Join Telegram

Daily Insight: Itsnain, 16 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Ilmu Fardhu ‘Ain.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-119. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kesuksesan Datang Dari Kesalahan Yang Kita Revisi/Perbaiki.

Dari mana turunnya hujan? Dari langit turun ke bumi. Darimana datangnya kesuksesan? Dari kesalahan yang diperbaiki.

Kesuksesan adalah satu hal yang perlu kita ketahui kedatangannya dari sebuah kesalahan. Tidak menginginkan kesalahan sama dengan tidak menginginkan kesuksesan.

Kita tidak bisa membeli sesuatu yang berpasangan dengan hanya mengambil salah satu darinya. Jika kita ingin, maka kita harus mengambilnya secara berpasangan.

Cobalah ke toko sepatu lalu katakan bahwa kamu ingin membeli sepatu hanya sebelah kiri atau sebelah kanan saja. Pasti pemilik toko tidak akan mengizinkanmu.

Dan itu yang terjadi kepada kesuksesan yang pernah didapat oleh seseorang. Mereka tidak pernah memilih sukses tanpa meninggalkan kesalahan atau kegagalan.

Dimana ada kesuksesan disitulah kesalahan dan kegagalan menanti. Dunia tidak akan pernah memberikanmu kesuksesan tanpa mengambil atau melalui kesalahan dan kegagalan.

Ceritakan kepada saya kisah seseorang yang sukses tanpa pernah mengalami kegagalan atau tidak pernah melakukan kesalahan dalam proses pencapaiannya.

Tidak ada! Kalaupun ada, itu sangat sedikit jumlahnya. Dan tidak bisa kamu jadikan parameter kesuksesanmu dan tidak akan pernah bisa kamu tiru.

Logikanya gini, orang sukses itu banyak sekali jumlahnya. Kita mengikuti orang sukses yang jumlahnya banyak masih ada peluang untuk gagal apalagi meniru yang jumlahnya sedikit.

Jadi, mau tidak mau; suka tidak suka kita harus berdamai dengan yang namanya kesalahan dan kegagalan. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan.

Tapi yang paling penting dari kedua hal tersebut adalah bagaimana cara kita meresponnya. Bisa jadi kesalahan kita adalah pintu bagi kesuksesan yang kita harapkan.

Jika kita mau berpikir keras dan mencari cara untuk tidak menyerah, pasti kesuksesan yang kita harapkan akan datang pada genggaman kita meski kesalahan tak terhitung jumlahnya.

Kesalahan dan kegagalan bukanlah sesuatu yang kita hindari. Tapi kita antisipasi. Kalau kita berusaha menghindari itu artinya tidak ada usaha untuk mengambil kebaikan darinya.

Tapi kalau kita antisipasi, ada usaha yang kita lakukan untuk merespon kesalahan yang sedang terjadi atau kegagalan yang sedang kita alami.

Antisipasi bukanlah menghindari. Itu adalah dua hal yang berbeda. Ketika kita mengantisipasi kesalahan atau kegagalan, kita selalu memiliki cara lain yang masih bisa kita lakukan.

Sedangkan ketika kita berusaha menghindari kesalahan dan kegagalan, tidak ada cara lain yang dapat kita lakukan selain melihat kesalahan dan kegagalan tersebut ada pada diri kita.

Jauh lebih penting lagi dari menghindari dan mengantisipasi kesalahan dan kegagalan adalah memahami kesalahan dan kegagalan itu sendiri.

Kita harus paham bahwa kesalahan apapun itu dan kegagalan apapun itu dapat kita konversikan menjadi sesuatu yang jauh lebih positif dari bersedih dan menyesali yang kita dapatkan.

Ingatlah, bahwa karya yang bagus datang dari perbaikan. Dan itu terjadi pada hasil. Hasil yang bagus (baca: kesuksesan) datang dari perbaikan atas kesalahan yang kita lakukan.

INSIGHT 2

Kita Telah Menukar Masa Depan Dengan Kesenangan Sesaat.

Dalam buku Kitab Anti Penundaan karya Coach Darmawan Aji disebutkan, bahwa penundaan adalah mekanisme untuk “lari” dari tugas yang berat dan tidak menyenangkan.

Lebih jelasnya Coach Aji mengatakan, “Saat menghadapi ketidaknyamanan, otak reptil kita yang mengatur mekanisme bertahan hidup; pilihannya ada dua, “hadapi” atau “lari””.

Kita selalu dihadapkan oleh dua pilihan setiap kali kita punya tugas yang berat, membosankan dan tidak menyenangkan saat kita mengerjakannya.

Dan dari dua pilihan tersebut yang paling sering kita pilih adalah pilihan untuk “lari” atau berpaling dari tugas utama atau tugas yang seharusnya kita kerjakan dan/atau diselesaikan.

Pelarian yang paling sering kita lakukan ketika menghadapi tugas yang berat ialah lari ke alam sosmed dan kawan-kawan.

Sudah jelas, yang kita cari di sana adalah konten-konten yang dapat menghibur kita; membuat kita senang dan menjauhkan kita dari emosi yang negatif seperti bosan dengan tugas.

Agak sulit sepertinya untuk kita bisa meneguhkan diri memilih menghadapi tugas yang berat, membosankan terlebih tugas yang kita kerjakan itu sangat tidak menyenangkan.

Meski tugas yang kita dapat atau yang akan kita kerjakan adalah tugas yang penting. Tetap saja, kita lebih mudah untuk berpaling dari tugas tersebut daripada mengerjakannya.

Begitulah cara kerja otak reptil kita yang selalu mencari hal-hal yang dapat membuat kita senang dan menjauhkan diri kita dari tugas-tugas yang tidak menyenangkan untuk dikerjakan.

Butuh usaha lebih untuk kita bisa terhindar dari menunda tugas penting dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Paham akan nilai suatu tugas juga penting agar kita tidak menunda.

Jika kita lari dari suatu benda, antara kita dan benda tersebut akan semakin berjauhan. Tapi, kalau kita lari dari tugas, antara kita dan tugas tidak akan saling berjauhan.

Lari dari tugas hanya akan membuat tugas tersebut semakin dekat dengan kita. Itulah sebabnya kenapa kita sering dihantui dan dibayang-bayangi oleh tugas yang belum kita kerjakan.

Mungkin lagu tentang cinta yang sering kita dengar dulu bisa relate dengan tugas yang kita tunda, yaitu “semakinku jauh semakin kau dekat.” Eh, kebalik, ya. Sorry…

Hanya ada satu cara yang dapat menjauhkan diri kita dengan tugas, yaitu dengan mulai mengerjakannya, meski tidak selesai 100% tapi setidaknya kita sudah mau mengerjakan.

Dan sedikit tidak dengan mengerjakan tugas kita meski hanya sekian persen sudah meringankan tugas kita di hari berikutnya. Jadi kita tinggal menyelesaikan sisanya saja.

Tidak berat sebenarnya tugas yang akan kita kerjakan. Berat itu hanya ada dikepala kita saja karena kita terlalu berlebihan pada saat memikirkan tugas yang kita lihat di hadapan kita.

Satu hal yang harus kita ketahui ketika kita menunda tugas dengan rasa nyaman dan kesenangan yang kita dapatkan dari aktivitas “lari” dari tugas, yaitu…

Bahwa rasa nyaman dan kesenangan yang kita dapatkan tersebut berbiaya mahal. Kenapa bisa mahal? Karena kita telah mengorbankan masa depan kita hanya untuk mendapat hal itu.

Secara tidak sadar ketika menunda, kita telah menukarkan sesuatu yang bernilai dan berharga untuk masa depan kita dengan kesenangan sementara di masa sekarang.

INSIGHT 3

Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Ilmu Fardhu ‘Ain.

Alhamdulillah, per hari ini saya telah menyelesaikan dari membaca kitab karya Imam Al-Ghazali Rahimahullah, yaitu Kitab Ihya Ulumuddin.

Pada bab satu saya mendapatkan banyak sekali insight yang bermanfaat bagi saya dan insya Allah bermanfaat juga bagi siapa saja yang membaca blog ini.

Salam serta salam tidak henti-hentinya kita haturkan kepada junjungan alam Nabi besar kita, yaitu Nabi Muhammad ﷺ

Semoga kelak di akhirat kita semua mendapatkan syafaat serta dapat berjumpa dengan Baginda Nabi Muhammad, Para Sahabat dan Para Keluarnya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Dan pada hari ini saya telah masuk ke pembahasan yang kedua atau bab yang kedua. Membahas tentan ilmu yang terpuji dan tercela.

Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan insight dan pemahaman yang berkah dari apa yang saya baca dan dari apa yang saya bagikan melalui tulisan.

Dan semoga yang membacanya juga diberikan insight dan pemahaman yang baik dalam mempelajari ilmu Islam yang dapat mendatangkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Di bab yang kedua ini, dari apa yang saya baca secara sekilas saya dan pembaca akan belajar sedikit banyak tentang ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela yang meliputi,

“Bagian dan hukumnya, Fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah. Juga penjelasan di seputar ilmu kalam dan ilmu fikih dari ilmu agama islam, juga batasan serta keutamaan ilmu akhirat.”

Pada ilmu fardhu ‘ain ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang cabang ilmu yang berkedudukan sebagai fardhu ‘ain bagi setiap Muslim.

Sedikit intermezo, fardhu ‘ain merupakan kewajiban yang Allah Swt. tetapkan kepada seta hamba-Nya, yang pengalamannya tidak boleh diwakilkan pihak lain.

Dengan kata lain, ilmu yang berkedudukan fardhu ‘ain adalah ilmu yang pengalamannya harus dilaksanakan oleh pribadi atau masing-masing tiap individu itu sendiri.

Balik ke topik… Setidaknya tercatat ada lebih dari dua puluh kelompok yang berbeda pendapat dalam penetapan ilmu-ilmu yang berkedudukan sebagai fardhu ‘ain bagi setiap Muslim.

Para ahli kama (mutakallimun) mengatakan bahwa ilmu kalam-lah yang berstatus fardhu ‘ain bagi setiap Muslim. Sebab dengan ilmu kalam mereka mengetahui ke-esa-an Allah Swt.

Sedangkan para ahli fiqih mengatakan bahwa ilmu fiqih-lah yang berkedudukan sebagai fardhu ‘ain. Sebab, dengan memahami ilmu fiqih seluruh perkara ibadah dapat dipahami.

Dilain sisi, para ahli tafsir dan ahli hadist juga mengklaim, bahwa ilmu tentang Al-Qur’an serta Al-Sunnah Rasulullah ﷺ adalah ilmu yang berkedudukan sebagai fardhu ‘ain.

Sebab, melalui pemahaman terhadap kedua ilmu tersebut bisa menyampaikan pemiliknya kepada seluruh ilmu yang berada di bawah keduanya (yang dibutuhkan); secara keseluruhan.

Para sufi juga berkata, bahwa ilmu tasawuf-lah yang dimaksud berkedudukan sebagai fardhu ‘ain. Karena sebagian pendapat ahli tasawuf, ilmu tasawuf mengandung pelajaran penting.

Diantaranya adalah seputar pemahaman atas sikap ikhlas, juga penjelasan di seputar penyakit yang melingkupi jiwa dan sangat membahayakan bagi kedudukan hamba pada Tuhannya.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload