Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 03 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Diam, Dengar, Hafalkan, Amalkan Lalu Sampaikan.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-106. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Belajar Menulis Bisa Dengan Menulis Ulang Karya Orang.

Saya tidak tahu sekarang, apakah masih banyak orang yang ingin menjadi penulis atau tidak. Pertama, menulis itu butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit.

Kedua, menulis itu kadang membosankan. Tapi dari apa yang saya temukan, seperti masih banyak orang yang ingin menulis, meskipun keinginannya itu belum ia ubah menjadi tindakan.

Setidaknya, sudah ada keinginan terlebih dahulu meski belum mulai menulis. Dan bagi seseorang yang ingin belajar menulis ada hal yang bisa kamu lakukan untuk melatih diri.

Hal pertama yang bisa kamu lakukan untuk melatih dirimu menjadi seorang penulis adalah dengan mencari kalimat panjang dan buat kalimat tersebut menjadi pendek.

Kamu bisa mencari kalimat panjang dengan cara membaca buku atau membaca artikel di internet. Atau kamu juga bisa membaca novel lalu ceritakan kembali dalam versi singkat.

Kamu tidak perlu memikirkan kata atau kalimat tambahan yang bisa menjadikan kalimat menjadi lebih indah dari versi aslinya. Tapi kamu hanya perlu mengurangi kata dari kalimatnya.

Jadikanlah kalimat panjang tersebut terlihat simpel dan pendek namun tetap dapat menyampaikan pesan yang terkandung dari versi panjang atau aslinya.

Belajar menulis yang paling mudah dan bermanfaat untuk pemula adalah meniru tulisan orang lain dengan menjadikan tulisan orang lain menjadi lebih singkat, padat dan jelas.

Pertama kita akan mengikuti tulisan para ahli. Setelah itu kita ciptakan keunikan tulisan kita masing-masing.

Untuk bisa menjadi unik dan berbeda yaitu dengan mengetahui keunikan orang lain. Karena dari mengetahui keunikan tiap-tiap orang kita akan tahu cara menjadi berbeda.

Bukankah kita akan menghindari lubang jika kita tahu dimana letak lubang-lubang tersebut. Jadi, untuk bisa unik dan memiliki gaya tersendiri, kita tetap belajar dari orang yang telah sukses.

Setelah belajar mengubah kalimat panjang menjadi kalimat pendek. Selanjutnya kita bisa melatih kemampuan menulis kita dengan cara mengumpulkan ide-ide rumit.

Apa gunanya kita mengumpulkan ide-ide rumit? Gunanya, ya, tentu sebagai bahan kita latihan menulis. Cobalah menulis ide rumit menjadi sederhana.

Carilah ide-ide yang rumit dan membingungkan, lalu coba jelaskan ide-ide tersebut melalui tulisanmu. Mungkin tulisanmu tidak langsung mudah dipahami.

Tapi lambat laun kamu akan memahami bagaimana menuliskan ide rumit dan membingungkan menjadi sesuatu yang mudah dipahami oleh orang lain.

Selalu ingat bahwa tulisan pertamamu akan sulit dipahami, itu adalah draft pertama. Tugasmu menjadikan tulisan itu mudah untuk dipahami, yaitu dengan menulis ulang.

Dan hal lain yang bisa menjadikanmu bisa menjadi seorang penulis, yaitu dengan mengambil konsep yang tidak berkaitan satu sama lain lalu kamu tulis menjadi satu kesatuan.

Konsep-konsep itu adalah kumpulan konsep yang tidak saling berhubungan. Karena itulah, tugasmu menjadikan konsep yang tidak saling terhubung terlihat seperti memiliki keterhubungan.

Itulah hal yang bisa kamu lakukan untuk menjadi seorang penulis. Kadang hal-hal tersebut tidak mudah untuk kamu lakukan. Tapi itu akan memudahkanmu nanti di masa depan.

INSIGHT 2

Pilihan Harus Kita Putuskan Bukan Malah Kita Haruskan.

Seseorang yang menggunakan kata “harus” biasa karena mereka ingin melakukan pembenaran bahwa apa yang mereka kerjakan mau tidak mau harus dikerjakan.

Dengan kata lain kita melakukan pembenaran terhadap perilaku yang kita ambil. Padahal tidak ada pekerjaan dunia yang benar-benar harus di atas muka bumi ini.

Kita selalu mendapatkan pilihan ketika kita disuguhkan sebuah pekerjaan. Dan pilihannya tidaklah banyak, melainkan hanya dua, yaitu: kerjakan atau tinggalkan.

Jika kamu ingin mengerjakannya, silahkan kamu kerjakan sebaik mungkin. Dan jika kamu tidak ingin mengerjakannya, maka tinggal kamu tinggalkan saja.

Tentu setiap pilihan yang kamu pilih memiliki konsekuensinya tersendiri. Dan jika kamu berusaha untuk mengerjakan atau meninggalkannya, kamu akan mendapatkan konsekuensinya.

Konsekuensi yang kamu dapatkan bisa baik dan bisa juga tidak baik. Dan saya rasa kamu pasti tahu mana yang menghasilkan konsekuensi yang baik dan yang tidak.

Tinggalkanlah pekerjaan jika kamu merasa siap dengan segala konsekuensinya dan tuntaskanlah pekerjaan jika kamu merasa ingin mendapatkan konsekuensinya.

Dan gunakanlah bahasa yang tepat untukmu melakukan sesuatu agar kamu tidak terpaksa dan terbebani.

Ingat bahwa setiap pekerjaan bersamanya selalu ada pilihan. Dan menjadi tidak ada pilihan, ketika kamu menggunakan kata “harus” pada pekerjaan tersebut.

Sebutlah bahwa kamu ingin menulis secarik kertas puisi yang sekiranya nanti bisa hadir menjadi karyamu. Tapi dilain sisi kamu ingin pergi keluar menghabiskan waktu dengan teman.

Maka jangan katakan bahwa, “Saya harus menulis puisi agar saya memiliki karya.” Karena kamu tidak perlu mengharsukan dirimu menulis puisi untuk menghasilkan karya.

Apalagi kamu katakan bahwa dirimu tidak akan menghasilkan karya apapun kalau kamu tidak menulis. Kamu cukup pikirkan apa konsekuensi yang akan kamu dapatkan.

Bila kamu merasa pergi berjalan dengan teman tidak menghilangkan waktumu untuk menulis karena kamu bisa mendapatkan inspirasi dari jalan-jalan, maka lakukan.

Tapi jika sekiranya keluar bersama teman menjadikanmu tidak bisa menulis apa-apa atau mendapatkan inspirasi apa-apa. Saya rasa kamu tahu apa yang akan menjadi konsekuensi.

Jadi selalu bandingkan konsekuensi antara dua pekerjaan. Lalu pilih, sekirannya konsekuensi mana yang lebih menguntungkan dirimu atau paling tidak yang paling sedikit merugikanmu.

Jika diantara dua hal yang kamu pilih sama-sama merugikan, maka tinggalkan yang memiliki resiko yang lebih besar jika kamu tetap mengerjakannya.

Jadi kamu tidak lagi menggunakan kata “harus” untuk mengambil sebuah keputusan, melainkan kamu menggunakan kata “memilih” untuk mengambil sebuah keputusan.

Pergi jalan-jalan bersama teman-teman memang menyenangkan. Tapi saya “memilih” diam dirumah dengan pena dan kertas untuk menyelesaikan puisi saya tulis.

Sebuah pilihan menjadikan kita berpikir untuk memilih mana yang lebih baik untuk dikerjakan, bukan malah membuat diri kita jadi tidak berpikir dan mengharuskan kita mengerjakannya.

INSIGHT 3

Diam, Dengar, Hafalkan, Amalkan Lalu Sampaikan.

Dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Rahimahullah, saya membaca bahwa ada beberapa level dalam mempelajari ilmu.

“Permulaan ilmu itu diawali dengan (mempersiapkan) diri.” Segala sesuatu memang haruslah dipersiapkan terlebih dahulu. Percuma ada ilmu, tapi kita belum siap untuk menerima ilmu.

Ibarat kita adalah sebuah wadah yang masih memiliki lubang dan ilmu seperti air yang menempati sebuah wadah. Tidak akan bertahan lama ilmu tersebut jika wadahnya berlubang.

Maka mempersiapkan diri adalah satu langkah yang kita lakukan untuk menutupi lubah yang ada di hati dan pikiran kita. Lubang-lubang tersebut tidak boleh ada dalam hati-pikiran kita.

Seperti, misalnya, menganggap sepele ilmu yang kita pelajari atau berpikiran buruk terhadap guru yang mengajarkan ilmu kepada kita. Lubang-lubang seperti itu harus kita hindari.

Tidak hanya lubang, tapi juga mengenai seberapa besar wadah yang perlu kita persiapkan juga penting. Jangan sampai yang kita pelajari lebih banyak dari volume wadah yang kita siapkan.

Jika wadah yang kita siapkan terlalu kecil, maka ilmu yang akan kita pelajar jadi sia-sia karena tumpah.

Jadi di tahap pertama ini, yang perlu kita perhatikan tidak hanya ketersedian ilmu yang akan pelajari termasuk guru yang akan mengajari kita. Tapi juga kita harus mempersiapkan diri.

Setelah kita mempersiapkan diri, maka selanjutnya kita datang kepada majelis ilmu untuk mendengarkan apa yang akan para guru sampaikan untuk mentransfer ilmu-ilmu mereka.

Dan dari apa yang mereka para guru katakan haruslah kita dengar. Jangan sampai kita datang ke majelis ilmu hanya datang membawa badan tapi tidak membawa telinga.

Kalau kita beralasan ngantuk untuk membenarkan tindakan kita dari tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru kita. Ketahuilah, sesungguhnya kita belum mempersiapkan diri.

Itulah pentingnya mempersiapkan diri di awal tadi. Tujuannya agar kita bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru kita dengan saksama.

Setelah dari mendengar, selanjutnya adalah mengingatnya. Tidakkah kita keluar dari majelis ilmu kecuali dalam keadaan mendapatkan sesuatu (mengingat apa yang kita dengar).

Kita perlu mengingat apa yang telah kita dengar karena setelah kita keluar dari majelis ilmu ada sesuatu yang harus kita lakukan, yaitu mengerjakan ilmu yang kita dapat.

Ilmu tidak akan menjadi sangat berharga dan tidak akan pernah terlihat rupanya sampai ilmu yang kita pelajari itu kita kerjakan dan kita amalkan.

Sangat rugi bagi seseorang yang mendapatkan ilmu namun tidak ia amalkan. Itu sama seperti kita mendapatkan uang namun tidak kita membelanjakan untuk keperluan.

Tidak akan datang manfaat dari uang kepada kita sampai kita menggunakan uang yang kita miliki. Jadi, manfaat dari sesuatu bisa datang ketika kita mengamalkannya.

Setelah dari mengamalkannya, maka kita tiba pada level terakhir, yaitu menyampaikannya kepada orang lain. Kita hanya mendapatkan amal soleh ketika kita mengerjakannya.

Maka untuk bisa mendapatkan amal soleh meski kita tidak sedang mengerjakannya adalah dengan mensyi’arkan ilmu yang pernah kita pelajari kepada orang lain.

Wallahu A’lam Bishawab.



Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload