Join Telegram

Daily Insight: Jumu'ah, 20 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Lidah Tajam & Lebih Kejam Bila Kita Salah Menggunakannya.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-123. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Lidah Tajam & Lebih Kejam Bila Kita Salah Menggunakannya.

Diantara perintah yang pernah saya baca dan pernah saya dengar dari para Ustadz adalah menjaga lisan.

Kita pasti sudah tahu bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Dan fitnah yang keluar dari lidah (baca: lisan) lebih kejam daripada pembunuhan.

Menjaga lisan kita dari berkata buruk kepada orang lain adalah sama dengan menjaga hati orang tersebut untuk tidak merasa sedih, down, minder, karena direndahkan.

Ketika kita tidak menjaga lisan kita dari berkata buruk seperti mengumpat orang lain, membicarakan keburukan orang lain, itu sama dengan memakan hati sesama manusia.

Kalau mau kita membayangkan, apakah tega kita memakan hati sesama manusia? Jawabannya, tidak. Hanya orang yang tidak memiliki hati yang memakan hati sesamanya.

Apakah kita tidak boleh membicarakan tentang seseorang? Ya, bisa. Bicarakanlah kebaikan seseorang kecuali memang saat hal-hal tertentu kita dapat membicarakan kesalahannya.

Tapi, itu pun kita dianjurkan untuk tidak menyebut namanya. Jadi, ketika kita membicarakan kebaikan seseorang, kita sebut namanya; dan jika tidak, maka jangan menyebut namanya.

Menjaga lisan juga banyak mendatang banyak hal baik dalam hidup kita. Pertama, energi kita lebih hemat dibandingkan saat kita berbicara terlalu banyak.

Lalu, menghindari kita dari berkata hal-hal yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Saya mendengar, bahwa diam lebih baik dari membicarakan sesuatu yang sia-sia.

Ketika ingin mengatakan sesuatu atau membicarakan sesuatu. Cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah hal ini harus saya bicarakan?

Jika hal ini harus saya bicarakan, apa yang menjadi manfaat bagi saya dan orang lain? Apakah ini benar-benar bisa bernilai manfaat bagi saya dan orang lain?

Apabila, kita mendapatkan jawaban bahwa hal yang ada dalam benak kita perlu diutarakan atau dibicarakan ada manfaatnya bagi diri kita dan orang lain, maka sampaikanlah.

Tapi, bila ternyata apa yang ingin kita sampaikan itu tidak ada manfaatnya sama sekali, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain, maka lebih baik kita simpan itu untuk diri kita saja.

Lebih dalam lagi, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, apakah hal yang ingin dikomentari harus dikatakan oleh saya atau bisa diwakilkan oleh orang lain?

Jika kita mendapat bahwa ternyata ada orang lain yang bisa menyampaikan unek-unek kita terhadap suatu perkara, maka cukup orang itu yang mewakilkan isi hati kita.

Dan kita tidak perlu mengulangi apa yang orang lain sudah sampaikan hanya untuk mencari pandangan mata orang lain. Biarkan orang saja yang menyampaikan; kita diam.

Kita pasti sudah sering berhadapan dengan momen dimana ada orang yang melakukan suatu tindakan yang salah dan kita ingin sekali menasehati orang tersebut.

Sebelum kita menasehati orang tersebut alangkah baiknya kita bertanya kepada diri kita; jika saya menasehatinya sekarang, apakah itu adalah tindakan yang benar?

Cobalah untuk bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri sebelum kita menasehati orang lain. Karena bisa jadi apa yang ingin kita sampaikan waktu dan isinya belum tentu benar.

INSIGHT 2

Lari Dari Tugas Akan Membuat Mood Kita Jadi Lebih Buruk.

Dari buku Kitab Anti Penundaan (ditulis oleh Coach Darmawan Aji), dari Riset Ken Sheldon saya dapat insight yang menarik.

Ketika kita mengambil tindakan untuk memulai sebuah tugas akan membuat kita merasa lebih senang dan terhindar dari segala aktivitas yang dapat membuat kita menunda.

Terimalah tugas yang berat di mata kita dan tugas tersebut tidak akan berat ketika kita mengerjakannya. Pikiran yang tidak kita kendalikan menjadikan tugas tersebut terasa berat.

Meninggalkan tugas bukanlah suatu pilihan yang dapat membuat kita tenang, tentram dan nyaman dengan hari-hari yang kita jalani.

Karena sesuatu yang menjadi kewajiban kita ketika kita tinggalkan, itu akan selalu menghantui, mengganggu, membanyanginya sepanjang hari.

Hal yang seperti itu akan sangat membuat hidup kita berjalan dengan baik. Kita akan lebih banyak hidup dengan banyak hal yang tidak kita syukuri.

Hal-hal yang tadinya tidak ingin kita dapatkan datang begitu banyak dan dalam intensitas yang besar. Begitulah yang akan orang rasakan ketika menunda.

Jika alasan kita menunda sebuah pekerjaan adalah untuk mencari mood atau perasaan positif, maka mengerjakan tugas adalah jalan yang benar untuk mendapatkan hal itu.

Meninggalkan pekerjaan untuk mencari mood yang lebih baik tidak akan membuat tugas kita menjadi lebih baik, melainkan akan menjadi lebih buruk dari yang sebelumnya.

Kenapa? Karena waktu yang seharusnya kita manfaatkan untuk mengerjakan tugas telah habis kita gunakan untuk mengerjakan hal lain, yaitu mood baik.

Dan ketika mood kita sudah membaik kita tidak sadar bahwa itu adalah cara membuat mood kita menjadi lebih buruk karena kita akan mengerjakan tugas dengan tergesa-gesa.

Ingat, waktu yang seharusnya kita manfaatkan untuk tugas telah habis atau tersisa sedikit lagi karena hal-hal lain yang kita lakukan. Jika waktu kita termakan oleh hal lain, itu artinya apa?

Artinya, waktu untuk mengerjakan tugas tidak banyak. Dan tebak apa yang akan kita lakukan ketika kita mengetahui waktu untuk mengerjakan tugas tidak banyak lagi?

Ya, kita akan terburu-buru dan tergesa-gesa saat mengerjakan tugas. Dan hasil yang akan kita dapatkan dari terburu-buru dan tergesa-gesa ialah hasil yang tidak maksimal.

Taulah kalau kita adalah makhluk yang gampang mengeluh dan tidak mudah bersyukur. Jadi saat kita mendapatkan hasil yang tidak sesuai ekspektasi, kita cenderung akan frustasi.

Dan itu membuat mood kita jadi lebih buruk dari apa yang sebelumnya kita rasakan. Menghindari tugas untuk mencari hal-hal yang menyenangkan tidak membuat kita semakin baik.

Tapi memulai pekerjaan akan membuat perasaan kita lebih baik dari yang sebelumnya. Itulah insight yang saya dapatkan ketika membaca buku Kitab Anti Penundaan.

“Kemajuan yang kita alami dalam sebuah tugas membuat kita merasa lebih bahagia dan puas dengan hidup kita. Emosi yang positif ini meningkatkan motivasi kita untuk mencapai tujuan.”

Pada akhirnya, yang harus kita lakukan ketika kita mendapat sinyal (tanda-tanda penundaan) untuk menunda, jadikanlah itu sebagai sinyal untuk memulai pekerjaan sesegera mungkin.

INSIGHT 3

Sebutlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi Lagi Bijaksana.

Hari ini saya melanjutkan membaca Kitab Ihya Ulumuddin karya dari Imam Al-Ghazali Rahimahullah.

Adalah insight yang saya dapatkan, “Dilarang berdiam diri dari memberitahukan atas kewajiban pokok dari pelaksanaan seluruh ibadah yang ada.”

Itu adalah kalimat yang saya kutip langsung dari Kitab Ihya Ulumuddin. Sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi saya dan mungkin orang lain karena kalimat tersebut bernilai nasehat.

Nasehat bagi seseorang yang mengetahui suatu kewajiban agar dirinya tidak berdiam diri dari menyampaikannya kepada orang lain dan mengamalkannya untuk dirinya sendiri.

Menariknya yang pernah saya baca dan dengar, meski ibadah (wajib) adalah sebuah kewajiban bagi seorang Muslim. Apa yang dikerjakannya adalah untuk kebaikannya sendiri.

Kita selalu meniatkan setiap ibadah atau hal-hal lain yang bermanfaat dengan niat karena Allah Swt dan karena hanya ingin mendapatkan keridhaannya adalah untuk diri kita sendiri.

Bahkan saya pernah mendengar bahwa berbuat baik kepada orang lain itu bernilai sama ketika kita berbuat baik kepada diri kita sendiri. Bantu orang sama dengan bantu diri sendiri.

Jadi, tidak berdiam diri dari memberitahukan atas suatu kewajiban seorang hamba merupakan suatu jalan untuk mengingatkan diri kita sendiri.

Dan kita dilarang menyembunyikan semua kewajiban pokok pada suatu ibadah yang ada. Seperti memasang niat sebelum melaksanakan sesuatu paling tidak dengan kalimat Bismillah.

Hidup di dunia adalah untuk saling mengingatkan ketika salah seorang dari kita lupa dengan kewajiban pokok dalam aktivitas yang sering kita lakukan dalam sehari-hari.

Memang kalimatnya singkat, tapi entah kenapa di lisan seperti terasa sangat berat sekali untuk diucapkan. Padahal, apa yang sulit dari hanya mengucapkan kalimat Bismillah.

Tidak akan habis semua oksigen dalam paru-paru kita pada saat mengucapkan Bismillah ketika kita ingin memulai suatu pekerjaan.

Dan tidak akan habis waktu kita 24 jam dalam sehari hanya karena mengucapkan kalimat Bismillah ketika kita ingin mulai mengerjakan sebuah tugas.

Mengucapkan Bismillah juga tidak akan membuat durasi waktu yang sudah kita putuskan untuk mengerjakan sebuah tugas berkurang sehingga kita tidak dapat mengerjakannya.

Justru mengawali semua hal dengan Bismillah membuat tugas yang tadinya berat menjadi ringan. Saya tidak tahu bagaimana mekanismenya, tapi itu adalah benar.

Paling tidak dengan mengucapkan Bismillah sebelum mengerjakan tugas dapat menjadikan kita seorang hamba yang senantiasa berserah diri kepada Tuhannya.

Ingat, bahwa sesuatu yang kita kerjakan tidak akan pernah berderajat tinggi selain dari keberkahan yang terkandung di dalamnya berhasil kita dapatkan.

Dan cara untuk mendapatkan keberkahan dari segala aktivitas yang kita lakukan adalah dengan senantiasa memulai segalanya dengan menyebut nama Allah Yang Maha Agung.

Hanya Allah yang dapat membantu kita mudah mengerjakan tugas yang berat. Dan hanya Allah yang dapat mendatangkan kebaikan dari apa yang kita kerjakan.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload