanggung sakit. Dalam makna lain, hidup seperti obor adalah hidup untuk generasi.selanjutnya.

INSIGHT 2

Kita Sering Salah Dalam Memprediksi Emosi Di Masa Depan.

Hampir setiap hari mungkin kita membuat prediksi terkait dengan masa depan kita. Entah itu dalam hal karir, keluarga, bisnis atau hanya untuk sebuah pekerjaan harian.

Kita ambil contoh sederhana yaitu ketika kita ingin berangkat ke suatu tempat, namun pada saat berangkat ternyata diluar sana hujan lebat, dan disitu kita mulai memprediksi masa depan.

“Waduh, sepertinya kita gak bakalan jadi keluar, nih.” Atau “Kayaknya hujan bakalan lama.” Dan prediksi lainnya.

Namun, setelah kita memprediksi, tidak berselang lama, ternyata hujannya berhenti. Dan ternyata kita sudah salah dalam memprediksi peristiwa yang akan datang.

Kita cenderung akan membuat prediksi tentang peristiwa yang akan datang, kita juga membuat prediksi implisit tentang reaksi emosional kita terhadap peristiwa tersebut.

Misalnya saja, kita membuat diri kita yakin dengan tugas yang akan kita kerjakan nanti ketika sudah dekat dengan deadline mampu membuat kita mengerjakannya dengan semangat.

Atau sebagai alternatif lainya, kita membuat diri kita merasa tidak enak dengan tugas yang dibiarkan dan tidak dikerjakan meski waktu deadline masih jauh.

Dari kedua cara kita mengantisipasi emosi dan perasaan kita di masa yang akan datang, disebut sebagai Affective Forecasting. Dan Affective Forecasting penting untuk mengelola ekspektasi.

Jangan sampai kita membuat hal-hal baik yang seharusnya kita kita lakukan sekarang, namun kita tunda dan mendorong diri kita untuk “merencanakan alternatif yang terburuk.”

Apa itu Affective Forecasting? Affective Forecasting sederhana mengacu pada tindakan kita yang suka memprediksi emosi seseorang atau emosi diri kita sendiri di masa depan.

Dan diantara emosi yang sering kita prediksi, diantaranya:

Valensi (apakah emosi akan menjadi positif atau negatif); Emosi spesifik yang dialami (misalnya, rasa bersalah , kegembiraan); Intensitas emosi; dan Durasi emosi.

Dengan kata lain, ketika kita mencoba memprediksi emosi kita, kita umumnya mempertimbangkan apakah emosi ini akan positif atau negatif.

Emosi spesifik apa yang akan kita rasakan, seberapa kuat kita akan merasakannya, dan berapa lama emosi tersebut akan bertahan.

Namun sayang, apa yang akan kita dapatkan dari apa yang kita prediksi lebih cenderung salah karena bias dalam persepsi dan pengaruh lingkungan terhadap kita.

Inilah sebabnya kita tidak bisa menjalani dan menikmati hidup kita dengan tenang dan bahagia. Kita selalu memprediksi diri kita akan hidup bahagia di masa yang akan datang.

Namun seringkali prediksi tersebut tidak dibarengi dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh. Oleh karenanyalah kita jadi sering mendapatkan nasib yang tidak beruntung.

Kita memprediksi diri kita bisa mengerjakan tugas ketika mood kita sudah bagus. Atau kita sering memprediksi bahwa kita bisa mengerjakan tugas setelah selesai dari scrolling sosial media.

Tapi faktanya, ketika kita menunggu mood kita bagus, mood kita berubah seketika ketika kita berhadapan dengan tugas.

Begitu juga yang ketika kita selesai dari scrolling sosial media. Bukan balik mengerjakan tugas, tapi malah kebablasan.

INSIGHT 3

Ulama Bersedih Ketiak Tidak Ada Orang Yang Bertanya.

Pentingnya mengajar atau membagikan ilmu agama pada orang selain kita, tidak hanya dijelaskan pada Al-Quran dan Hadist saja. Banyak juga ulama yang berpendapat demikian.

Bahkan para ulama dan ahli hikmah akan merasa sedih ketika ia dapati dirinya tak satupun orang yang datang kepadanya untuk menanyakan perihal agama.

Imam Al-Ghazali menuliskan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, bahwasanya ‘Atha’ ra. pada suatu saat pernah menyampaikan,

“Aku berkunjung ke kediaman Sa’id bin al-Musayyab, dan ia aku dapati tengah menangis. Aku pun memberanikan diri bertanya perihal sebab mengapa ia sampai menangis?"

Sa’id pun menjawab, “Aku menangis disebabkan sudah cukup lama tidak ada satu orang pun yang mau bertanya kepadaku mengenai ilmu agama.”

Di akhir zaman yang sekarang ini memang telah banyak orang yang lahir tanpa ketertarikan akan mempelajari ilmu agama. Mereka lebih tertarik untuk belajar ilmu dunia.

Dan ilmu dunia yang dipelajarinya pun tidak ia niatkan untuk agama. Melainkan ilmu dunia tersebut hanya untuk kebaikan dirinya dan kemewahan hidupnya di dunia.

Bahkan ada pula orang yang mengatasnamakan agama hanya untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Mereka sangat berani dan tidak ada ketakutan dengan apa yang mereka perbuat.

Semoga kita terhindar dari perbuatan tersebut, yaitu berani memanfaatkan agama hanya untuk mendapatkan kenikmatan dan merugikan sebagian orang.

Orang yang memanfaatkan agama untuk mendapatkan nikmat dunia adalah orang yang belajar agama namun tidak paham dengan apa yang dipelajarinya.

Biasanya orang yang belajar agama namun tidak mendapatkan pemahaman tentang agama itu sendiri karena mereka belajar tidak meniatkan diri untuk mengharapkan ridha Allah Swt.

Semoga kita senantiasa belajar agama dengan niat hanya untuk mengharapkan ridha Allah Swt. bukan mengharapkan hal lain diluar daripada itu.

Dan mudah-mudahan orang yang memiliki ilmu agama juga senantiasa mengajarkan ilmu kepada orang lain selain dirinya semata-mata karena mengharapkan ridha Allah Swt.

Karena perkataan para sahabat (atsar) yang saya dapatkan dari kitab Ihya Ulumuddin yang memuat perihal keutamaan mengajar adalah apa yang pernah disampaikan ‘Umar ra.,

“Siapa saja yang menceritakan sebuah hadist, lalu orang lain ikut mengamalkannya, maka baginya pahala seperti pahala yang diterima orang yang ikut mengamalkannya itu.”

Bahkan dari kitab Ihya Ulumuddin saya dapatkan bahwa Ibnu ‘Abbas ra dan sebagian ulama juga berpendapat tentang keutamaan mengajar. Ibnu ‘Abbas ra. pernah berkata,

“Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang banyak, niscaya semua makhluk akan memintakan ampunan baginya; bahkan ikan-ikan di lautan pun turut mendo’akannya.”

Betapa indah dan tinggi derajatnya orang yang mengajarkan ilmu agama terhadap sesamanya sehingga ikan di lautan pun turut mendo’akan kebaikan baginya.

Sedangkan sebagian ulama berkata, “Orang berilmu berada di antara Allah Swt. dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia selalu memperhatikan bagaimana ia berada di antara keduanya."

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload