Join Telegram

Daily Insight: Tsulaatsa, 17 Jumadil Akhir 1444H

Mark

Subhanallah Walhamdulillahi Walailahaillallah Wallahu Akbar. Walahawla Walaquwwata Illabillahil’aliyyil‘adzim.

Krisis Toleransi Terhadap Frustasi Memicu Aktivitas Menunda.

Daily Insight adalah blog yang saya tulis setiap hari. Tujuannya membiasakan diri menulis (1000 kata) setiap hari. Selain itu, menulis setiap hari bagi saya juga bisa menjadi terapi.

Daily Insight terdiri atas tiga insight, yaitu insight yang saya dapatkan dari kegiatan internet, insight dari membaca sebuah buku dan insight yang saya dapatkan dari membaca kitab.

Apa yang saya tulis disini adalah sebuah catatan yang belum sempurna; bisa dibilang "sampah." Tapi suatu hari, tulisan "sampah" ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Jika kamu ingin membacanya, silahkan. jika tidak, skip aja. Anyway, ini adalah Daily Insight yang ke-120. Selamat membaca!

INSIGHT 1

Kemampuan Mendaiman Seseorang Adalah Super Power Kita.

Kekuatan super sering kita lihat pada film-film superhero. Kita melihat mereka seperti melihat sesuatu yang mengagumkan dan kita tidak berhenti kagum dengan apa yang kita lihat.

Ingin rasanya memiliki super power atau kekuatan super. Niat memilikinya adalah untuk memberantas kejahatan dan berbuat baik kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Tapi rasa-rasanya tidak mungkin saya atau orang lain bisa memiliki super power yang seperti itu. Sangat sulit. Bukan sulit tapi sama sekali tidak bisa menjadi super hero.

Lagi pula tidak ada yang menjamin seseorang yang memiliki super power bisa berbuat baik dan memberantas kejahatan. Tidak memiliki super power saja kita bisa berbuat kejahatan.

Itulah yang terjadi pada kenyataan di dunia ini. Bahkan ketika seseorang memiliki kekuatan, mereka jadi gelap mata dan ingin menguasai segala hal.

Tidak cukup dengan apa yang sudah dimilikinya. Mereka merasa bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari kekuasaan yang mereka miliki. Ya, begitulah hidup di dunia.

Selagi kekuatan dan kekuasaan tak berada dalam genggaman. Maka selama itu ia akan menggerogoti pemiliknya dari dalam.

Berbicara tentang super power, sebenarnya kita bisa memiliki super power. Tidak seperti super power seperti superhero memang. Tapi ini lebih super (baca: berdampak) untuk diri kita.

Diantara super power yang bisa kita miliki dan sangat berdampak bagi kita adalah memiliki keterampilan sosial yang luar biasa ketika berada diluar.

Bahkan pada zaman sekarang yang tidak mengharuskan kita keluar untuk bisa berinteraksi sosial. Keterampilan sosial yang luar biasa tetap bisa menjadi super power untuk kita.

Banyak kita lihat sekarang ragam komunikasi yang tidak hanya dengan teks; gambar sekalipun dapat mewakilkan pesan yang ingin kita sampaikan seperti fungsi stiker dan emoji.

Berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain baik secara langsung maupun secara online dapat menjadi super power jika kita mau melatihnya sebagai keterampilan kita.

Seperti kemampuan menyampaikan pesan buruk atau kabar buruk dengan cara yang baik adalah sebuah super power juga bagi seseorang yang dapat melakukannya.

Bagaimana kemudian pesan buruk yang disampaikan itu tidak jadi salah tafsir bagi pendengarnya adalah langkah yang baik untuk mencegah perdebatan antara satu dengan yang lainnya.

Karena dengan melakukan hal tersebut kita sudah meredakan situasi tegang menjadi tenang sehingga tidak ada keributan di dalamnya yang dapat mengganggu keharmonisan.

Itu semua super power yang dapat kita miliki. Semua hal itu dapat dilatih dari keterampilan sosial, mengubah situasi tegang menjadi tenang dan menyampaikan pesan dengan benar.

Memang dengan memiliki super power yang saya sebutkan diatas tidak dapat mencegah sajam dari melukai korbannya. Tapi kita bisa mencegah orang menarik sajam dari sarungnya.

Sekarang perang yang sering terjadi adalah persilatan lidah. Dan di satu waktu lidah dapat menjadi sesuatu yang lebih tajam daripada pedang yang dapat merobek tubuh korbannya.

Pada kesimpulannya, super power yang kita butuhkan pada zaman sekarang adalah kemampuan untuk mendamaikan orang agar tidak terjadi perpecahan antar sesama golongan.

INSIGHT 2

Krisis Toleransi Terhadap Frustasi Memicu Aktivitas Menunda.

Saya dulu pernah bersekolah di SMK dengan jurusan listrik. Sedikit banyak saya belajar tentang kelistrikan dan segala hal yang ada di dalamnya.

Hal yang masih saya ingat sampai sekarang adalah sebuah komponen yang memiliki kemampuan untuk menghambat arus listrik. Komponen tersebut disebut sebagai resistor.

Saya rasa semua orang yang pernah belajar komponen elektronik sudah tidak asing lagi dengan keberadaan resistor. Bahkan mereka paham apa maksud dari cincin pada resistor.

Seingat saya, garis terakhir pada resistor menunjukkan berapa besar nilai toleransi kesalahan dari resistor itu sendiri. Ini bisa berguna ketika kita melakukan pengukuran.

Kenapa saya membahas resistor? Sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa resistor yang merupakan sebuah benda saja memiliki nilai toleransi terhadap kesalahan pengukuran.

Kita sebagai manusia (tidak semua manusia, tapi sebagiannya saja, yaitu orang-orang yang suka menunda); tidak memiliki toleransi terhadap frustasi yang kita dapatkan.

Inilah insight yang saya dapatkan ketika saya membaca buku Kitab Anti Penundaan yang membahas tentang “Rendahnya Toleransi Terhadap Frustasi”.

Seseorang yang tidak memiliki toleransi atau hanya sedikit dari memiliki toleransi terhadap frustasi lebih besar peluangnya dari melakukan penundaan terhadap tugas penting yang dimilikinya.

Ketidakmampuan menoleransi perasan yang tidak nyaman disebut sebagai Low Frustration Tolerance atau LFT.

Dari buku Kitab Anti Penundaan disebutkan bahwa seorang Doktor, yaitu Dr. Sarah Edelman mengatakan bahwa Low Frustration Tolerance (LFT) menjadi akar dari penundaan.

Seseorang yang tidak mampu mentoleransi rasa tidak nyaman ketika menghadapi situasi yang menekan, seperti tugas yang berat dan tidak menyenangkan cenderung menunda.

Yang seseorang lakukan adalah mencari rasa nyaman dan berbagai macam hal yang dapat membuatnya merasa senang setelah dari frustasi karena tugas yang berat.

Biasanya mereka akan membenarkan tindakannya dengan cara mengatakan kepada diri mereka sendiri bahwa seseorang layak untuk senang sebelum melaksanakan tugas yang berat.

Lebih kacau dari itu, sebagian orang bahkan tidak melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan setelah selesai dari aktivitas yang menyenangkan; mereka meninggalkan tugas begitu saja.

Orang-orang yang tidak mampu mentoleransi rasa tidak nyaman selalu berharap tugas atau pekerjaan yang didapatkan harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Mereka berharap tugas yang mereka dapatkan selalu mudah dan menyenangkan ketika dikerjakan. Dan berharap imbalan dari tugasnya lebih dari sepantasnya.

Jadi, disatu sisi kita ingin mendapatkan tugas yang sesuai dengan keinginan kita. Tapi kita berharap mendapatkan balasan yang sesuai; lebih dari yang seharusnya.

Respon yang paling sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu mentoleransi rasa ketidaknyamanannya adalah dengan menghindari kejadian yang dapat memicu stress.

Coba tebak, bagaimana cara menghindari kejadian yang dapat memicu stres? Ya, benar! Yaitu, dengan lari dari aktivitasnya. Dengan kata lain, lari dari tugas yang berat dan membosankan.

INSIGHT 3

Ilmu Islam Dibagi Dua, Yaitu Mu’amalah Dan Mukasyafah.

Membaca Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Rahimahullah hari ini mengantarkan saya kepada beberapa insight yang bermanfaat.

Diantaranya saya menjadi tahu dua jenis ilmu dalam Islam beserta istilahnya. Pertama, yaitu ilmu agama praktis yang disebut sebagai mu’amalah.

Dan ilmu tentang hal-hal yang bersifat gaib; yang tak tampak secara kasat mata atau berkaitan dengan urusan spiritual, disebut sebagai mukasyafah.

Dalam pembahasan bab “Ilmu yang Terpuji dan Tercela” Imam Al-Ghazali Rahimahullah menyebutkan bahwa ilmu yang pertama yang akan dibahas dalam bab tersebut.

Karena ilmu tersebut menyangkut ilmu yang wajib diketahui, dikuasai (dipahami) dan diamalkan oleh setiap hamba Allah Swt. yang berakal serta mencapai usia dewasa (baligh).

Ilmu yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali Rahimahullah ialah ilmu yang membahas tentang tiga perkara, yaitu akidah, tindakan (amal perubatan), dan larangan.

Kapan seseorang diwajibkan untuk mempelajari ilmu tersebut? Yaitu ketika mereka sudah masuk dalam usia dewasa atau yang sering kita dengar dengan istilah baligh.

Diantara tanda-tanda bahwa seseorang telah memasuki usia baligh; pernah mengalami mimpi basah bagi laki-laki dan menstruasi pada perempuan.

Jika ada yang mendapatkan tanda untuk laki-laki dan perempuan tersebut, maka ia sudah masuk usia baligh.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah menjelaskan bahwasanya ketika seseorang sudah masuk masa baligh; wajib baginya untuk mempelajari dua kalimat syahadat, atau bersaksi:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul serta utusan Allah.” Sedangkan memahami maknanya belum menjadi keharusan dan kewajiban baginya.

Dengan kata lain, syahadat harus diyakini tanpa membicarakan apa saja yang belum dikuasainya, serta berusaha untuk menyingkirkan keraguan yang mendekati dirinya.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah mengatakan,

“Periode pertama bagi hamba dalam kategori ini diperbolehkan untuk bertaklid dahulu kepada siapa (guru) yang diyakininya bisa untuk diikuti; tanpa harus mendiskusikan seputar dalil yang digunakan, cukup mendengarkan saja. Nabi Saw. pada periode pertama dalam dakwah beliau hanya mensyaratkan Islam dan Iman diterima serta diakui secara verbal oleh komunitas Arab kala itu, tanpa harus memahami dalilnya.”

Yang dimaksud periode pertama pada kalimat pertama adalah seseorang yang baru saja masuk masa baligh dan belum lama dari masanya tersebut.

Sehingga pada zaman kita sekolah kita belum tahu menahu tentang empat Imam Mazhab. Dan mazhab dari ibadah yang kita lakukan mengikuti mazhab guru yang kita yakini.

Di masa kita sekolah SD dan awal SMP, jika ada orang yang menanyakan mazhab kita dalam beribadah, maka cukup jawab, “Saya ikut sebagaimana mazhab guru yang saya yakini.”

Sedangkan pada kalimat “Nabi Saw. pada periode pertama…”. Disebutkan sebagai riwayat yang banyak dikenal dalam buku-buku Sirah dan juga kitab-kitab Hadist. Seperti dalam kitab Shahih Muslim pada kisah Dhammam bin Tsa’labah.

Wallahu A’lam Bishawab.


Terimakasih Sudah Membaca.

Jangan lupa bershalawat kepada baginda Rasulullah ﷺ agar apa yang kita baca bisa mendapatkan keberkahan. Semoga kelak saya dan Sohib Insight bisa mendapatkan syafa'at Rasulullah ﷺ Shallu ‘Alan Nabi Muhammad!

Selalu temukan insight di setiap kegiatan yang kita lakukan. Dan selalu temukan insight di setiap peristiwa yang kita dapatkan. Karena tiada hari tanpa insight yang bermanfaat.

Salam Raden Sasak.

Jurnal Insight | Temukan Insight Setiap Saat.

About the Author

Life Design Certified Trainer | Top Coach Merry Riana Coach Development Program | Tim Motiva: Lembaga Pelatihan Produktivitas & Pengembangan Diri.

Follow Raden Sasak.

Post a Comment

Silahkan berkomentar jika ingin berdiskusi, memberikan masukan atau menanyakan sesuatu. Jangan pernah membagikan informasi pribadi atau informasi sensitif pada saat berkomentar. Terimakasih 😉
What do you want to do? Choose your menu!
Reload