Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 02 Rajab 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Cara Menguasai Skill Baru

Daily Insight adalah blog yang aku tulis setiap hari. Tujuan dari blog ini adalah membiasakan diriku menulis (minimal 1000 kata) setiap hari sekaligus menjadi terapi bagi kesehatan mentalku.

Daily Insightadalah segalainsightyang aku temukan dari berbagai macam platform yang ada di internet. Dengan kata lain, ini adalah history sosial media yang aku dokumentasikan melalu tulisan (blog).

Selain merupakan history sosial mediaku, aku juga mencatat apa saja yang terlintas dalam benakku yang menurutku menarik untuk aku share.Singkatnya, ini adalah curhatan sebuah pena pada kertas.

Aku tahu, apa yang aku tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah". Tapi aku yakin, suatu hari nanti, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-134. Selamat membaca!


INSIGHT 1

Bertakwa Sesuai Dengan Kemampuan Setiap Detik/ Jam/ Hari.

Bismillah… Hari ini saya mendapat insight yang bermanfaat tentang kematian. Insight pertama pada hari ini saya dapat dari konten Instagram yang diupload oleh @khairazafa_

Konten yang diupload merupakan video dari penggalan kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Aamiin.

Apa isi dari video tersebut adalah? Video tersebut membahas tentang wasiat keimanan bahwasanya jangalan mata kecuali dalam keadaan beriman.

Lebih lengkapnya bisa kamu baca di bawah Sohib Insight:

“Ketika Ibnu Katsir menafsirkan Surah Al-Imran:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

"Janganlah kamu mati kecuali dalam kondisi beriman."

Apa kaidah yang dibawakan oleh Al Imam Ibnu Katsir diantara para ulama tafsir yang lain?

Barangsiapa yang hidup dengan pola tertentu. Kemungkinan besar dia akan mati dengan pola tersebut. Itu poinnya!

Kalau kita punya pola yang menghargai setiap inci dalam kehidupan kita, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap pekan.

Pola itu yang akan membuat kita Husnul Khotimah.”

Kebiasaan kita atau aktivitas yang sering kita ulang-ulang mungkin hampir setiap menit, setiap jam dan setiap harinya sampai bertahun-tahun, maka itu akan berdampak pada kita.

Diantara dampak yang paling buruk dari kebiasaan buruk kita (jika dalam keseharian kita melakukan keburukan) ialah mati pada saat melakukan aktivitas tersebut.

Tapi itu bisa menjadi dampak yang paling baik ketika kita memiliki kebiasaan yang baik yang dibenarkan secara syariat agama. Maka itu akan menjadi jalan menuju kematian kita.

Maka dari itu, perbaiki pola hidup kita. Mungkin ada satu dua kebiasaan buruk yang kita lakukan, maka gantilah kebiasaan itu dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Adapun jika kita belum mampu untuk menggantinya secara total, maka perbanyaklah kebiasaan yang baik agar diri kita condong kepada kebaikan.

Tidak ada yang paling indah selain akhir yang begitu menenangkan, yaitu menjemput kematian dalam keadaan melakukan kebaikan atau amal shaleh.

Apakah kita harus memiliki kebiasaan baik sebagaimana yang dilakukan oleh para Ulama dan Syaikh baik yang sekarang atau yang telah mendahului kita?

Mungkin kita belum bisa melakukan amalan sebaik amalan para Ulama dan Syaikh. Tapi kita tetap dapat berusaha sebaik mungkin yang kita bisa.

Saya mencari lebih dalam tentang ayat itu dan alhamdulillah mendapat insight yang cerah di internet yang dapat membantu saya memahami lebih jelas tentang ayat tersebut.

Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, mengatakan:

“Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika ayat tersebut turun, orang-orang mukmin berkata:

wahai Rasulullah siapa yang mampu melakukan hal ini? Karena hal itu memberatkan mereka.

Maka turunlah ayat فاتقوا الله ما استطعتم (bertakwalah kepada Allah dengan apa yang kalian mampu) untuk menasakh ayat ini.

Dan pendapat lain mengatakan makna ayat ini adalah bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa sesuai dengan kemampuan kalian.”

Jadi, kita akan mati dengan aktivitas yang sering kita lakukan setiap hari. Jika lisan kita senantiasa berdzikir, maka insya Allah kita akan meninggal dalam keadaan lisan berdzikir.

Akan tetapi jika kita senantiasa melakukan maksiat, maka maksiat tersebut tidak akan jauh-jauh dari kematian kita. Dan semoga kita semua dilindungi dari segala perbuatan maksiat.

Maka dari itu, pilihlah aktivitas yang baik yang dapat menjadi amal shaleh kita yang sekiranya itu bisa kita lakukan dan masih dalam kemampuan kita.

Mindset yang harus kita tanam pada diri kita sendiri dan ini saya dapatkan dari para Ustadz, Syaikh dan para Ulama adalah melakukan amal shaleh itu mudah.

Maka jika amal shaleh itu mudah, kemudian tidak kita lakukan. Lalu siapakah yang sebenarnya menjadikan amalan tersebut berat? Jawabannya, adalah diri kita sendiri.

Mungkin kita memberatkan atau mempersulit amalan yang sudah dikatakan oleh para Ustadz, Syaikh dan para Ulama mudah itu secara tidak sadar.

Namun ketidaksadaran kita tersebut sesungguhnya adalah karena tidak belajar dan memahami ilmu terkait amalan itu.

Seperti shalat, bagi sebagian orang itu memberatkan. Tapi bagi siapa saja yang mempelajari dan paham ilmunya akan sangat sulit lisannya bahkan hatinya untuk berkata shalat itu berat.

Alah bisa karena biasa. Kalah kepandaian oleh perbuatan yang sudah terbiasa. Segala kesukaran tidak akan terasa lagi apabila sudah biasa.

Maka jika kita menemukan satu ibadah itu berat. Bisa jadi karena kita belum terbiasa melakukannya, atau karena kita terbiasa memberatkan diri untuk melakukannya.

Semoga kita semua dimudahkan dalam melaksanakan ibadah dan dihindarkan rasa malas dari melakukan satu kebaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Aamiin Allahumma Aamiin.

INSIGHT 2

Cara Menguasai Keterampilan Baru.

Di insight yang kedua ini saya mendapatkan ilmu yang sangat luar biasa dan secara tidak langsung berkaitan dengan insight yang pertama diatas.

Insight ini saya dapatkan dari akun instagram @myobookstore dan konten daripada akun itu ialah video Ustadz Felix yang sedang menjelaskan bagaimana sebuah habit terbentuk.

Beberapa insight yang saya dapatkan setelah melihat video tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tidak selalu pelatihan motivasi lantas menghasilkan orang yang skillful.
  2. Motivasi berbeda dengan keahlian. Motivasi adalah sesuatu yang berkaitan dengan “Why”.
  3. Tidak ada yang salah dengan motivasi. Tapi yang dibutuhkan oleh sebuah skill adalah habits.

Banyak dari kita pasti ingin menguasai skill-skill tertentu agar kita memiliki satu value atau kelebihan diantara orang-orang lainnya.

Tapi pernahkah kita terpikir bagaimana seseorang bisa memiliki atau menguasai sebuah skill? Ini yang menjadi tanda tanya dalam benak kita.

Banyak pasti diantara kita datang ke pelatihan-pelatihan yang durasinya mungkin 3 jam atau bahkan ada yang melaksanakan pelatihan tersebut selama dua hari atau lebih.

Pertanyaannya, setelah kita keluar dari pintu pelatihan tersebut, apakah skill yang diajarkan dalam pelatihan itu langsung dapat kita kuasai begitu saja? Jawabannya, TIDAK!

Tidak mungkin dalam sebuah pelatihan bisa menciptakan atau menjadikan seseorang yang tadinya tidak bisa mengetik 10 jari tiba-tiba bisa mahir mengetik 10 jari tanpa melihat keyboard.

Dengan kata lain, pelatihan motivasi tidak selalu menghasilkan orang yang skillful. Karena ada faktor lain dari hanya sekedar pelatihan atau motivasi.

Motivasi adalah sesuatu yang berkaitan dengan “Why” atau alasan mengapa seseorang harus melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Tapi bukan berarti motivasi hanya satu faktor yang tidak membutuhkan faktor lainnya. Kita bisa saja termotivasi untuk mempelajari sesuatu, tapi kita tidak mahir dalam hal itu.

Terlebih lagi, jika motivasi itu ada masanya seperti daya pada smartphone kita. Semakin lama, semakin berkurang dayanya dan semakin dibatasi kemampuannya.

Termotivasi boleh. Tapi perhatikan faktor lain yang menjadikan seseorang bisa mahir dalam menguasai skill tertentu. Dan Ustadz Felix mengatakan faktor lainnya adalah pembiasaan.

Contoh yang sangat menarik yang saya dapatkan dari video tersebut. Dikatakan oleh Ustadz Felix: kenapa anak kecil di arab masih kecil sudah mahir bahasa arab?

Jawabannya, ya karena orang disana terbiasa dengan bahasa tersebut. Mulai dari mendengarkannya sampai mengulang apa yang didengarkannya.

Begitu juga dengan kita yang di Indonesia. Kita tidak pernah termotivasi untuk bisa berbahasa Indonesia, tapi kenyataanya sekarang kita bisa berbahasa Indonesia.

Kenapa? Karena kita sering mendengarnya dan sering pula mengucapkan kalimat-kalimat yang berbahasa Indonesia. Itu yang menjadikan kita berbahasa Indonesia.

Hal-hal yang sering kita dengar; hal-hal yang sering kita lihat; dan hal-hal yang sering kita lakukan secara berulang kali akan secara otomatis menjadi skill kita.

Nah, pengulangan inilah yang disebut sebagai pembiasaan. Kita bisa saja memiliki skill berbahasa arab apabila kita sering mengulang untuk mendengar, melihat, dan mempratekkannya.

Misalnya, sering mendengar orang pengajian berbahasa arab, sering melihat tulisan-tulisan arab seperti Al-Quran, kitab-kitab para ulama. Dari situ, nanti kita akan penasaran.

Dari penasaran, itu akan memicu kita untuk mencari atau mempelajarinya lebih dalam lagi. Dan disitulah kita mulai membiasakan diri dengan bahasa arab.

Mungkin sehari dua hari atau bahkan sebulan dua bulan kita tidak akan langsung mahir. Karena suatu pengulangan itu erat sekali kaitannya dengan waktu.

Tapi yang pasti, semakin sering kita mengulang apa yang kita dengar, lihat, pelajari, dan praktekkan, maka akan semakin jelas bentuk dari skill yang ingin kita kuasai.

Dan itu artinya, semakin banyak pengulangannya, maka akan semakin banyak memakan waktu. Itu wajar, dan kita akan sering menemukan hal semacam itu di kasus-kasus lainnya.

Jadi, kalau saya rangkum bagaimana cara kita bisa menguasai sebuah skill baru: Pertama, carilah faktor pendorongnya atau yang kita kenal dengan motivasi.

Selain dari motivasi, kita juga butuh sosok yang akan kita tiru dan ini kita sebut sebagai inspirasi. Lalu setelah mendapat motivasi dan inspirasi selanjutnya mencari informasi.

Informasi adalah bahan untuk dipelajari dan itu yang akan kita ulang atau yang akan kita biasakan dengan diri kita. Insya Allah dengan itu, kita akan bisa menguasai sebuah skill baru, Aamiin.

Terima kasih untuk insight yang luar biasanya ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada Ustadz Felix Siauw dan para sahabatnya.

INSIGHT 3

Ibadah Perempuan Di Dalam Rumah Lebih Utama.

Insight yang ketiga cukup berat mungkin, tapi harus saya sampaikan. Ini adalah insight yang saya dapatkan dari akun instagram @dalilulfalihin117

Kontennya adalah reels yang merupakan potongan video dari kajian Maulana Syekh Yusri Gabr Al-Hasani.

Apa insight yang saya dapat?

Insight yang saya dapatkan sebenarnya insight yang ditujukan untuk para istri. Karena insya Allah saya akan punya istri nanti. Jadi insight ini penting bagi saya.

Berkat Syekh Yusri Gabr Al-Hasani Rahimahullah,

“Ibadah perempuan di rumahnya lebih besar kemungkinan diterima daripada ibadahnya diluar rumah dan keliling ziarah kepada Wali. Sudah sering kami sampaikan!

Yang masih melakukan hal seperti ini, dia itu salah dalam memahami Tasawuf. Ada beberapa perempuan yang sepanjang hari ziarah para wali.

Mereka tinggalkan kewajiban rumahnya. Ini penghalang dan maksiat, bukan ibadah. Dan wali yang kamu ziarahi itu, dia tak akan suka kelakuanmu.

Kalau dia bicara dari kuburnya, “Pulang sanai, masak sana untuk suamimu. Uruslah rumah dan keluargamu. Allah beri kamu suatu kewajiban, jangan lari darinya.”

Wali itu bersamamu wahai anakku. Cukup dengan mengingatnya saja. Kamu tak perlu datang ke tempatnya.

Wallah, jika seseorang menghadirkan Sayyidina Husein di hatinya, dia akan melihatnya. Jika dia merasa kehadiran Sayyidah Nafisah, dia akan melihatnya; Sayyidah Zainab juga akan bersamanya.

Kenapa? Karena ruh itu aslinya mengetahui wahai anakku. Kamu hanya memiliki kecenderungan ruhani saja terhadap seorang wali, ternyata wali itu sudah melihat kepadamu.”

Insight yang saya dapatkan dari penggalan video tersebut adalah ibadah perempuan di dalam rumah lebih besar kemungkinannya diterima daripada diluar rumah.

Kemudian, seorang Wali akan hadir kepada kita hanya dengan mengingatnya. Jadi untuk perempuan, tidak ada keharusan untuk menziarahi makam Wali kecuali atas izin suaminya.

Dengan insight yang saya dapatkan ini. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada Maulana Syekh Yusri Gabr Al-Hasani. Aamiin.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak aku dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload