Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 15 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Mengelola Emosi Jauh Lebih Penting Dari Mengatur Waktu.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-118. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Perlu Memiliki Sistem Yang Memadai Untuk Mencapai Goals.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa setiap manusia pasti memiliki keinginan. Apalagi di setiap awal tahun pasti mereka menggaungkan keinginan yang ingin dicapainya.

Dari situlah banyak kemudian orang-orang membuat goals yang ingin dicapai di tahun tersebut.

Tapi mari kita flashback dengan apa yang terjadi dengan goals kita di tahun lalu. Apakah semua goals yang sudah kita buat itu sudah berhasil kita dapatkan?

Atau adakah hal lain yang kita dapatkan dari goals yang kita buat? Bisa itu berupa hal baru yang tidak kita duga sebelumnya atau pelajaran penting yang membuat kita semakin bertumbuh?

Kalau kita tidak mendapatkan apapun dari goals yang sudah kita buat. Pertanyaannya, kenapa bisa kita tidak mendapatkan apapun dari goals yang telah kita buat tersebut?

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah kita benar-benar peduli dengan semua goals yang kita buat? Ataukah kita hanya iseng mengikuti orang lain yang sibuk membuat goals?

Apa yang menjadikan goals yang seharusnya didalamnya kita mendapatkan sesuatu, tapi pada akhirnya kita tidak mendapat apapun dari apa yang sudah kita buat?

Jika kita tidak mendapatkan apapun di tahun lalu, maka itu merupakan sebuah pertanda bahwa kita tidak benar-benar peduli dengan apa yang ingin kita capai.

Goals hanyalah sebuah trend awal tahun sama seperti ajakan bukber di setiap awal puasa. Mereka ada; mereka kita rencanakan, tapi tidak benar-benar kita jalankan.

Jika kita benar-benar peduli dengan apa yang kita inginkan; dengan apa yang kita harapkan dan tujuan yang ingin kita tuju, maka kita harus fokus pada sistemnya.

Sistem adalah tempat dimana semua rencana, gairah kita untuk mencapai goals beserta tindakannya berada disana. Apakah kita sudah fokus dengan sistem kita?

Apakah kita sudah fokus dengan apa saja yang harus kita lakukan jika goals kita gagal ataupun berhasil? Apakah ada rencana lain yang dapat kita gunakan jika kita gagal?

Bagaimana cara kita kerja menunjukan kualitas sistem yang ada pada diri kita terhadap semua yang ingin kita capai. Jika kita bekerja dengan baik maka sistemnya akan mengikuti.

Tidak cukup dengan memiliki sebuah program yang bagus pada sebuah perangkat lunak jika perangkat itu sendiri tidak memiliki sistem yang baik dan memadai.

Anggaplah kamu ingin menginstal aplikasi blender, sebuah program yang dapat membantu kamu membuat desain 3D model di komputermu.

Akan tetapi, sistem komputermu tidak memadai atau tidak memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh program tersebut. Apakah program tersebut dapat berjalan baik di perangkatmu?

Saya rasa tidak. Dan jika programnya tidak bisa berjalan dengan baik, maka keinginanmu untuk membuat desain 3D models tidak akan pernah tercapai.

Begitu juga dengan goals yang ingin kita capai. Jika kita tidak memiliki sistem yang memadai untuk sebuah goals yang ingin kita capai, maka goals tersebut tidak akan pernah tercapai.

Cara agar sistem kita terus meningkat adalah dengan terus belajar hal baru dan membekali diri dengan keterampilan baru. Maka dengan itu, kita akan memiliki sistem yang baik.

INSIGHT 2

Mengelola Emosi Jauh Lebih Penting Dari Mengatur Waktu.

Hal baru yang saya dapat dari membaca buku Kitab Anti Penundaan karya Coach Darmawan Aji adalah,

“Penundaan bukanlah tentang manajemen waktu, melainkan manajemen emosi. Kita menunda pekerjaan yang membuat kita tidak merasa nyaman.”

Jadi, belajar manajemen waktu bukan berarti kita akan bisa melakukan sebuah pekerjaan atau tugas dengan tepat sesuai dengan waktu yang sudah kita tetapkan.

Manajemen waktu itu seperti manajemen proyek atau seperti sebuah jadwal yang sering kita jumpai di sekolah ataupun saat kita duduk di bangku perkuliahan.

Kita memang sudah menetapkan waktu untuk semua tugas yang akan kita kerjakan. Tapi itu bukan sebuah jaminan ketika datang waktunya kita akan mengerjakannya.

Kita sudah merencanakan sebuah tugas yang akan kita kerjakan pada jam 1 siang, misalnya. Tapi siapa yang tahu kalau kita bisa mengerjakannya tepat jam 1 siang.

Bagaimana kalau tiba-tiba sebelum jam 1 siang kita diputus oleh pacar kita? Apakah kita masih mau mengerjakan tugas yang sudah kita rencanakan? Mikir-mikir dulu kan, haha…

Tapi untuk seseorang yang pernah belajar bagaimana cara memanajemen emosinya, meski banyak hal yang berusaha mengganggunya, dia tetap bisa melakukan pekerjaannya.

Sedangkan orang yang mudah terbawa perasaan ketika dia diputus oleh pacarnya, maka hidupnya akan galau sepanjang hari yang pada akhirnya tugas tidak jadi ia kerjakan.

Jadi, saya setuju jika penundaan bukanlah tentang bagaimana seseorang dapat mengatur waktu dengan tepat. Tapi lebih ke bagaimana seseorang dapat mengatur emosinya dengan baik.

Perhatikanlah diri kita atau seseorang yang pernah mengalami emosi yang bisa dikatakan itu adalah emosi yang negatif atau emosi buruk. Apa kira-kira yang akan dilakukannya?

Dalam kondisi seperti itu, orang lebih cenderung akan berdiam diri dan menjauh dari segala aktivitas. Tidak ada keinginannya untuk melakukan aktivitas lain selain dari berdiam diri.

Oke, jika itu adalah emosi negatif yang dapat membuat orang menunda pekerjaan lain. Bagaimana dengan emosi positif yang ada. Apakah itu bisa membuat orang menunda pekerjaan juga?

Jawabannya, iya! Bukankah kita cenderung melupakan tugas atau pekerjaan kita ketika kita terlalu senang melakukan suatu hal yang itu membuat kita kecanduan seperti bermain game?

Atau yang paling sering dialami oleh orang sekarang yaitu bermain sosial media berjam-jam tanpa mendapatkan sesuatu yang baik selain dari kesenangan menonton video pargoy?

Jika emosi (baca: keinginan) kita lebih kuat untuk melakukan hal lain selain dari pekerjaan yang sudah kita tetapkan. Itu akan membuat kita menunda pekerjaan kita.

Tapi kalau kita bisa menahan diri dengan memanajemen emosi dengan baik, kita tidak akan mudah terganggu oleh hal-hal lain yang dapat menjauhkan kita dari tugas kita yang sebenarnya.

Boleh-boleh saja kita mengatur semua tugas kita dengan sangat baik dan rapi. Bahkan sebagian orang mendekornya agar terlihat menarik. Itu bukan sebuah masalah.

Masalah sesungguhnya ada pada emosi. Ketika waktu sudah datang untuk mengerjakan tugas. Apakah kita lebih tertarik melakukan hal lain, atau tugas yang sudah kita jadwalkan.

INSIGHT 3

Kemuliaan Mengajarkan Ilmu Sesudah Kemuliaan Para Nabi.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berpendapat bahwa yang paling mulia setelah para Nabi ialah orang-orang yang menyebar dan mengajarkan ilmu.

Karena menyebar dan mengajarkan ilmu kepada orang lain dapat membantu orang tersebut terhindar dari akhlak tercela dan mendekat kepada perbuatan yang terpuji.

Tentu ilmu yang disebar dan ilmu yang diajarkan haruslah ilmu yang membawa kebahagiaan sejati, yaitu kebahagian yang ada pada alam akhirat yang kelak kita semua kekal di dalamnya.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah berkata, “Kegiatan mengajar dan belajar lebih utama daripada kegiatan-kegiatan maupun usaha-usaha lainnya."

Dan diantara ilmu yang baik menurut Imam Al-Ghazali Rahimahullah untuk diajarkan kepada orang lain dan dipelajari oleh orang adalah ilmu yang sudah jelas kebenarannya.

Yaitu, ilmu agama (Islam) yang menuntun kepada kebahagiaan hidup di alam akhirat. Ilmu yang demikian dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebijakan berpikir.

Karena memiliki akal menurut Imam Al-Ghazali Rahimahullah, "manusia menerima amanah dari Allah Swt. sebagai khalifah-Nya di muka bumi dan sampai ke hadirat Allah Swt."

Ilmu agama (Islam) adalah ilmu yang harus diajarkan dan dipelajari dengan kesempurnaan akal dan kebijakan seseorang dalam berpikir.

Tanpa hal tersebut, maka hilanglah sebagian nilainya. Tanpa akal seseorang tidak akan mendapatkan kesempurnaan ilmu.

Ilmu dinilai dari segi kemanfaatannya bagi manusia pada umumnya. Sebab, tidak mungkin disangkal lagi bahwa ilmu menuntun manusia untuk mencapai kebahagian.

Entah kebahagian yang ingin diraih adalah kebahagian yang bersifat sementara didunia dan yang bersifat selamanya, ilmu dapat mencapai kedua hal tersebut.

Kemulian para ulama yang mengajarkan ilmu yang dititipkan Allah Swt. kepadanya senantiasa menyempurnakan, menyucikan, dan membimbing jiwa manusia.

Dan dari ketiga manfaat yang diperoleh dari mengajarkan ilmu dan mempelajari ilmu (agama) semua kembali kepada Allah Swt. dan mendekatkan diri seseorang kepada-Nya.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah, berkata “Mengajarkan ilmu adalah amal ibadah yang paling utama. Allah Ta’ala membuka sanubari orang berilmu dengan pengetahuan-Nya.”

Dan beliau juga mengatakan bahwa berilmu adalah sifat-sifat hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang mulia. Apa yang menjadikan seseorang lebih mulia daripada mengajari sebuah ilmu?

Karena mengajarkan ilmu (Islam) seseorang telah menjadi perantara antara Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya, untuk mendekatkan diri hanya kepada-Nya.

Semoga Allah SWT. menjadikan kita semua bagian dari mereka yang mendapat keridhaan-Nya berupa kenikmatan yang kekal lagi mulia di sisi-Nya di akhirat kelak. Aamiin Ya Allah.

Dan tak lupa, shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada hamba-Nya yang paling mulia, baginda Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarga, para sahabat, dan umatnya.

Mudah-mudahan kita semua juga bisa menjadi penyambung lisan Rasulullah ﷺ dan begitu pula dengan para keturunan kita kelak sesudah kita, Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload