Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 12 Jumadil Awal 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Ilmu Hanya Bisa Didapat Dengan Tekad Yang Kuat.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-85. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Cari Yang Bisa Kita Syukuri Bukan Yang Kita Sukai.

Aku memang tidak selalu mendapatkan apa yang aku sukai, karena itu aku selalu mensyukuri apa pun yang aku dapatkan. Karena itu lebih baik dari mendapatkan apa yang aku sukai.

Ini adalah prinsip yang bisa kamu gunakan ketika kamu lagi tidak mendapatkan apa yang kamu sukai atau apa yang kamu inginkan. Peganglah prinsip itu sebaik mungkin dalam hidupmu.

Karena apa yang kita dapatkan adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Kita berusaha bukan karena kita bisa mendapatkan apa yang kita sukai dan kita inginkan.

Namun kita berusaha adalah cara kita untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya hasi menurut kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena hasil bukan berasal dari kita.

Kufur kepada nikmat yang kita dapatkan tidak akan pernah mendatangkan kebaikan apapun dalam hidup kita. Tapi syukur, sudah pasti mendatangkan kebaikan dalam hidup kita.

Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Bersyukur menjadikan nikmat yang kita dapatkan bertambah. Bisa jadi yang tadinya kita tidak suka, kita jadi suka ketika kita sudah mensyukuri nikmat apa yang telah kita dapatkan.

Tapi ketika kita mengingkari nikmat yang telah kita dapatkan, maka tidak ada kebaikan yang akan datang kepada diri kita selain dari keburukan; rasa tidak suka akan semakin besar.

Dan ketahuilah, bahwasanya orang yang mengingkari nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka pasi azab Allah sangat berat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang mengingkari.

Ketika kita mengingkari nikmat Allah, jadilah kita manusia yang paling merugi di muka bumi dan merugi di akhirat kelak. Sudah kita mendapat yang tidak kita sukai, ditambal lagi dengan azab.

Maka sebenarnya yang menjadikan kita memiliki rasa suka dan cinta terhadap nikmat yang kita dapatkan meski itu bukanlah hasil yang kita inginkan adalah rasa syukur yang amat besar.

Daripada kita melihat hasil yang kita dapatkan dari sisi yang negatif (yang tidak kita sukai). Akan lebih baik jika kita melihat hasil tersebut dari sisi yang positif (manfaat baik untuk diri kita).

Jangan mendahulukan keinginan di atas kebermanfaatan. Jika kita mendahulukan keinginan (nafsu), maka kita akan sulit bisa menerima hasil yang telah kita dapatkan.

Melainkan ketika kita melihat hasil yang kita dapatkan walau itu bukan yang kita inginkan dari sisi manfaatnya. Maka kita akan sangat mudah untuk bisa mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Manfaat adalah sesuatu yang kita butuhkan. Dan seringkali apa yang kita butuhkan tidak kita jadikan keinginan kita. Melainkan kita sibuk memikirkan hal-hal yang bisa memuaskan nafsu kita.

Kebutuhan kita terpenuhi, maka hidup kita merasa aman. Tapi kalau keinginan kita terpenuhi, belum tentu kita akan merasa aman. Karena yang diinginkan belum tentu yang dibutuhkan.

Sebaliknya, apa yang kita butuhkan maka sesungguhnya itu yang diinginkan oleh hati dan jiwa kita untuk bisa merasakan ketenangan, kebahagian dan ketentraman dalam hidup.

INSIGHT 2

Apa Yang Kita Pikirkan Itulah Yang Akan Kita Rasakan.

Ada hal yang sering kita lakukan namun tidak jarang kita sadari dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan mungkin ini adalah satu hal yang paling dominan kita lakukan dalam sehari.

Hal tersebut adalah self-talk. Ya, kita ternyata sering melakukan self-talk. Karena sebenarnya self-talk merupakan cara kita bisa menafsirkan sesuatu agar kita mudah untuk memahaminya.

Sebagai contoh orang yang paling sering melakukan self-talk adalah mereka yang dalam hidupnya selalu berkaitan dengan hal-hal yang membutuhkan pemikiran yang mendalam.

Orang yang senang menulis pasti paham bagaimana seringnya mereka melakukan self-talk. Karena bagi seorang penulis untuk bisa mendapat ide caranya adalah dengan melakukan self-talk.

Dan kita juga memiliki kecenderungan melakukan self-talk saat kita melihat sesuatu yang aneh atau yang tak lazim atau yang jarang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sebagai contoh sederhananya saja ketika kita berada di kelas. Lalu sudah beberapa jam berlalu, tapi guru belum juga datang. Kita pasti akan kepikiran tentang guru kita yang belum masuk.

Atau seorang ibu yang merasa khawatir anaknya belum juga pulang meski sudah larut malam. Khawatir yang muncul dari seorang ibu adalah hasil dari self-talk.

“Kenapa anak ku jam segini belum juga balik, ya? Apakah ada yang terjadi sesuatu di jalan atau tidak? Apakah anakku di luar sana baik-baik saja? Apakah ia tidak kenapa-kenapa?”

Itu adalah salah satu contoh self-talk dari sekian banyak yang kita lakukan. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Seperti kata-kata orang yang ketika menggambarkan sesuatu memiliki dua sisi yang berbeda. Mereka selalu menggunakan perumpamaan pisau, “Seperti pisau bermata dua.”

Maka sama juga halnya dengan self-talk yang kita lakukan. Dia bisa bermakna positif; membawa hal-hal yang positif. Atau dia juga bisa bermakna negatif; membawa hal-hal yang negatif.

Ada self-talk yang memperdayakan kita. Ada juga self-talk yang memberdayakan kita. Ada self-talk yang menguntungkan diri kita dan ada juga yang merugikan diri kita; tergantung kita.

Bagaimana cara kita menggunakan self-talk dalam hidup kita akan sangat mempengaruhi hasil yang akan kita dapatkan. Dan dampaknya yang akan kita terima sesuai dengan hasilnya.

Jika kita menggunakan self-talk untuk menguatkan diri kita atau membuat kita yakin akan apa yang kita lakukan akan berhasil. Maka itu akan memberikan pengaruh positif pada tindakan kita.

Meski sulit hal yang akan kita lakukan, kita akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang sudah kita cita-citakan atau yang sudah kita impi-impikan sejak lama. Semangat akan selalu ada.

Sebaliknya jika yang akan kita lakukan kita menganggapnya sebagai sesuatu yang sulit meski fakta dan kebenarannya itu adalah sesuatu yang mudah, maka kita akan kesulitan.

Karena ketika kita melakukan self-talk dengan mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa apa yang akan kita lakukan itu adalah sulit. Maka kita sudah memproyeksikan kesulitan.

Dan ketika kita memproyeksikan kesulitan dalam pikiran kita, maka kita tidak akan lagi bisa melihat kemudahan. Yang bisa kita lihat hanya kesulitan yang sudah kita proyeksikan.

Maka untuk mendapatkan dampak positif dari self-talk, yaitu dengan cara mengontrol apa saja yang kita pikirkan dengan selalu memikirkan hal-hal yang positif. Berhusnudzonlah!

INSIGHT 3

Ilmu Hanya Bisa Didapat Dengan Tekad Yang Kuat.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dituliskan, Al-Zuhri Rahimahullah berkata, “Ilmu itu pejantan, dan tidak mencintainya selain oleh laki-laki yang bersikap jantan pula.”

Saya memaknai bahwa apa yang dimaksud dari Al-Zuhri Rahimahullah adalah tekad. Bagi seseorang yang berharap ilmu itu bersarang pada dirinya, maka ia harus memiliki tekad.

Orang yang bertekad, maka ia akan bersungguh-sungguh meski banyak halangan dan rintangan yang akan ia hadapi. Karena begitulah jiwa seseorang yang pantas menerima ilmu.

Bagi orang-orang yang tidak bertekad dengan kuat untuk mendapatkan ilmu, maka dia tidak akan pernah mendapatkan ilmu tersebut. Ilmu hanya datang pada orang yang layak saja.

Dan orang yang layak untuk menerima ilmu dan bisa menjadi pemilik dari suatu ilmu adalah orang yang memiliki tekad yang kuat yang tidak pernah menyerah dengan keadaan.

Jika dia melihat satu jalan yang tidak berhasil, maka ia akan mencari jalan lain yang bisa mengantarkannya kepada tujuan yang ingin dia tuju. Dia tidak akan pasrah dengan keadaan.

Mendapatkan sebuah ilmu sekarang cukup sulit. Karena kebanyakan ketika kita ingin mempelajari suatu ilmu; pasti kita harus membayar beberapa harga untuk bisa mendapatkannya.

Bagi orang-orang yang memiliki uang, maka akan sangat mudah baginya untuk mengakses berbagai ilmu. Bagi mereka yang terbatas dengan finansial, hanya bisa menelan ludah.

Beruntunglah orang yang terus mencari ilmu meski ia dihalangi oleh finansial. Usahanya tidak akan pernah sia-sia.

Ilmu hanya datang pada orang yang memiliki semangat juang yang tinggi. Karena ilmu menghargai setiap usaha bagi mereka yang selalu berusaha untuk mendapatkan kebaikan dari ilmu.

Akan banyak kita temukan orang yang beruang tapi tidak punya ilmu. Bukan karena mereka tidak mampu membayar sejumlah uang. Tapi karena mereka tidak memiliki semangat belajar.

Sama seperti seseorang yang mampu membeli banyak makan yang enak. Tapi tubuhnya dalam keadaan sakit. Maka tidak ada semangat bagi dirinya untuk bisa memakan makanan tersebut.

Orang yang memiliki banyak uang bisa saja mengakses banyak ilmu dan belajar dari berbagai guru yang profesional. Tapi kalau dalam dirinya ada penyakit, maka ia tidak akan mendapat ilmu.

Diantara penyakit orang yang belajar adalah rasa malas dan tidak memiliki semangat untuk belajar agar bisa memahami apa yang sedang ia pelajari. Ini adalah penyakit yang berbahaya.

Karena percuma kita punya buku banyak, tapi tidak pernah kita baca sama sekali. Kita selalu membeli buku baru, tapi sayang buku yang kita beli hanya sebagai hiasan ruangan kamar saja.

Maka dari itulah, orang yang bisa mendapatkan ilmu adalah orang yang memiliki tekad; orang yang memiliki semangat buat terus belajar dan memahami apa yang sedang ia pelajari.

Saya yakin di zaman yang serba internet yang sangat mudah untuk mengakses informasi, diantara kita ada yang tidak bisa mendapatkan manfaat dari internet tersebut.

Alasannya karena kita tidak mau (tidak memiliki tekad) untuk belajar dari internet. Kita hanya scrolling media sosial yang ada di smartphone kita tanpa kita mengambil pelajaran apapun.

Berbahagia bagi orang-orang yang berilmu. Karena mereka adalah orang-orang yang mampu; mampu menumbuhkan semangat untuk maju. Wallahu A’lam Bishawab…


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload