Join Telegram

Daily Insight: Ahad, 29 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Dan Kerja Ikhlas.

Daily Insight adalah blog yang aku tulis setiap hari. Tujuan dari blog ini adalah membiasakan diriku menulis (minimal 1000 kata) setiap hari sekaligus menjadi terapi bagi kesehatan mentalku.

Daily Insightadalah segalainsightyang aku temukan dari berbagai macam platform yang ada di internet. Dengan kata lain, ini adalah history sosial media yang aku dokumentasikan melalu tulisan (blog).

Selain merupakan history sosial mediaku, aku juga mencatat apa saja yang terlintas dalam benakku yang menurutku menarik untuk aku share.Singkatnya, ini adalah curhatan sebuah pena pada kertas.

Aku tahu, apa yang aku tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah". Tapi aku yakin, suatu hari nanti, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-132. Selamat membaca!


INSIGHT 1

Kelak Kita Akan Bersama Orang Yang Kita Cintai.

Bismillah… Alhamdulillah hari ini dapat insight yang berharga dari sepenggal video yang membahas tentang cinta. Insight ini saya dapatkan dari akun instagram @faihahcorner

Dalam postingannya, tidak disebutkan siapa nama Syaikh yang menyampaikan kebaikan ini. Tapi saya berdoa, semoga Syaik tersebut mendapatkan rahmat Allah yang melimpah, Aamiin…

Dalam video tersebut, dibahas tentang cinta, yaitu apakah kita boleh berlebihan dalam mencintai suatu makhluk atau hal-hal yang berkaitan dengan dunia?

Kata Syaikh dalam video tersebut,

“Mencintai memanglah manis. Namun, terlalu mencintai adalah sebuah siksaan.

Mencintai adalah kehidupan yang baru dan terus diperbarui. Namun, terlalu mencintai adalah kematian yang terus berulang.

Karena sebenarnya terlalu mencintai merupakan suatu penyakit.

Ibnu ‘Abbas bertanya ketika melihat seseorang yang terlalu mencintai, “Apa yang sedang terjadi padanya?”

Mereka menjawab, “Dia sangat mencintai seseorang.”

Padahal di hari Arafah, terus menerus mengulangi. Beliau tidak berkata apapun kecuali, “Aku berlindung kepada Allah dari ganasnya cinta yang berlebihan.”

Terlalu mencintai merupakan kecacatan bagi suatu hubungan. Lalu, apa sebenarnya terlalu mencintai itu? Apa indikasi bahwa aku terlalu mencintai seseorang?

Antara “Aku rela berkorban agar aku mencintaimu” dan “Agar kamu mencintaiku” terdapat perbedaan.

Ada tiga tanda jika hal itu berada pada suatu hubungan. Maka berarti hubunganmu bermasalah.

  1. Selalu memikirkannya ketika tidak bersamanya.
  2. Mendadak fokus memikirkannya ketika bersamanya.
  3. Menguasainya, mengalahkan siapapun.

Ketika tiga hal ini terjadi, maka kamu bermasalah.”

Disini saya mendapatkan insight yang sangat luar biasa tentang bahayanya “Terlalu Mencintai” seseorang atau sesuatu yang melekat dengan dunia.

Perlu digaris bawahi bahwa “Terlalu Mencintai” disini adalah cinta kepada sesama makhluk yang mana itu tidak meningkatkan iman yang ada dalam hati kita.

Sebagai contoh, terlalu mencintai golongan tertentu seperti grup band atau penyanyi, pemeran film, orang-orang tertentu yang mana tidak ada kemulian yang bisa kita dapatkan.

Rasulullah Saw. adalah makhluk. Tapi mencintainya menjadikan kita mendapatkan kemulian dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ibu adalah makhluk. Tapi mencintainya menjadikan kita mendapat ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk berbakti padanya.

Ahli Ilmu adalah makhluk. Tapi mencintainya menjadikan kita kelak bisa masuk surga hanya karena cinta kepada Ahli Ilmu dan bahkan ketika kita tidak punya cinta padanya.

Maka, selama kita punya teman yang mencintai Ahli Ilmu, kita juga akan terselamatkan dari api neraka dan dimasukkan kepada tempat yang mulia, yaitu surga.

Bijaklah dalam meletakkan cinta. Karena sekalinya kita meletakkan cinta kita, maka selamanya cinta tersebut akan bersamanya, dan hanya Allah Swt. yang bisa melepaskannya.

Bagi yang dikehendaki Allah Swt., maka ia akan mampu melepas cintanya terhadap sesuatu yang tidak membawa kemulian dari sisi Tuhannya.

Tapi, bagi mereka yang dikehendaki Allah Swt bersama dengan apa yang telah dicintainya di dunia. Maka Allah Swt jadikan dia dan yang dicintainya melekat serekat-rekatnya.

Dan kelak, dia akan dibangkitkan bersama orang-orang yang dulu dia cintai didunia dan bersama di yaumil akhir.

Ada sebuah hadist Saw. tentang seseorang kelak akan bersama orang yang dicintainya. Saya mencarinya di Google dan saya menemukan artikel yang berkaitan.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu,

dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’

Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’"

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan,

“Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’"

Anas Radhiyallahu anhu lanjut mengatakan, 

"Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan"

Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan :

فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرْحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Sejak memeluk Islam, kami tidak pernah merasakan kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang kami rasakan karena mendengar sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan kita untuk mencintai orang-orang yang dimuliakan-Nya sehingga kita dapat bersamanya di Yaumil Akhir.

Saya Cinta Rabbku, Saya Cinta Nabiku Dan Para Sahabat, Saya Cinta Para Ulama Allah, Dan Saya Cinta Kepada Mereka Yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

INSIGHT 2

Cara Allah Mengabulkan Doa Seorang Hamba.

Di insight yang kedua ini, Alhamdulillah sayai dapat insight yang berharga dari sepenggal kajian Ustadz Adi Hidayat Rahimahullah yang diposting oleh @genome_id

Di insight kedua ini, saya mendapatkan insight tentang bagaimana cara Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas harapan setiap hamba yang memohon kepada-Nya.

Setidaknya ada tiga cara Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika merespon harapan seorang hamba:

Pertama, memberi langsung apa yang kita minta. Yang kedua menunda permintaan kita sampai kita sendiri siap menerima apa yang kita pinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan yang ketiga, mengganti apa yang kita inginkan dengan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita butuhkan lebih utama untuk kebaikan kita daripada apa yang kita inginkan.

Dari sini kita belajar bahwa Allah selalu memiliki cara untuk membalas doa seorang hamba. Dan tidak ada dari doa-doa hamba-Nya yang Ia abaikan.

Maka apa yang bisa menjadikan kita jauh dari meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika Allah benar-benar akan mengabulkan doa bagi mereka yang meminta kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.""

(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Dari sebuah situs, saya mendapatkan sebuah fadilah hadist yang menurut saya akan sangat bermanfaat bagi saya dan Sohib Insight sekalian. Fadilah hadist tersebut berbunyi:

  1. Doa seorang muslim itu terkabul (tidak tertolak) asalkan memenuhi syarat dan adab. Oleh karenanya, seseorang tidak sepantasnya tergesa-gesa dalam berdoa.
  2. Doa seorang muslim dikabulkan dalam tiga cara: (1) dikabulkan, (2) ditunda dan diselamatkan dari bala sesuai dengan kadarnya, (3) disimpan untuk hari kiamat, jadi pahala untuknya.
  3. Yang dimiliki Allah itu tidak akan berkurang ketika doa hamba itu dipenuhi, walau begitu banyak doanya.
  4. Dianjurkan serius (mengharap-harap) dalam berdoa karena lebih menampakkan ketundukan dan menunjukkan kelemahan manusia di hadapan Allah.
  5. Boleh meminta dengan doa dalam jumlah banyak karena Allah tidak ada yang bisa membuat Allah menjadi besar. Jika seseorang menyangka dia sudah meminta banyak, maka Allah dapat mengabulkan yang banyak yang ia minta.

Untuk hadist yang dimaksud, bisa kamu baca secara lengkap dengan cara mengklik link ini.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada Ustadz Adi Hidayat dan kepada siapapun dia yang dengan senantiasa membagikan kajiannya. Aamiin…

INSIGHT 3

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Dan Kerja Ikhlas.

Di insight yang ketiga ini, saya mendapatkannya dari salah satu akun instagram dengan username @nc_susanto

Ini adalah insight yang didalamnya saya mendapatkan sebuah kutipan yang menarik dari seorang artis yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, yaitu Reza Rahadian.

Kata-katanya sangat menarik menurutku. Perhatikan,

“Kerja keras akan membuat orang bertahan pada kerjaannya. Kerja cerdas, membuat seseorang memiliki impact pada pekerjaannya.”

Dari kerja keras dan kerja cerdas, kata Reza Rahadian ada yang lebih ultimate, yaitu kerja ikhlas.

“Ketika kita bekerja keras dengan mengupayakan kecerdasan di dalamnya. At the end of the day, you have to leave it to a bigger power. Which is, ikhlaskan semuanya.”

“And that's probably the hardest.” Sambung Reza.

Memang yang dapat membuat kita bertahan pada apa yang sedang kita kerjakan adalah kerja keras. Karena tanpa itu, kita cenderung akan meninggalkan apa yang sedang kita kerjakan.

Entah karena yang sedang kita kerjakan menyerah terhadap kita yang tidak mau bekerja keras. Atau kita yang digeser oleh orang-orang yang mau bekerja keras.

Saya rasa semua hal yang berharga tidak dapat diraih dengan kerja tanpa usaha yang keras. Ibarat kasarnya, anda mau BAB saja harus bekerja keras untuk mengeluarkannya.

Itulah kenapa ekspresi wajah Anda selalu mengkerut ketika ingin mengeluarkan pup.

Namun pada hal-hal tertentu, tidak bisa hanya mengandalkan kerja keras tanpa kerja cerdas. Itu seperti kamu punya mobil, tapi menggerakkannya dengan cara mendorongnya.

Meski mobil tersebut punya bensin, kamu tetap mendorongnya karena kamu tidak cukup cerdas bagaimana cara mengendarai sebuah mobil.

Dengan kata lain, hendaknya kita mempelajari suatu pekerjaan yang ingin kita kerjakan agar kita tidak hanya bekerja keras tapi juga dapat mengupayakan segala kecerdasan di dalamnya.

Setelah itu, barulah kita bekerja ikhlas. Bekerja ikhlas bukan ketika kita mendapatkan gaji yang tak sepadan dengan apa yang telah kita usahakan.

Tapi kerja ikhlas, ada segala bentuk usaha yang sebelum kita memulainya, kita selalu berdoa meminta pertolongan kepada Ia yang Maha Pemberi Pertolongan.

Dan apapun hasil dari apa yang sudah kita usahakan adalah hasil yang kita terima sebagai hadiah dari Tuhan. Dengan kata lain, kita berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mungkin pekerjaan kita lebih banyak daripada upah yang kita dapatkan. Tapi kalau kita selalu berdoa, kita tidak akan pernah berkecil hati, karena di dalamnya sudah ada keberkahan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahir rahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.”

(HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)

Maka dari itu, sebelum kita bekerja atau hendak melakukan suatu aktivitas, ada baiknya kita berdoa dan menyebut nama Allah dengan kalimat “bismillahir rahmanir rahiim’.

Semoga dengan itu, kita mudah bekerja dengan ikhlas meski ada banyak ketidakadilan yang kita dapatkan diatas dunia ini karena ulah daripada perbuatan manusia.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak aku dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload